Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Wa’mur bil urfi, wanha ‘anil mungkar


__ADS_3

“Kedatangan kami ke sini, yang pertama mau


mengucapkan terima kasih, dan yang kedua ingin menanyakan, waktu air dari kyai itu kami pel kan seluruh rumah, kok kedua anak kami sakit panas sehari, itu kenapa ya kyai?”


“Wah aku juga ndak tau, aku tidak semua tau, tapi itu biasanya, jin yang ada di rumah membuat serangan karena mereka merasa diusir.”


“Jadi tak masalah kyai?”


“Tak apa-apa, la sekarang rumah kalian rasanya bagaimana?”


“Alhamdulillah rasanya tentram kyai.”


“Ya itu sudah bagus, segala sesuatu itu yang penting hasilnya, bagaimanapun cara, itu hanya cara, semua tergantung hasilnya baik, atau tak baik, jadi jangan takjub dengan cara aneh-aneh untuk menyelesaikan masalah, jika hasilnya tak baik juga untuk apa perlunya cara yang aneh.”


jelasku.


“Iya kyai kami mengerti.”


“Lalu bagaimana penyakitnya mas Suryo?” tanyaku.


“Alhamdulillah sudah baikan mas, juga benjolan-benjolannya kok sudah kempes.”

__ADS_1


“Syukur kalau begitu, tapi ingat sama istrinya yang baik".


“InsaAlloh mas… do’anya, semoga saya tak mudah lagi tergoda..”


“Ya harus dari kemauan diri juga mas, misalkan mau nikah lagi lakukan dengan cara yang benar, ijin istri, kalau istri tak mengijinkan ya jangan maksa. Wong semua wanita itu rasanya sama, seperti makanan kalau sudah masuk perut, mahal atau murah di perut tiada beda, yang membedakan wanita itu kesolihannya,


Jika sholekhah ya akan menjadi penerang rumah tangga, jika ditinggal maka akan menjaga harta dan kehormatannya, selalu membantu suami seperti tangan satu dengan tangan lainnya, tangan satu memakai jam tangan, tangan lainnya yang memakaikan, tak masalah tangan lain itu tidak ikut dilingkari jam, sebab kehormatannya sudah terbawa oleh tangan satunya, istri yang solekhah juga penentu mutu anak nanti akankah menjadi anak yang kasar atau anak yang lemah lembut, penuh kasih, jika sang ibu suka membentak,


maka akan mempengaruhi detak jantung anak, jadi anak akan lebih cepat detak jantungnya, dan akan lebih cepat pemompaan darahnya, secara otomatis anak akan menjadi kayak motor ngebut,


Apa-apa serba ingin buru-buru, apa-apa ingin cepat selesai, tapi jika ibu itu lemah lembut, mengutamakan pengertian, menasehati dari hati ke hati, maka anak juga akan dewasa berpikir, penuh perhitungan, menjalankan segala sesuatu dengan kehati-hatian.


Ayah ibu yang suka cekcok, mendahulukan ego, saling pengen menang sendiri, sering banting pintu, maka akan menjadikan anak juga suka menang sendiri, jadi pelajaran dalam keluarga itu akan menjadikan anak nantinya akan menjadi seorang garong, atau seorang yang berjiwa lemah lembut, dulu ibuku semasa aku kecil, suka menceritakan, kisah para sufi, kisah para ulama’ besar, seperti kisah syaikh Abdul qodir jailani, atau syaikh Abu khasan Assadzili, atau Robi’ah adawiyah, ketika aku mau tidur,


“Makasih kata petuahnya pak.”


“Ya sama-sama, ini juga menasehatiku.”


Kedua orang itupun pulang, sedikit mungkin yang aku beri, tapi dalam hatiku, aku tak akan berhenti untuk berbuat baik untuk orang lain, bukan karena aku merasa pintar, tapi aku merasa jika aku mengandalkan amalku sendiri, maka aku sama sekali tak punya amal ibadah apa-apa, karena aku merasa belum ikhlas dalam beramal, dan masih jauh dari akan diterima Alloh, kalau aku tak menanam modal amal dengan mengajak orang lain menjadi baik, maka aku akan mati dalam kerugian yang nyata.


Di manapun, kapanpun, bagiku tak ada kata berhenti, untuk mengajak pada kebaikan, agar aku bisa menanam modal amal pada orang yang ku ajak, soal merela mau atau tidak mau itu bukan lagi urusanku, tapi kuasa Alloh, aku hanya melaksanakan perintah Alloh,

__ADS_1


“wa’mur bil urfi, wanha ‘anil mungkar” mengajak kebaikan dan mencegah perbuatan merusak, tak perlu dengan kekerasan, tapi dengan kasih sayang, dengan kelembutan, dengan bukti nyata kebenaran itu adalah mendamaikan, dan keburukan itu merusak,


Dengan alasan apapun, merusak itu tak benar, dan mengajak orang lain dengan membakar, merusak, menghancurkan, dengan kemarahan, sama sekali tak akan diikuti, malah orang akan antipati, dan benci, aku hanya ingin menjadi air bening, yang tak menyembunyikan batu di dasar sungai, semua wajar, batu terlihat jelas, orang yang melihat, tak rela jika tak meminum airnya, merasakan kesegaran alami merambati tenggorokan, lalu setelah orang yang telah meminumnya akan merasa ingin mencuci muka, dan orang yang mencuci muka akan berhasrat untuk mandi.


Dalam dunia ini antara kebaikan dan keburukan itu saling ingin menguasai, kebaikan punya tentara, keburukan juga punya tentara, dan nafsu itu telah ditanamkan oleh Alloh di hati manusia, jadi sejak kecil manusia itu lebih mudah diseret oleh keinginan nafsunya, dan ditawan sekian lama, lalu kecendrungan nafsu senang kenikmatan, nama besar, pujian, itu telah menguasai, dan menyatu sehingga antara kebenaran dan kejahatan itu sudah sulit dibedakan, cenderung apa yang tidak menyenangkan nafsu maka dianggap suatu keburukan, sekalipun itu dari Alloh, sekian waktu hal itu menjadi keseharian dan membatu mengeraskan hati, maka ketika kebenaran datang, hati lebih suka dan lebih condong pada kejahiliahan, karena kebenaran itu sama sekali tak menguntungkan nafsunya.


Sah-sah saja manusia itu tak mau keluar dari nafsunya, dengan segala nikmat penjajahan nya, dan boleh-boleh saja manusia itu mempertahankan kesalahan jalannya, tapi maut akhirnya juga datang, malaikat maut itu tak mau disogok, apalagi dibayar, sekalipun uang dunia dikumpulkan selama ini diberikan, malaikat maut tetap akan mencabut nyawanya, dan malaikat maut ternyata anti sogok, dan jika setelah mati lalu menerima siksa, itu bukan salah siapa-siapa, apalagi salah Alloh,


Alloh itu tak pernah mendzolimi hambanya, jika ditakdirkan buruk, Alloh telah menunjukkan cara benar berdo’a, agar ikatan taqdir buruk itu diurai ikatannya, dan dirubah menjadi baik, tapi itulah manusia, jika sudah meninggal dan ditunjukkan pada kenyataan akan siksa lalu baru menyesal,


Masa yang lewat itu tak akan bisa dibeli dengan apapun, jika berbuat baik dan beramal baik menunggu nanti-nanti, maka kerugian itu pasti di dapat, sedangkan maut atau kematian itu hal yang pasti datangnya.


Sekian lama di Kota ini, hidup dan menjadi warganya, aku tak pernah menunjukkan bahwa aku ini orang apa, aliran apa, sehingga banyak


orang yang meminta do’a atas penyakitnya, lalu kebanyakan sembuh, malah aku dianggap dukun, padahal dukun itu sangat dilaknat Nabi, yang paling getol memusuhiku adalah kyai Askan, aku digembar gemborkan dukun, tukang bakar menyan, padahal ndak pernah bakar menyan, tukang jual air yang ditiup, dan minta bayaran, padahal seringnya kalau ada yang minta air do’a malah aku yang harus mengeluarkan air mineral dan cuma dapat


ucapan terima kasih, tapi aku yakin, seyakin-


yakinnya kalau Alloh itu tau hati siapa saja yang ikhlas, dan hati siapa saja yang ngaco.


Dan selama sepuluh tahun pun aku tak pernah

__ADS_1


punya murid di P*********, muridku pertama di kota ini bernama Nanang, aku juga tak kenal..


Bersambung....


__ADS_2