Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Apa yang disebut sifat dengki?


__ADS_3

Ibu itu merasa prihatin tentang nasib anaknya, tapi tak mampu berbuat apa-apa, aku hanya sebentar sampai di rumah ibu itu dan kembali pulang, karena aku rasa tak banyak kepentingan bagiku mengurusi kehidupan rumah tangga orang.


Beberapa hari kemudian Suhandi menelponku


katanya dipanggil kepolisian, karena masalahnya, tapi sorenya sudah nelpon lagi katanya kakak orang yang dia punya hutang pada orang tersebut sudah tidak menagih hutang padanya, dan mencabut tuntutan, dia bilang merasa aneh, kok sebelumnya si Ahmadi ngotot-ngotot, ingin memenjarakannya, tapi kok sekarang sudah tidak lagi.


Sementara itu Askan sudah ribut membakar orang-orang kampung untuk diajak unjuk rasa agar pembangunan tower digagalkan, padahal pembangunan tower sedang berlangsung, dan pembangunan pondasi tengah dijalankan,


Askan membuat undangan untuk orang-orang agar hadir di masjid, supaya bisa diajak menggagalkan pembangunan tower, dia mengatakan tower itu milik orang Kristen, tak boleh berdiri di belakang masjid, hukumnya haram, padahal dalam urusan pekerjaan orang Islam itu sah berdagang dengan agama manapun, yang tidak boleh itu dalam urusan beribadah, setiap agama mempunyai keyakinan, tempat ibadah, dan cara ibadah


masing-masing, tapi kalau soal urusan pekerjaan maka tidak ada hukum yang melarang seorang muslim bekerja dengan selain muslim.


Sebab di dunia ini kehidupan manusia itu majmuk, Nabi sendiri pernah melakukan dagang dengan orang yang bukan Islam, yang dilarang adalah mencampur adukkan cara ibadah dan tempat ibadah, juga pengamalan ibadah, dan keyakinan, kalau soal pekerjaan, maka siapapun asal cara bekerjanya benar, maka boleh diajak bekerja sama.


Orang-orang pada meributkan soal pembangunan tower, juga Askan sudah berhasil memecah belah pengurus masjid menjadi dua kelompok, satu kelompok, menentang jika tower berdiri, maka kelompok itu tak akan menginjakkan masjid lagi, juga kelompok yang lain, mengancam jika tower tak berdiri, maka kelompoknya tak akan menginjakkan kaki di masjid lagi, aku hanya melihat saja, menurutku, memang Askan jika termasuk sukses jika menjadi syaitan yang bisa memecah belah umat, dan aku hanya ketawa, karena tau betul apa hasil akhirnya, walau Askan masih aktif menjelek-jelekkanku.


Soal tower makin ramai, sebenarnya permasalahannya orang ingin agar tower berdiri di rumah mereka, atau di tanah mereka, sehingga bisa mendapatkan uang dari pembangunan tower, jeleknya jika pembangunan tower itu tidak dibangun di tanah mereka atau dibangun di lahan orang lain dan mereka tidak kebagian uang, maka mereka lebih memilih tower itu tidak dibangun, jadi kalau mereka tidak mendapat uang, lebih baik siapa pun tak dapat uang juga, sungguh ironis, memang begitulah kalau hati diliputi iri dengki, jika diri kaya maka sah saja, tapi jika orang lain kaya maka tidak boleh.

__ADS_1


Sebenarnya sifat iri dengki itu hanya akan merusakkan hati sendiri, jika aku mengungkap buruknya iri dengki menurut pendapatku, maka mungkin orang akan mengatakan bahwa aku ini melakukan pembelaan atas diriku sendiri, maka aku akan kutip beberapa tulisan, sebagai sandaran apa yang ku tulis nantinya tak dituduh membela keberadaanku.


Apa yang disebut sifat dengki?


“Menginginkan hilangnya kenikamatan dari orang lain/pemiliknya, baik kenikmatan (yang berhubungan dengan) agama maupun dunia.” Dari pengertian di atas kita dapat memahami bahwa iri dengki tidak hanya menyangkut capaian-capaian yang bersifat duniawi, seperti rumah dan kendaraan, melainkan juga menyangkut capaian-capaian di lingkup keagamaan, misalnya dakwah.


Ini juga berarti bahwa penyakit dengki bukan hanya menjangkiti kalangan awam. Iri dengki itu ternyata dapat menjalar dan menjangkiti kalangan yang dikategorikan berilmu, pejuang, dan da’i. Seorang da’i atau mubalig, misalnya, tidak suka melihat banyaknya pengikut da’i atau mubalig lain.


Seorang yang mengikuti kepada kelompok atau jama’ah tertentu sangat benci kepada kelompok atau jama’ah lain yang mendapatkan kemenangan-kemenangan. Dan masih banyak lagi bentuk lainnya dari sikap iri dengki di kalangan para “pejuang”.


“Tidak akan terjadi saling dengki di kalangan para ulama. Sebab yang mereka tuju adalah ma’rifatullah (mengenal Allah). Tujuan seperti itu bagaikan samudera luas yang tidak bertepi. Dan yang mereka cari adalah kedudukan di sisi Allah. Itu juga merupakan tujuan yang tidak terbatas.


Karena kenikmatan paling tinggi yang ada pada sisi Allah adalah perjumpaan dengan-Nya. Dan dalam hal itu tidak akan ada saling dorong dan berdesak-desakan. Orang-orang yang melihat Allah tidak akan merasa sempit dengan adanya orang lain yang juga melihat-Nya. Bahkan, semakin banyak yang melihat semakin nikmatlah mereka.”


Iman Al-Ghazali melanjutkan, “Akan tetapi, bila para ulama, dengan ilmunya itu menginginkan harta dan wibawa mereka pasti saling dengki. Sebab harta merupakan materi. Jika ia ada pada tangan seseorang pasti hilang dari tangan orang lain. Dan wibawa adalah penguasaan hati. Jika hati seseorang mengagungkan seorang ulama pasti orang itu tidak mengagungkan ulama lainnya. Hal itu dapat menjadi sebab saling dengki.”


(Ihya-u ‘Ulumid-Din, Imam Al-Ghazali, juz III hal. 191.)

__ADS_1


Jadi, dalam konteks perjuangan, dengki dapat merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popularitas/ketenaran, kalah pengaruh, kalah pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggapnya lebih dalam hal wibawa, polularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut itu.


Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah.


Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu


dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki). Penyakit dengki sangat berbahaya. Tapi bahayanya lebih besar mengancam si pendengki ketimbang orang yang didengki. Bahkan realitas membuktikan, sering kali pihak yang didengki justru diuntungkan dan mendapatkan banyak kebaikan.


Sebaliknya, si pendengki menjadi pecundang.


Di antara kekalahan-kekalahan pendengki


adalah sebagai berikut. Pertama, kegagalan dalam perjuangan. Perilaku pendengki sering tidak terkendali. Dia bisa terjebak dalam tindakan merusak nama baik, mendeskreditkan dan menghinakan orang yang didengkinya. Dengan cara itu ia membayangkan akan merusak citra, kredibelitas, dan daya tarik orang yang didengkinya dan sebaliknya mengangkat citra, nama baik, dan kredibelitas pihaknya.


Namun kehendak Allah tidaklah demikian.


Rasulullah saw. bersabda: Dari Jabir dan Abu Ayyub al-Anshari, mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang pun yang menghinakan seorang Muslim di satu tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yang menghina) itu di tempat yang ia inginkan pertolongan-Nya. Dan tidak seorang pun yang membela seorang Muslim di tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu di tempat yang ia menginginkan pembelaan-Nya.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, dan Ath-Thabrani). Yang Kedua, ******* habis kebaikan.

__ADS_1


__ADS_2