Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Lahaulawalaquata illa billa hil aliyil adhim


__ADS_3

Kami makan dengan lahap, Mujahidi sampai nambah tiga piring, selesai makan kami duduk di beranda. depan, sambil menikmati rokok Djisamsoe, pak Lurah membuka pembicaraan.


“Ah si Sanusi, kenapa dia bisa melakukan perbuatan sekeji itu?” tanpa tau arah pembicarannya aku menjawab:


“Yah itulah pak, nafsu kalau sudah mengalahkan akal budi, manusia lupa diri, dan perbuatan keji pun dilakukan.” lalu pak Lurah menceritakan, Sanusi sebenarnya masih ada hubungan saudara dengan pak Lurah, meskipun terbilang jauh. Sanusi muda adalah orang yang suka ilmu debus dan kanuragan. Dia suka mengembara mencari guru. Bertahun- tahun Sanusi mengembara sampai akhirnya dia pulang dengan berbagai ilmu kesaktian. Dia menunjukkan ilmu kesaktiannya pada pemuda-pemuda sehingga para pemuda desa merasa takut padanya. Sanusi sering memperlihatkan ilmu kebalnya, sehingga para pemuda tertarik untuk belajar ilmu silat kepadanya, maka Sanusi pun menjadi guru silat. Tapi karena belajar silat di tempat Sanusi


dipungut iuran yang tinggi, maka banyak pemuda yang mengundurkan diri, karena tak mampu membayar. Akhirnya perkumpulan silatnya pun berhenti.


Ketika terjadi pemilihan lurah, Sanusi pun mencalonkan diri, dan lawannya adalah pak Lurah yang sekarang, tapi ternyata Sanusi yang kalah dan pak Lurah pun menduduki jabatan lurah. Tak ada apa-apa setelah itu, tapi suatu hari Sanusi yang telah diangkat jadi carik, datang ke rumah pak Lurah untuk melamar Anggraini, tentu saja ditolak walau secara halus, karena Sanusi umurnya lebih tua dari pada pak Lurah, yang pantasnya menjadi ayah Anggraini. Juga Sanusi adalah seorang duda, cerai dengan istrinya, sering cekcok dan kalau sudah cekcok istrinya sering dipukul. Pak Lurah menghela napas berat:


“Tak menyangka, Sanusi yang pendiam mampu melakukan kekejian seperti itu.” Aku hanya manggut-manggut, lalu mau pamitan pulang ke pondok Pacung. Tapi pak Lurah mencegah, kemudian mengajakku ke dalam, katanya ingin bicara empat mata, dan kami berdua masuk meninggalkan Mujahidi yang masih duduk mengebulkan rokok djisamsoe. Sampai di dalam kami segera duduk di sofa, sebentar kemudian bu Lurah pun menyusul ikut duduk. Aku bertanya-tanya dalam hati sebenarnya ada apa? Keheningan sebentar terasa karena pak Lurah tak segera bicara, nampak bu Lurah menjawil suaminya, seakan memberi isyarat supaya lekas bicara.


“Anu…nakmas Ian, apakah nak mas tidak berkeinginan untuk menjadi orang desa Pasir seketi?”


“Apa maksud Pak Lurah?” tanyaku, seperti orang bodoh.


“Maksud kami, kami ingin menjodohkan Anggraini, dengan nak Ian.” walau aku telah menyangka sebelumnya, secuek-cueknya aku, tetap terkejut juga. Bagaimana tidak, menikah adalah kehidupan suami istri yang berwatak berlainan, kalau bisa sekali untuk seumur hidup, jadi tak bisa asal comot, tanpa memikirkan resikonya, tidak asal pilih kayak memilih jajanan pasar. Atau kalau tidak akan menyesal selamanya.


“Menurut saya, Anggraini itu gadis yang cantik, setiap pemuda yang melihatnya pasti akan


tertarik, termasuk saya.”


“Kalau begitu tunggu apa lagi?” tanya pak Lurah bersemangat.

__ADS_1


“Tapi pak Lurah, saya ini masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan, saya masih ingin menuntut ilmu.” kataku dengan nada rendah


karena takut kata-kataku menyinggung perasaannya.


“Ah pondok P****g kan dekat dari sini nak mas? Kalau mau mengaji nakmas kan bisa berangkat dari sini kalau sudah jadi istrinya Anggraini,” suara pak Lurah nyerocos suaranya seperti mengemplangku dari kanan kiri.


Bu Lurah pun menambahi:


“Iya nak jadilah mantu kami, kami sudah sediakan semua, dari rumah, kebun, pokoknya nak mas tinggal menjalani.”


“Bu, pak, sekali lagi saya tidak menolak, tapi untuk saat ini saya benar-benar belum berani menikah, nanti saja kalau Anggraini memang jodoh saya, pasti saya akan menjadikan dia istri saya.” Kataku panjang lebar tapi masih dengan nada sehalus mungkin, karena benar-benar menjaga perasaannya. Setelah membujukku sekian lama tak berhasil, pak Lurah dan istrinya pun menyerah juga. Wajah mereka tertunduk mengguratkan kekecewaan. Sementara dari dalam kamar Anggraini, terdengar suara tangis gadis itu. Tapi memang itulah hidup, kadang kita harus berani mengambil keputusan awal, jikalau terluka pun tak terlalu dalam, dari pada akar telah dalam tertanam lalu baru kita cabut pasti luka akan teramat dalam dan susah disembuhkan.


Setelah kurasa cukup aku pun mohon diri, tapi pak Lurah memaksa mengantar dengan mobil


“Kenapa sepi sekali Lil?” tanyaku setelah Kholil ada di depanku.


“Kyai lagi sakit.” jawabnya dengan mimik muka serius. Ku suruh Kholil menurunkan barang- barang yang ada di mobil.


“Sakit apa?”


“Kena santet, dan muntah darah.” Aku tak begitu kaget, karena memang sudah tak terhitung lagi, Kyai terkena santet yang dikirim seseorang, karena Kyai menolong orang yang disantet, jadi otomatis Kyai juga yang jadi sasaran.


“Parah?” tanyaku menyelidik.

__ADS_1


“Sekarang ini parah mas, soalnya tubuh Kyai sampai memerah, dan mengeluh kepanasan.” karena penjelasan Kholil itu, aku segera bergegas ke tempat Kyai berada setelah ditunjukkan Kholil.


Bergegas aku melangkah masuk rumah Kyai, suasana hening, nampak Kyai duduk memejamkan mata, sementara semua santri duduk melingkar, tangan mereka tak henti memutar tasbih di tangan, sedang Kyai duduk kedua tangannya di pangkuan, baju putihnya yang di dada belepotan darah muntahannya sendiri, sementara di depannya nampak bak plastik juga banyak darah di dalamnya.


“Kau mas Ian sudah datang,” kata Kyai datar, masih dengan mata terpejam.


“Sini duduk di sampingku.” Aku segera beranjak melangkah dan duduk bersila di samping kanan Kyai, dari dekat memang benar kata Kholil semua tubuh Kyai memerah di dalam, setelah aku duduk tangan kiri Kyai memegang pergelangan tangan kananku, uh panas sekali, lalu tanganku diangkat ke arah pahanya.


“Baca haukolah tiga kali, tahan napas.” kata Kyai masih dengan mata terpejam, suaranya datar namun tenang, aku pun segera membaca


lahaulawalaquata illa billa hil aliyil adhim dalam hati tanpa napas, terasa ada aliran hawa sakti teramat dingin dari pusarku, mengalir


bergulung-gulung di barengi sentakan- sentakan seperti setrum listrik, ke arah tanganku yang ada di pangkuan Kyai, sehingga kurasakan dengan pasti, aliran itu masuk ke tubuh Kyai, dan kurasakan perlahan tubuh Kyai mulai tak panas lagi, tiba-tiba Kyai terbatuk- batuk dua kali lalu memuntahkan darah, ke bak plastik, nampak darah yang ada di bak plastik itu sebentar bergolak, lalu diam, dan ada sesuatu yang bergerak-gerak, ternyata tiga kelabang sebesar ibu jari tangan orang dewasa, dan seekor kala jengking sebesar ibu jari kaki, yang warnanya hitam kebiru-biruan. Kyai segera memutar jari telunjuknya di atas bak plastik, maka aneh kelabang dan kala jengking itu berjalan-jalan mengitari bak plastik itu tanpa bisa keluar. Terpagar gaib.


“Ah Kyai kenapa serangan santetnya tak ditolak


saja?” kataku kawatir.


“Mas Ian, kalau tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya kena santet, lalu gimana aku akan kasihan pada orang yang disantet, orang kalau tak pernah lapar, tak akan kasihan pada orang yang kelaparan, bagaimana orang yang perutnya selalu diisi dengan makanan- makanan enak bisa kasihan dengan orang yang


kelaparan, salah-salah dia menyangka, kalau...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2