
Sora mengamuk tiada henti, betapa sakit hatinya ... putra kesayangannya membuangnya hanya demi wanita lain. Ia tak bisa terima ada wanita lain yang berkedudukan lebih tinggi dari dirinya di dalam kehidupan putra kesayangannya.
" Lepaskan aku Max....aku harus menyusul Erden, permasalahan kami belum selesai !!" teriak Sora dari dalam kamar yang di kunci oleh Max
" max... maxxxxxxx.. dug dug dug buka Max, jika kau tak membuka pintu ini aku akan bunuh diri !!" teriak Sora prustasi.... dayang langsung berlari mencari raja nya begitu mendengar ancaman Sora
" paduka... permaisuri mengancam akan bunuh diri jika paduka tidak membukakan pintu nya !!" lapor dayang pada Max yang baru saja akan memulai pertemuan dengan jajaran kerajaannya
" Lanjutkan dulu kalian... aku ada perlu sebentar!!" titah Max lalu bergegas berjalan menuju ke kamarnya di mana Sora tengah mengamuk
" Katakan pada tabib, buatkan ramuan obat tidur dan campurkan di dalam teh... antar ke kamarku !!" titahnya pada ajudannya sambil berjalan
" Baik paduka raja !!"
dug dug dug
" Buka... Max... bukaaaaaa!!!" semakin dekat semakin terdengar teriakan Sora yang sudah macam orang gila membuat Max harus menarik nafas panjang sebelum masuk
" Buka !!" titahnya pada penjaga pintu
Begitu pintu di buka , Sora langsung saja keluar dan berlari namun dengan gesit Max menangkap tangan Sora dan menariknya ke pelukannya
" mau kemana kau Sora ?? " tanya Max
" Aku mau mencari Erden... aku mau bilang semua yang di katakan Saga itu bohong....Saga hanya ingin balas dendam padaku, makanya ia memfitnahku !!" jawab Sora dengan berlinang air mata
" Putramu sudah meninggalkan istana, kau tak akan bisa mengejarnya... seperti kata Erden jika ada yang ingin kau jelaskan kau bisa menulis surat padanya " sahut Max... Sora menggeleng berulang kali
" tidak... tidak mungkin Erden melakukan ini padaku Max, aku ibunya... aku melakukan apapun agar dia mendapatkan posisinya seperti sekarang ini, dan dengan mudahnya ia memintaku mengerti ?? bagaimana jika kau jadi aku Max... bagaimana ?? " cecar Sora kesal karena Max tak juga mau melepaskannya
" Mungkin ini yang namanya karma Sora.... sudah ya jangan terlalu difikirkan !!" ucap Max pelan
__ADS_1
" karma ?? karma atas apa ?? karma karena aku meninggalkan ayahnya yang telah lebih dulu menghianati aku ?? karma karena aku lebih memilihmu begitu maksudmu ??" tanya Sora pada Max
" sekarang katakan padaku, apa benar kau memerintahkan Roxana untuk melenyapkan Amara ?? " tanya Max sambil memandangi bola mata Sora, Sora membuang pandangannya ke arah lain...
" katakan Sora !!"
" ya !! aku melakukannya lalu mengapa ?? "
" Mengapa kau melakukannya Sora, Amara bahkan sedang hamil saat itu ... " tanya Max lagi
" Apa kau lupa... aku melakukan itu untuk putrimu Sofia !! dia terlalu tergila-gila pada Saga.. dengan adanya Amara di dunia ini Saga tak akan pernah mau menoleh pada Sofia, aku melakukan itu untuk memuluskan jalan Sofia agar bisa mendapatkan apa yang diinginkan putrimu!! apa kau puas sekarang ??" cecar Sora membuat Max terdiam... ia jadi teringat kembali dengan penderitaan putrinya itu dulu saat ia sangat tergila-gila pada Saga ... putrinya itu bahkan sampai mati dalam kesengsaraan , jika di bilang marah ia memang sangat marah pada Saga namun untuk apa saat ini , putrinya juga sudah tiada... ia juga sudah lah tak muda lagi, di hatinya hanya ingin hidup dengan tenang dan bahagia dengan Sora dan putri semata wayang nya Sofia
" Maaf kan aku Sora jika putriku membuatmu jadi begini " ucap Max sambil memeluk Sora... ia bisa merasakan betapa hancurnya Sora saat ini
" Aku tidak rela Max..hik hik hik, aku tidak rela dengan semua ini. Sudah suamiku di ambil oleh Astina.....Saga di ambil oleh anak Astina dan kini putraku pun di rebut oleh cucu Astina.... tidak Max aku tidak rela jika darah keturunanku harus bercampur dengan darah wanita brengsek itu 🤬🤬, lebih baik aku mati !!" sumpah Sora membuat Max terkejut
" Jaga perkataanmu Sora... apa kau tidak ingat dengan putri kita, ia akan sangat sedih jika mendengar perkataanmu ini...seolah kau tidak menyanyangi putri kita " protes Max
" minumlah dulu teh ini sayang... kita bicara lagi nanti setelah kau lebih tenang ... ok !!" rayu Max sambil meminumkan teh yang sudah di beri obat tidur itu pada Sora, tanpa curiga Sora meminum teh tersebut hingga tandas... lelah berteriak membuatnya kehausan
" Max... berjanjilah padaku !!"
" ya Sayang... apa yang kau inginkan ??" tanya Max
" Aku berjanji akan menghabiskan sisa hidupku hingga aku mati di sini, di Sobaria namun dengan satu syarat....." pintanya dengan mata yang mulai sayu
" Apa syaratmu Sora ??" tanya Max sambil membelai rambut panjang Sora
" Bantu aku memutus hubungan darah antara aku dan Astina... aku tak mau keturunannya bersama dengan putraku Erden.... berjanjilah Max, jika tidak aku akan bunuh di....." Sora tak sempat menyelesaikan ucapannya karena pengaruh obat tidur sudah membuatnya tak sadarkan diri.
Max membaringkan Sora... ia membersihkan wajah istrinya dengan telaten lalu menyelimutinya
__ADS_1
" Baiklah Sora... jika kau berjanji untuk tinggal di sini selamanya, aku akan melakukan permintaan terakhirmu !!" janji Max sebelum meninggalkan Sora untuk kembali ke ruang pertemuan
💔💔💔💔
Wajah sedih Erden terlihat jelas selama perjalanan meninggalkan istana kerajaan Sobaria menuju kembali ke kerajaan Mongun. Aflan terus memperhatikan nya...
" Aku akan memberi waktu padamu raja Erden, ku tau apa yang kau lakukan ini bukanlah hal yang mudah... jika aku jadi kau , akupun akan sakit kepala memikirkan nya ..." ucap Aflan dalam hati
" Raja Erden....apa kau baik-baik saja ??" tanya Aflan memecah keheningan
" Jika aku bilang aku baik-baik saja .... maka aku bohong paman, hatiku sangat hancur mendengar teriakan ibu.... namun kurasa itu sebanding dengan apa yang telah di alami Amara dan Sarah selama ini. Beri aku waktu paman... aku akan baik-baik saja !!" sahut Erden bijak... Aflan tersenyum
" Tak terasa kau sudah begitu dewasa sekarang raja Erden, aku masih ingat bagaimana dulu kau selalu menanti jendral Saga pulang dari berperang dan ingin bertanding pedang dengannya... kau sangat ingin menang melawan pamanmu... pria yang sangat kau kagumi dan idolakan ha ha ha " ucap Aflan sambil terkekeh
" Ya paman... terus terang aku lebih tertarik dengan dunia paman dari pada dunia ayahku sendiri. Aku selalu berkhayal pasti enak pergi berperang dan mengasah kemampuan pedang ku, kemampuan di lapangan ... kemampuan memenangkan sebuah peperangan dan aku sama sekali tak tertarik untuk menjadi seorang raja seperti ayah. Namun siapa sangka aku sekarang bisa menjalani keduanya... " kekeh Erden pula
" Lalu apakah kau akan tetap memperluas kerajaan Mongun setelah kau menikah dengan Sarah ??" tanya Aflan lagi
" Aku merencanakan untuk tidak memperluas Mongun dulu paman... aku ingin menghabiskan waktu dengan Sarah sepuasnya paman. Aku rasa kekuasaan ku sudah sangat besar.. keuanganku juga sudah sangat bagus, jika bisa aku ingin libur memimpin kerajaan dulu beberapa saat dan ingin tinggal berdua saja dengan Sarah tanpa harus sibuk memikirkan urusan kerajaan " sahut Erden dengan wajah sudah mulai cerah begitu membicarakan Sarah
" Kau bisa meminta jendral Saga atau ayahmu untuk mengantikan mu sementara raja Erden... mereka pasti bersedia " saran Aflan
" ya paman benar, terimakasih atas saran pa....."
" Berhenti.....!!! raja Erden tolong berhenti, beri kami keadilan !!" tiba-tiba saja sekelompok orang menghalangi perjalan Erden beserta pasukan
" Buat parimeter... lindungi paduka !!" titah Aflan sambil menarik kekang kudanya agar maju menghadapi sekelompok masa tersebut
" Katakan siapa kalian ?? mengapa kalian menghalangi perjalanan kami ??" tanya Aflan
Hemm siapa ya mereka, jadi pinisirin... sambung besok lah onel mau bobo dulu dan ngaktuk... kopinya kurang kayaknya ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1