
“ini ada gunting, biar ku potong sedikit
rambutmu, sebagai sarat aja.” kata Munif
mengeluarkan gunting dari tas pinggangnya.
“Iya ini potongin. Tadi pisahan sama Muhsin di mana?” tanyaku sambil membiarkan rambutku
dipotong Munif.
“Ya tadi waktu towaf putaran ketiga, tapi kok
tadi hpnya dititipkan ke aku.” jawab Munif
sambil merapikan potongan rambutku.
“Lhoh gimana to…, ya kan seharusnya hp dibawa sendiri-sendiri, la kalau pisahan kita ndak ketemu gimana?” tanyaku kaget.
“Ndak tau tadi hp nya dititipkan, ini hp nya.”
kata Munif sambil mengeluarkan Hp nya Muhsin.
“Wadoh… gimana ini, lha nanti dia mau ngubungi kita pakai hp siapa?”
“Lha kamu juga mau to Nif dititipin hp..,
harusnya kamu jangan mau.”
“Ya pikirku dititipin hp juga gak berat-berat
amat, kenapa gak mau…”
“Yo bukan masalah beratnya to Nif, la kalau kita mau ngubungi Muhsin pakai hp siapa hayo… coba nyalain hp nya, kali aja dia ngubungi kita pakai hp si sopir itu.”
“Wah gak bisa dihidupin.” kata Munif mencat
mencet hp.
“Oalah, hp pakai di-PIN segala, jan repot banget si Muhsin.” kataku yang coba membuka hp
ternyata pakai PIN.
Satu jam menunggu, tapi Muhsin tak juga
muncul.
“Nif gimana kalau kita ke mobil yang diparkir,
kamu tau kan di mana mobilnya diparkir?” usulku, yang lama-lama mumet melihat orang yang wira-wiri. “Ya siapa tau mobilnya kita bisa ganti baju, soalnya pakai baju umroh terus risi juga.”
“Iya, aku tau tempatnya, ayolah daripada diam…”
Jawab Munif yang langsung berdiri.
Kami pun berjalan menuju mobil yang diparkir
berjarak tiga kiloan dari area Masjidil Haram,
dalam perjalanan waktu sholat dan di tengah
perjalanan waktu sholat jum’at pun mulai, kami berdua menjalankan sholat jum’at di jalan,
selesai sholat jum’at kami sebentar istirahat
tidur di rerumputan taman, lalu melanjutkan
mencari mobil yang diparkir, sampai di mobil,
ternyata mobil terkunci.
“Wah bagaimana mobilnya terkunci.” kataku
kecewa, sebenarnya aku yakin kalau mobil
terkunci tapi aku berharap entah kebetulan si
sopir pas kembali ke mobil.
“Gimana sekarang Nif? Kita kayak orang hilang
gini…?”
“Kalau balik lagi ke tempat kita janjian ngumpul bagaimana?” tanya Munif kayak orang bingung.
“Ya gak papa, aku jalan jauh juga dah biasa, tapi kamu sendiri yang setengah tua gitu apa ndak
pegel…?” tanyaku kepada Munif yang ku lihat
wajahnya memelas.
“Ya aku ndak pegel…, tapi kita tiduran bentar di
taman tadi ya…”
“Yaah itu namanya pegel…”
__ADS_1
“Udah kalau ndak kuat puasa, batalin saja…, kita kan musafir,” kataku menghibur. “Bener-bener
risih pakai pakaian umroh jalan wira-wiri, tiap
orang-orang ngelihatin kita, kita jadi kayak
badut, mungkin malaikat pada ngetawain kita
dari atas, sampai giginya copot melihat kita jalan wira-wiri kayak orang bingung.”
“Memangnya malaikat punya gigi? Bukannya dia gak doyan makan? Apa di tempat malaikat ada jualan bakso balungan yang harus dimakan pakai gigi, atau keripik singkong?”
“Ya kalau daging kurasa ada, kan Nabi Ibrohim
waktu mau nyembelih Nabi Isma’il didatangkan kambing oleh malaikat.” jawabku sekenanya.
“Oh iya…ya.” kata Munif.
“Eh tidak ding… itu kambing kurbannya Habil
yang dikasihkan ke Nabi Ibrohim…, tapi untanya nabi Soleh, atau buroknya Nabi Muhammad kan juga dari alam malaikat, berarti ada kayaknya di sana binatang.”
“Ah bingung aku, udah tiduran bentar saja…”
kata Munif yang segera tiduran di rumput
taman.
“Nif, kamu bawa uang gak?” tanyaku.
“Bawa tapi di ATM,” jawab Munif.
“Ya kalau begitu kita bisa pulang.”
“Tapi aku tak bisa ngambil.” jelas Munif.
“Lhoh kenapa…?”
“Aku tak tau caranya…”
“Lalu selama ini kamu ngambil gaji bagaimana? Kamu di Arab kan sudah empat tahun, masak
ngambil uang di ATM saja kamu ndak bisa, wong tinggal mencet, ah sama dengan orang badui Arab kamu, udik, gak bisa ngambil uang di ATM.”
“Ya nyatanya aku ndak bisa, aku takut salah
pencet, malah ATM nya rusak.”
“Ah bener-bener dah… apes bener kita,”
“La kamu ndak punya uang di ATM?” tanya
Munif.
belum, siapa yang mau ngisi.”
“Kamu hafal nomer ATM mu?” tanyaku.
“Ya tak hafal, tapi aku selalu bawa nomer
pinnya.” jawab dia sambil mengeluarkan kartu
ATM yang di bungkus amplop yang ada tulisan nomer pinnya, lalu menyodorkan kepadaku.
“Aku sendiri juga belum pernah ngambil uang
lewat ATM, tapi daripada bengong, mending kita coba.” kataku meyakinkan.
“La nanti kalau kartuku nyangkut di dalam
bagaimana?” katanya takut.
“Memang ada kayak gitu?”
“Ya ada, banyak,”
“Terus kalau kartunya ketemu orang, nanti
uangku dikuras semua.”
“Kan ada PIN nya.”
“La kalau pinnya ketahuan?”
“Ah seribu banding satu lah, nomer pin ketahuan orang.”
“Kartunya dipegangi ya, atau diikat benang, kalau ngangkut di dalam kan bisa ditarik.”
“Aaah gak-gak kalau nyangkut, jadi gak kita
ngambil uang, nanti kalau terpaksa kita ndak
ketemu Muhsin, kita pulang pakai Bus aja.”
“Dengan pakai pakaian umroh gini, di bis apa tak diketawain orang sampai giginya tanggal?”
__ADS_1
“Ya tanggal juga gigi mereka sendiri, yang
penting kita kan tidak nyuri pakaian umroh..”
jelasku.
“Udahlah kalau dapat uang kita beli baju.” kata
Munif.
“Ya kan celana juga, ini aku ndak pakai ******
*****.”
“Ya sama…, iya nanti beli baju sama celana.”
“Ayo cari ATM.” kataku bangkit dari tidur.
Dan kami berjalan, untung di Saudi di
perempatan dan di setiap gang atau keramaian ATM selalu ada, dan aku masukkan kartu ATM di salah satu ATM.
“Hati-hati mencetnya, jangan sampai salah.”
Ku ganti bahasa dengan bahasa Inggris, walau
aku sendiri belum pernah ngambil uang di ATM, tapi nyatanya gak sulit.
“Ngambil berapa?” tanyaku ketika di dalam
menanyakan uang yang akan dilakukan transaksi penarikan.
“Seribu aja dulu.” jawab Munif.
“Wah uangmu banyak juga.”
“Iya aku ambil sekali kalau mau pulang, jadinya
ngumpul.” jelas Munif.
Setelah mengambil uang dari ATM kami berjalan kembali ke Masjidil Haram. Tapi baru sampai pasar di sekitar Masjidil Haram hp Munif berbunyi.
Munif segera mengambil hp yang ditaruh di tas
pinggangnya, lalu diangkat.
“Si Muhsin..” kata Munif berbisik.
“Kamu di mana?” tanya Munif.
“Di tukang cukur.” jawab Muhsin.
“Tukang cukur di mana? Kan tukang cukur
banyak.”
“Di bawah jembatan.” jawab Muhsin.
“Ini aku juga di bawah jembatan, jembatan
sebelah mana?”
“Jembatan sebelum pasar.”
Aku yang tengak-tengok, melihat Muhsin pas di
belakang Munif, hanya dipisah jalan raya, tapi
kedua orang itu saling membelakangi. Aku tepuk pundak Munif, dan ku tunjukkan arah, dimana Muhsin sedang menelepon. Munif nengok dan melihat Muhsin.
“Iya kami sudah melihat, kami akan kesana.” kata Munif.
Maka kami pun menyeberang jalan, dan bertemu Muhsin.
“Lhoh belum cukur rambut mas?” tanya Muhsin.
“Aku cukup potong sedikit, tadi sudah dipotongin Munif.” kataku.
Dan kedua orang itupun saling menyalahkan soal hp, aku hanya melihat, bagiku tersesat dan
kehilangan kontak sangat penting, karena bisa
tau dan sedikit hafal jalan-jalan Makkah,
sehingga suatu saat jika datang ke Makkah
setidaknya sudah setengah hafal.
Dan banyak sekali hikmah yang bisa ku dapat,
dan ini akan menjadi kenangan bagiku dengan
temanku si Munif yang telah lebih dahulu
menghadap Alloh karena kecelakaan di
__ADS_1
perjalanan kerjanya, semoga amal ibadahnya
diterima di sisi-Nya.