Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Introspeksi


__ADS_3

Jika lisan kita hati kita cenderung meminta pada Alloh, berarti Alloh itu tengah menyayangi kita, sebab tak ada yang berdesir di dalam hati seorang manusia, itu ada dan berdesir lalu menjadi suatu amal ibadah, kecuali Alloh menjadikan ijin untuk terjadi dan berlaku.


Suhandi ketika datang padaku pertama kali, wajahnya amat gelap oleh aura syaitan, walau sekalipun aku tau apa yang pernah dia lakukan, maka aku harus bersikap bukan orang yang menghakimi, semua manusia bagiku punya proses perjalanan, dan jika kita selalu menyalahkan orang lain, atau menfonis salah orang lain dengan segala masa lalunya maka tak akan bisa kita menjadikan manusia lain menjadi benar, semua orang akan terlihat salah, padahal semua orang itu punya pintasan perjalanan, yang tak selalu baik, tapi sekalipun seorang pelacur, maka tak ada yang bercita-cita menjadi pelacur, sekalipun perampok maka tak ada yang bercita-cita menjadi perampok.


“Mas.. saya mau minta tolong, agar usaha saya bisa maju.” kata Suhandi.


“Ya ikut saja dzikir di sini, nanti juga akan maju, tapi mungkin kamu akan lama.” kataku.


“Kenapa begitu mas?”


“Ya orang itu kan bisa maju usahanya, bisa melaju cepat sebuah motor, kalau di dalam mesinnya motor itu bersih dari kotoran dan kerak, kalau karaten, kotor, tentu jalannya akan lambat, dalam motor harus diservis dulu, apa yang rusak parah harus diganti, kalau bannya saja jadi angka delapan lalu motor dipaksa jalan, itu hanya akan menyusahkan yang mengendarai, bisa jadi dari Surabaya ke Jakarta, sepanjang perjalanan motor akan dipikulnya, ya daripada seperti itu mendingan jangan bawa motor,


Kalaupun motor terpaksa dibawa maka harus ditumpangkan ke bus, sama dengan sebuah usaha jika kok usaha itu sudah lubang sana-sini, mending ditinggalkan, mencari usaha baru, walau hasilnya lebih sedikit, setidaknya akan bisa menutup lubang di usaha lama, tapi kok usaha sudah remuk, masih dipaksakan jalan, maka bisa dipastikan usaha bukannya akan menemui kebaikan, tapi akan malah makin mengalami kerugian,” jelasku.


Walau terus terang aku ini nol besar dalam bidang usaha.


“Wah kalau meninggalkan usahaku yang lama ya sulit mas…” kata Suhandi.


“Ya itu terserah sampean, saya juga bukan orang yang mengerti dengan usaha, itu hanya saran saya saja.”


“Ya saya hanya minta do’anya saja mas.” kata Suhandi.


“Ya sekali lagi ku contohkan motor, biar mudah pembahasannya, ini misal motor setelah tabrakan lalu bannya lepas, dan apa-apanya patah, rantainya juga putus, lalu diletakkan di depan pendo’a yang paling tangguh sekalipun, maka dido’akan siang malam juga tak akan motor itu kembali seperti semula, artinya tetap saja motor itu hancur, artinya begini, apa yang sudah terlihat jelas di depan mata, maka itu penyelesaiannya dengan cara yang terlihat di depan mata, ya kalau tali putus disambung, tangan kotor dicuci, tak bisa tali putus lantas dido’akan, saranku carilah usaha lain, yang bisa diharap hasilnya walau sedikit, tapi terus menerus sehingga bisa menambal lubang di usaha yang sekarang, tapi tak mau juga tak apa-pa.” jelasku.

__ADS_1


Dan Suhandi masih terus menggeluti usahanya, hutangnya makin membengkak, setiap setoran pendapatannya hanya untuk membayar bunganya hutang, dan pendapatannya tak mencukupi untuk sekedar menutup bunga, tapi berulang kali Suhandi tak juga mau meninggalkan usahanya, seakan telah ada keterikatan dengan usaha yang mungkin pernah menjadikan kaya, sehingga Suhandi terseret dalam keterjebakan yang tak berkesudahan, seperti tikus yang muter-muter di lubang jebakan, dan telah tak bisa keluar, memang lebih sulit memberi saran seseorang yang telah terjebak oleh itung-itungan akalnya, dan selalu mengandalkan itungan matematika.


Aku hanya menggelengkan kepala jika Suhandi meminta saran, karena walaupun dia meminta


saranku seakan-akan saranku itu hanya seperti angin lalu saja, dia sudah terlanjur terperangkap oleh daya hisap pikirannya sendiri, dan mengejar hayalan yang tak ada bentuknya.


Mengeluarkan orang yang terjebak oleh mimpi dan hayalannya itu lebih sulit, seperti orang yang tengah mabuk pil ektasi, dibilangi bagaimanapun itu hanya akan melelahkan diri bicara saja, maka aku hanya berharap Alloh memberikan kesadaran dari sisi yang mungkin lebih baik nanti kesudahannya, aku hanya memerintahkan Suhandi rajin sholat, dan menjalankan ibadah, yang selama ini ditinggalkannya, sebagai orang yang menyampaikan, maka aku hanya wajib menyampaikan, secara penerimaan dan hasil nantinya itu bukan urusanku lagi, aku yakin jika kehendak baik dan disertai suatu kebenaran


menyampaikan akan berhasil baik.


Berulang kali aku menyarankan pada Suhandi, dan berulang kali aku juga tau kalau dia tak akan menerima dengan akalnya, tapi aku tetap tak bosan menyampaikan.


“Apakah nanti usahaku akan membaik ?” tanyanya.


jelasku.


“Bagaimana itu cara halus, dan bagaimana itu cara kasar?” tanya Suhandi.


“Cara halus seperti puasa, jika tak ingin nanti diperingatkan oleh Alloh dengan cara kelaparan, sakit perut, kesusahan mendapatkan rizqi untuk mengisi perut, dan selalu urusan perut itu sangat menyulitkan, maka lakukanlah puasa, guncangkanlah hati dengan dzikir, kejutkan hati dengan lafadz, jajalah agar diri tak diperingatkan Alloh dengan gempa bumi dan


sambaran petir, jadi segala sesuatu kita ini mau ngambil cara halus memperingatkan diri dengan instropeksi,


Jika kita diperingatkan Alloh dengan gempa bumi, banjir bandang, badai petir, agar kita mampu membaca setiap gerak dan perbuatan itu semua ada maksudnya, karena alam ini menunjukkan keberadaan Alloh di segala aspek apapun yang wujud.”

__ADS_1


“Kamu itu sudah terlalu banyak makan barang haram.” kataku.


“La saya bisnis halal kok mas.” jawab Suhandi.


“Ya kalau sistim yang kamu pakai, sistim makai sogok agar dapat pinjaman, lalu mengganti uang senang karena belum bisa membayar hutang itu ndak dibenarkan dalam Islam, walau itu ada dalam kesepakatan.”


“Berarti itu haram?”


“Iya itu tak boleh.”


“Tapi semua orang menjalankan.”


“Walau semua menjalankan, kalau haram ya tetap haram, kayak di suatu daerah misal minuman memabukkan dijual bebas, minuman memabukkan ya tetap haram, atau di kawasan


pelacuran, lalu semua orang melacur, pelacuran ya tetap haram, atau di Bali di pantai, semua orang telanjang, ya telanjang tetap haram, jadi halal haram itu tidak bisa ditentukan oleh sedikit banyak orang kayak pilihan kepala desa, kalau haram ya selamanya haram, sekalipun semua penduduk di muka bumi menjalankannya.”


“Wah lalu bagaimana mas?”


“Makanya itu jadi sulit, jalan satu-satunya kamu bertaubat dengan sungguh-sungguh, ingat


setetes minuman memabukkan itu 41 hari ibadah tertolak, walau dalam kewajiban gugur jika menjalankan sholat, tapi sholatnya hanya


menggugurkan kewajiban, juga makan makanan yang haram, maka do’nya tertolak, jadi berdo’a tak ubahnya membaca bacaan cersil.”

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2