Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Pulang dari Saudi


__ADS_3

“Sudah bu… sudah yang terjadi ya biar terjadi, sekarang saya minta ibu berhati-hati menggunakan lisan, walau cuma bacaan basmalah, kelihatan sepele, dan anak kecil juga bisa, tapi basmalah yang ku berikan pada ibu itu ada sanadnya menyambung sampai Nabi, dari guruku, jadi ada kekuatannya, dan saya minta ibu dijaga lisannya.” jelasku.


“Ya maafkan aku nak…” kata bu Sarah.


“Sudah bu, yang penting jangan diulangi.”


Setiap manusia itu khalifah, pemimpin, dan


setiap hati itu menjadi khalifahnya tubuh, sungai-sungainya adalah urat, patihnya adalah pikiran, dan tentaranya adalah semua indra, jika hati buruk, dengkian, sombong, angkuh, fanatik, pemaksa, ingin menang sendiri, pemarah, keras, jorok, cabul, maka di sungai-sungai urat akan mengalir berbagai limbah, dan pikiran juga akan mengupayakan kejahatan terencana dengan sempurna,


Dan orang lain yang berdekatan denganya pasti merasa tak aman, semua akan tergaris jelas kepalsuan dan kecabulan juga kejahatan di wajah, makanya tak semua orang lantas dekat polisi merasa aman, dan tak semua orang dekat pengemis merasa takut.


Siapa saja yang belum bisa mengendalikan dan membersihkan dunia dalam tubuhnya, pasti akan menyebabkan orang lain yang berdekatan akan merasa tak nyaman.


Jika seseorang telah mampu menjadikan hatinya seorang khalifah yang adil atas dirinya, maka orang lain yang di dekatnya akan merasa nyaman, dan senang berlama-lama di dekat orang tersebut,


Lebih nyaman dari berada di tepi aquarium ikan yang di dalamnya berbagai ikan berenang, sebab orang yang telah menjadikan segala gerak laku menjadi bersih dari pamrih dan selalu ikhlas, maka akan seperti pertamanan yang indah, keindahan memancar dari gerak, lisan yang penuh hikmah, ilmu yang mengalir seperti sungai bening, yang kelihatan dasarnya, dan angin yang bersahabat menjadi penenang tanpa obat, damai tanpa ujung pangkal,


Setiap pemikirannya adalah mutiara yang tak ternilai harganya, karena tiada keberpihakan pada kepentingan, dan keuntungan yang semu, dan semua orang itu bisa, menjadikan hatinya sebagai khalifah, sebagai pemimpin yang mengayomi dan menjaga seperti pohon yang jika dipakai berteduh akan menurunkan buah agar si peneduh melepas dahaga, tak usah menyalahkan orang lain, agar diri menjadi benar, dan tak perlu memerintah agar diikuti,


Jadikan saja khalifah hatimu, mengatur benar semua prilaku, makanya belum dikatakan orang yang beriman, jika orang lain masih tak selamat dari prilaku dan prasangka burukmu, Alloh itu dzat yang suci, bagaimana jika diri mau menggantungkan diri pada Alloh, sementara hati masih dikotori oleh keinginan selain-Nya.


skip...


Musim haji telah tiba, dan Alhamdulillah perjalanan hajiku lancar, dan banyak hikmah ku petik di dalamnya.


Setelah Hajian aku pulang ke Indonesia, semua sahabatku di Saudi ku tinggalkan, setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya sampai di bandara kepulangan.


Aku beserta pak Ibrahim. Sampai di bandara Riyad, ternyata pesawat sudah mau berangkat. Padahal harus boking tiket, sementara temanku pak Ibrahim sudah tua, dia sudah 20an tahun di Saudi, dan ini adalah kepulangannya yang terakhir, aku suruh pak Ibrahim di depanku, agar selesai lebih dulu boking tiketnya, tapi ternyata tiket diminta semua, dan anehnya tiketku yang diberikan dahulu, aku tunggu pak Ibrahim, tiketnya belum juga diberikan, setengah jam menunggu, seperti ada yang memberitahuku, kalau sebentar lagi pesawat akan berangkat.


“Pak aku tunggu dulu di ruang tunggu ya…!”

__ADS_1


kataku pada pak Ibrahim.


“Iya tak papa.” jawabnya.


Aku segera bergegas ke ruang tunggu, sampai di ruang tunggu yang biasanya ramai banyak TKW, ini tak ada satupun yang duduk, seorang pilot yang biasa mengecek tiket pesawat menghampiriku.


“Mau pergi ke mana?” tanyanya dengan logat


bahasa Arab.


“Mau ke Indonesia.” jawabku.


“Ayo cepat sebentar lagi pesawat akan


berangkat.” kata pilot itu.


Dan aku segera bergegas ke pesawat, memang lima menit kemudian pesawat telah tinggal landas, aku tak tau bagaimana nasib pak Ibrahim, dan ku tahu setelah sampai di Indonesia, kalau pak Ibrahim ketinggalan pesawat, dan menginap di hotel Riyad, diikutkan pada penerbangan berikutnya.


Ku pandangi Laptop putihku, ada banyak kenangan di dalamnya, tapi sekarang di Indonesia, baru ku rasakan keberadaannya tak banyak memberi manfaat, dan aku jika dipakai nulis pun enakan memakai HP, jadi bisa dibawa kemana-mana, dan bisa nulis sambil tiduran.


Tapi bagaimanapun Laptop ini telah banyak memberikan kenangan, teman-teman fb yang seperti bintang gemintang, berkerlap kerlip dengan beraneka ragam latar belakang kehidupannya, dan dari laptopku dulu ku berikan jawaban atas masalah di pesan facebook, atau di wapsite, dan website ku, juga ku bimbing banyak orang yang menjadi murid internetku, walau kami tak pernah bertemu.


Ada banyak kisah dan cerita dari teman- temanku di internet, kisahku dan kisah mereka kadang seperti susu dan warna putih, tak bisa dipisahkan, walau tak diakui atau diakui, kita seperti air yang mengalir kemudian bertemu di satu sungai bernama persahabatan, lalu dipisahkan oleh kepentingan.


Tapi kami seperti para penjaga yang saling memperingatkan ketika lena, walau kadang bertemu itu seperti mimpi, mimpi mendapat selembar daun emas, yang tak laku kami belanjakan ketika terjaga, sebab daun emasnya hanya di mimpi saja.


Ada banyak kisah, walau hanya sahabat Facebook, teramat banyak kisah, sampai aku kadang bingung mau menulis dari mana Seperti teman wanitaku yang bernama Inayah, mengeluh karena lama sudah nikah tapi tak juga dikaruniai seorang anak.


“Mas saya bisa dido’akan agar bisa dikaruniai momongan, saya sudah belasan tahun menikah tapi belum punya momongan.” pesannya di kotak masuk Fbku.


“Mungkin saja dari pihak lelaki yang mengalami kemandulan?” jawabku di pesan.

__ADS_1


“Tidak mas, ini memang diriku, karena aku


pernah mengalami kecelakaan jadi kandunganku mengalami masalah, dan dokter sudah menetapkan aku tak bisa mengandung.”


“Memangnya dokter itu Tuhan, bisa menetapkan orang bisa atau tidak mengandung?” tanyaku.


“Ya tentunya dengan ilmu dan peralatan yang mereka miliki,” jelas mbak Inayah.


“Ah menurutku tak bisa seperti itu, hal-hal yang di luar perhitungan akal itu bisa saja terjadi dan akal dan tehnologi itu tak bisa dibuat sandaran akhir dari suatu keadaan, masih banyak yang di luar nalar dan logika terjadi, dan kejadian itu tak menunggu akal dan logika menerima, baru akan terjadi, malah bumi ini diciptakan sebelum adanya manusia dan segala akal dan logikanya, nyatanya bumi ada, dan ditempati manusia, tidak menunggu akal dan kecanggihan ada baru bumi diciptakan dengan kecanggihan.”


“Tak taulah mas, yang jelas kandunganku bermasalah, dan menurut dokter tak akan bisa punya anak, ya saya baca setatus mas banyak dimintai do’a, jadi saya memberanikan diri meminta mas mendo’akan saya.”


“Pasti akan saya do’akan, tapi saya punya syarat.” kataku.


“Wah kayak dukun aja mas pakai syarat segala, apa syaratnya mas?” tanya Inayah.


“Syaratnya kamu beritahu suamimu, ajak dia mencintaiku karena Alloh.” kataku.


“Wah syaratnya aneh bener mas?” tanya Inayah.


“Ya mau apa tidak?”


“Ya aku beritahu suamiku dulu mas, tapi kenapa syaratnya seperti itu?”


“Aku hanya minta dukungan saja, dukungan agar do’aku diijabah Alloh, dan do’a yang sangat cepat ijabahnya itu salah satunya do’anya orang yang saling mencintai karena Alloh.” kataku.


“Ok kalau gitu, saya beritahu suamiku.”


“Ya ku tunggu.”


Besoknya Inayah dan suaminya menyatakan cinta dan mencintaiku karena Alloh, ditulis di pesanku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2