
°°°
Febby memukul-mukul setir mobilnya, meluapkan segala amarahnya.
"Kamu jahat Van, apa kamu tidak bisa melihatku sedikit saja. Sudah sekian lama aku berusaha mengambil hatimu tapi kamu sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun padaku."
"Semuanya sama saja, mereka seenaknya pergi setelah menemukan wanita yang menurut mereka baik. Apa aku tidak pantas mendapatkan cinta? Kenapa para pria hanya melihat dan jatuh cinta pada wanita yang baik saja."
Lelehan air mata sudah tumpah ruah di pipinya, riasan di sekitar matanya bahkan sudah berantakan tak karuan seperti hantu. Febby menangisi keadaannya yang sangat miris, tidak bisa mendapatkan cinta apalagi harta.
Aku harus kemana sekarang, dirumah bahkan mamah tidak ada. Dia sibuk bersenang-senang dengan teman-temannya.
Febby meletakkan kepalanya di atas setir mobil. Dia tidak punya banyak teman dan tidak tau mau kemana. Baginya teman hanya akan datang saat ia mempunyai uang, dan teman seperti itu sangat tidak bisa diandalkan saat ia sedang kesusahan.
Febby keluar dari mobilnya yang ia parkiran di jalanan tepi danau. Ia duduk di bawah pohon pinggiran danau, melemparkan batu-batu kecil ke air.
Apa sebenarnya salahnya, sampai ia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti orang lain.
Dari sejak kecil mamahnya mengajarkan, jika perempuan harus mencari pria yang kaya karena kekayaan bisa membuat kita dihormati. Mamahnya tidak pernah mengajarkan hal lain selain ia selalu berpesan jika Febby harus selalu tampil cantik sebagai wanita.
Sekarang apa gunanya cantik jika mendapatkan pria saja tidak bisa.
"Aku benci kalian!" teriak Febby dan ternyata menggema suaranya.
Febby terus berteriak-teriak melepaskan penatnya. Tidak peduli jika orang lain melihatnya dengan tatapan aneh.
"Apa kalian lihat-lihat, tidak tau apa aku sedang patah hati!" Teriak Febby pada pengunjung yang lain.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, sang mamah menelpon. Febby baru saja mengeluarkannya dari dalam tas tapi naas ponselnya tidak sengaja terjatuh ke dalam danau.
"Aaa... ponselku." Terkejut Febby.
"Bagaimana ini apa aku ambil saja, ponsel itu baru aku beli kemarin. Sayang sekali jika tidak diambil. Tidak ada orang lagi, kemana semua orang tadi."
Febby berbicara sendiri.
Setelah berpikir akhirnya Febby mutuskan untuk mengambil ponselnya ke dalam air. Tidak peduli jika air danau itu dalam, toh ia cukup pandai berenang.
"Aku ambil saja lah, tidak ada buayanya kan di danau ini." Febby bertanya-tanya, ia tidak takut tenggelam tapi lebih takut pada hewan buas yang mungkin tinggal di danau itu.
Perlahan-lahan Febby memasukkan kakinya ke dalam air, airnya cukup hangat karena terpapar sinar matahari.
Febby pun terus berjalan mencari ponselnya.
Perasaan tadi disini, tapi tidak ada. Kemana perginya ponselku. Apa mungkin dimakan ikan.
__ADS_1
Sampai tidak terasa hampir separuh tubuh Febby sudah masuk kedalam air.
Orang-orang yang melihat Febby dari daratan pun berteriak mencoba menghentikannya. Pikir mereka Febby sedang mencoba bunuh diri, karena barusan mereka mendengar teriakkan putus asa dari wanita itu.
"Siapapun tolong, ada orang yang mau bunuh diri," teriak salah satu warga.
Orang-orang pun mulai berdatangan dan berteriak.
"Nona, jangan nekat. Umurmu masih sangat muda."
"Iya kembalilah Nona!!"
"Masih banyak laki-laki lain, yang mau dengan Nona. Kalau tidak ada, denganku saja." Teriakkan salah satu pria jomblo disana membuat Febby memutar bola matanya jengah.
Teriakkan para orang itu hanya dianggap angin lalu oleh Febby. Dia tidak merasa sedang mengakhiri hidupnya jadi ia tidak peduli dan terus mencari ponselnya.
"Itu dia, akhirnya aku menemukanmu ponsel." Mata Febby berbinar setelah menemukan bayangkan ponselnya di dalam air. Tapi sepertinya cukup dalam dan jika ia ingin mengambilnya maka harus sedikit menyelam.
Febby mempertimbangkan kondisi air, meski di permukaan terlihat tenang tapi tidak tau di dalam arusnya bisa saja deras. Untunglah ia cukup pandai soal berenang. Ia pun melakukan pemanasan dengan meregangkan otot tubuhnya, tidak mau jika sudah di dalam air sampai kram.
Setelah dirasa cukup Febby mulai mengambil ancang-ancang bersiap berenang dan menyelam.
Byurrr
"Kau bukannya pria yang tadi ada di kantor Revan?" tanya Febby saat melihat siapa orang itu.
Namun, pria itu menatap tajam pada Febby.
"Apa kau sudah tidak waras, bukan begini caranya untuk menyelesaikan masalah."
Febby mengerutkan keningnya, tidak tau apa maksud pria itu.
"Ayo kita kembali," ujar pria itu lagi.
"What! Tunggu, lepaskan aku." Febby yang sudah bersusah payah basah-basahan untuk mencari ponselnya tidak mau kembali begitu saja, sedangkan ia belum berhasil mengambil ponselnya.
"Siapapun kamu dan kenapa kamu disini aku tidak peduli, tapi tidak usah mencegahku." Febby berusaha melepaskan diri.
Mike tentu tidak membiarkan wanita itu lepas darinya, ia pun mengangkat tubuh wanita itu dan menggendongnya.
"Hey... aku bilang lepaskan!!" berontak Febby.
"Diamlah!!"
"Ta... tapi... "
__ADS_1
"Diam atau aku cium?" ancam Mike tidak main-main.
Mata Febby membulat, ia heran pada laki-laki yang tiba-tiba datang lalu membawanya dan sekarang mengancam ingin menciumnya. Sebenarnya untuk apa pria itu melakukan itu padanya.
Mau tidak mau Febby mengalungkan tangannya pada leher pria itu. Di lihat lebih dekat membuat Febby seperti pernah bertemu pria itu tapi dimana.
Wajahnya tidak asing, sebenarnya siapa pria ini. Apa dia datang karena disuruh Revan. Tapi tidak mungkin, pria itu bahkan sudah memutuskan hubungannya denganku tanpa perasaan.
Pikiran Febby berkelana mencoba mencari tau siapakah pria yang saat ini mendekapnya.
Hingga suara tepuk tangan para warga menyadarkan Febby dari lamunannya. Sejenak dahinya berkerut dan bingung akan kericuhan yang terjadi. Ada apakah gerangan yang menjadi pusat perhatian.
"Apa kau masih betah berlama-lama di gendongan ku?"
Febby langsung lompat turun dari pria itu, ia baru sadar jika para warga sedang memperhatikannya. Tapi apa yang membuat mereka heboh seperti itu.
"Nona, lain kali jangan bertindak seperti itu lagi. Masih banyak pria lain di dunia ini yang mau sama Nona."
"Iya Non, kebetulan anakku laki-laki. Mungkin Nona mau mempertimbangkannya?"
"Iya Non, bunuh diri itu tidak baik dan bisa masuk neraka loh."
Ocehan para warga sontak membuat Febby merasa pusing. Mereka bersahutan tanpa jeda. Lalu apa kata mereka tadi, siapa yang bunuh diri?
Febby menepuk keningnya sendiri, baru paham dengan situasi itu. Jadi mereka semua mengira kalau Febby mau bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke danau itu.
"Stop semua!! ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian, saya sama sekali tidak ada niatan untuk bunuh diri di danau ini. Saya masuk ke dalam air karena mau mencari ponselku yang terjatuh dan saya juga cukup pandai berenang jadi tidak mungkin tenggelam."
Febby mencoba meluruskan apa yang terjadi, walaupun ia putus asa dan dalam keadaan di titik yang paling rendah sekalipun. Dia tidak mungkin senekat itu.
to be continue...
Terimakasih ada yang bersedia memberikan vote nya buat author, aku terharu... (Emoticon nangis) karena biasanya aku nulis sendiri trus ngevote sendiri.
Terimakasih sekali lagi ya buat kalian.
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1