
“Ya dihentikan, sekarang gini saja, selama ini
amalan itu kamu amalkan apa yang kamu dapat? Sudah berapa tahun kamu mengamalkan?”
“Iya sih tak ada yang ku dapat, walau sudah lima tahun aku mengamalkannya.”
“Nah nanti rasakan, kamu menjalankan amalan puasa yang 21 hari dariku, bandingkan dengan
amalan yang kamu jalankan lima tahun…”
“Jadi puasanya 21 hari ya?” tanya Muhammad.
“Iya itu paling dasar, di atasnya ada 41 hari, 3
bulan, 7 bulan. dan seterusnya, seperti orang
sekolah, maka setiap meningkat ke tahapan di
atasnya, maka akan memiliki kelebihan yang
dianugerahkan Alloh, entah bisa mengobati
orang sakit, entah bisa melihat gaib, mengusir
jin, dan lain-lain, dan setiap orang berbeda-beda kelebihan yang akan didapat, tapi ingat dalam
menjalankan jangan mengharap ingin bisa
sesuatu, lakukan dengan ikhlas, karena Alloh,
amal apapun itu jika tanpa adanya keikhlasan
maka seperti tubuh tanpa ruh, seperti motor
tanpa mesin,
Maka tak bisa pergi kemana-mana, jika dipaksakan pergi, maka akan menyusahkan
orang yang membawa, begitu juga amal tanpa
adanya keikhlasan maka akan menyusahkan orang yang didekat orang yang beramal, misal memberi uang maka uang nanti kan akan diundat-undat, diungkit-ungkit, diminta dikembalikan, bukankah itu menyusahkan pada orang yang didekat.”
“Iya…”
“Jadi amaliyah itu ada dzohir ada bathin,
keduanya harus saling melengkapi, jika ingin amal itu sampai pada tujuan, itu namanya asbab, jadi dalam beramal seseorang itu jika masih dalam kedudukan sebab asbab, maka dia tak lepas dari sebab, musabab, dan akibat, seperti orang sakit kepala minum parasetamol lalu penyakitnya sembuh, padahal sebenarnya yang menyembuhkan Alloh, maka orang tersebut namanya masih menetap di maqom atau kedudukan asbab, artinya segala sesuatunya membutuhkan sebab, kenyang sebab makan, dan segala sesuatunya dikaitkan dengan sebab termasuk dalam ubudiyahnya, karena dia ibadah, lalu dia menjadi dekat dengan Alloh,
Tapi ada juga orang yang sudah tak tergantung oleh asbab, karena sudah memandang segala sesuatu itu dikehendaki Alloh terjadinya, dan segala sesuatu itu telah ditaqdirkan terjadi, maka terjadi, sakit juga jika Alloh menghendaki sembuh, maka akan sembuh, begitu dalam
pemikiran orang yang sudah di kedudukan tanpa sebab,,,😑, karena tak ada selain Alloh itu bisa menjadi sebab kepada Alloh, karena
__ADS_1
kesempurnaannya, semua menjadi sebab karena Alloh menghendakinya menjadi sebab, dan Alloh itu tak membutuhkan sebab agar sesuatu terjadi, juga seseorang itu ibadah tak akan menambah kekayaan Alloh, jika semua orang maksiat juga tak menjadikan Alloh menjadi miskin, jadi Alloh tak terpengaruh oleh gerak gerik semua mahluk, karena semua mahluq itu bergerak dan berhenti atas kehendak Alloh, jadi amal juga tidak bisa mendekatkan atau menjadikan dekat dengan Alloh,
Jika seseorang itu mengandalkan amalnya sendiri maka dia tak akan kemana-mana, karena jika ruhnya dicabut nyatanya berangkat ke kuburan pun harus dipikul rame-rame, menunjukkan bahwa amal kita itu tidak bisa menjadikan kita dekat dengan Alloh, tapi Allohlah yang menghendaki kita menjadi
dekat.”
“Lalu bagaimana kita tahu, misal aku ini di maqom asbab atau maqom tajrid?”
“Seorang yang menempatkan jati diri itu hanya
perlu berusaha istiqomah dalam ibadah, seperti orang yang kerja di pabrik jika dijadwal jamnya
jam 7 masuk dan jam 4 pulang, ya harus
konsisten, mengikuti aturan yang ditetapkan
untuk dirinya, tanpa melakukan tindakan yang
menjadikan absensinya merah, soal nanti
dinaikkan kedudukan menjadi manager itu bukan urusan dia, sama dengan seorang yang beribadah pada Alloh, ada ibadah pokok, adalah waktu pokok bekerja, dan ibadah sunnah adalah waktu lemburan, jika seseorang mengandalkan gaji pokok atau penghasilan pokok maka dipastikan manusia itu akan merugi, sebab kebutuhan itu selalu ada yang tidak diprediksi, misal sakit butuh obat, hujan butuh payung, sama dengan orang yang menyandarkan ibadah pokok, suatu saat bepergian, maka mengqodho sholat, jadi
orang yang tak merugi yang selalu sedia payung sebelum hujan, lakukan amal dengan tekun, maka kemudian seseorang akan meningkat di kedudukan yang ditentukan Alloh, dengan sendirinya akan menempati pada kedudukan tanpa sebab, menyembuhkan penyakit tanpa obat, rizqi tanpa mencari, dan menempuh tempat yang jauh tanpa proses perjalanan.”
“Oh udah habis jamnya..” kata Muhammad. Dan
kami pun dijemput mobil pengangkut karyawan
masing melakukan tanda tangan keluar kerja.
skip...
Tak terasa telah hampir dua tahun aku di Saudi,
waktu berjalan amat cepat, dan sudah sekali aku pulang cuti, hutangku di PJTKI juga sudah ku lunasi, malah uangku dikembalikan lagi oleh
PJTKI dibelikan emas seharga sepuluh juta dan
diserahkan pada istriku.
Aku sudah mau mengajukan Resend, berhenti dari pabrik, tapi aku ingin Hajian agar tak percuma aku di Saudi, pas Hajian di tahun pertama dan kedua aku baru pulang dari Indonesia sehingga tak ada uang untuk biaya hajian, semoga di tahun ketigaku aku bisa hajian, sehingga aku bisa segera pulang ke
Indonesia.
Sebenarnya di tahun kedua Muhammad telah
membujukku untuk hajian dengan biaya
ditanggung dia, tapi aku orangnya selamanya tak mau menyusahkan orang lain, walau saat itu Muhammad memaksa-maksa katanya sebagai tawadhuk murid kepada guru, tapi aku tetap tak mau.
——————————————-
__ADS_1
Pulang kerja aku langsung mandi, setelah mandi sholat magrib, enaknya di Saudi setiap kamar ada kamar mandi dan WC, jadi setiap orang tak perlu repot antri, cuma kamar cuci yang mesinnya hanya satu, jadi kalau nyuci harus nunggu yang lain selesai.
Setelah sholat hape bunyi.
“Halo… mas, minuman sama ayam bakar ku taruh di pintu, tolong diambil, tadi ku ketuk-ketuk gak nyahut jadi ku taruh aja di pintu.” suara Muhsin.
“Oh ya… aku tadi lagi mandi, jadi pintu kamar ku
kunci.” jawabku.
Biasa Muhsin membawakanku kalau tidak
minuman kaleng, ya ayam bakar atau kepala
kambing, atau babat sapi, atau kepala ikan laut
yang jika dimasak seminggu gak habis-habis,
sehingga aku tak makan di kantin dan memasak sendiri, dia juga aktif membawakan indomie sekardus, juga beras sekarung, kadang meja sampai penuh untuk menaruh makanan.
“Nanti habis sholat isya’ mau kesitu.” kata
Muhsin lagi.
“Ya..” jawabku.
Ada yang mengetuk pintu, ku buka ternyata
Amir Khan, orang Pakistan, tak biasa-biasanya
main ke kamarku.
“Silahkan duduk.” kataku dengan bahasa Arab.
“Kok tak biasanya main ke kamar?”
“Ya maaf mengganggu ustad.” kata Amir Khan,
aku tak tau kenapa kebanyakan pada memanggilku ustad, padahal sama sekali juga aku tak pernah mengajar atau menunjukkan punya ilmu apa-apa.
“Begini ustadz, saya mau minta tolong…, sebab
saya dengar ustadz sering dimintai tolong
teman-teman.” kata Amir Khan.
“Soal apa itu? Maaf sebenarnya aku sendiri tak
bisa apa-apa, jadi kalau nantinya mengecewakan.” kataku.
Bersambung....
__ADS_1