
“Apanya yang sakit bu?”
“Saya itu kata dokter kan ada tumor di kandung
kemih, tapi pernah disuruh operasi, kok yang dioperasi kandungan, jadi operasi sudah dijahit kembali, dilihat lagi tumornya masih ada, dan
saya mau dioperasi ulang, saya jadi takut, perut kok diedel-edel, makanya sudahlah tak usah
operasi saja, maka saya ke tempat kyai minta
dido’akan saja, agar saya diberi kesembuhan
oleh Alloh.” kata perempuan yang bernama
Amrina.
“Iya, insaAlloh kalau Alloh mengijinkan, insaAlloh sembuh, nanti akan ku kasih air, diminum kalau mau tidur, dan tak akan makan apa-apa lagi, juga bangun tidur, sebelum makan apa-apa.”
“Baik saya paham.”
Lalu ku ambil air mineral, dan ku tiup dan ku berikan pada Amrina, dan perempuan itupun pulang diantar anaknya.
Namum besoknya sudah datang dengan ketakutan.
“Kenapa?” tanyaku.
“Saya takut kyai, tadi pagi saya kencing kok yang keluar seperti banyak daging, dan hancur hancuran daging, bercampur darah dan nanah, sampai badan saya lemas.” jelasnya.
“Tak apa-apa, itu tumor yang hancur, dan keluar lewat saluran kencing, sekarang bagaimana
rasanya?”
“Ya sekarang terasa enteng kyai.” kata Amrina.
“Ya moga saja akan sembuh total, dan segera
sehat.” kataku.
___________________________
Aku menemui tamu dua lagi yang terakhir, dua orang lelaki.
__ADS_1
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku pada kedua orang itu.
“Saya ini ingin ketenangan hidup kyai, kenapa kok saya selalu resah, rizqi susah dan serba kekurangan dalam rumah tangga.” kata seorang yang bernama Furqon.
“Kalau Al Qur’an sendiri mengatakan,
"Ala bidzikrillahi tatma’inul qulub", ingatlah hanya dengan dzikir Allohlah, hati itu bisa tenang, jadi kok resah tak tenang, maka jalan terbaik ya dzikir Alloh, ingat selalu pada Alloh, dzikir dengan benar, tak asal dzikir, yang bersanad, yang berguru.” kataku.
“Ma’af kyai, sebenarnya saya ini juga
berthoreqoh,”
“Ooo bagus itu, apa thoreqohnya?”
“Thoreqoh kejawen.”
“Lho memang ada thoreqoh seperti itu?”
“Ya ada, seperti yang saya ikuti itu.”
“Kalau boleh saya tau itu modelnya kayak apa?”
“Ya itu kami berkumpul, lalu melakukan dzikir,”
“Ya dzikirnya diam, duduk bersila kaki dilipat saling mengait, dan tubuh tegak diam, lalu menunggu kehadiran Alloh, Alloh itu ada di mana-mana, semua alam ini tak akan kuat ditempati oleh Alloh, yang kuat ditempati itu
hati,”
“Wah itu sesat.” “Dalam Qur’an sendiri kan Alloh itu bertempat meliputi Arsy, dan arsy itu meliputi sidrotul muntaha langit ke tujuh, dan langit ke tujuh meliputi langit di dunia ini, jadi kekuasaan Alloh itu meliputi langit dan bumi, wasi’a kursiyuhussamawati wal ardh, ingat cerita Nabi ketika dimi’rojkan oleh Alloh, sampai ke sidrotul muntaha, dan malaikat Jibril yang menemani tak sanggup ikut masuk ke mustawa, karena akan hancur lebur jika bertemu Alloh.
Jadi menunjukkan Alloh itu dzatnya ada, wujuduhu kamislihi syai’un, wujudnya tak ada yang menyerupai, karena kekalnya, besarnya, akbarnya, kesempurnaannya, jika kok dikatakan Alloh itu hanya di hati tempatnya itu amat menyesatkan.
Allohu itu cahaya langit dan bumi, jika tak ada cahaya-Nya maka langit dan bumi dan seisinya itu tak ada, langit bumi, aku sampean, ini kelihatan ada, karena pancaran cahaya Alloh, jika cahaya Alloh itu tak memancar, maka matahari padam, cahaya semua padam, juga cahaya akal dan hati, la akal saja bisa menterjemahkan apa yang dilihat mata, karena ada cahaya penjelasan dan pemahaman akan apa yang dilihat, yang masuk dan membuka tabir hati itu cahaya ilahiyah, Allohu nurussamawati wal’ard.
Dan adanya cahaya yang mengenai apa yang dilihat, dan adanya cahaya yang ada di mata, orang mati itu kalau kamu buka matanya, maka akan hilang cahaya matanya, jadi cahaya mata itu ada, coba lihat kucing kalau di tempat gelap di matanya akan ada cahaya biru atau hijau atau yang lain, makanya dia bisa melihat dalam gelap, tanda sesuatu itu hidup dan mati adalah adanya cahaya, listrik dikatakan mati, karena tidak bercahaya, kulit manusia saja jika mati atau terlepas dari tubuh maka akan hilang cahayanya.
Juga pohon mati maka kehilangan cahaya hidupnya, yaitu warna pohon, hijau, jadi hati juga begitu, jika hati itu mati, maka akan kehilangan cahaya, seperti orang di tempat gelap, mau kemana-mana takut nabrak tembok, atau kena paku, atau kecebur jurang, sebab tak melihat cahaya di depannya, juga hati yang mati tak tau akan kemana, sifatnya resah, kering, risau, sedih, loba, tamak, berkeluh kesah
buruk sangka, membangkai, baunya tak sedap, jadi selalu akan mengeluarkan keburukan,
sekalipun diberi roti, atau kebaikan.”
__ADS_1
“Di tempat saya ikut toreqoh itu, juga kata
pemimpinnya, kalau semua manusia ini yang dicari ketenangan, dan ketenangan itu bisa saja karena dari punya uang, punya kedudukan, atau punya apa yang disenangi.” jelas Furqon.
“Wah itu malah lebih salah lagi, itu namanya harus menjadikan keinginan nafsunya sebagai
Tuhan, atau ilahahu hawahu,”
“Lhoh apa ketenangan itu juga keinginan nafsu?” tanya Furqon.
“La yang namanya keinginan kan keinginan nafsu, itu namanya belum jalan sudah kesasar, karena punya anggapan salah, pengen ke Jakarta dari Jawa Tengah, dikira Jakarta ke timur arahnya, padahal jelas-jelas di barat, lalu apa yang disangka salah itu dijalankannya, maka dia terus berjalan ke timur, sampai mengitari bumi, baru deh nyampek Jakarta,
Waktu perjalanan yang seharusnya cuma ditempuh semalam, bisa seumur hidup, atau sampai mati di jalan pun tak bisa sampai, la jalannya salah, ada sambungan ilmu sampai ke kanjeng Nabi thoreqoh itu? Jelas tidak, Nabi itu tak pernah menjalankan yang susah-susah lalu diri membuat acara sendiri, membuat agama sendiri, dan membuat cara ibadah yang itak-itukan akal, yang akal-akalan,
Segala apapun yang selain Alloh itu bukan tujuan, sebab jelas kalau manusia diciptakan itu untuk penghambaan diri pada Alloh, bukan pada ketenangan, atau segala macam keinginan kepuasan hati, jelas manusia tak akan tenang, jika melakukan itu, membuat tujuan selain Alloh, la kamu selama mengikuti aliran itu, tenang apa tidak?” tanyaku.
“Tak tenang, malah semua hartaku ludes.”
“Kok bisa seperti ituu?” tanyaku.
“Menurut guru thoreqoh kejawen yang ku ikuti, katanya kita itu hidup lewat jalan tol, seperti orang naik gunung kalau lewat jalan raya, kan harus muteri gunung, nah kalau lewat jalan tol
maka jalannya lurus, langsung ke atas, jadi jalan menanjak dan pasti susah, karena menanjak, makanya kami harus susah dulu baru nanti belakangan jadi senang.” jelas Furqon.
“Wah apa memang ada yang kayak gitu?”
tanyaku.
“La nyatanya aku hidup susah, sudah selama ini jualan tahu aci, malah ndak pernah laku, lalu
mencoba menjadi tukang ojek, eee motor malah ditipu orang.”
“Bagaimana mungkin motor bisa ditipu orang?”
tanyaku.
“Ya alasannya dipinjam, la kok malah dijual,
malah ku datangi, ternyata bukan hanya motorku aja yang dijual, ya aku mau bagaimana lagi, orangnya ditangkap polisi, dan motorku tak ada yang ganti, la aku kredit lagi, la kok malah
berulang lagi, malah aku ini pernah ngasih uang ke orang lain, dua hari uangku dibalikin, katanya uang dariku bikin sial, wah jan bener-bener susah aku, lahir batin.”
__ADS_1
“Setahuku, Alloh itu tak pernah mendzolimi
hambanya, hambanyalah yang selalu mendzolimi diri sendiri, kamu itu juga ngawur, ikut aliran juga tak diakal dengan akal sehat, tak ada susah di depan dan senang belakangan dengan merugikan diri sendiri, yang kamu alami itu namanya celaka, kan sudah jelas kalau ada robbana atina fi dunia khasanah wafil akhiroti khasanah, jadi dunia itu ada bagiannya sendiri,,