
Karena jaraknya cuma seratus meteran
dari pondok, maka kami berdua pun cepat
sampai, tapi rupanya teman-temanku yang ku
kira mendengkur di bawah selimut ternyata
sudah pada nongkrong di warung, sembari
menggoda Afifah, anak gadis bu Enur yang tak
bosan-bosannya melempar senyum termanis.
“Oalah, kalian sudah pada di sini to?” tanyaku
dijawab dengan cengengas-cengenges si Kolil, Udin, Tarsan, Majid, dan yang lain.
Mereka tak segera beranjak padahal semua nasi di piring sudah tak ada sebijipun. Heran!
“Ah mbok ya gantian to!” kataku agak jengkel,
karena kursi penuh sudah tak ada tempat duduk.
Teman-temanku pun segera beranjak, “Udah deh mas, dienak-enakin aja, ku tinggal dulu.” kata Udin mewakili yang lain.
Aku dan Khanafi segera memesan nasi uduk, yang segera dibawa keluar oleh Afifah, biasa Khanafi pun mengeluarkan jurus menggoda,
“Aduh ini nasinya apa orangnya ya, yang baunya harum?”
“Ih mas Khanafi bisa aja…” jawab Afifah dengan nada kenes.
“Mas Ian, tolong dilukis Afif dong…” katanya
manja sambil duduk di sebelahku.
“Kamu minta dilukis?”
“Heeh…”
“Emang kuat kamu musti duduk seharian?”
“Jangankan seharian, bertahun-tahun duduk di depan mas Ian pun aku kuat.” jawabnya makin
kenes dan manja, wah bisa membuatku tak bisa tidur.
Sementara Khanafi makin mbesengut
melihat Afifah dekat di sampingku. Afifah
memang cantik, wajahnya mirip Bunga Citra
Lestari, malah mungkin lebih cantik, kecantikan yang alami tanpa polesan,,
Sebenarnya beberapa hari yang lalu, ketika aku belanja sendiri ke warung bu Enur dan Afifah yang melayaniku membeli, menanyaiku,
“Mas Ian ini dari Jawa Timur ya?” kata bu Enur.
“Iya bu…” jawabku singkat.
“Belum punya istri kan mas?” tanya ibu Enur lagi.
“Apa bu?” kataku pura-pura tak mendengar.
“Enggak, kalau mas Ian belum punya istri, nyari aja di sini…” wah gelagatnya makin tak baik.
“Afifah ini anak ibu juga sudah besar dan sudah pantas bersuami,” kata ibu Enur tanpa basa-basi.
“Wah saya ini sudah punya istri tiga bu…” kataku berbohong,
“Ah tak mungkin itu, masak masih muda, sudah punya istri tiga,” kata bu Enur sambil tertawa.
“La mau bilang apa bu, kenyataannya memang
begitu, kalau saya punya istri 3 lalu bilang masih perjaka, la nanti kalau ketahuan kan berabe.
Mending jujur aja,” kataku meyakinkan.
“Wah kalau tiga tentu masih bisa tambah satu,
maukan Fa jadi istri yang ke empat?” kata bu
Nur ditujukan pada Afifah yang sedang ngupas bawang merah, dan Afifah manggut.
__ADS_1
Edan, aku jadi melongo, salah tingkah, ibu sama anak kompak banget ngerjain orang.
“Gimana mas Ian? Afifah sudah mau itu,”
“Wah harus ngasih makan empat orang bu, tiga orang aja mumet, apa kuat ya, kalau ditambah
satu?” kataku seakan-akan perkawinan itu akan benar-benar terjadi.
“Mas, Ifah ini makannya sama tempe aja sudah mau, tak perlu yang mewah.” kata bu Enur,
seakan memojokkanku.
“Sudah jangan terlalu dipikir, dijalani aja.”
katanya.
Sementara itu Afifah yang masuk ke dalam, tiba-tiba menjerit,
“Aduh tanganku terbakar…!”
bu Nur pun lari ke dalam. Dan keluar lagi dengan Afifah sambil ngomel-ngomel.
“Kenapa tak hati-hati, sudah tau panci panas,
malah dipegang.”
“Dikasih pasta gigi aja Fa, biar adem. Dan tak
melembung.” kataku menyarankan. Afifah pun ke dalam dan keluar lagi sambil membawa pasta gigi yang disodorkan padaku.
“Oleskan…!” katanya manja, kulihat jarinya
memang melepuh, dia mengulurkan jemarinya ke arahku dan aku pun mengoleskan pasta gigi perlahan.
Mata bening Afifah menatapku, yang sedang tekun mengoleskan pasta gigi, lama ditatap aku jadi jengah.
“Mas, sayang aku enggak.?” tanyanya bergetar.
“Ya jelas aku sayang kamu, aku sayang semua
manusia, walau kafir sekalipun, walau jahat
sekalipun, kalau kafir, ya upayakan jadi muslim,
didoakan, bukankah Alloh menciptakan manusia atau hewan pasti ada maksud dan tujuannya.
Kalau orang jahat dan kafir, itulah ladang amal
yang harus digarap.” kataku panjang lebar.
“Alloh menjadikan ada yang muslim, ada yang
kafir, ada kaya ada miskin, dan sebagainya, Alloh mampu menjadikan manusia muslim semua, tapi kenapa dia juga menjadikan garis manusia kafir.
Alloh juga menjadikan kambing, tapi juga
menjadikan srigala, kalajengking, macan.” kataku lagi.
“Wah mas maksudku bukan itu….” sela Afifah,
“Terus apa?” tatapku heran.
“Maksudku sayang antara lelaki dan perempuan?”
kata Afifah menunduk.
“Kalau kamu gimana?” tanyaku balik, menutupi semua kebingunganku untuk menjawab.
“Aku,” katanya sambil menunjuk hidung
mancungnya yang mungil,
“Ah masak tak ngerti selama ini sikapku
terhadapmu.”
Aku menerawang, memang Afifah
selama ini sikapnya terhadapku teramat beda,
cuma aku aja yang membutakan mata, tiap aku belanja di tokonya selalu dikasih apa-apa yang
tak ku beli.
__ADS_1
Kadang dia sempat-sempatkan
datang ke pondokku untuk memberi cemilan atau makanan. Ku pandang wajah Afifah, mata nan jeli, dan bening, bulu mata lentik, alis
melengkung dan tertata rapi, seperti ditanam
satu-satu, hidung mancung nan mungil, pipi putih seperti susu yang ditetesi setetes perasa strawberi, bibir yang tipis dan terbentuk
seperti mudah pecah memerah tanpa gincu.
Di atas bibir bulu kumis halus tumbuh seakan
seperti polesan madu pada ujung es krim, dagu lancip tercetak penuh kehati-hatian, menunjukkan kekerasan hati.
“Gimana mas? Sayang enggak sama aku?”
“Siapa sih lelaki yang melihat bunga mekar
sepertimu yang tak merasa sayang? Termasuk
aku, aku lelaki normal,” kataku satu-satu.
“Makasih mas….” Afifah memotong ucapanku dan lari ke dalam rumah, dan sampai di pintu
berhenti dan mengerling padaku, ah ancur-ancur kalau kayak gini…. bisa yang enggak-enggak, desah batinku, dan ku ambil belanjaan lalu pergi ke pesantren.
“Mas Ian, aku bener dilukis ya…!” suara manja
Afifah memecah lamunanku.
Ah kenapa perempuan lagi-perempuan lagi, yang akan memecah konsentrasi wiridku.
“Iya deh, kapan-kapan aku lukis,” jawabku
daripada urusan jadi panjang dan bertele-tele.
“Berapa lama sih untuk nyelesaikan lukisannya?” tanya Afifah lagi.
“Ya tergantung media, dan cara nglukisnya, kalau pake pencil ya seperempat jam pun jadi, ya kalau pake air brush ya setengah jam jadi,
Kalau pake kuas, ya sehari jadi. Kamu maunya pake apa?”
Jelasku lengkap, kyak mau jual beli.
“Trus kalau air brush, itu nglukis apaan mas?”
tanya Afifah serius.
“Ya kalau air brush, itu nglukis pakai pena brush, pake tekanan angin compresor, sebenarnya biasanya dipake nglukis di motor atau mobil, pernah lihat kan bus yang dilukisin kuda lagi lari?” Afifah manggut.
“Nah itu nglukisnya pake air brush,” kataku
sambil ngelihat Afifah yang melongo.
“Wah berarti wajahku mau dilukis di mobil ya
mas?” tanya Afifah.
“Ya enggak lah, di media apa aja kan bisa,
maunya kamu di mana, apa di viber?”
“Wah itu apa lagi mas, kok kyak nama susu?”
“Viber ya plastik akrilik, aduh susah deh
njelasinnya….” kataku agak jengkel.
“Ya udah deh terserah mas Ian aja dech.”
katanya menatapku jidatnya mengkerut.
“Wah aku malah tak kebagian…” celetuk Khanafi.
Yang sejak tadi diam aja mengunyah nasi uduk.
“Ini nanti kesiangan, ayo balik dulu…” kataku
seperti diingatkan. Kulihat jam tangan sudah
menunjukkan jam sembilan lebih.
Kami pun pergi meninggalkan warung, seperti biasa aku dibekali, kali ini krupuk jengkol sekresek. Lumayan buat cemilan.
__ADS_1
Bersambung...