
Rumah makan itu besar sekali, panjangnya aja sampai hampir mencapai seratusan meter, di bawah rumah makan itu ada pemancingan, pemilik rumah makan itu memintaku melukisi semua rumah makannya, tapi aku menolak karena mungkin setahun bekerja juga tak akan selesai, padahal aku bekerja hanya untuk sekedar buat makan di pondok, beli sabun dan pasta gigi, apalagi aku orangnya cepat bosan, dan melukis juga kalau lagi mod ya seneng tapi kalau lagi males, ya males. Jadi ku katakan aja kalau aku nanti mau melukis pasti akan datang, tapi kalau lagi tak mau aku pun pulang ke pondok, dan oleh pemilik rumah makan itu pun disetujui. Aku tinggal di musholla yang ada di tengah-tengah rumah makan itu, sebenarnya aku diminta untuk tinggal di rumah pemilik rumah makan itu, tapi aku lebih memilih untuk tinggal di musholla. Rumah makan itu kalau siang penuh dengan pengunjung, jadi aku memutuskan melukis di malam hari agar tidak mengganggu pengunjung rumah makan, juga konsentrasiku saat melukis tidak terganggu, dan saat itu aku diminta melukis pakai kuas, jadi tidak lukisan airbrush, sehingga tak perlu terdengar suara ribut mesin compresor. Aku mulai kerja jam sembilan malam, yaitu setelah rumah makan tutup, dan pelayan telah membereskan semua. Di hening malam tanganku segera menuangkan bongkahan beku imajinasi, mencoret sana sini, mengambil satu demi satu gambaran pikiranku, menuang dalam bentuk warna yang lebih nyata, untuk dinikmati siapa saja.
Seperti menyeret orang ke dunia hayalku, tanpa batas tanpa tepi. Malam bekerja dan siang puasa, Sangat nikmat sekali, dan wirid kulakukan di siang hari, wirid masih tahapan ringan, kalau dibanding tahapan puasa di atasnya, walau menurut orang yang tak pernah menjalankan wirid, wirid adalah berat. Tapi dibanding puasa yang tuju bulan, di samping
wirid aku harus menghatamkan Alquran selama seminggu, apalagi yang puasa sembilan bulan, disamping wirid aku harus menghatamkan Alquran selama satu hari, yaitu dari matahari terbit, sampai matahari tenggelam, pertama aku membayangkan bahwa itu tak kan mungkin, tapi setelah Kyai menjelaskan tentang ilmu melipat waktu, dan aku mengalami sendiri, ternyata itu hal biasa, imam syafii aja menghatam Alquran sehari tujuh kali. Sudah tujuh hari aku bekerja di rumah makan ini, pak Kosasih pemilik rumah makan ini, seorang DPR, MPR, Cilegon, orangnya supel, ulet dan pandai bergaul, kadang pak Kosasih ini memintaku berhenti bekerja dan mengajak ngobrol tentang agama.
“Mas Ian, sini-sini ngaso dulu, kita ngobrol.”
katanya sambil duduk di kursi, memangilku, aku pun meletakkan kuas besar yang kupakai
membuat lukisan rumput. Dan aku menghampirinya.
“Duduk dulu.” katanya lagi.
“Wah mas Ian ini hebat, jadi pelukis juga seorang santri.”
“Ah biasa aja pak.”
“Ah ya enggak biasa lah, apa ada di Indonesia ini, atau mungkin di dunia satu sisi, sementara sisi yang lain adalah seorang calon Kyai, tentu
sebagai santri ini mas Ian ilmu agamanya pinter?”
“Wah bapak ini, karena saya tak tau ilmu agama
__ADS_1
inilah saya mondok pak, kalau saya udah pinter
mungkin saya jadi tukang ceramah, kalau
pekerjaan melukis, ya karena orang tua saya tak
kaya, jadi kalau saya mau mesantren harus cari
makan sendiri, bisanya nglukis, jadilah kerjaan
ngelukis dijalani.”
“Ck..ck..hebat, hebat, memang jadi pemuda itu
harus mandiri, tak hanya menjagakan orang tua.”
“Wah udah hebat masih bisa membawa diri.”
“Ah jangan terlalu dilebih-lebihkan lah pak, nanti
saya gede kepala.”
“Ngomong-ngomong apa menurut mas Ian tentang sholat?”
__ADS_1
“Sama dengan yang ada di Alquran dan hadis,
sholat itu tiang agama, siapa yang mendirikan
sholat maka menegakkan agama dan siapa yang meninggalkan sholat merobohkan agama, karena sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Seperti obat yang menyembuhkan
penyakit, tentu efek sembuh di sini bukan saat mengkonsumsi obat itu, tapi setelaha mengkonsumsi obat itu, begitu juga pada sholat, dikatakan bisa mencegah perbuatan keji tentu adalah setelah orang menjalankan sholat. Kalau sudah sholat ternyata masih korupsi, masih ngomong jelek, masih iri, dengki, sombong dan segala macam perbuatan buruk dilakukan, ya diyakini aja sholatnya tak bener. Sholat itu ada syarat, rukunnya, luar dalam harus dipenuhi. Seperti orang mandi aja, harus ada kamar mandi, ada air ada sabun, semua semakin baik, akan semakin bagus hasilnya, walau cuma mandi, kalau bisa ada kamar mandi yang baik, tidak mandi di tengah lapangan, ada sabun yang baik, bukannya pakai lumpur, airnya juga harus bagus, air yang keruh penuh kuman, atau air got tentu setelah mandi bukannya bersih tapi akan malah kotor, begitu juga mandi tak bisa dibolak balik, habis diguyur air pake sabun diguyur air lagi, kalau sabun kita pakai belakangan, lalu pake baju, tentu diketawain orang.
Jadi tak bisa seenaknya sendiri, juga ada syarat dalam niat mandi itu mau mejeng atau mau agar bersih, agar sehat. Dan orang yang mandinya bener tidaknya tentu dilihat setelah orang itu keluar dari kamar mandi, kalau coreng moreng tentu mandinya tak bener, tapi kalau baunya wangi, bersih tentu mandinya benar.” “Lalu menurut mas Ian gimana kalau ada orang mengatakan, sholat itu yang penting hatinya, lalu orang itu tak mau sholat.”
“Kata-kata orang itu benar tapi dia tak mau
sholat itu yang tak benar. Maksud saya kata- kata orang itu benar, kebenarannya sebatas kata-kata, seperti orang mengatakan motor itu yang penting mesinnya, tentu kata itu benar, karena mesin bagus lari motor jadi kenceng, tapi apa yang sudah nempel di motor itu semua tentu penting, tanpa roda motor tak bisa kemana, roda ada unsur pelek, ger, jeruji, rantai, ban dalem ban luar, semua penting, satu aja tak ada motor tak akan kemana, kecuali dituntun, gitu juga sholat, satu aja rukun tak ada maka sholat itu walau masih dianggap sholat tapi tak sah, jangankan dapat pahala, sholat diangkat ke langit aja kgak. Seperti motor tak bisa kemana-mana, sekalipun mesin motor bagus, tapi tak ada roda, tak ada rem, tak ada onderdil yang lain, orang tak akan mau menyebut mesin motor itu adalah motor.”
Begitulah pak Kosasih, hampir tiap hari mengajak dialog tentang agama, dan aku selalu
berusaha untuk menanggapinya dengan memberi contoh yang bisa dinalar dengan rasio masuk dalam logika, sampai-sampai orang itu
menganggapku sebagai adiknya sendiri, dan mau menghadiahiku rumah tingkat di belakang rumahnya harapannya agar aku bisa diajaknya selalu membahas agama. Tapi walau aku miskin tapi aku tak mau hidup terjerat budi, seperti kata Kyaiku, yang selalu terngiang sampai kini saat itu aku mau bekerja di rumah orang yang masih ada hubungan saudara dengan Kyai, aku bertanya, apakah harus minta bayaran pada saudara Kyai itu.
“Mas Ian ini gimana, kalau kerja itu tak ada yang ikhlas, lha kalau beramal itu harus ikhlas. Semua ada tempat dan bagiannya masing- masing. Kalau amas Ian kerja ya harus minta gaji, nabi sendiri mengatakan: bayarlah gaji pegawaimu sebelum kering keringatnya, kalau amal kan banyak acaranya ada sedekah dan lainnya. Jadi jangan dicampur-campur.”
Malam itu aku sendirian melukis, jam menunjukkan jam dua dini hari, keheningan
__ADS_1
malam terasa mencekam betul malam ini, udara....
Bersambung...