
Tapi Askan itu selalu mengukur sesuatu dengan pandangan serta pendapatnya sendiri, dan tak pernah mau menerima pendapat orang lain, aku ingat ketika menegur dia, karena memerintah orang-orang agar pasang susuk, jawabannya juga: la emas-emasku sendiri, yang disusuk juga aku sendiri, apa urusanmu melarang, sehingga ketika waktu harga minyak mau naik, dia menimbun berbaler-baler minyak tanah, aku diamkan saja, ya biarlah dosa ditanggung sendiri.
Malah ketika Askan tau, kalau aku akan membangun majlis, dan orang yang membicarakan, dibilang, mengeluarkan kotoran
dari mulut, dalam bahasa Jawa : ojo kebangeten nek ngetokne tai ko cangkem. orang miskin mau bangun majlis dari mana? Begitu selalu kata-kata yang diulang-ulangnya, itulah kenyataan dunia, betapa pentingnya merawat hati, dari penyakit hati, dan penyakit hati itu timbul dari makanan yang kita konsumsi, makanan itu masuk ke mulut dan diproses di perut diambil saripatinya, dan
sebagian menjadi zat-zat yang diperlukan tubuh, dan juga menjadi asupan bagi hati, maka hati yang diberi makan enak sekalipun tapi dari makanan haram, dijamin hati akan nifak, dan dipenuhi kepalsuan dan penyakit, yang sebenarnya penyakitnya itu bukan hanya menyusahkan diri sendiri tapi juga akan menyusahkan orang lain.
Semoga Alloh memberi kekuatan bagiku, diriku yang masih muda, dan belum tahan banting, lemah tak berdaya, tiada sandaran siapapun, hanya Alloh tempatku bersandar, dan Alloh insaAlloh akan selalu menjadi penolong bagiku, selama aku selalu dalam ruang lingkup kebenaran, aku ini seperti panglima tanpa tentara, sendiri, dan robbi la tadarni fardan, wa-anta khirul warisiin, wahai Alloh Tuhanku,
jangan biarkan aku ini sendiri, dan Engkaulah
sebaik-baiknya pewaris.
Itu yang selalu ku yakini, Alloh maha mengetahui dan maha melihat hati, segalanya tak lepas dari kuasa dan pengaturanNya, jika aku tak lulus dengan cobaan ini, maka aku juga akan diberi cobaan yang sama bentuknya, aku selalu meminta pada Alloh, agar aku diberi kekuatan untuk sabar, dan mengalah, diberi kekuatan untuk menerima, dan teguh pendirian.
Sampai di sini cerita ini ku tulis, saat cerita ini ku tulis, dan saat tanganku memencet huruf, jam menunjukkan jam 12 malam kurang 5 menit (5-6-2012), sore tadi unjuk rasa di balai desa atas prakarsa Askan ramai sekali, aku hanya melihat dari kaca jendelaku, karena aku sendiri tak ada urusan, karena juga aku sedang menjalani tak ketemu manusia, dan tak bicara, bahkan sama keluargaku, atau istri dan anakku, memang itulah keseharianku, kadang depan rumah sekalipun seharian tak kulihat sama sekali, aku hanya mengungkung sendiri di dalam kamarku, seperti orang lumpuh yang tak kemana-mana…. (karena tak menerima tamu, maka tak ada cerita yang ku tulis, jadi nanti insaAlloh, kyaiku memanggilku ke Banten, insaAlloh aku diminta menyaring cerita orang yang punya pengalaman sepertiku, nanti akan ku kumpulkan, dan ku tulis di cerita ini, sehingga bisa dijadikan sekedar bacaan, atau
pelajaran, bagi yang mau menilai hidup dari sisi
kenyataan, karena bagaimanapun hidup ini
__ADS_1
kenyataan.
Sekali lagi ku katakan ini tak seluruhnya cerita nyata, dan jika dikatakan hayalanku juga boleh. jadi boleh siapa saja menilai dengan penilaian nya masing-masing karena ini sekedar cerita.
Setiap manusia itu akan diuji dengan kadar kesanggupan, dan selalu berhubungan dengan apa yang dijalani, semakin seseorang itu mau menjalani laku ujian sebelum diuji, maka ujian yang akan diterima akan makin ringan, walau sebenarnya sama kadarnya, tapi menjadi ringan karena telah membiasakan diri menjalani ujian itu, manusia itu akan diuji dengan lapar, ekonomi, huru-hara, kehilangan, istri, keluarga, anak, kedudukan, kecelakaan, dan berbagai penyakit, itu semua bisa dipastikan akan menimpa manusia, jika manusia itu tidak mempersiapkan diri, artinya tidak melakukan amaliyah riyadloh, entah puasa, entah menahan keinginan dari apa yang dikehendaki nafsu, dan selalu menuruti, bahkan cenderung mengejar apa yang terlintas dibisikkan nafsu selalu berusaha dituruti, maka ketika diuji dengan ujian, seketika rasa sakitnya akan berlipat-lipat, rasa kehilangannya seperti sebuah pohon yang terhujam dalam ke bumi, lantas dicabut dengan paksa, maka akan terjadi lubang di bagian jiwa yang menganga.
Sebaiknya seorang itu memang harus mempersiapkan diri,dan selalu mempersiapkan diri, sehingga ketika terjadi ujian itu datang, segala persoalan itu akan tenang dihadapi, dan dengan ketenangan segala sesuatu itu akan
mudah dicari solusi terbaik.
Seringkali karena tanpa persiapan, dan hidup cenderung menuruti kesenangan, ketika ujian itu menimpa, maka seakan di dunia ini hanya kita sendiri yang mengalami perihnya cobaan itu, tak ada orang lain yang mengalami keperihan cobaan serupa kita, sehingga tangis sedih, seumpama mengeluarkan air mata darah belum cukup menuntaskan dan menjelaskan sakit yang kita derita, padahal tidak seperti itu, setiap manusia itu punya urat, dan punya rasa sakit yang sama, hanya orang yang sebelumnya mempersiapkan diri, dan orang yang selalu waspada yang akan memetik buah manis perjalanan hidupnya.
Skip..
Duduk mengitari kopi, kadang satu gelas diminum bareng-bareng, bukan karena tak ada kopi, sebab nilai kebersamaan itu lebih mempererat ikatan hati, ada si Amir yang tubuhnya kurus seperti lidi, padahal tiap hari juga porsi makanan juga sama, jadi heran kenapa tubuhnya kurus sekali juga tinggi, mungkin setiap makan langsung dibuang di kamar kecil, sehingga pengeluaran sama pemasukan jauh berbeda, ada si Ahsin, yang tubuhnya kurus lebih tipis dari triplek, memandangnya saja seperti merasa kasihan, sering dikasih uang orang karena dikira anak yatim piatu, atau si Lanang yang lebih suka memanjangkan jenggotnya, kali aja apa yang
dimakan masuk semua dikonsumsi jenggotnya,
sehingga untuk gizi tubuhnya tak kebagian, dan
banyak teman-teman yang lain, yang semuanya
__ADS_1
mengambil tempat duduknya masing-masing, aku juga tak banyak yang kenal, karena kami murid dari angkatan di masa dan kurun berbeda-beda.
Kali ini yang banyak bercerita si Petruk, aku sendiri sampai lupa nama aslinya, karena banyak yang memanggil begitu, dia dari Bogor, si Petruk bercerita:
“Wah ini sudah mulai dekat bulan romadhon, jadi ingat dulu sama kyai waktu bulan romadhon..” kata si Petruk sambil menyalakan rokok Djisamsoe kesukaannya.
“Memang ada cerita apa?” tanya Lanang.
“Dulu pas di gunung p****, sama kyai, kita semua mau buka, tapi ndak ada yang dipakai untuk buka puasa, kyai nanya sama kita semua, ada beberapa orang,
“Ini enakan buka pakai apa?” tanya kyai.
“Enakan buka pakai sarden ikan kyai…” jawab Mang Sanip.
“Yang lain sukanya makan pakai apa?” tanya kyai pada yang lain.
Yang lain ditanya juga bingung, karena memang tidak ada apa-apa untuk dimasak, atau dimakan, tapi kami jawab bareng,
“Sarden juga boleh kyai.”
“Baik tunggu sebentar.”
__ADS_1
Kata kyai, lalu kyai masuk ke dalam kamar, dan sebentar kemudian...
Bersambung....