Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
50. Semena-mena


__ADS_3

°°°


Setelah mengendarai motornya menembus ramainya jalanan ibu kota. Akhirnya Lia sampai juga di kawasan elit yang penghuninya adalah orang-orang kaya.


Berulangkali Lia menghela nafasnya di dalam lift, ia tidak tau kali ini masih bisa bersembunyi atau tidak. Kalaupun akhirnya ketahuan, ia harus menyiapkan jawaban yang tepat agar pria itu berhenti mengganggunya.


Ting


Lia melangkahkan kakinya, menuju apartemen milik Sakka. Pria yang menurutnya menyebalkan dan ingin dia hindari.


"Jangan sampai membuatku menunggu lagi," gumam Lia.


Ternyata tak lama kemudian pintu apartemen itu terbuka, Lia segera membenarkan topi dan masker yang ia pakai agar lebih menutupi wajahnya.


"Selamat pagi tuan, pesanan anda," ujar Lia dengan sopan.


"Iya terimakasih." Sakka yang sedang bermain game di ponselnya tidak melihat ke arah Lia, ia menerima pesanannya.


"Selamat menikmati tuan, saya permisi." Lia segera berbalik, tidak ingin lebih lama di sana.


"Tunggu," cegah Sakka.


"Ada lagi Tuan?" tanya Lia.


Sakka nampak menaikkan alisnya, berpikir. Ia seperti mengenal suara itu dan postur tubuh pengantar makanan itu juga sangat mirip dengan seseorang.


"Coba kemari sebentar," perintah Sakka.


Jantung Lia langsung berdebar kencang, ia takut apa yang ia takutkan terjadi. Dia pun berbalik tapi tidak mendekat.


"Kemari aku bilang." Nada suara Sakka meninggi.


Namun sama sekali tidak membuat Lia bergeming.


Sakka yang tidak sabaran pun segera menghampiri gadis itu.


"Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan barusan." Tegas Sakka.


"Maaf Tuan, tugasku sudah selesai dan harus segera kembali untuk bekerja." Lia berusaha tetap berkata dengan sopan.


Sakka tersenyum menyeringai, ia semakin tertarik dengan mainan barunya.


"Apa kau tidak takut kehilangan pekerjaanmu karena tidak menurutiku. Bahkan bos kamu saja menurut padaku." Sakka menyombongkan dirinya.


Lia sudah tidak tahan lagi rasanya, lebih baik ia pergi sebelum ia kehilangan kendali.

__ADS_1


"Maaf Tuan, saya harus segera pergi. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." Lia ingin sekali menghilang dari sana.


Sakka masih tidak mau menyingkir, ia belum mendapatkan apa maunya.


"Aku belum selesai, bukankah pembeli adalah raja." Tersenyum penuh arti.


"Jadi apa ada yang anda perlukan lagi," ujar Lia dengan sangat hati-hati, meski sudah di buat kesal.


"Cepat kau buka topi dan masker mu, aku ingin melihatnya," pemerintah Sakka seenaknya, rasa penasaran sudah membutakannya.


Tentu saja Lia tidak mau menuruti permintaan pria itu.


"Maaf Tuan, itu tidak termasuk dalam pekerjaan saya." Lia menolak mentah-mentah, tidak bisa diperlakukan seenaknya.


"Cihhh... aku bahkan bisa membuatmu membuka baju jika mau." Sakka semakin menyombongkan dirinya dan beranggapan semua perempuan itu sama.


Sementara Lia sudah mengepal kuat dan sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia mengayunkan kepalan tangannya pada wajah tampan Sakka yang membutuhkan para wanita tergila-gila.


Bug


Pukulan Lia mendarat sempurna di pipi kiri Sakka dan membuatnya sedikit berdarah.


Seketika amarah Sakka membuncah hebat, baru kali ini ada yang berani menyentuhnya. Sepertinya gadis itu sudah tidak sayang lagi dengan nyawanya.


"Kau!!" Sakka melotot tajam, tidak terima atas perlakuan gadis di depannya.


Kemudian Lia merogoh sakunya dan mengambil dua lembar uang berwarna merah. Lalu ia letakkan di tangan pria itu.


"Ini untuk mengganti wajah tampan anda yang sedikit terluka. Saya permisi."


Sakka semakin marah dan siap menghancurkan gadis itu sekarang juga. Ia menarik lengannya dan dengan satu gerakan berhasil membuka topi dan masker yang menutupi wajah gadis itu.


"Kau...," Mata Sakka membulat sempurna, ia tertegun melihat siapa sebenarnya gadis itu. Tidak menyangka jika akan dipertemukan dengan cara yang tidak tepat seperti itu.


Sementara mata Lia sudah berkaca-kaca, kebencian dihatinya semakin bertambah banyak. Padahal ia sudah berusaha untuk tidak membencinya tapi perlakuan Sakka tadi membuat kebencian itu membumbung tinggi.


Lia pun segera pergi dari hadapan Sakka yang mematung melihatnya.


"Shiiittt...," umpat Sakka saat menyadari Lia sudah tidak lagi ada di depannya.


Sakka pun segera mengejar gadis itu untuk meminta maaf, tidak peduli dengan rasa sakit di wajahnya. Bagaimana tidak sakit, sudut bibirnya saja sampai berdarah.


Mencari-cari di lantai bawah dan di parkiran tapi tidak ada siapa-siapa. Ia pun memutuskan untuk pergi bertanya pada penjaga keamanan apartemen itu.


"Permisi Pak, apa bapak lihat tadi ada gadis pengantar makanan yang keluar dari sini," tanya Sakka.

__ADS_1


"Ohh yang sering mengantarkan makanan ke apartemen Taun, barusan ia pergi menggunakan motornya. Apa terjadi sesuatu Tuan?" tanya security itu.


"Tidak ada apa-apa Pak. Terimakasih."


Sakka kembali masuk dalam gedung apartemen itu, meninggalkan kedua scurity yang menatap heran kenapa wajah tampannya terluka tapi mereka tidak berani bertanya. Tentu di lingkungan elit itu privasi penghuninya sangat dijaga dan dirahasiakan.


Sakka menyentuh pipinya yang mulai terasa sakit. Ia mengusapnya perlahan, karena disana ada bekas tangan Lia, gadis yang sedang berusaha ia dekati dan gadis yang mengusik pikirannya beberapa hari ini.


Namun, sepertinya langkahnya kali ini akan semakin sulit setelah apa yang terjadi tadi. Sepertinya Lia juga sudah tau tentang Sakka yang suka membawa perempuan ke dalam apartemennya, berdasarkan ucapan scurity tadi yang mengatakan jika Lia sering datang mengantarkan makanan.


Akan tetapi bukan Sakka namanya jika menyerah begitu saja. Ia akan mencari cara untuk meminta maaf nanti.


,,,


Sementara Rara bersama suami dan kedua orangtuanya masih dalam perjalanan. Belum ada setengahnya karena baru dua jam perjalanan.


Rara yang bangun lebih pagi dari biasanya untuk mengemasi pakaian yang dibawa pergi berlibur pun, saat ini gadis cantik itu sudah terlelap dalam mimpinya dan tanpa ia sadari ternyata kepalanya bersandar pada lengan suaminya.


Revan tidak merasa terganggu tapi dia justru senang, dia jadi bisa melihat wajah istrinya dari dekat.


Mungkin jika Rara bersandar sampai ke Jogja pun Revan rela membiarkannya.


Sedikit demi sedikit hatinya terpaut pada istrinya dan sudah tidak ada celah untuk perempuan lain.


Pak supir yang sedang menyetir pun senang melihatnya, ia melihat cinta dalam mata tuannya saat memandang sang istri.


Keasyikan melihat kemesraan di kursi belakang sampai pak supir tidak menyadari jika ada lubang di depannya, dan mobil pun masuk ke lubang yang cukup dalam, otomatis penumpang mobil pun tersentak kaget termasuk Rara yang sedang tertidur.


Gadis itu menggeliat kecil karena guncangan tadi, untung saja ia tidak terbangun. Kalau sampai bangun pastilah Revan akan marah besar pada supir itu, sekarang saja tatapannya sudah sangat menakutkan.


Pak supir pun tidak berani lagi mengintip pemandangan di belakangnya, bisa-bisa ia kehilangan pekerjaannya.


"Untunglah nona tidak bangun, tatapan tuan Revan tadi sungguh menyeramkan," gumam pak supir dalam hatinya.


to be continue...


Uang tidak bisa membeli segalanya, meskipun segalanya butuh uang.


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2