
Itu tetap saja terjadi.
Entah berapa kali tembok
pagar rumah makan itu diganti, karena ambrol
disruduk mobil yang mengalami kecelakaan. Juga
para pelayan rumah makan itu tak ada yang kuat
bertahan lebih dari tiga bulan,
ada saja masalahnya, karena takut, karena kesurupan.
Tapi rumah makan itu tetap berjalan dan ramai
pengunjungnya.
Setelah pulang ke pesantren xxxx, aku
menyelesaikan puasa empat puluh satu hari setelah selesai, aku minta ijin pada Kyai untuk
pulang sebentar ke Tuban menengok kampung
halaman, Kyai pun mengijiniku, tanpa menunggu lama aku berangkat pulang,,
walau telah hampir setahun aku mesantren di tempat Kyai, tapi aku masih tak tau aku ini mendapatkan apa dipesantren.
Sebab Kyai tak pernah mengajariku
apa-apa. Puasa juga baru dua puluh satu dan empat puluh satu hari.
Sampai di desaku sendang rumahku adalah
lingkungan pesantren, ada sekitar tujuh
pesantren di sekitar rumahku, kalau dihitung
dalam satu desaku ada sepuluh pesantren.
Semua pengasuhnya masih ada hubungan saudara denganku,,
ada yang pamanku, ada yang saudara
sepupu ayahku. Maka desaku terkenal dengan
desa santri. Kehidupan masyarakatnya
kebanyakan bertani. Ketika teman-temanku tau, aku pulang ke rumah semua pada datang
berkunjung, ada yang dari teman pesantren
dekat rumah,tapi ada juga para gank kampung,
maklum aku dulu anak yang paling nakal di
__ADS_1
desaku, bagiku sebenarnya kenakalan remaja,
tapi bagi orang lain kenakalanku melampaui
batas.
Aku ingat, dulu aq pernah bersama teman-temanku mencuri
semangka berkarung-karung dengan leluasa,,
sebab sebelumny penjaga ladang tersebut ku
ikat dengan tambang..
Ku ingat juga dulu pernah menguras empang
ikan orang,yang ada di depan rumah tersebut,,
sementara yang punya rumah ku ****** semua pintunya,hingga tak bisa keluar.
Dulu orang
mending ngasih upeti kepadaku, daripada
dihabiskan anak buahku..
Siapa sih cewek cantik di desaku dan desa-desa tetanggaku yang tak pernah ku pacari..?
yah itulah masa lalu,, tapi apa
setelah seharian berbagi bercerita,bernolsalgia dan bercengkrama,
Ba'da sholat magrib teman-temanku pun sudah beranjak pulang,, tak lama kemudian ibu memanggil,akupun dengan segera memenuhi panggilannya,
“Ada apa bu?” ketika sampai di dekat ibuku yang memasukkan buah-buahan ke tas plastik.
“Ayo antarkan ibu ke rumah paman Mursid.”
“Kenapa dengan paman Mursid Bu?”
“Paman Mursid sakit, sudah tiga bulan makannya lewat jarum infus, dokter udah tak sanggup, makanya dua hari yang lalu dibawa pulang.”
aku cuma manggut-manggut sambil mengerutkan kening.
Segera saja ku tuju motor Jupiter, yang sebelumnya ku ambil kunci kontak yang tergantung di balik pintu kamarku.
Setelah menyalakan motor untuk memanaskan mesinnya terlebih dahulu, aku kembali ke tempat ibuku duduk.
“Sakitnya, sebenarnya sakit apa to bu?”
“Awalnya ya tak tau lah nang.”
(panggilan nang adalah panggilan orang Tuban kepada anak lelakinya, kalau masih kecil dipanggil cong, kalau sudah gede dipanggil nang.)
“Paman Mursidmu itu ditemukan pingsan di
__ADS_1
pematang sawah dekat dam ratan.
Sejak saat itu ditemukan,ya sampai sekarang ini tak pernah sadar, kasihan pamanmu juga istrinya bibi Asiah,
dia sudah kemana aja untuk mencarikan obat untuk kesembuhan suaminya,tapi belum mendapatkan hasil juga.”
“Apa dulu waktu ditemukan tak ada tanda gigitan ular, bekne digigit ular?.” tanyaku heran.
“Tak ada, tak ada tanda sakit apa-apa, itulah
yang aneh.”
“Trus menurut pemeriksaan dokter sakit apa
bu?”
“Ah banyak kalau menurut dokter, ada
komplikasi,setruk lah, ah pokoknya banyak gitu jadi gak mudeng aku,,
mungkin juga karangan dokter, nyatanya pamanmu tak kunjung sembuh.”
“Kalau dukun gimana?”
“Udah banyak dukun didatangkan, saratnya pun aneh-aneh, tapi semua percuma tak ada
faedahnya, malah membuang buang uang saja.”
“Trus paman Muhsin udah nyoba datang ke Kyai Kyai belum?
dimintai sareat?”
“Udah semua, paman Muhsin juga tak sanggup,”
“Wah kalau gitu ya berat” kataku mengakhiri
pertanyaan.
Ku bonceng ibuku menuju rumah paman Mursid,
pelan-pelan aku jalankan motor, melewati jalanan paving blok.
Di dunia ini yang paling ku sayangi
dan ku hormati adalah ibuku, bukan hanya karena hadis Nabi mengatakan derajat ibu lebih mulia daripada ayah.
Tapi karena ibu adalah orang yang paling sayang dan paling pengertian kepadaku,
dulu saat aku masih nakal-nakalnya, ibuku tak
pernah menyalahkanku,tak pernah melarangku, malah kalau aku mau pergi nonton konser musik, ibukulah yang memasangkan anting di telingaku, yang menyisirkan rambut panjangku, soal cewek ibu selalu memesanku, punya cewek banyak tak masalah, karena memang aku dulu punya pacar tak pernah kurang dari sepuluh, tapi kata ibuku, jangan mencemarkan nama baik orang tua,,
" jangan sampai kau menghamili wanita, yang bukan istrimu,Sebab ibumu juga wanita."
Ah ibu memang sangat bijaksana..
__ADS_1