Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Pertemuan Ketiga


__ADS_3

Kami pun pergi meninggalkan warung, seperti biasa aku dibekali, kali ini krupuk jengkol sekresek. Lumayan buat cemilan.


Sampai di pondok aku segera mengajak Khanafi untuk membuat adukan semen dicampur alkasit supaya


memperlambat pengeringan semen, guna membuat ukiran kaligrafi semen.


Hari berlalu begitu cepat, kebetulan malam nanti jum’at kliwon, tiap jumat kliwon di pesantren diadakan acara jamiyah khataman Torekot***********************, sejak sore, tamu yang akan mengikuti khataman sudah pada datang, selepas magrib mobil-mobil telah mulai memenuhi tempat parkir.


Para santri sibuk menata dan mengarahkan parkir mobil agar mudah kalau mau masuk arena parkir, sementara santri yang lain


menerima tamu, mengumpulkannya di majlis,


majlis dzikir yang terbuat dari bambu.


Berdinding kerai, dan beralaskan bambu yang


dipecahkan dan dibentang, yah orang-orang yang


datang dengan mobil mewah dengan yang datang


dengan angkot, duduk bersama tanpa membedakan jabatan, atasan dan bawahan.


Semua datang dengan niat masing-masing.


Banyak yang membawa air botol aqua, juga


berbagai macam senjata tajam semua ditumpuk di tengah-tengah majlis dzikir.


Kyai tak pernah menolak bagaimanapun orang


yang datang, bahkan ada juga orang beragama


Hindu dan Budha atau Kristen yang datang,


walau ujung-ujungnya juga masuk Islam, tapi


Kyai tak pernah memusuhi mereka, semua patut diajak ke jalan kebenaran dengan kehalusan budi, dengan kasih sayang, belum tentu yang sekarang jahat, yang sekarang kafir, nantinya malah meninggal dalam Islam.


Dan sekarang yang Islam juga tak sulit bisa saja nanti mati dalam kekafiran.


Jam masih menunjukkan jam 9 malam, tamu


sudah berjubel sampai jalan, padahal biasanya wirid dan dzikir dimulai pukul 11 malam.


Aku masih di dalam kamarku, di depan kamar telah penuh orang, kunyalakan sebatang Djarum Super, dan kunikmati secangkir kopi Kapal Api Duo Susu, saat seperti ini apa-apa berlimpah, para tamu banyak yang membawa rokok berpak-pak, juga kopi dan makanan, kami anak pesantren yang jarang makan enak tentu seperti ketiban rizki, walau itu tetap kami anggap biasa.


Kamarku dipakai nongkrong teman-temanku,


sampai penuh sambil menunggu saat wirid


dimulai, dan semuanya ngerokok, sampai asap


memenuhi ruangan, kalau sudah begini pakaianku yang kugantung di gantungan baju, yang nantinya baunya kayak baju dukun lepus.

__ADS_1


Nampak pak Made kepalanya nongol di pintu, pak Made adalah wartawan R***(salah satu stasiun tv swasta).


“Halah penuh.” katanya pendek.


“Iya pak, penuh asap,” kataku. “Masuk pak?”


“Enggak lah aku di depan sini aja."


Aku ingat waktu pak Made pertama ke


pesantren rombongan empat orang, pak Made


asalnya beragama Hindu. Saat itu setelah


menghadap Kyai.


Semua orang dikupas satu-satu, semua melongo karena Kyai tau mereka habis berzina dengan wanita panggilan di salah satu hotel.


Semua wajah menunduk seperti dihadapkan pada pengadilan Tuhan.


“Aku saja tahu dengan apa yang kalian lakukan apalagi Alloh, apa kalian berani menghadapi?” kata Kyai walau masih dengan nada lembut.


Besoknya pak Made disuruh membershkan diri di laut pantai Carita, dan setelah pulang dari pantai, maka pak Made dituntun membaca dua kalimat syahadah untuk masuk Islam, sejak itu pak Made aktif mengikuti jamaah torekoh******************, aktif mengikuti jamiyah, setiap bulan melakukan khataman.


Jam telah menunjukkan pukul 11 malam, dan


dzikir berjamaah pun dimulai dipimpin langsung oleh Kyai.


Para santri termasuk aku duduk di sekitar Kyai, dan para jamaah memenuhi majlis. Keadaan teramat kyusuk. Semua mengalir pelan, namun penuh ketenangan, sampai jam 3 dini hari


Masih ada waktu sebelum subuh datang, aku pun pergi ke kamar, menyelonjorkan tubuh dan melafatkan ilmu melepas sukma.


Sukmaku pun melesat, melintasi ruang dan waktu, ke arah sekolah angker di desaku, mungkin cuma lima menitan aku telah sampai, dilokasi keadaan sangat sepi, aku segera masuk ke dalam, tiba-tiba ku dengar suara,


“Nah ini orangnya sudah datang,” suara itu dari


2 arwah yang kemaren berantem denganku.


Tapi dari pintu melompat dua bayangan tinggi


besar menghadangku,


“Lho kok sampean kang?” kata bayangan satu ke bayangan yang lain. Seorang berkumis tebal melintang dengan pakaian ala Madura.


“Aku dipanggil muridku untuk menghadapi


pengganggu ketenangan tempatnya,” kata


bayangan satunya berpakaian besar ala warok


Ponorogo.


“La sampean dulu meninggalnya kenapa kang?” tanya orang yang berpakaian warok.

__ADS_1


“Aku menemukan lawan yang tangguh di, dan dia melukai punggungku sampai sobek melintang, yang mengakibatkan kematianku.” jawab orang yang berpakaian adat ala Madura sambil menunjukkan luka menganga tanpa darah di punggungnya.


“La kamu matinya bagaimana di..? Bukannya kamu punya ilmu kebal senjata?” tanya orang yang berpakaian warok,


“Ah, kang, ilmu kebalku ternyata ada yang


mampu menembusnya, lihat ini perutku…” orang yang berpakaian ala Madura itu menyingkap pakaian penutup perutnya dan kontan saja langsung terlihat luka menganga menyobek perutnya sehingga ususnya terburai.


“Ya udah lah kang, sekarang kita membereskan orang yang mengganggu murid kita.”


“Duar….!” suara letupan pecut hampir saja


merobek telingaku, pecut tambang yang


sebelumnya mengikat kepala warok Wiro Gubras,


Si Madura itu memanggil, tiba-tiba dilolos dari


kepalanya dan dihantamkan ke arahku yang


sedang berdiri mengawang di atas meja, untung aku terpeleset, sehingga lecutan cambuknya tak mengenaiku tapi aku terjengkang di lantai.


Tanpa daya. Aryo Lincang nama orang berpakaian Madura itu melompat menebaskan cluritnya, aku benar-benar tak berdaya, tubuh kaku dan tak bisa digerakkan sama sekali.


Aku sudah berusaha menggerakkan tubuhku tapi rasanya tubuhku seperti terhipnotis. Aku hanya bisa mendelikkan mata, ketika clurit Aryo Lincang menderu ke arah dadaku.


Dan “wuuut….!” begitu saja Aryo Lincang terlempar seperti daun yang diterbangkan angin.


Dan bau harum tapi lembut


kuhirup seperti melepas kelumpuhanku, nampak orang berpakaian jubah putih membelakangiku, orang tinggi besar, dengan surban pengikat kepala ala Mesir, juga berwarna putih.


Singo Gubras dan Aryo Lincang juga kedua


muridnya segera melompat dari jendela, saat


mengetahui orang yang datang. Dan segera


lenyap ditelan kegelapan.


Orang yang datang dan membelakangiku itupun membalik tubuhnya, ketika aku tau itu siapa, aku pun bersimpuh takzim, ya Syaih Abdul Qo*****************, ketiga kali ini mendatangiku, dengan idzin Alloh menolongku, aku segera menyalaminya tanpa


berani menatap agung wajahnya.


“Nah inilah ngger, maksudku, kenapa dulu aku


menyuruhmu untuk segera berbai’at toriqohku…”


Katanya dengan penuh berwibawa yang sulit


diceritakan dengan kata-kata. Aku masih


menyucup tangannya ketika Syaih telah pergi

__ADS_1


dari hadapanku.


Bersambung...


__ADS_2