
Sebab Alloh sendiri membuat penekanan, wayarzuqhu min khaisu la yakhtasib, Alloh memberi rizqi dalam artian umum, sebab rizqi itu bukan cuma harta, tapi juga waktu, kesempatan dan berbagai macam, itu dengan arah yang tak dapat diprediksi, dihitung, dikhisab, makanya ada istilah to’yul wakti, atau melipat waktu, seperi Nabi SAW, mi’roj ke langit tujuh sampai sidrotul muntaha, hanya memerlukan waktu satu malam, kalau di perhitungan dengan ilmu paling canggih
di jaman ini, mungkin langit satu saja butuh
waktu jutaan tahun perjalanan kecepatan cahaya baru sampai, cahaya matahari yang sampai ke bumi bukan cahaya yang di hari ini, tapi cahaya yang ribuan tahun silam, makanya kalau sudah unsur Alloh, maka tidak bisa dihitung dengan perhitungan manusia,
Sebab Alloh itu menjadikan yang mustahil di pemikiran manusia menjadi sesuatu yang nyata, kalau diri masih eyel-eyelan dengan kekuatan akal sendiri, maka tak akan keluar dari kemuskilan, sebab masih menyandarkan pada kekuatan akal sendiri,
Jika mendekatkan diri pada Alloh harus mau menutup indra, dan biarkan Alloh memberikan nur makrifat kepahaman pada hati, dan menjauhkan diri penyandaran pada akal,” kataku panjang lebar.
“Iya… insaAlloh mas, mohon bimbingannya.” kata Muhsin.
“Jika menemui hal aneh, misal mimpi ditemui
oleh orang berjubah putih, ingat jangan mudah
tertipu oleh rupa-rupa syaitan, orang Arab juga
semua berpakaian putih, lalu mimpi ketemu orang berpakaian putih misal kamu kemudian sampai disuruh ini, diperintah itu, maka kamu nurut, berarti kamu telah disesatkan.” kataku.
“Lho kok bisa mas, misal aku disuruh membaca qur’an, apa aku juga disesatkan, kan itu membaca qur’an.” kata Muhsin.
“Iya itu disesatkan, kamu sendiri tau kan, orang ibadah itu bagaimana, niat solat itu bagaimana, niat puasa itu bagaimana? Kan ujungnya lillahi
ta’ala, karena Alloh ta’ala, la kok kemudian kamu menjalankan bacaan Qur’an karena diperintah oleh orang yang kamu temui di dalam mimpi yang berjubah putih, bukankah kamu membaca Qur’an berarti karena perintah orang dalam mimpi itu, bukan menuruti perintah Alloh, paham tidak..?”
“Oo ya…ya.. baru aku berpikir kesana…”
“Ingat namanya ikhlas dalam toreqoh itu, tak
menganggap ibadah yang kita jalankan itu
perbuatan kita sendiri, tapi itu adalah perbuatan
Alloh, sebab semua tubuh, jiwa, ruh, hati dan
sampai kita bisa bergerak dan melakukan ibadah dengan cara dan ilmunya, itu tidak ada lain atas izin, kesempatan dan kekuatan Alloh yang diberikan pada kita, sehingga tubuh mati kita bisa hidup dan bergerak melakukan ibadah,
Maka ibadah itu secara hakikinya bukan perbuatan kita, karena bukan perbuatan kita, maka tak selayaknya kita mengharap balasan, nah baru amal itu bernilai, dan pantas mendapat balasan yang setimpal.”
“Jika wirid, upayakan hati dzikir, dzikir itu ingat
dan dzikir itu hanya Alloh dan nama-namanya,
__ADS_1
wadzkurulloh, ala bidzikrillahi, jadi semua
berhubungan dengan Alloh, dan dzikir itu di hati secara umumnya, dan di latifah-latifah secara
penempatannya, cukup ketika wirid itu hati
menuliskan lafad Alloh, dan memegangnya dan menahannya dalam dada, sampai dada itu terasa pecah dan mengalirkan cahaya ilahiyah,
Serasa dingin seperti aliran air dari kulkas, mengaliri seluruh urat, dan menenangkan, menunjukkan hati telah mulai subur, setiap waktu cahaya makrifat itu menyinari hati, tapi jika hati penuh oleh keinginan nafsu, maka cahaya makrifat itu berlalu tanpa efek sama sekali, seperti kita bercermin di kaca, sementara kaca tertutup berbagai macam barang, itu seperti ketika cahaya makrifat melintas di hati dan hati tertutup berbagai keinginan nafsu, maka ada ilham yang sampai di hati tak terbaca.” kataku.
“Hm… iya mas..”
“Bagaimana taunya kita ini sudah ikhlas atau
belum?” tanya Muhsin.
“Ikhlas itu suatu proses, tak ada batas akhir
suatu keikhlasan seseorang, tapi ada batas
antara orang itu ikhlas dengan tidak ikhlas, yang penting kita berusaha beramal tidak mengharap balasan dan menjauhkan diri dari pamrih ingin mendapatkan segala sesuatu, selain menjalani perintah Alloh, jadi hilangkan harapan dan tujuan ingin mendapatkan sesuatu, apapun yang dilakukan atas dasar keinginan maka itu berarti nafsu, jadi jangan menyandarkan suatu perbuatan ibadah karena keinginan mendapat sesuatu atau menyandarkan keinginan kita, atau
keinginan orang lain, tapi lakukan melulu karena Alloh memerintahkan, tanda seorang itu telah menapaki pelataran ikhlas, yaitu hati telah tidak berubah, ada atau tidak anugerah yang diterima dari Alloh saat menjalani ibadah,
“Wah berarti jarang orang yang bisa ikhlas
dalam menjalankan ibadah?”
“Ikhlas itu bukan sesuatu yang diucap, sebab
amaliyah hati, tak terlihat, dan tak teraba,
bahkan oleh malaikat khofdzoh yang membawa amal ibadah seseorang ke langit, bisa saja orang yang gembar-gembor itu ikhlas, bisa juga orang yang diam tidak ikhlas, atau sebaliknya, tapi amaliyah yang ikhlas atau tidak itu pasti ada efeknya di jiwa, hati, ruh, dan perbuatan orang yang melakukan amaliyah, sebab amal perbuatan itu kan pasti ada hasilnya, orang masak beras, hasilnya, beras menjadi nasi.
Jika sepuluh taun dimasak kok tak jadi nasi, berarti masaknya tak benar.
Seperti sholat saja, Alloh berfirman dalam
Alqur’an kalau sholat itu bisa mencegah yang
menjalankan, mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, perbuatan keji, ya kayak lisan suka menyumpah, suka membicarakan aib orang lain, suka mencela, menghasut, mengadu domba, dan tangan suka mencuri, nyopet, pokoknya orang lain tak aman bila di samping kita, maka jelas kita masih menjalankan perbuatan keji, dan perbuatan mungkar atau perbuatan yang menjadi larangan agama, kok perbuatan itu masih kita lakukan sementara kita juga sholat, maka sholat
kita itu pasti, bukan mungkin tapi pasti belum
__ADS_1
benar, sebagaimana orang memasak beras kok sepuluh tahun dimasak belum juga jadi nasi, bisa jadi kompornya tak nyala, atau hal apapun yang menjadi kendala perbuatan itu dilakukan dengan benar.”
“Oh ya mas ada temanku dari Maroko mau main ke kamar mas Ian boleh?” tanya Muhsin.
“Boleh saja.”
“Soalnya dia juga mau minta tolong, soal
anaknya,”
“Ya ajak saja kesini.”
“Apa perlu anaknya diajak kesini juga?” tanya
Muhsin.
“Tak perlu…, juga dilihat masalahnya apa dulu…” kataku.
“Oh ya juga ada orang Pakistan yang sudah
sepuluh tahun tak punya anak, apa mas bisa
memberi solusi?”
“Coba saja lelakinya suruh bicara denganku, soal solusi itu nanti dilihat apa kasusnya.”
——————————————-
Karena tak banyak pekerjaan yang ku lakukan,
maka aku sering ikut kerja orang lain, kadang
memasang wallpaper, atau memasang ternit, atau karpet lantai, atau mengecat pintu dan kusen, sehingga aku sering terlihat kerja dengan banyak orang, bahkan di bagian lain yang bukan bagianku, sebab pekerja itu dikelompokkan dalam bagian atau section, dan bagianku adalah welfare, dan aku sering ikut bagian general services.
Karena sering bekerja dengan pekerja lain, maka aku cepat banyak teman dan kenalan, dari orang India, Pakistan, Maroko, Sudan, Yaman, dan Arab, bahkan Banglades.
Walaupun aku orangnya tak banyak bicara,
sehari pun bicara bisa dihitung dengan jari, tiap kerja kebanyakan diam, hanya bicara dengan
orang yang ku rasa cocok bisa diajak membahas ilmu dan tukar pikiran.
Aku dipasangkan bekerja dengan orang Maroko bernama Muhammad, orangnya tubuhnya besar dan suka berkelahi, baru dua hari lalu dia memukul orang Banggali sampai KO..
__ADS_1
Bersambung...