
“La kok bagi-bagi penyakit kayak bagi-bagi berkatan saja.”
“Bener kami sakit semua.”
“La sakit apa?”
“Kami kena santet semua.” jelas Sohib.
“La kok kena santet saja kok pakai rombongan.” kataku.
“Ya bukannya rombongan, tapi kami dikeroyok
orang yang nyantet.” jelas Sohib.
“Memang beneran ada, nyantet pakai rombongan? Kayak tawuran saja?” tanyaku setengah bercanda.
“Ya memang ada, malah yang nyantet rumahnya di sebelah rumahku.”
“Walah, malah aneh lagi itu.”
“Iya mereka dari jama’ah toreqoh lain, tapi toreqoh sesat, semua teman-teman ketua cabang tak bisa bangun semua, tinggal aku yang masih bertahan, tapi ku rasakan banyak jarum yang menyerang semua tubuhku, mungkin ribuan jarum.”
“La malah enak to, bisa dijual kiloan, la kok punya jarum sebanyak itu, itu pasti langsung pesen ke pabrik jarum.” kataku tetap bercanda, memang aku suka sekali menyandai temanku Sodik.
“Kamu mau bantu Ian..?”
“Aku bantu apa? Nyarikan yang mau pembeli untuk jarumnya?”
“Ya bantu nolak santetnya, jarumnya ini tak kelihatan, hanya kerasa pada nancep ke tubuh.”
“Oo kirain jarumnya kelihatan pada beterbangan.”
“Ini sekarang banyak sekali ku rasakan santet mengenai tubuhku… tolong dibantu.” kata Sohib.
“Jadi sekarang aku bantunya?”
“Ya sekaraaang…!” kata Sohib kayak berusaha menahan sesuatu.
“Ya aku bantu.” kataku, lalu berkonsentrasi, menyatukan segala daya, do’a, dan konsentrasi terfokus pada dzat pemberi kekuatan, dan ku
hantamkan seluruh kekuatan yang ku himpun.
Tak tau bagaimana hasilnya.
Tak lama kemudian HP ku bunyi dan ku lihat di layar hp Sohib yang menelpon.
“Kamu apain? Kok sekarang di sebelah rumahku, tempat kumpul orang-orang itu jadi ramai, pada gedebukan, dan ada suara euk-uek… kayaknya pada muntah.” kata Sohib.
“Ya ndak ku apa-apain, kan aku di Pekalongan,
__ADS_1
memangnya aku apain, juga aku bisa apa dari
sini.” kataku.
“Aku malah lagi ngerokok.”
“Tapi ini masih ramai uak-uek… kayaknya muntah darah.” jelas Sohib.
“Ya aku juga ndak ngapa-apakan,” candaku.
“Ya makasih…”
“Ya…” jawabku.
——————————————-
Pagi jam 10 pagi aku masih tidur, HP sudah bunyi, ku angkat dengan malas, dari Sohib.
“Ada apa?” tanyaku malas, karena masih mengantuk.
“Tetanggaku semua rombongan ke Jombang, ke tempat guru besarnya.”
“Ya biarkan, kalau pakai uangnya sendiri.” kataku.
“Bukan itu maksudku,” suara Sohib.
“Ya bahaya, kita akan menghadapi yang lebih
besar.”
“Gajah maksudnya? Apa tunggangan guru
besarnya gajah, kayak filem Tailand saja.” kataku dengan males, tapi juga suka ngomong
ngelantur.
“Bukan itu. Ya maksudku kalau gurunya kan lebih sakti.” kata Sohib.
“Saktian mana sama Alloh?”
“Ya saktian Alloh.”
“Ya kalau gitu ndak usah takut, mati melawan
kemungkaran kan juga mati sahid.”
“Bukan masalah takut, tapi kita harus siap.”
“Ah aku masih ngantuk, males kalau disuruh siap, baris-berbaris.”
__ADS_1
“Ya udah sana tidur, ntar malem ku kabari.”
——————————————-
Malamnya aku nyantai saja, seperti biasa dzikir setelah jam 12 malam, biasanya sampai subuh tapi baru saja setengah jam aku duduk dzikir,
serasa udara di kamarku tak enak, dan serasa hawa murniku menerobos keluar lewat punggung, aku coba menyetop, tapi serasa seperti punggung bagian atas berlubang, dan hawa murni terus saja merembes keluar, seperti udara dingin,
Wah ada apa ini, kalau kayak gini terus bisa- bisa aq lemas kehabisan hawa murni, ku coba menahan dengan dzikir dan konsentrasi, tapi tetap saja tubuhku lemas, dan makin lemas, dan rasanya terserang kantuk yang dasyat, seperti aku disirep, berulang kali sampai tanpa sadar duduk tertidur, padahal aku bukan orang yang seperti itu, tapi rasa kantuk benar-benar tak bisa kutahan, kadang tasbih yang ku pegang telah jatuh, atau kepalaku sudah menekuk hampir menyentuh lantai, lalu sadar kembali, dan ku kibas-kibaskan kepala, agar rasa kantuk terusir, tapi tetap saja aku teramat mengantuk,
Ah ini benar- benar tak beres, aku coba baca dzikir penolak serangan, karena aku merasa ada serangan yang diarahkan kepadaku. Lalu ku tahan nafas, dan ku pukul lantai, sebentar serangan buyar, dan mataku seperti seketika terbuka, dan rasa kantuk hilang.
Tapi itu hanya sementara, serangan yang ku buyarkan seperti asap yang berputar lalu bertaut kembali, aku tertekan kembali. Dan tiba-tiba seperti ada gumpalan asap hitam melesat masuk ke tubuhku, aku terjengkang, dan muntah, memuntahkan isi perutku.
Aku berusaha menahan muntahan yang tersisa, dan lari ke kamar mandi, dan semua isi perut ku muntahkan, sampai perut rasanya ngilu dan nyeri, badanku rasanya seperti dilolosi, gemetar, dan rasa tak karuan, baru sekarang aku terkena santet dengan telak, sebenarnya aku yang terlalu menganggap ringan permasalahan, padahal aku sudah ditunjukkan dalam mimpi musuhku kali ini bukan orang sembarangan, yang melakukan lelaku memakan bayi yang digugurkan,
Tapi aku menganggap angin lalu, sehingga aku
terhantam, ini juga karena kecerobohanku. Tiba-tiba ku rasakan di seluruh tubuh clekat- clekit, kayak ribuan jarum menyerang tubuhku, benar apa yang dikatakan Sohib, aku tak mau minta tolong pada siapapun, aku harus bersandar pada Alloh, iman itu harus diuji, keteguhan harus dibuktikan, tawakal itu bukan cuma bicara.
Ribuan jarum yang ku rasakan merajam tak ku perduli, aku melangkah berpegangan tembok, dan kembali ke kamar. Aku kembali ke kamar pelan-pelan, takutnya membangunkan istriku, dan perlahan meletakkan diri di kasur, ku tata nafas, semua persendian rasanya seperti lepas, aku tak boleh menyerah, aku bersandar pada Alloh, kalau pada syaitan kalah, mau ku kemanakan imanku, keyakinanku?
Aku turun di keramik, tidur, tangan ku tempelkan pada keramik, segala pikiran ku konsentrasikan, lalu ku sedot tenaga inti bumi….., dari keramik ku rasakan tenaga prana mengalir, memasuki tubuhku seperti menambal karet yang berlubang, mengalir menjejali dan menjejali, terus aku konsentrasi, serasa tubuhku mulai enak dan menebal, seperti ku rasakan mengeras setiap urat-urat dan kulitku kaku seperti bumi yang mengering.
Setelah ku rasa cukup aku bangkit, dan duduk bersila, menyatukan segenap daya kepasrahan, pada pemilik segala kekuatan. Ku konsentrasikan total seluruh dzikir, terus konsentrasi, sampai tak bergerak beberapa jam, lalu ku rasakan seluruh kekuatan telah melingkupi diriku, seperti kekuatan atom.
Ku lontarkan kekuatan yang mengeram, untuk mengembalikan semua santet yang dikirimkan padaku kembali pada pengirimnya, dengan mengucap takbir yang mengendap seperti endapan kekuatan memecah berhamburan,
ja’al haq, wazahaqol batil, datang kebenaran pasti kemungkaran akan musnah, sebab kebatilan itu pasti musnah.
Aku tak tau yang terjadi selanjutnya, yang penting aku tak merasakan lagi santet yang mencoba menyerangku. Segala anasir jahat semua musnah, musnah tanpa bekas.
“Hallo…!” suara Sohib menghubungi.
“Ada apa?” tanyaku.
“Kok tetanggaku banyak yang mati ya…?” tanya
Sohib.
“Ya kalau sudah sampai kontraknya habis di
dunia, ya pasti mati.” kataku bercanda.
“Ini yang mati, orang yang suka menyantetku
kok..” kata Sohib.
Bersambung....
__ADS_1