
“Nanti ku buatkan pagar diri dan juga rumah,tunggu sebentar,” kataku beranjak berdiri, dan mencari batu kerikil untuk ku isi, setelah selesai proses pengisiannya lalu ku serahkan pada Ardi, sambil menjelaskan cara
pakainya.
Setelah semua beres, mereka berdua pamit
pulang.
——————————————-
Seperti ku kisahkan di awal, jika urusannya soal
santet, maka anehnya urusannya soal santet
melulu. Baru saja kedua tamuku berlalu, salah seorang temanku, Manaf menelpon,
“Mas bisa bantu gak, ini soal pamanku, di Rembang, dia terkena santet.” kata Manaf. “Wadoh santet lagi.” jawabku.
“La memangnya ada apa?” tanya Manaf.
“Ini baru saja dua orang tamuku pulang, soal santet, ini kamu nelpon soal santet lagi.” jawabku.
“Hahaha…, kali aja lagi musim, tapi ini aku serius, karena aku dihubungi keluarga di Rembang, katanya kena santet.”
“La kok bisa disantet orang Naf?” tanyaku.
“Anu itu soal warisan, jadi warisan jadi rebutan, dan pamanku yang seharusnya dapat bagian, tapi kalau pamanku mati ada yang dapat bagian orang yang lain, dan orang itu yang kemudian berharap pamanku mati, ini orangnya sudah seminggu gak bangun dari ranjang, tiap malam juga banyak ledakan di atap rumah, tolong ya mas.” jelas Manaf panjang lebar.
“Hm… ya bisa hubungi sebentar pamanmu itu,
suruh duduk menghadap ke barat, biar santetnya ku tarik dari sini.” jawabku,
“Ya sebentar.” jawab Manaf lalu mematikan Hp nya. Sepuluh menit kemudian Manaf nelpon lagi,
“Sudah ku suruh menghadap ke Barat,”
“Ya, sebentar ku tariknya, jangan lupa kabari aku bagaimana perkembangannya.” kataku, kemudian konsentrasi menarik kekuatan jahat yang ada di tubuh pamannya Manaf yang di Rembang.
——————————————-
“Makasih ya mas, sudah sehat, moga Alloh
membalas amalmu.” saat besoknya Manaf nelpon.
“Halah ndak usah kamu do’akan, malah ndak
makbul, malah sebaliknya, hahha…” candaku.
Motor sudah tak enak dijalankan, aku kebagian
nyerviskan, aku pilih salah satu tempat servis, di daerah Preng Langu, walau tak di pinggir jalan besar, agak masuk ke dalam kampung, dulu sering ku lihat yang menyerviskan motor sampai antri, karena servisannya lumayan bagus.
Sampai di tempat bengkel servis keadaan kok sepi, kayaknya cuma aku yang datang, aku jadi heran, tukang servisnya juga hanya nongkrong saja.
“Mau nyervis mas?” tanya seorang yang
kelihatan malas dan lemes.
“Iya…!” kataku sambil menyerahkan motor, dan
duduk di bangku.
Orang yang tadi menanyaiku malah ikut duduk di dekatku, dan motorku diserahkan anak buahnya.
“Kok lemes mas? Sakit ya?” tanyaku pada tukang servis itu.
“Iya mas…, badan tak ada tenaganya.” jawab dia.
__ADS_1
“Kayaknya dulu sering aku lihat tempat servis ini ramai pengunjung, kok sekarang sepi mas?”
tanyaku.
“Ndak tau mas,” jawabnya. “Sejak lima bulan
yang lalu mas, tiba- tiba saya jadi sakit-sakitan,
dan kok ya ndilalah tempat servis juga ikut sepi.” jelas tukang servis.
“Kayaknya ini ada yang tak beres mas, juga mas ini ku lihat sakitnya juga tak beres.” kataku.
“Lho mas bisa to tau hal seperti itu?” tanyanya padaku.
“Ya tau sedikit aja.” jawabku.
“Ini saya sakitnya juga ndak wajar mas.” jelas
tukang bengkel bernama Maskur.
“Ndak wajar bagaimana mas?” tanyaku.
“Selama lima bulan ini, saya sudah habis uang untuk ke dokter, tubuh rasanya lemes tak ada semangat kerja, bahkan bangun tidur rasanya malas.” kata Maskur.
“La kata dokter sakit apa mas?” tanyaku.
“Ya dokter sendiri tak tau, la semua organ tubuh saya wajar-wajar saja, makan juga doyan, tapi mau bangun kerja rasanya malaas banget, kadang di perut rasanya nyerii banget, tapi diperiksa dokter juga di perut tak ada penyakit apa-apa.”
“Coba tapak kakinya saya lihat.” kataku.
Dia membalik tapak kakinya agar bisa ku lihat, dan tapak kakinya sudah mengembung walau tidak terlalu besar.
“Kalau menurutku mas ini kena santet hawa.” jelasku.
“Lalu solusinya bagaimana?”
“Mas bisa?”
“Ya insaAlloh sekarang juga bisa saya keluarkan penyakitnya dengan izin Alloh tentunya.” kataku.
“La aku masih diobati orang mas, bagaimana?”
“Diobati pakai apa? “Pakai telur ayam, ini sudah seminggu saya ditelateni diobati pakai telur dijalankan di atas tubuh.” jelasnya.
“Ya kalau begitu biar diselesaikan dulu pengobatannya.” kataku.
“La nanti kalau sembuh ya tak usah ku obati, tapi kalau belum sembuh nanti mas datang saja ke rumahku.” kataku.
“Rumahnya di mana mas?”
“Di daerah Bligo.” jawabku.
“Ya baik kalau begitu.” jawabnya. Pas Servis motorku telah selesai.
——————————————-
Tiga hari kemudian Maskur datang ke rumahku, diantar istrinya.
“Bagaimana mas, sudah selesai diobati pakai telur?” tanyaku.
“Sudah mas, tapi saya tetap sakit.” jelas Maskur.
“Coba sini saya tarik penyakitnya, di mana saja yang dirasa sakit ?” tanyaku. Lalu dia menunjuk dadanya, dan segera ku arahkan tapak tanganku ke dadanya, lalu dia menunjukkan lagi ke perutny, maka ku arahkan tapak tangan keperut dan ku tarik penyakitnya, lalu ku suruh
merasakan apa masih sakit.
“Sudah mas, sudah tak sakit.” katanya.
__ADS_1
“Yang benar?” tanyaku.
“Iya mas benar, masak aku bohong.” kata Maskur dengan wajah serius. “Masak sakit ku buat main-
main to mas.”
Aku lalu mengambil air aqua, dan ku tiup,
“Ini nanti air aqua diminum dan dipakai mandi,” kataku dan mengambil kerikil di depan rumah
lalu ku tiup,
“Dan kerikil ini nanti ditanam di pojok rumah, moga sembuh dan tak sakit lagi.” kataku.
“Makasih mas, sekarang sih sudah enakan mas, tak tau nanti.”
“Ya moga-moga sembuh total.”
Selama aku di Saudi, secara praktek menggalang jama’ah toreqoh, secara garis besar, aku termasuk vakum, tak membuahkan hasil, jika diukur teman-teman seperguruanku yang sudah punya majlis sendiri, dan sudah punya banyak jamaah juga santri sendiri,
Seperti Sohib seorang temanku di Jawa Timur yang sudah punya jama’ah hingga ratusan.
Sementara aku masih luntang luntung tak karuan, pekerjaan tak punya, punya jama’ah juga tidak, ah nanggung amat ku rasakan hidup.
Padahal dulu tahun dua ribu, aku sudah disuruh Kyaiku untuk fokus mengurusi toreqoh, tapi aku sendiri masih angin-anginan, masih suka luntang-
luntung tak karuan.
Tapi lama juga tak mendengar kabar Sohib, bagaimana kabarnya? Pas kebetulan kakakku Abdullah main ke rumah, aku jadi bisa tau nomer HP nya Sohib,
Setelah tau nomer telponnya, aku segera menghubunginya.
“Siapa ini,” suara Sohib, serak dan lemah.
“Aku.”
“Aku siapa?” tanya Sohib.
“Masak lupa sama teman satu nampan?” kataku. dia diam sejenak lalu..
“Ooo kamu Ian…, kebetulan Ian kamu telpon.”
“Kebetulan bagaimana?” tanyaku.
“Aku sakit Ian..”
“Wah sakit kenapa? Memangnya penyakit masih
doyan sama kamu, bukan malah penyakitnya akan muntah membaui keringatmu, hahaha…” candaku.
“Jangan bercanda Ian, aku sakit beneran, juga
semua ketua toreqoh Jawa Timur semua tak bisa bangun, cabang Tuban, cabang Bojonegoro juga pada sakit.”
“La kok bagi-bagi penyakit kayak bagi-bagi berkatan saja.”
“Bener kami sakit semua.”
“La sakit apa?”
“Kami kena santet semua.” jelas Sohib.
“La kok kena santet saja kok pakai rombongan.” kataku.
“Ya bukannya rombongan, tapi kami dikeroyok
orang yang nyantet.” jelas Sohib..
__ADS_1