Deep Heart

Deep Heart
239. Raja Gila


__ADS_3

" Paman... antar aku ke rumah tebing air terjun " pinta Erden setelah semalam beristirahat di vila


" ke atas....untuk apa raja Erden ??" tanya Aflan kaget


" Tidak apa-apa paman.. aku hanya ingin melihat saja " sahut Erden


" Kita berangkat setelah sarapan !!" pinta Erden lagi... Aflan pun hanya bisa mengangguk saja


" Tapi aku tidak tau apakah rumah di atas terawat ataukah tidak, karena selama 10 tahun aku juga tak pernah menengoknya "


" Tidak apa-apa paman... ayo kita sarapan !!"


Selesai sarapan dengan di pandu oleh Aflan keduanya lalu berangkat ke rumah tebing air terjun....dari kejauhan terlihat rumah yang ternyata masih berdiri kokoh bahkan tamannya begitu indah


" Sepertinya tempat ini di rawat selama ini ??" ucap Aflan kaget


" Rumah ini memang di rawat paman .. aku memerintahkan beberapa orang untuk merawat semua peninggalan paman, namun aku belum pernah ada waktu untuk mengunjungi tempat ini " jawab Erden


" Oh begitu... mengapa kau tetap merawat tempat ini di saat kau melarang paman untuk tinggal di Mongun... apakah memang kau ingin paman kembali ??" tanya Aflan


Erden menghela nafas panjang....


" Sebenarnya aku tak berniat untuk mengusir paman dari Mongun... namun itu adalah cara terbaik agar aku bisa melupakan Amara , jika aku belum bisa melupakannya dan aku bertemu lagi dengannya mana bisa aku cepat melupakannya paman " jelas Erden


beberapa pekerja nampak langsung berlarian dan memberi hormat pada keduanya


" Salam raja Erden... salam tuan Aflan !!" sapa mereka sambil berlutut


" Salam untuk kalian juga, bagaimana apakah kalian betah tinggal di sini ??" tanya Erden


" tentu saja yang mulia, apalagi kami di perkenankan untuk membawa istri kami di sini... kamu jadi sangat betah !!" sahut pekerja yang merupakan prajurit Mongun tersebut.


" Mari silahkan masuk paduka ... tuan Aflan, istri kami sudah memasak .. paduka dan tuan bisa langsung makan malam setelah beristirahat " sambut penjaga rumah tersebut

__ADS_1


" Sebentar aku masih ingin jalan-jalan, paman beristirahat lah jika kau lelah " tolak Erden... Erden lalu berjalan menuju ke pinggir air terjun yang kini sudah di beri pagar untuk keamanan.


Erden memandangi dan merasakan betapa sejuk hawa yang ditimbulkan oleh percikan air terjun tersebut


" Pantas saja paman suka disini...paman bahkan berencana untuk pensiun dan tinggal di sini bersama Amara..Tempat yang sudah begitu jauh dari keramaian bahkan dari jauh dari kemewahan namun mengapa ibu sampai begitu tega menyakiti Amara padahal ia sudah berada begitu jauh di tempat terpencil seperti ini " ucap Erden


Erden melompati pagar yang sudah di bangun kini agar lebih aman , Erden menengok ke bawah sambil mengukur kira-kira seberapa jauh dulu Amara jatuh


" Gila.... begitu tingginya air terjun ini dan Amara yang sedang mengandung Sarah memang tak mungkin selamat jika tidak di tolong oleh para naga.... dan ibu sama sekali tidak merasa bersalah atas hal itu ?? padahal ia melakukan semua itu hanya untuk memenuhi keinginannya tanpa memperdulikan efeknya pada orang lain .... oh ibu terbuat dari apa hatimu ??" rutuk Erden


" Pantas saja paman begitu takut Sarah kenapa-napa jika menjadi pendampingku, jika ibu tau bahwa Sarah adalah putri Amara pasti ibu akan melakukan apapun untuk memisahkan kami. Dasar ketidak sukaan ibu pada Amara adalah karena ayah lebih mencintai ibu Amara yaitu Astinah dibanding Sora. Huffff permasalahan wanita memang sangatlah rumit. Sarah ... aku berjanji padamu , selama aku hidup hanya kaulah yang aku cintai dan aku tak akan pernah mendua... apapun yang terjadi sayangku !!" janji Erden


" Raja Erden jangan berlama-lama di situ... nanti kau bisa jatuh, kau fikir para naga akan menangkap mu jika kau jatuh ??" celetuk Aflan dari balik pagar


Namun bukannya menjauh Erden malah membuka bajunya dan melemparnya ke arah Aflan


" Kita lihat saja paman.. apakah para naga akan menangkapku atau tidak !!" ucapnya sambil bersiap untuk melompat ke air terjun


" Raja Erden hentikan !! apa kau sudah gila ?? raja Erden ingat Sarah sedang hamil !!" teriak Aflan gabut melihat apa yang di lakukan oleh Erden


Sungguh Aflan sangat tak menduga melihat apa yang di lakukan oleh Erden... tanpa di sadarinya ia sampai ngompol


" what apa aku sudah setua ini sampai ngompol di celana, Erden aku akan mencekek mu karena telah membuatku aku mengompol 🤬🤬" omel Aflan


" Kalian cepat jemput paduka di dasar air terjun, bawakan selimut !!!" teriak Aflan lalu ikut menyusul terjun ke dasar air terjun


Mau tak mau Aflan harus ikut terjun walau dengan nyali yang sangat ciut ... ia sudah tidak muda lagi, jika ia masih seumuran Erden tentu ia akan ada takutnya... namun jika nanti Erden celaka dan ia tidak menyusulnya habis lah dia bakalan di pancung juga oleh jendral Saga


" Asemmm asemmmm ini namanya kanan kiri sama saja... mati juga , Isla kuharap kau akan merawatku dengan telaten jika tulang tuaku ini patah nanti 😭😭 " doa Aflan sambil melompat


" Dasar kau raja gilaaaaa....!!!" teriak Aflan tak berapa lama tubuh Aflan pun menyentuh dasar air....sungguh rasanya begitu sakit, dengan segenap tenaga Aflan berusaha berenang naik ke permukaan... dadanya serasa hendak pecah saat ini sampai hidungnya kemudian bisa menghirup udara lagi


" Huh...huh...huh... terdengar suara Aflan yang berusaha mencari pijakan terdekat, matanya mencari-cari keberadaan Erden dan akhirnya ia melihat Erden yang juga baru saja keluar dari air dan duduk di bebatuan yang lumayan besar sambil mengatur nafasnya

__ADS_1


Sekuat tenaga Aflan mendekati Erden... begitu dekat Aflan langsung menampol kepala Erden, ia sudah sangat geram...terserah setelah ini walau ia dihukum ia tak perduli


" Dasar kau raja gila, bagaimana mungkin kau terjun dari ketinggian yang begitu tinggi Erden ?? apa kau tidak takut mati ?? apa kau punya 7 nyawa hah 😡😡🤬" omel Aflan dengan tubuh bergetar karena kedinginan...


" paman ?? kau ikut terjun juga ?? mengapa paman ikut terjun , apa paman punya 7 nyawa juga ??" sahut Erden terkekeh bukannya kesal setelah Aflan menampol kepalanya


" walaupun aku tidak punya 7 nyawa... rajaku yang terhormat...bagaimana aku tidak ikut terjun setelah raja Mongun terjun tepat di depan mataku , dan jika terjadi sesuatu padamu di saat aku mengawal mu kau fikir apa yang akan terjadi padaku hah ??" cecar Aflan


" Memangnya apa yang akan terjadi padamu paman ??" tanya Erden tanpa dosa


" aku akan di sate oleh jendral Saga karena gagal menjagamu dan akhirnya membuat putrinya menangis ....apa kau sudah fikiran itu sebelum meloncat tadi ???" tanya Aflan heboh


" Aku tidak berfikir apapun selain menebus kesalahan yang sudah di lakukan ibuku pada paman Saga ... pada Amara dan juga pada Sarah yang saat itu masih berada di perut Amara " jawab Erden


Aflan terdiam sebentar hanya untuk mengambil nafas


" Jika kau memang ingin meminta maaf atas kelakuan ibumu bukan begitu caranya raja Erden, yang benar adalah kau beri pelajaran pada ibumu agar kedepannya tidak bisa lagi menyakiti Sarah juga ayah ibunya ... itu yang benar bukannya asal melompat macam tadi, sungguh apa otakmu itu tertinggal di pulau sana ??" Aflan masih saja begitu kesal pada Erden


" Aku kan tidak menyuruh paman untuk ikut denganku ....paman bisa saja turun melalui jalan lain kan, lagi pula paman sudah tua seharusnya ingat umur " ucap Erden lagi membuat Aflan hanya bisa diam kini sampai para prajurit datang


" Paduka raja... tuan Aflan apa kalian tidak apa-apa?" tanya prajurit yang baru sampai sambil membawa selimut seperti perintah Aflan. Prajurit memakaikan selimut pada Erden dan juga Aflan


" Nyalakan api !!" titah Aflan, keduanya lalu berpindah ke daratan untuk menghangatkan diri di depan api unggun yang dibuat. Para prajurit PO un berinisiatif menangkap beberapa ikan dan udang yang ada di sungai dan membakarnya untuk raja Erden dan juga Aflan


" Baiklah paman aku akan memberi pelajaran pada ibu, setidaknya ibu harus tau bahwa semua perbuatan akan ada balasannya " ucap Erden


" jadi kapan kita ke Sobaria ??"


" Besok pagi kita kembali ke Mongun... lalu kita ke Sobaria " sahut Erden


" Mengapa kita harus kembali lagi ke Mongun , kita bisa memotong jalan dan langsung ke Sobaria tanpa membuang waktu "


" Aku akan mengemas semua sisa barang ibu yang tertinggal di Mongun, tak boleh ada satu barangpun yang tertinggal....aku sudah tak ragu lagi untuk melarang ibu ke Mongun selama sisa hidupnya hanya itu yang bisa kulakukan untuk menyadarkan ibu bahwa ia tak akan punya kuasa lagi di Mongun " jawab Erden

__ADS_1


see you next eps


Jangan lupa untuk like komen dan vote ya


__ADS_2