
Seperti saat itu hari sudah sore baru juga selesai sholat dan baru menyelesaikan dzikir pondasi, biasa mertuaku kalau ada tamu ribut, pengennya tamu segera ditemui, biasanya akan menyuruh anakku untuk terus terusan memanggil ku, ya kalau kulanjutkan dzikir pasti ndak akan tenang, segera saja ku temui tamu, seorang pemuda yang seumuran denganku.
Ku lihat dia berusaha menghindar untuk menatap wajahku, seperti orang silau di kegelapan yang terkena cahaya lampu jauh kendaraan bermotor, aku tetap duduk di depannya, walau dia miring miring menghindari menatapku, dan menutup wajahnya dengan tangannya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Ya seperti ini, kalau saya berhadapan dengan orang yang ada isinya…” jawabnya.
“Ooo begitu..? Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku lagi.
“Ada jin dalam tubuh saya, mohon untuk segera dikeluarkan…”
“Sudah berapa lama?”
“Sudah dua tahunan..”
“Awalnya bagaimana?”
“Saya sendiri tak tau awalnya bagaimana Tiba-tiba ya begini.” Aku terdiam, dia masih berusaha tak menatap ke arahku.
“Sudah pernah diobatkan kemana saja?” tanyaku, setelah memilih pertanyaan yang sekiranya tepat.
“Sudah, bukan hanya ke dokter tapi juga ke kyai dan paranormal, dan di mana ada orang memberitahu saya soal orang yang bisa mengobati maka saya akan berusaha datang, tapi hasilnya selalu nihil, kadang ada yang bisa mengeluarkan jin dari tubuh, dan malah mereka yang muntah darah, atau kalah dengan keroyokan jin di dalam tubuh saya, anehnya saya tak tau kenapa ada jin di tubuh saya, tau tau ya ada di dalam tubuh saya, malah saya mau kesini tadi, harus tarik tarikan dengan jin dalam tubuh saya, sehingga saya harus melangkah setindak demi setindak, selangkah kalau ada pohon, saya pegangan pohon.”
“Kok bisa begitu?”
“Iya karena jin dalam tubuh saya tau kalau mau saya obatkan, dan jika yang saya mau datangi orang yang benar-benar isi, mereka akan berusaha sekuat tenaga menahanku, selalu berusaha menguasai kaki dan tanganku, tapi alhamdulillah setelah tarik tarikan dari jam tiga tadi waktu masuk gang ini, sekarang sampai juga”
“Sebentar ku ambikan air dulu.” kataku sambil mengambil air dari dzikir malam minggu kliwon, lalu air ku tiup doa agar jin dalam tubuh lelaki di depanku ini dikeluarkan.
Setelah ku tanya nama lengkap dan nama ayahnya, maka air ku tiup dan ku berikan untuk diminum. Ku lihat tangan yang satu mencoba menahan agar air tidak terminum, tapi tangan yang satunya lagi berusaha agar air terangkat dan bisa diminum, rupanya dia dikuasai separo, sebagian dirinya dikuasai jin, dan separo masih dalam kendali kesadarannya, akhirnya air bisa diminumnya, dia segera menggeleng gelengkan wajahnya, kayak orang sedang mengibarkan sesuatu, lalu mulai menggereng gereng seperti suara macan, lalu ku tanya.
“Assalamualaikum, ini dengan siapa?” tanyaku. Dia tak menjawab hanya menggereng-gereng, karena ku tanya berulang kali tak menjawab, maka ku keluarkan saja jinnya, dan berganti masuk jin yang lain, dengan suara cekikikan kayak suara perempuan, setelah ku salami dan ku tanya tak menjawab, maka ku keluarkan lagi, begitu berulang-ulang, entah sudah ada berapa jin yang sudah ku keluarkan, tapi tak satupun yang menjawab pertanyaanku, ada yang seperti suara kucing, meliuk seperti ular dan lain-lain, hingga ada juga jin yang mulai membuka percakapan denganku.
__ADS_1
“Assalamualaikum gus”
“Waalaikum salam, jawabku, dengan siapa ini?”
“Saya saya jin muslim” jawabnya.
“Aduh saya diapakan gus, kok tubuh saya panas semua?”
“Saya tak mengapa-apakan”
“Tapi tanganmu itu berat sekali gus” Ku lepaskan tanganku yang lagi menempel di tubuhnya.
“Bagaimana kamu ada di dalam tubuh orang ini?”
“Saya tak tau gus, tiba tiba saya ada di dalam tubuh orang ini”
“Apa kamu dikirim seseorang?” tanyaku menyelidik.
“Tak tau gus, saya ndak tau, benar saya tak tau.”
“Biar saya keluar sendiri.Assalamualaikum.”
Katanya lantas dia keluar dari tubuh orang di depanku.
Tapi lantas ada lagi jin yang menunjukkan eksistensinya, yang agak keras wataknya, dia langsung mengeluarkan jurus untuk menyerangku, ada sedikit tekanan ke arah tubuhku, ku hanya perlu konsentrasi sedikit pada lafadz Allah di dadaku, dan tanpa aku harus melakukan gerakan segera jin itu pun sudah tertolak serangannya.
Sebenarnya teori seperti ini teori yang sederhana, jika kita sudah menembusi latifah kita, maka dengan sendirinya kita akan
terhubung dengan Allah.
Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Di setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu.
Ibn Mubarak mengatakan bahwa Khalid bin Ma’dan berkata kepada sahabat Mu’adz bin Jabal RA.
__ADS_1
“Ceritakanlah satu hadits yang kau dengar dari Baginda Rasulullah SAW, yang kau menghafal nya dan setiap hari kau mengingatnya lantaran saking keras, halus, dan dalamnya makna dari hadits tersebut. Hadits manakah yang menurut pendapatmu paling penting?”
Mu’adz menjawab, “Baiklah, akan kuceritakan.”
Sesaat kemudian, ia pun menangis hingga lama sekali, lalu ia bertutur.
“Hmm, sungguh kangennya hati ini kepada Rasulullah SAW, ingin rasanya segera bersua dengan beliau.”
Ia melanjutkan.
“Suatu saat aku menghadap Rasulullah SAW. Ia menunggangi seekor unta dan menyuruhku naik di belakangnya, maka berangkatlah kami dengan unta tersebut. Kemudian dia menengadahkan wajahnya ke langit, dan berdoa.
“Puji syukur kehadirat Allah, Yang Maha berkehendak kepada makhluq-Nya menurut kehendak-Nya.” Kemudian beliau SAW berkata.
“Sekarang aku akan mengisahkan satu cerita kepadamu yang apabila engkau hafalkan, akan berguna bagimu, tapi kalau engkau sepelekan, engkau tidak akan memiliki hujjah kelak di hadapan Allah SWT.”
“Hai, Mu’adz! Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Pada setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu, dan tiap-tiap pintu langit itu dijaga oleh malaikat penjaga pintu sesuai harga pintu dan keagungannya. Maka, Malaikat hafazhah (malaikat yang memelihara dan mencatat amal seseorang) naik ke langit dengan membawa amal seseorang yang cahayanya bersinar-sinar bagaikan cahaya matahari.
Ia, yang menganggap amal orang tersebut telah banyak, memuji amal-amal orang itu. Akan tetapi, sampai di pintu langit pertama, berkata malaikat penjaga pintu langit itu kepada malaikat hafazhah.
“Tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, aku ini penjaga tukang pengumpat, aku diperintahkan untuk tidak menerima masuk tukang mengumpat orang lain. Jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya.”
Keesokan harinya, ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit dengan membawa amal shalih seseorang lainnya yang cahayanya berkilauan. Ia juga memujinya lantaran begitu banyaknya amal dari tersebut. Namun malaikat di langit kedua mengatakan.
“Berhentilah, dan tamparkan amal ini ke wajah pemiliknya, sebab dengan amalnya itu dia mengharap keduniaan. Allah memerintahkanku untuk menahan amal seperti ini, jangan sampai lewat hingga hari berikutnya.” Maka seluruh malaikat pun melaknat orang tersebut sampai sore hari.
Kemudian ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit dengan membawa amal hamba Allah
yang sangat memuaskan, dipenuhi amal sedekah, puasa, dan bermacam-macam kebaikan yang oleh malaikat hafazhah dianggap demikian banyak dan terpuji. Namun saat sampai di langit ketiga berkata malaikat penjaga pintu langit yang ketiga.
“Tamparkanlan amal ini ke wajah pemiliknya, aku malaikat penjaga orang yang sombong. Allah memerintahkanku untuk tidak menerima amal orang sombong masuk. Jangan sampai
amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya. Salahnya sendiri ia menyombongkan dirinya di tengah-tengah orang lain.
__ADS_1
Bersambung...