Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
67. Ungkapan Perasaan


__ADS_3

°°°


Kakek tertawa puas bersama pak Ahmad di kamarnya, setelah berhasil memancing cucunya sendiri untuk mengatakan hal yang ia inginkan.


"Apa kau tau tadi wajah si cucu tengil itu, dia terpancing dengan omonganku," ujar kakek seraya tertawa.


Pak Ahmad pun ikut tertawa mendengar cerita kakek.


"Aku harap anak itu cepat menyelesaikan permasalahannya dan hidup bahagia dengan Rara."


"Aku harap juga begitu Tuan."


Kakek sudah sangat memimpikan cucunya hidup bahagia bersama istrinya, maka janjinya pada mendiang putrinya akan terpenuhi.


Tiba-tiba bayangan akan mendiang sang putri terlintas dipikirannya. Wajah yang tidak pernah bahagia dan tertekan terus terbayang diingatan kakek Tio.


Saat tiba-tiba suami dari putrinya menghilang tanpa jejak dan kabar, padahal pada saat itu Rani sedang mengandung Revan. Kandungannya bahkan sempat lemah karena terlalu sedih.


Tidak bisa dibayangkan bagaimana hancurnya sang putri tercinta pada saat itu. Lelaki yang sangat amat dia cintai hilang tanpa kabar.


Sementara kakek Tio pun tidak bisa melakukan apa-apa, sudah mencari kemana-mana tapi sama sekali tidak ada jejaknya. Kakek Tio hanya bisa melihat hari-hari sang putri dihiasi air mata, wajah yang biasanya ceria pun tidak lagi ada.


Sampai kakek Tio bersumpah saat itu jika menemukan laki-laki itu lagi, ia akan menghancurkannya. Namun, saat ini ia sudah tidak memikirkan hal itu lagi. Yang penting adalah kebahagiaan cucunya.


Sama seperti sang putri yang berpesan sebelum ia meninggal.


Flashback


"Ayah, aku titip putraku. Maaf tidak bisa menemaninya hingga dewasa, tolong jaga Revan," ujar Rani pada saat terakhir.


"Tidak nak, kau harus sembuh demi putramu dan kau juga belum membalas pria itu."


Sang putri tersenyum penuh kedamaian.


"Aku sama sekali tidak membencinya, ayah. Jika dia masih hidup biarkan saja dengan kehidupannya. Kebahagiaan putraku lebih penting dari apapun ."


Flashback off


Pesan yang membuat kakek tidak jadi membalaskan apa yang sudah lelaki itu lakukan. Walaupun sebenarnya kakek sudah mengetahui keberadaan lelaki yang sudah tega meninggalkan putrinya itu.


Yang penting saat ini adalah melihat kebahagiaan cucunya. Lalu mengenai lelaki itu kakek tidak pernah mengatakan apapun pada sang cucu dan Revan pun tidak pernah bertanya apa-apa. Mungkin karena sang cucu tau ayahnya telah menyakiti hati ibunya begitu dalam.


,,,


Sementara Revan baru saja masuk ke dalam kamarnya setelah tadi dari kamar kakeknya. Dia sedang pusing sendiri memikirkan ucapannya pada kakek.


Kenapa juga aku berkata seperti itu tadi, ini pasti rencana kakek.

__ADS_1


Revan mengacak rambutnya sendiri.


Bagaimana caranya aku membuktikan hal itu.


Revan merutuki kebodohannya sendiri yang mudah terpancing omongan kakeknya.


"Kak Revan kenapa?"


Revan tersentak mendengar suara istrinya yang ia kira sudah tertidur.


"Kau belum tidur??" tanya Revan.


"Belum, kak Revan kenapa terkejut begitu melihat ku?" Rara menyerngitkan dahinya.


"A..ku hanya kaget saja karena aku kira kamu sudah tidur tadi," jawab Revan dengan gugup. Tidak mungkin dia menjawab sedang memikirkan bagaimana caranya membuat bayi.


"Apa yang Kakak pikirkan sampai tidak melihat aku disini." Ya sejak tadi Rara duduk di sofa tapi suaminya melewatinya begitu saja tanpa melihatnya.


Revan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung menjelaskannya.


"Kenapa kamu belum tidur, bukankah kata dokter kamu harus banyak istirahat." Revan pun mengalihkan pembicaraan.


"Aku hanya merasa lelah saja kak, karena tiduran terus. Jadi ingin duduk disini sebentar. Aku juga penasaran dengan keadaan kakek setelah tau yang sebenarnya, apa dia marah Kak?"


Bagaimanapun masalah ini terjadi juga karena dirinya, Rara tentu merasa sangat bersalah.


Revan pun mendekat dan mengusap lembut pucuk kepala sang istri.


"Tapi itu karena aku juga Kak, aku ingin meminta maaf pada kakek karena sudah membuatnya kecewa," lirih Rara.


"Hai... lihat aku," Ujar Revan seraya berlutut dihadapan istrinya yang sedang duduk, mensejajarkan tinggi tubuhnya.


"Bukan kamu yang salah, semuanya karena aku. Jadi jangan pernah berpikir kamu juga salah. Aku yang belum bisa menjadi suami yang baik untukmu, aku pengecut dan aku yang terlambat menyadari perasaanku."


Tatapan mereka saling mengunci, Rara melihat suaminya tidak sedang berbohong.


Revan perlahan menyentuh pipi istrinya dan menyelipkan rambutnya yang menutupi wajah cantik itu.


"Aku mencintaimu Mahira Nareswari."


Rara tidak percaya apa yang ia dengar saat ini.


"Apa kau tidak percaya dengan ucapanku?" tanya Revan karena istrinya tidak bereaksi apa-apa.


"Bukan begitu Kak, tapi aku...,"


Cup

__ADS_1


Revan mengecup kening istrinya dan cukup lama ia menempelkan bibirnya yang terasa lembut dan hangat.


Rara pun memejamkan matanya, merasakan kecupan sang suami.


"Kau belum menjawab ku," ujar Revan setelah ia menjauhkan sedikit kepalanya.


Sementara Rara bingung harus menjawab apa, ia juga tidak tau apa itu cinta. Yang ia tau selama ini dirinya suka dan nyaman saat berada di samping suaminya, dan hatinya terasa sakit saat melihat suaminya bersama perempuan lain.


"Apa kau tidak mencintaiku?" tanya Revan putus asa.


"Bukan begitu Kak, hanya saja...,"


Revan masih menunggu apa yang akan istrinya katakan.


"Hanya saja aku... aku tidak tau bagaimana rasanya jatuh cinta." Rara menunduk malu, ia bukan gadis yang suka berurusan dengan percintaan semasa sekolah.


Revan tau apa yang istrinya rasakan, karena sebenarnya ia juga tidak tau apa itu cinta. Tidak mempunyai pengalaman apa-apa soal percintaan.


"Aku juga sama karena kamu adalah perempuan pertama yang mampu membuat hatiku bergetar, membuatku nyaman dan aku cemburu saat kau berdekatan dengan pria lain. Satu lagi, aku selalu merasa rindu saat kita berjauhan."


"Apa kau juga merasakan hal yang sama dengan ku?" tanya Revan memastikan istrinya juga merasa seperti yang ia rasakan.


Perlahan Rara mengangguk setuju dengan yang suaminya katakan. Ciri-ciri itu sama persis seperti yang ia rasakan pada suaminya.


"Yes... itu artinya kau mencintaiku juga." Mata Revan berbinar seketika.


Rara hampir saja menitikkan air matanya karena terharu. Apa ini adalah awal kebahagiaannya setelah cukup bersabar selama ini. Apa ini nyata atau hanya mimpi belaka?


"Kenapa kau menangis?" Revan mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya.


"Aku terlalu bahagia, Kak. Apa aku sedang bermimpi?" tanya Rara sedikit tergugu.


Revan sangat paham mengapa istrinya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Dari awal pernikahan mereka yang terpaksa sampai si suami yang masih mempunyai kekasih hingga hari ini tiba-tiba menyatakan cinta.


Revan mendekatkan wajahnya, ia mengecup mata indah yang masih basah itu bergantian.


"Jangan menangis lagi, ini nyata apa kau masih tidak percaya?"


Bukannya berhenti menangis, air mata Rara malah mengalir semakin deras.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2