
Aku pun segera masuk masjid, dan mengkodho sholat yang ku tinggal, dan mengikuti jamaah subuh, selesai sholat aku pun keluar masjid dan nongkrong aja di pinggir jalan, sambil wirid dan melihat orang yang lalu lalang, kelaparan perutku aku isi dengan air yang tadi ku bawa dari masjid, dan itu setidaknya sudah menipu nafsu makan cacing yang ada dalam perutku, dan tidak berontak lagi.
Hari jum’at, ah sampai tidak berpikir kalau ini
hari jum’at, orang berbondong-bondong ke
masjid, aku pun melangkah dengan pelan ke
masjid, pertama yang ku lakukan adalah mengisi perut dengan air sebanyak-banyaknya, lalu wudhu dan masuk masjid, melakukan sholat tahiyatul majid, lalu duduk di pojok,
Aku tak mau mengganggu orang lain, yah pakaian yang kumal, gelandangan sholat di masjid, tentu banyak orang yang memandang dengan pandangan mengucilkan, dan sedikit ada unsur hina, di setiap percikan mata mereka, bahkan di hati mereka,
Tapi aku mencoba tenggelam dalam dzikir, setelah sholat jum’at, dan melakukan dzikir sebentar, lalu aku keluar masjid, memakai
sandal dan melangkah pergi, tapi tiba-tiba,
sebuah tangan menarik baju belakangku, dan aku di seret begitu saja,
“Pencuri sandal…!” bentak orang yang
menyeretku, ke kantor pengurus masjid, ku lihat orang itu tinggi dan berkumis tebal garang, dia
menyeretku, terus ke dalam kantor, dan di dalam ada beberapa orang, aku segera dibanting ke lantai, terduduk,
“Kau maling sandal hina…!” bentaknya lagi.
“Ah…, sampean salah…” kataku, tenang.
“Salah bagaimana, sudah jelas-jelas mencuri
sandal.” bentaknya.
“Ayo ngaku…!” aku diam saja. Dan tiba-tiba orang itu menarik sabuk yang dipakai, dan wuuut sabuk dihantamkan ke punggungku.
Aku hanya memejamkan mata, ketika sabuk itu mengenai punggungku, dan tanpa mengeluh, karena entah kenapa aku tak merasakan sakit, tapi itu malah membuat orang yang menyeretku itu makin beringas mencambukiku.
Karena tidak merasakan sakit, aku ya tetap diam saja, cuma suara cambuk ikat pinggang yang terus menghujaniku, bak-buk, bak-buk,
“Sudah-sudah…!” teriak orang yang ada di ruangan itu, sementara orang yang ikut jum’atan pun sudah pada berdatangan memenuhi kaca, menatapku, juga dari pintu, dan segala lubang yang ada, aku seperti pencuri yang dinistakan.
“Ayo ngaku kau telah mencuri sandal.” kata
orang yang memukuliku.
“La saya tidak nyuri sandal, gimana mau ngaku nyuri sandal.” kataku masih dengan tatapan
heran.
“Benar, kamu tidak nyuri sandal?” tanya salah
satu orang yang ada di dalam kantor itu.
“Tidak..!” kataku mantap.
“Gembel…, mau mungkir, kalau sandal yang kau pakai itu bukan sandal curian, apa ada gembel
sandalnya bagus…?!” bentak orang yang
memukuliku.
“Ini sandalku sendiri…” kataku.
“Puih, gembel hina… mau dihajar lagi?!” bentak
orang yang memukuliku.
“Sudah-sudah…,” kata orang setengah baya yang tadi menyela,
“Benar kamu tidak mencuri sandal?”
__ADS_1
“Tidak…!” jawabku.
“Apa buktinya kalau sandal itu sandalmu
sendiri?” tanya orang setengah baya itu. Aku
sebentar berpikir, lalu ku ingat,
“Sandal ini bawahnya japit ku kasih paku, karena sudah putus.” kataku mantap. Lalu orang yang memukuliku, menarik kedua sandal yang ku pakai, dan memandang dengan kecewa, karena apa yang ku katakan benar adanya.
Dia menunjukkan sandal pada orang setengah baya itu,
“Makanya jangan nuduh sembarangan.” kata
orang setengah baya itu,
“Kalau begini…, untung tidak sampai luka parah..”
kata orang setengah baya itu menggerutu,
sementra orang yang memukuliku, nampak serba salah, sandal kemudian diangsurkan padaku lagi.
“Heh… heh ada apa ini?” seorang pemuda tiba-
tiba mendesak kerumunan di pintu dan masuk ke kantor masjid tempatku dipukuli, seorang
pemuda yang seumuran denganku, berkulit
kuning dan berwajah tenang, “Ada apa?”
tanyanya lagi.
“Ini salah nangkap maling…” kata orang setengah baya yang melarang aku dipukuli terus, sambil tangannya menunjuk padaku, dan pemuda itupun memandangku.
“Maling gimana, ini temanku, kenapa dibilang
maling?!” kata pemuda yang baru masuk, dengan nada marah, lalu menggelandangku berdiri.
“Iya kami salah sangka, maaf…!” kata orang yang memukuliku.
“Maaf gimana? Mbok kalau ada masalah jangan langsung main pukul,” kata pemuda yang menyerobot masuk, yang terus terang aku pun tak kenal sama sekali, aku tetap diam saja, dan tak memperdulikan pembicaraan mereka,
Memang aku sendiri kadang merasa aneh,
semakin ditimpa musibah, maka aku akan
semakin tenang, pasrah, atau mungkin kalau
dibilang tak terlalu, aku makin ngantuk, kalau
tertimpa musibah, hati langsung terisi dengan
Alloh jadi ketenangan teramat dalam, sampai
rasanya mata jadi ngantuk.
Aku makin tak konsen dengan perdebatan
mereka, sampai aku digeret oleh pemuda sebayaku, dan diajak jalan ke dalam Matahari
plaza, aku nurut saja… lalu diajak duduk di
etalase toko sepatu.
“Mana yang sakit?” tanyanya.
“Nggak ada yang sakit.” jawabku.
“Ah masak, coba lihat punggungmu?” katanya
__ADS_1
langsung ke belakangku dan membuka kaos kumal yang ku pakai.
“Heran, kok ndak luka sama sekali? Padahal ku lihat kamu dipukuli sampai ancur-ancuran.”
katanya selesai melihat punggungku.
“Ndak tau ya, aku sendiri juga heran, kok ndak
ada yang sakit, juga waktu dipukul ndak sakit.”
kataku menimpali.
“Wah aneh juga, padahal baru seminggu yang lalu juga ada yang ditangkap, dituduh nyuri sendal, lalu dipukuli sampai hidung dan mulutnya berdarah, dan wajahnya bengep, njerit-njerit ndak karuan.” katanya menerangkan.
“Masak?” tanyaku heran.
“Iya, emang itu orang yang jaga masjid paling
suka mukuli orang, udah nggak kehitung yang
dipukuli.” katanya menjelaskan lagi. Lalu datang seorang lagi mendekat.
“Ada apa Ed?” tanya lelaki yang datang,
orangnya juga seumuranku, kulitnya hitam.
“Ini tadi dipukuli penjaga masjid.”
“Wah…, salah apa?” tanya lelaki itu.
“Dituduh nyuri sandal.”
“Wah pasti lukanya parah…” kata pemuda yang
baru datang yang ku tau bernama Ikhrom,
“Malah ndak luka sama sekali..” jawab pemuda yang bernama Edi yang menolongku. Mereka
berdua ramai membicarakanku, aku tetap diam sampai Edi bertanya padaku.
“Kamu tinggal di mana?”
“Aku?” tanyaku lagi.
“Iya.., tinggal di mana?” ulang Edi menanyakan
pertanyaannya.
“Wah aku ndak punya tempat tinggal.” jawabku
enteng.
“La trus kalau tidur di mana?” tanyanya lagi.
“Ya di mana aja…,” jawabku masih enteng.
“Di mana aja gimana?” tanya Ikhrom nimbrung.
Ya aku juga tak heran bila mendengar
pertanyaan orang yang biasa tidur di rumah
dengan kasur empuk, dan menyalakan musik
pengantar tidur, aku tak menyalahkan mereka,
yang pasti merasa aneh dengan orang-orang yang biasa tidur sembarangan, mungkin bayangan mereka andai digigit ular gimana? Andai dirampok orang gimana? Atau mungkin barang pertanyaan yang teramat sepele, wah kalau digigit nyamuk apa bisa tidur, tapi selama ini aku juga tidur-tidur aja, apa mungkin nyamuknya udah pada kenal, atau mungkin darahku yang pahit, karena makan dari tempat sampah.
“Ya kadang di jalan, di emperan toko, kadang di musolla, atau bahkan kadang tidur di kuburan…”
__ADS_1
jawabku sambil melirik mereka, dan menyalakan rokok Djisamsoe yang disodorkan padaku oleh Edi.
Bersambung.......