
“Apa semua prajuritnya makan pasir?”
“Ya kyai…. kadang Aisyah juga makan kembang. Ratu makannya juga kembang.”
“Oooo rupanya begitu, la cuma kembang, mau ku belikan kembang?”
“Ah tidak lah kyai, Aisyah nyari sendiri saja.”
“Benar tak mau ku belikan?”
“Tidak ah…”
“Aisyah sudah puasa kan, juga nyai ratu?”
“Sudah kyai, puasa 21 yang kyai berikan itu, cuma Aisyah tak pernah selesai dzikirnya, buanyaaak sekali, paling sampai bismillah, jadi ngutang deh, heheeh… Aisyah pegel duduknya, semuten. Tapi kalau ratu selesai dzikirnya, malah kalau raja pergi, ingin menyendiri mengamalkan amalan dari kyai, dia bertapa.”
“Besok tak belikan kembang ya? Sukanya kembang apa?”
“Ah gak usah lah kyai, kami sudah sangat bersyukur diangkat jadi murid sama kyai.”
“Kyai bukan memberikan karena pamrih, kyai memberikan untuk memberi makan orang yang berpuasa, karena memberi makan orang yang berpuasa itu mendapatkan pahalanya puasa orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala puasanya orang yang berpuasa, nah bagaimana?”
“Ya terserah kyai saja, kyai kan guru saya, gurunya ratu, gurunya Dewi, semua akan taat apa yang kyai ajarkan, kami tau kyai tau apa yang terbaik.”
Maka ku belikan kembang, untuk berbuka puasa, seminggu ku berikan 2 kali.
___________________________________
Sementara itu tiap hari serangan dari Sengkuni makin meniadi-jadi saja, aku gerakkan semua murid dari internet untuk ikut andil dalam perang melawan kemungkaran, banyak sekali pengalaman yang mereka alami, memang itu juga perintah kyaiku, agar dijadikan alat untuk menggembleng murid, sebenarnya momen saat seperti ini itu seperti momen merobohkan gunung dengan ledakan bom, kalau amaliyah biasa, puasa biasa itu seperti meruntuhkan gunung dengan cangkul, jadi siapa pun yang ikut andil, kemajuan ilmunya akan seperti roket, sebagaimana aku dulu ketika melawan sekitar 900 tukang santet, dan perkembangan ilmuku amat pesat sampai tak masuk diakal ku sendiri, dan setengah tak percaya dengan kejadian demi kejadian setelahnya, setelah melewati ujian yang berat.
Tapi di kejadian itu juga akan jadi penyaring, siapa yang akan terbentuk dengan bentuk yang diinginkan atau siapa yang akan tumbang dan berlalu menjadi murid yang lambat ber- kembangnya, siapa yang pantas dijadikan paku bumi, dan siapa yang hanya jadi rumput, itu berlaku juga untuk murid kyaiku. Aneh memang didikan seperti ini, kayak gak masuk akal, tapi kyaiku selalu menekankan, biarkan alam yang akan menyeleksi murid yang benar-benar jadi dan yang hanya berlalu saja, juga muridku yang asli sini malah semua tak ada yang perduli sama sekali, hanya 80% yang jadi, yang lebih mengherankan malah ada murid kyai yang dulu kena santet saja sering ku bantu, ku tolong, ee kok sekarang malah ikut memihak Sengkuni untuk menyerangku, seringnya malah mengikat Aisyah dan parahnya, sering sekali berusaha agar majlisku tak ada pengunjungnya.
Memang banyak sekali yang akan jadi penghianat dan akan jadi duri dalam daging, di-kiranya Allah tak tau, malah ada juga yang menuduhku tertipu dengan jin, mungkin tak pernah membaca Alqur’an atau bagaimana, apa tak pernah membaca surat jin, bagaimana nabi SAW mengislamkan jin, dan nabi adalah sebaik -baiknya suri tauladan, contoh yang harus kita tiru, bukan pendapat sendiri, aku tak henti berdoa pada Allah, jika ilmu yang ku berikan pada orang yang salah, ku minta dicabut dari orang itu dan dikembalikan pada lauhil mahfudz.
Skip.....
__ADS_1
Alhamdulillah, Aisyah sudah bisa mengobati jarak jauh, kalau kyai guruku sakit maka ku perintah dia menarik sakitnya dari jarak jauh dan juga kemarin pas ibu kyai kena santet juga ku minta mengobati jarak jauh, tapi hal itu malah makin membuat Sengkuni terbakar hatinya, sekarang yang dituju dan diarah adalah Aisyah, segala upaya dikerahkan untuk bagaimana menangkap Aisyah, aku sendiri tak bisa selalu menjaganya, PENGGEMBLENGAN ini yang dikatakan kyaiku sungguh sangat unik. Dari pagi Aisyah mengobati, siang dia ikut istriku belanja, biasa dia ingin lebih tau banyak tentang manusia, jiwanya mungkin sangat haus akan dunia manusia, dia juga makin rajin melihat tivi, aneh jadinya kalau ada jin hafal iklan, dan hafal cerita sinetron, dia juga suka mengubah canel tv yang dia sukai.
Jin yang dikirimkan padaku dan yang ku taklukkan mungkin keseluruhannya aku tak tau lagi berapa, tapi ada perkiraanku sampai 600 sampai 700 ribu lebih, pernah ku tanyakan Aisyah.
“Ada berapa banyak jin yang ada di sekitar rumahku?”
“Wah tak terhitung kyai, semua atap rumah sudah penuh, sampai atap rumah tetangga dan pohon-pohon, dan di jalan berjejer ada penuh sampai ke sawah yang berjarak 1 kilo meter, semua penuuuuh jin.”
“Tapi tak ada yang jahil kan.”
“Tak ada kyai… semua taat beribadah, kalau ada yang tak sholat ditegur sama ratu.”
Memang ku rasakan walau rumahku penuh jin, tapi hawanya adem, tak panas, atau terasa merinding, semua adem ayem. Memang sengaja semoga kedepannya aku bisa mengislamkan lebih banyak jin lagi, setiap ada kesempatan, atau laporan ada tempat angker ku tarik dan ku mediumisasi dari rumah. Seperti siang itu, ada yang cerita kalau ada sebuah pabrik yang angker, ku coba memediumisasi. Ku tarik jin dari rumah, dan ku
masukkan ke mediator.
“Siapa?” tanyaku.
“Saya jin raja yang tinggal di pabrik, Assalamualaikum.”
“Kamu muslim.”
“Iya..”
“Apa semua yang tinggal di pabrik itu muslim?”
“Tidak semua, hanya anak buahku yang muslim kyai..”
“Kamu tau tentang diriku?”
“Ya kyai, saya tau, kalau boleh saya ingin mengabdi dan menjadi murid kyai.”
“Ada berapa temanmu?”
“Ada 20 ribu.”
__ADS_1
“Yang masih kafir coba panggil menghadap padaku.”
“Ya kyai…” sebentar kemudian mediator diam dan bergerak lagi, bergaya ingin menyerangku,
“Apa mau menyerangku?”
“Hiya….”
“Coba diserang…” kataku pasrah diam saja.
“Ampuuuun…. saya nyerah…”
“Lhoh kenapa?”
“Ada yang menekanku.. aku menyerah, habis sudah tenagaku, aku mau nakluk saja, aku sebenarnya dari negara Malaysia.”
“Kok jauh amat dari Malaysia?”
“Iya dikirim dari sana, orang yang punya pabrik bekerja sama dengan orang Malaysia dan aku dikirim untuk memantau pabrik ini,”
“Ooo begitu rupanya, lantas bagaimana mau menjadi pengikutku atau bagaimana?”
“Iya kalau boleh, saya mau dijadikan murid.”
“Ya sudah semua temannya diajak jadi muridku. Ikuti ku ajarkan membaca dua kalimat sahadat.” maka ku ajarkan melafadzkan dua kalimat sahadat.
Kejadian hal seperti itu, hampir tiap hari terjadi, kadang ada jin dari jauh, berombongan, dan minta diIslamkan, lalu setelah masuk Islam ada yang tinggal, ingin ikut mengaji, ada juga yang datang setelah diIslamkan kemudian mereka pergi lagi, itu hampir tiap hari, kadang sehari sampai beberapa kali.
___________________________________
Kadang kita ikhlas membantu orang lain, bahkan tak meminta bayaran apa-apa sama sekali, kadang sudah menolong juga memberi makan juga memberi apa saja yang dibutuhkan si sakit, tapi balasannya malah sebaliknya, seperti ada orang yang kena santet, sudah berobat kemana-mana tak kunjung sembuh, saat dibawa kerumahku Alhamdulillah sembuh, keluarga yang menjenguk, itu bukannya....
Bersambung...
Alhamdulillah, kmaren hengpong mywife dah selesai diservice, jadi ga rebutan lagi 1hape buat 5orang🤣😑, mohon suportny dari man teman, agar semangat dalam melanjutkan.
__ADS_1