Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Batu loncatan


__ADS_3

“Biasanya lelaki itu menyeleweng karena kurangnya saling mengerti dan tak ada komunikasi di rumah, seringnya antara istri dan suami tidak saling terbuka, dan istri tak ada kemauan untuk membahagiakan suami, istri tak menjaga penampilan untuk suami, tapi kebanyakan malah bersolek waktu keluar rumah,


Sering kali tak ada komunikasi maka yang terjadi istri pengen suami mengelus kepalanya, tapi karena tak ada komunikasi, suami malah yang dielus dengkulnya istri terus, sehingga istri kecewa, karena harapannya ingin kepala dielus tak pernah kesampaian, karena tak ada


komunikasi, harusnya suami istri saling terbuka, jangan saling rikuh, membicarakan entah soal hubungan suami istri di atas ranjang, atau hubungan keseharian, sebab dua orang yang menyatu, tentu tak tau apa-apa yang diinginkan suami dan apa-apa yang diinginkan istri, juga biasanya istri kurang mau menjaga merawat diri, misal memakai gurah, agar suami terpuaskan.”


“Saya sudah tua masak memakai seperti itu


kyai.” tanya Muslihah.


“Malah kalau sudah tua itu malah lebih rajin


merawat diri, biasanya cenderung istri menyeleweng itu karena suami tak perkasa lagi di ranjang, belum apa-apa sudah KO, ya kan istri yang tidak terpuaskan akan mencari kepuasan, ingat syaitan itu menggoda manusia, hal yang


haram itu selalu indah dibayangan, seorang suami yang punya istri cantik bisa nyeleweng dengan pembantunya yang jelek karena bisikan syaitan, dan syaitan memberikan bayangan-


bayangan hayal yang indah.”


“Bagaimana solusi permasalahan saya kyai?”


tanya Muslihah.


“Mbak Muslihah ini rawatlah diri, kalau perlu memakai gurah, dan rawat kecantikan, layani suami dengan penuh cinta, cintai suaminya bukan karena siapa suaminya siapa, tapi sayangi suaminya karena menyayangi Alloh, rindu akan surganya, lakukan semua pelayanan dengan membayangkan kalau pelayanan itu akan mendapat ganti yang setimpal yaitu surga yang kekal, jadi jangan dipandang lahirnya suami.” jelasku.


“Lalu bagaimana, sekarang saja dia


menyeleweng.”


“Mbak Muslihah masih ingin kan kumpul sama suami?” tanyaku.

__ADS_1


“Ya masih kyai, karena anak-anak kami sudah


agak besar.”


“Ya kalau begitu kembali ke suami.”


“Tapi saya sakit hati kyai.”


“La sakit hati itu kan ndak ada yang mbayar, hanya menjadikan tekanan mental, menyiksa diri, tapi sama sekali tak ada manfaatnya, tenangkan diri, jangan ada tekanan batin.”


“Bagaimana mungkin kyai, kenyataannya aku disakiti, bagaimana hatiku tak sakit.”


“Sakit hati itu sama sekali tak menyelesaikan masalah, hanya menimbulkan dendam, dan kebencian, jika dalam rumah tangga kemudian ada bara yang dipendam, yang suatu saat bisa meledak, maka ku jamin rumah tangga itu tak akan bahagia…,


Ingat mbak Muslihah suamimu itu cuma batu loncatanmu ke surga, jangan kemudian malah menjerumuskanmu ke neraka, neraka dunia karena memendam sakit hati, dan neraka akherat karena tidak taat pada suami, ya saya sendiri jika istri saya menyeleweng juga belum tentu saya kuat menanggungnya, tapi bagi saya pribadi, rumah tangga itu jangan dikotak -kotakkan, itu yang sering terjadinya percekcokan, ini milikku, ini milikmu, jangan memakai milikku, padahal dalam rumah tangga, kan satu kesatuan,


Kedua suami istri itu seperti mengelola bahtera, la kalau yang satu merasa miliknya, yang lain kemudian membatasi hak lainnya, ya sudah pasti akan timbul curiga,seperti anjing dan kucing dalam satu perahu, aku sendiri sebagai suami, malah kadang masak, nyuci piring, itu tak akan menjadikanku rendah, sekalipun aku dipanggil kyai, aku juga menyapu dan mengepel, kita itu kok bisa kita lakukan,


“Jika rumah tangga itu dibangun suatu kasih sayang yang disandarkan kepada kasih sayangnya sang Maha Pemilik Kasih Sayang, maka rumah itu akan menjadi surga, suami menjadi pelindung dan pemimpin rumah tangga yang bijak dan adil, istri menjadi pewangi rumah dan selalu membuat udara cerah, anak-anak seperti kerlip bintang, menjadi tauladan di luar, dan menjadi pelita hati keluarga, maka baru bisa dikatakan keluarga itu sakinah penuh ketenangan, dan hal itu harus dibangun dari hal-hal kecil, seperti diadakannya sholat berjama’ah, lalu setelah selesai suami istri saling berkecupan, anak-anak mencium tangan ibu, sholatnya semua rukunnya disempurnakan, sehingga rumah tangga penuh cahaya keimanan.”


“Rasanya ingin saya cepat menikah pak kyai, agar saya bisa menjemput pahala.” kata Laila.


“Menikah itu menyempurnakan agama, sunnah Nabi, kata Nabi, menikah itu sunahku, siapa yang tidak suka menikah maka tidak suka pada sunah, dan siapa yang tidak suka pada sunnahku, maka bukan golonganku lalu kalau tidak ikut golongan Nabi, lalu mau ikut golongan siapa? Siapa yang sekalipun punya amal setinggi gunung amal baik, dan berhak masuk surga, tapi tak mau mengikuti Nabi, maka jikalau dia masuk surga, maka tak pernah tau kemana jalannya surga.”


Tiba-tiba Muslihah menangis. Mengguguk… aku berhenti bicara.


“Ampunkan aku ya Alloh… do’akan saya bisa taat pada suamiku kyai, dan do’akan saya, suami saya kembali padaku, aku maafkan semua kesalahannya, asal Alloh ridho padaku.”


“Amiin… insaAlloh suaminya besok kembali, dan jangan lupa layani sebaik-baiknya, jangan melihat tingkah lakunya, jangan melihat bentuk fisiknya, atau kekurangan-kekurangan dalam pribadinya, kalau diteliti, maka semua orang itu pasti ada kekurangannya, tapi jadikan dia, suamimu, adalah batu loncatanmu meraih ridho dan surga Alloh.”

__ADS_1


“Baik kyai, hati saya legaaa sekali.” kata


Muslihah.


Ke empat perempuan itupun minta diri, aku hanya berharap apa yang ku sampaikan bisa bermanfaat bagi mereka.Kalau tamu lagi musim masalah rumah tangga dan ada hubungan dengan perkawinan, anehnya yang datang selalu soal hubungan rumah tangga dan yang berurusan dengan itu.


Sehabis isyak ini juga ada tamu seorang gadis disertai ibunya.


“Ada apa bu? Apa yang bisa saya bantu?”


tanyaku.


“Ini soal anak saya kyai.”


“Ada apa dengan anaknya?” tanyaku.


“Anak gadis saya ini apa mungkin diikat orang


kyai?” tanya ibu si gadis.


“Diikat? Kok ku lihat tangan dan kakinya tak ada ikatannya?”


“Maksudku diikat agar tak bisa nikah sama


orang.” jelas wanita setengah baya.


“Wah aku tak tau bu, la saya ini sebenarnya tak


bisa apa-apa dan tak mengerti apa-apa, jika

__ADS_1


orang kesini juga cuma minta dido’ain, jadi bukan berarti saya tau apa-apa, malah saya tak tau sama sekali apa do’a saya diijabah apa tidak, bagi saya berdo’a dengan cara yang benar, soal ijabah itu hak Alloh, la orang kesini minta dido’ain, ya tentu saya do’ain, sebenarnya Ibu juga bisa, atau mbaknya ini juga bisa, siapa namanya mbak?”


Bersambung....


__ADS_2