Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Go Home


__ADS_3

Itu tetap saja terjadi.


Entah berapa kali tembok


pagar rumah makan itu diganti, karena ambrol


disruduk mobil yang mengalami kecelakaan. Juga


para pelayan rumah makan itu tak ada yang kuat


bertahan lebih dari tiga bulan,


ada saja masalahnya, karena takut, karena kesurupan.


Tapi rumah makan itu tetap berjalan dan ramai


pengunjungnya.


Setelah pulang ke pesantren xxxx, aku


menyelesaikan puasa empat puluh satu hari setelah selesai, aku minta ijin pada Kyai untuk


pulang sebentar ke Tuban menengok kampung


halaman, Kyai pun mengijiniku, tanpa menunggu lama aku berangkat pulang,,


walau telah hampir setahun aku mesantren di tempat Kyai, tapi aku masih tak tau aku ini mendapatkan apa dipesantren.


Sebab Kyai tak pernah mengajariku


apa-apa. Puasa juga baru dua puluh satu dan empat puluh satu hari.


Sampai di desaku sendang rumahku adalah


lingkungan pesantren, ada sekitar tujuh


pesantren di sekitar rumahku, kalau dihitung


dalam satu desaku ada sepuluh pesantren.


Semua pengasuhnya masih ada hubungan saudara denganku,,


ada yang pamanku, ada yang saudara


sepupu ayahku. Maka desaku terkenal dengan


desa santri. Kehidupan masyarakatnya


kebanyakan bertani. Ketika teman-temanku tau, aku pulang ke rumah semua pada datang


berkunjung, ada yang dari teman pesantren


dekat rumah,tapi ada juga para gank kampung,


maklum aku dulu anak yang paling nakal di

__ADS_1


desaku, bagiku sebenarnya kenakalan remaja,


tapi bagi orang lain kenakalanku melampaui


batas.


Aku ingat, dulu aq pernah bersama teman-temanku mencuri


semangka berkarung-karung dengan leluasa,,


sebab sebelumny penjaga ladang tersebut ku


ikat dengan tambang..


Ku ingat juga dulu pernah menguras empang


ikan orang,yang ada di depan rumah tersebut,,


sementara yang punya rumah ku ****** semua pintunya,hingga tak bisa keluar.


Dulu orang


mending ngasih upeti kepadaku, daripada


dihabiskan anak buahku..


Siapa sih cewek cantik di desaku dan desa-desa tetanggaku yang tak pernah ku pacari..?


yah itulah masa lalu,, tapi apa


setelah seharian berbagi bercerita,bernolsalgia dan bercengkrama,


Ba'da sholat magrib teman-temanku pun sudah beranjak pulang,, tak lama kemudian ibu memanggil,akupun dengan segera memenuhi panggilannya,


“Ada apa bu?” ketika sampai di dekat ibuku yang memasukkan buah-buahan ke tas plastik.


“Ayo antarkan ibu ke rumah paman Mursid.”


“Kenapa dengan paman Mursid Bu?”


“Paman Mursid sakit, sudah tiga bulan makannya lewat jarum infus, dokter udah tak sanggup, makanya dua hari yang lalu dibawa pulang.”


aku cuma manggut-manggut sambil mengerutkan kening.


Segera saja ku tuju motor Jupiter, yang sebelumnya ku ambil kunci kontak yang tergantung di balik pintu kamarku.


Setelah menyalakan motor untuk memanaskan mesinnya terlebih dahulu, aku kembali ke tempat ibuku duduk.


“Sakitnya, sebenarnya sakit apa to bu?”


“Awalnya ya tak tau lah nang.”


(panggilan nang adalah panggilan orang Tuban kepada anak lelakinya, kalau masih kecil dipanggil cong, kalau sudah gede dipanggil nang.)


“Paman Mursidmu itu ditemukan pingsan di

__ADS_1


pematang sawah dekat dam ratan.


Sejak saat itu ditemukan,ya sampai sekarang ini tak pernah sadar, kasihan pamanmu juga istrinya bibi Asiah,


dia sudah kemana aja untuk mencarikan obat untuk kesembuhan suaminya,tapi belum mendapatkan hasil juga.”


“Apa dulu waktu ditemukan tak ada tanda gigitan ular, bekne digigit ular?.” tanyaku heran.


“Tak ada, tak ada tanda sakit apa-apa, itulah


yang aneh.”


“Trus menurut pemeriksaan dokter sakit apa


bu?”


“Ah banyak kalau menurut dokter, ada


komplikasi,setruk lah, ah pokoknya banyak gitu jadi gak mudeng aku,,


mungkin juga karangan dokter, nyatanya pamanmu tak kunjung sembuh.”


“Kalau dukun gimana?”


“Udah banyak dukun didatangkan, saratnya pun aneh-aneh, tapi semua percuma tak ada


faedahnya, malah membuang buang uang saja.”


“Trus paman Muhsin udah nyoba datang ke Kyai Kyai belum?


dimintai sareat?”


“Udah semua, paman Muhsin juga tak sanggup,”


“Wah kalau gitu ya berat” kataku mengakhiri


pertanyaan.


Ku bonceng ibuku menuju rumah paman Mursid,


pelan-pelan aku jalankan motor, melewati jalanan paving blok.


Di dunia ini yang paling ku sayangi


dan ku hormati adalah ibuku, bukan hanya karena hadis Nabi mengatakan derajat ibu lebih mulia daripada ayah.


Tapi karena ibu adalah orang yang paling sayang dan paling pengertian kepadaku,


dulu saat aku masih nakal-nakalnya, ibuku tak


pernah menyalahkanku,tak pernah melarangku, malah kalau aku mau pergi nonton konser musik, ibukulah yang memasangkan anting di telingaku, yang menyisirkan rambut panjangku, soal cewek ibu selalu memesanku, punya cewek banyak tak masalah, karena memang aku dulu punya pacar tak pernah kurang dari sepuluh, tapi kata ibuku, jangan mencemarkan nama baik orang tua,,


" jangan sampai kau menghamili wanita, yang bukan istrimu,Sebab ibumu juga wanita."


Ah ibu memang sangat bijaksana..

__ADS_1


__ADS_2