
Dan Kyai mengajakku dan yang ada di situ untuk menunaikan sholat berjamaah, karena memang waktu magrib tinggal sedikit lagi. Setelah sholat selesai dan disambung dzikir setelah sholat, Kyai segera menemui nyai Bundo yang masih duduk sambil tangannya masih memegang keris dan tak ikut menjalankan sholat karena memang nyai Bundo bukan orang Islam. Ketika Kyai duduk di depannya, nyai itu segera meraih tangan Kyai untuk menyalaminya, membungkuk dan segera meletakkan tangan Kyai di jidatnya.
“Maafkan aku guru, aku yang bodoh ini, tak tau akan tingginya gunung di depan mata, bimbinglah aku guru…” suara nyai Bundo mengiba, tak seperti pada saat kedatangannya, yang menantang-nantang penuh emosi.
“Nyai dari mana engkau tau akan diriku.” tanya Kyai lalu nyai Bundo segera menceritakan.
Nyai Bundo adalah orang pedalaman Kali******, dia murid seorang sakti bernama Wong Agung
Sa*****, ketika gurunya itu moksa di depannya (menghilang bersama jasad nya). Sebelum moksa gurunya itu berpesan, sambil mengacungkan keris yang sekarang ini ada di genggamannya. Lalu katanya:
“wahai muridku, kalau kau nanti menemukan orang yang memegang keris ini, maka tunduk patuhlah padanya, ikuti ajarannya dan masuklah agamanya.” setelah berkata seperti itu Wong Agung itu sirna beserta kerisnya. Bertahun-tahun berlalu namun nyai Bundo tak pernah menemukan keris yang dipegang guru nya ada di tangan orang lain. Dia mencari ke segala penjuru, namun tetap tak dapat menemukan, dalam pencariannya itu nyai bertemu dua orang pertapa sakti dari suku
D****, namanya Luh Bajul dan Luh Landak. Dan mereka bertiga mengikat persaudaraan, pada waktu terjadi kerusuhan S****** Luh Bajul dan Luh Landak mengamuk, membantai orang- orang M*****. Sepak terjang dua orang sakti ini begitu menakutkan, tak jarang seorang bayi yang digendong ibunya, tanpa ketahuan sang ibu, telah kehilangan kepalanya.
__ADS_1
Sungguh gerakan dua orang ini tak diketahui, sehingga banyak korban binasa di tangan dingin mereka. Di suatu senja, Luh Bajul dan Luh Landak tengah mengaso di tepi hutan. Setelah selesai menumpas habis dua keluarga, mereka berdua tengah duduk-duduk santai di bawah pohon randu alas. Tiba-tiba ada suara keras dan berat memanggil nama mereka berdua, mereka segera mendongak ke atas karena suara itu dari atas dan mereka sangat terkejut sekali melihat perwujudan besar tinggi hitam legam, lebih tinggi dari pohon randu alas, matanya merah menyala seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu. Serempak mereka berdua bersujud menyembah, karena mereka tau itulah Jadsaka, jin yang mereka sembah, yang memberikan berbagai ilmu sihir dan ilmu kesaktian. Kata jin itu dengan suaranya yang membuat bumi yang dipijak kedua orang itu bergetar “Jebleng..! Jebleng..!, celaka, celaka, Sang raja akan datang kesini, kalian sambutlah dia, dan ikuti apa yang dikatakannya, sebelum dia marah dan menghancurkan bangsaku maka aku akan membinasakan kalian berdua.” Setelah menemui sang raja itu kedua pertapa dayak itu menceritakan pada nyai Bundo, perempuan itu yang tak ada hubungan dengan Jadsaka tanpa takut. Dengan petunjuk dari Luh Bajul dan Luh Landak segera mencari keberadaan sang raja.
Aku jadi ingat pada satu malam setelah wirid malam aku tertidur pulas dalam tidur aku bermimpi Kyai mengajakku,
“Mas Ian ayo temani aku jalan-jalan.″ begitu kata Kyai, lalu Kyai menggandengku. Tubuhku terasa ringan seperti kapas, melayang cepat laksana kilat, melintasi pohon melewati gunung, melayang seperti superman dalam film, melintasi laut menuju pulau, perjalanan begitu cepat. Lalu tubuh kami melayang sebatas pinggang, nampak olehku dua orang duduk bersimpuh, menyembah-nyembah.
“Ampun raja apa yang paduka inginkan?”
“Baik paduka… kalau boleh tau siapa gerangan paduka?”
“Aku Kyai L***** penguasa gunung Putri.” setelah berkata itu maka Kyai pun segera menarik tanganku kembali, melesat cepat, dan aku terbangun, hari sudah pagi, kejadian malam itu aku menganggapnya hanya mimpi saja, ternyata kini aku tau bahwa itu nyata, apalagi setelah menguasai ilmu raga sukma melepas sukma itu adalah hal yang biasa saja, terbang kemana saja sekehendak kita.
Malam itu nyai Bundo, disuruh mandi oleh Kyai, setelah diberi petunjuk-petunjuk, setelah mandi nyai Bundo dituntun membaca dua kalimah
__ADS_1
sahadah, dan nyai Bundo pun telah menjadi seorang muslimah, terlihat wajahnya memancarkan kebahagiaan, dan matanya berkaca-kaca karena bahagia. Malam itu nyai Bundo menemani Kyai menemui para tamu- tamu yang tiada habisnya sampai adzan subuh, nyai Bundo teramat kagum kepada Kyai, yang begitu dengan telaten mendengar keluh kesah para tamu, lalu memberi solusi, berbagai macam keluhan tentang kesempitan hidup, tentang segala macam penyakit. Kyai dengan sabar melayani, tanpa meminta imbalan apapun, karena memang Kyai tak membutuhkan apa-apa. Aku sangat tau pasti soal itu, kalau soal rumah mewah, aku sangat tau Kyai punya di mana-mana, yang sering aku diajak menengok rumah mewahnya yang dibiarkan kosong, di Pondok Indah, di Kelapa Gading, di Tangerang, di Parung, semua rumah -rumah yang mewah, juga mobil Kyai punya banyak, sampai akupun tak tau berapa jumlahnya, yang aku tau pasti ada mobil mercedes, karena aku pernah mengecatnya dengan lukisan airbrush, lalu ada mobil land cluser yang dibeli dari uang daun.
Saat itu Kyai mengajar kami tentang kemulyaan ilmu, dan banyaknya ilmu Alloh, sehingga ilmu
Alloh teramat banyak sampai jika ilmu Alloh itu digali dari masa nabi Adam as. sampai sekarang maka ilmu itu masih lebih banyak lagi, lalu Kyai juga menyinggung tentang kebersihan hati dari penyakit nafsu, serakah, sombong, egois, iri, dengki, berburuk sangka, tiada bersyukur, menjauhkan sifat-sifat dan budi pekerti yang tercela, apa yang kau lihat, jika orang lain melakukan maka kau tak suka, maka apabila kau lakukan seperti itu orang lain pun tak suka. Itu harus dijauhi, dan jauhkan diri dari memandang sesuatu itu punya kekuatan melebihi kekuatannya Alloh. Upayakanlah di dalam hati yang ada hanyalah Allah semata. Maka hatimu nanti menginginkan, sebenarnya itu keinginan Alloh. Tiba-tiba Kyai menyuruh para santri mengumpulkan daun kopi sebanyak -banyaknya, kami segera bertebaran mengambil daun kopi, yang pohonnya banyak tumbuh di sekitar pondok, setelah dirasa banyak, kamipun segera kembali menghadap ke depan Kyai, kemudian Kyai menyuruh mengikat daun-daun kopi itu degan tali dari gedebong pisang, dijadikan bundelan- bundelan, lalu Kyai menyuruh semua daun disatukan di atas sorban, dan sorban itu diikat, kemudian Kyai mengucap,
“Ini adalah suatu contoh jika engkau menginginkan daun jadi uang, jika hati telah diliputi hanya Alloh, maka daun pun akan jadi uang.” Kami semua menatap dengana pandangan kurang yakin, bagaimanapun itu pengalaman yang belum pernah kami alami. Lalu Kyai menuding pada bungkusan daun. Dan berkata,
“Jadilah uang.”
Lalu Kyai menyuruh kami membuka ikatan sorban itu, dengan hati berdebar-debar kami buka ikatan, dan betapa terkejutnya kami, semua daun kopi yang kami kumpulkan telah menjadi
uang semua, masih terikat tali gedebong pisang.
__ADS_1