Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Sembuhnya Marzuki


__ADS_3

Rupanya pengobatan Marjuki, tanpa disiarkan dengan mikropon keliling kampung atau toa masjidpun telah terdengar dari telinga ke telinga,mulut ke mulut..


Lek Muhsin mulai mengobati, sementara aku


mempersiapkan yang diperlukannya.Lek Muhsin memang sudah profesional, segala macam cara mengobati orang kesurupan dia kuasai.


Dari yang


model kejawen, ilmu tao, ilmu tenaga dalam, dan


ilmu rukyah. Lek Muhsin mulai mengobati dengan ilmu tao, bajunya diganti jubah kuning, dan ada simbol tao di punggungnya, semua mata menatap tegang ketika dia beraksi, dengan uang logam Cina kuno yang dengan cepat dibentuk pedang,


dan tangan kirinya memegang pedang dari kayu setigi.


Tubuh lek Muhsin mulai berloncatan kesana kemari, membuat jurus seperti di film2 vampire mengelilingi Marjuki, tiba-tiba Marjuki yang sedari tadi diam, menatap kosong, serentak ramai.


“Ayo… ayo menari…, bang Roma menarinya kurang seru, kenapa tak pakai gitar…?”


semua yang ada di situ


kontan ketawa, karena memang lek Muhsin


adalah penggemar Roma Irama, jadi biasalah


kalau dari potongan rambut, jenggot, dia


upayakan mirip dengan Roma.


Tapi lek Muhsin ini tak terlalu, malah ada


tetanggaku yang mirip sekali, namanya Joni,


sangking ngidolain banget sama Roma, bukan


hanya rambut dan jenggotnya yang dibuat mirip


Roma tapi juga suaranya,,


Suatu saat dulu pernah kulihat Joni lagi naik sepeda, ee ada lagunya Roma diputar kenceng-kenceng dirumah pinggir jalan yg dilaluiny, maka si Joni segera menghentikan lajuny turun dari sepeda, lalu sepedanya disandarkan di pohon, ia nyamperin ke rumah yang lagi muter lagu,


“Bang, numpang joged ya?” kata si Joni,,


tanpa nunggu jawaban tuan rumah si Joni langsung joged, sampai lagu selesai, dan setelah lagu selesai, dia pun permisi,


tak lupa mengucapkan terima kasih, dengan


dialek khas suara Roma,berjalan menuju sepedahpun dengan gaya Roma😑..


Karena dengan jurus tao tidak ada perubahan


apa-apa, lek Muhsin pun segera mengubah


pengobatan dengan tenaga dalam dan ilmu


kejawen, tapi juga tak menghasilkan apa-apa,,

__ADS_1


Malah Marjuki bilang katanya permainan


sandiwara lek Muhsin untuk menghiburnya


teramat membosankan, Marjuki minta diganti


lakon yang lain saja, dan disambut ketawa meriah oleh penonton yang menyaksikan, karuan saja membuat lek Muhsin malu bukan kepalang.


Keringatnya mengalir deras sampai lehernya


basah, dan pakaiannya juga basah. Seperti orang


yang habis nyangkul di sawah satu hektare, aku memahami perasaan lek Muhsin.


Kali ini lek Muhsin mengobati dengan cara lain yaitu menggunakan metode rukyah,


membaca ayat-ayat Alqur’an, ayat satu


digabungkan dengan ayat yang lain, tapi


pengobatan rukyah ini rupanya juga tak begitu


ada hasilnya,,


Marjuki malah siat-siut mengantuk, ayat-ayat Alqur’an itu seperti menina bobokannya, melihat gelagat yang tak baik ini, aku segera ikut membantu, seluruh wirid yang biasa ku baca, ku baca dalam hati tiga kali, sambil menahan napas.


Serasa hawa aneh mengalir bergeletaran dari pusarku, ku salurkan ke tanganku ku arahkan ke tubuh Marjuki, ku bayangkan tubuh jin yang ada di tubuh Marjuki terlingkupi dan berusaha ku sedot ke tanganku,,


Tiba-tiba tubuh Marjuki yang siat-siut ngantuk


itu membuka matanya,bergerak liar dan “krimpying..!!,kretekkriet..!!,” suara rantai serta kayu yg memasungny,


dipakai memasungnya sebesar dekapan manusia


itu berderak membalik.


Dengan Suara Berat Marzuki berteriak


“Hah, siapa yang mencoba menarikku keluar dari tubuh ini, errhrrr..brrrr…bedebah, belum tau siapa aku Rupanya?!”


“Aku iki panglimane Nyai Roro kidul, ayo sopo


pengen adu ilmu…huhahahaha…”


Sebenarnya aku grogi juga mendengar yang masuk ke tubuh Marjuki adalah


anak buah ratu pantai selatan,yang mana ceritanya sangat Terkenal di masyarakat..


Keringatku pun mulai keluar bercucuran, aku segera meminta tikar kepada pak Soleh, sementara keadaan semakin menegangkan. Di Saat itu lek Muhsin rupanya juga yg takut lebih tambah Ciut, dia mencengkeram lenganku.


“Bagaimana ini yan?’


“Tenang lek, aku akan berusaha… nanti bantu


wirid Basmalah sebanyak-banyaknya…” kataku,

__ADS_1


sambil melihat wajah lek Muhsin yang ketakutan.


Setelah pak Soleh datang membawa tikar.


Akupun menggelar tikar di tempat yang bersih,


mengingat lawan yang berat, aku pun berinisiatif membaca fatihah kepada Nabi dan silsilah tarekat ......................., sampai ke


Kyaiku, Kyai.....


Sementara Marjuki masih ketawa sesumbar.


Tiba-tiba salah seorang penonton tanpa diduga duga, seorang setengah baya kesurupan, dan maju ke depan ke


arah Marjuki yang masih tertawa terbahak-bahak.


Mendadak saja tertawa Marjuki berhenti, aku


masih membaca wirid, dengan khusuk, tak urung


suara orang yang kesurupan itu terdengar di telingaku. Suara itu suara Kyai..


Aku pun membuka mata, nampak orang yang


kesurupan itu petentang petenteng, di depan


Marjuki yang sekarang tertunduk, takut-takut.


“Kau tau siapa aku?” suara Kyai berwibawa.


“Ampunkan saya, saya tau tuan Kyai...…”


suara Marjuki dengan nada takut.


“Lalu kalau kau tau siapa aku kenapa tak cepat


keluar, apa aku sendiri yang akan mencabutmu dan menjadikanmu debu..!!” suara Kyai


membentak.


Tiba-tiba tubuh Marjuki lemas. Dan


menggelosor ke tanah,bagaikan tidak ada tulangnya. Kyai yang ada di tubuh


orang lain itu segera mengusap tubuh Marjuki yang tak lama segera sadar. Dan memanggil ayah ibunya.


Sementara Kyai mendekatiku dan membisiki


telingaku.


“Kalau mau kembali ke pondok, kalau sakit biar sembuh dulu.”


tak selang lama orang desa yang kerasukan tersebut segera sadar, Lelaki yang sebelumnya dipinjam wadahnya oleh Kyai itu linglung tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.


Hari itu Marjuki benar-benar telah sembuh, dan segera dimandikan, aku dan lek Muhsin pun

__ADS_1


mohon diri..


Bersambung.....


__ADS_2