Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Maung


__ADS_3

Pengikutnya kebanyakan dari para orang-orang yang rusak di daerahnya sudah banyak, walau dalam keadaan tersembunyi.


“Ada apa kyai, kok saya harus ke tempat


Macan?”


“Nanti ajak dia nglakoni nggila, tapi dia tak akan mau, orang udah rusak seperti itu kok masih ada di sudut hatinya pengen di-wahkan orang lai, ah Macan…Macan….!”


“Kalau kyai sudah tau dia tak mau ngedan,


kenapa aku harus ke rumahnya Macan kyai?…”


“Sudah nanti pokoknya kesana aja..! Masih punya uang gak?” tanya kyai, memang begitulah kyai, di mana-mana rasanya tak ada seorang kyai yang berdialog dengan murid santrinya sedetail itu,


Kyai tau uang di sakuku tinggal berapa, tapi dia masih bertanya,,


“Masih kok kyai…”


“Ini untuk beli rokok, rokoknya gak punya kan?”


Kyai mengangsurkan uang dua ratusan ribu padaku, memang rokokku telah habis, aku teringat kalau di pondok dulu, aku sama sekali tak punya uang dan rokok juga tak ada, tembakau dari uthis(puntung) juga tak ada, maka kyai memanggilku, dan memberi rokok.


Yang anehnya saat itu ku bayangkan, walau


kadang aku membayangkan rokok yang aneh-


aneh, misalkan roko Cigarilos. Maka kalau kyai


memanggilku akan memberi rokok cerutu Cigarilos.


Pernah satu kali temanku menemukan bungkus rokok Djisamsoe yang dari plastik pak berwarna hitam, bukan dari kertas, dan kami membicarakan, bagaimana ya rasanya??, tiba-tiba kyai memanggilku dan memberi rokok Djisamsoe dari plastik itu.


Aku segera menerima rokok yang diberikan Kyaiku, kenapa tak ditolak? Nah itulah unggah


ungguhnya, tata kramanya, diperintah apa saja, atau diberi apa saja harus siap menerima, walau kadang tak masuk akal..


Karena beda dengan kyai biasa, sambil masih


tiduran di pangkuanku, kyai pun menanyakan


keperluan tamu satu persatu, dan memberikan


solusi.


Setelah tamu semua telah pergi, kyai bangun


dari pangkuanku.


“Apa yang dipesankan oleh Syaih Abdul K.......….?” tanya kyai. Dan walau aku telah menyangka akan ditanya soal itu, aku kaget juga,


tapi segera maklum kalau kyai tau akan hal itu.


“Anu kyai saya disuruh menyempurnakan ilmu,


dan diminta segera baiat Toriqoh .............” jawabku.


“Ya kalau begitu nanti sampai di pondok aku akan

__ADS_1


baiat.” kata kyai menepuk pundakku.


”Sekarang segera saja berangkat ke rumah Macan…!”


Aku segera mencium tangan kyai, dan melangkah pergi, karena tamu-tamu yang lain telah datang ke depan kyai.


Kyai adalah pembaiat Toriqoh ................ yang diserahi baiat dari Abah....., sesepuh pesantren Sur....., juga diserahi baiat dari Abuya dari pesantren Syaih N...... T....., Serang. Walau kyai tak mondok di kedua pesantren itu.


Aku segera mengambil tasku yang masih di dalam kamar, dan tak lupa pamitan kepada pak Dadang.


Aku pun menyetop bus di depan rumah makan,


jam menunjukkan pukul sepuluh siang, panas serasa menyengat kepalaku, untung aku memakai tutup kepala kain coklat susu, yang terbuat dari beludru, seperti kain sajadah tebal, jadi kepalaku walaupun panas agak nyaman,


Rambut kuikat kebelakang dan ku masukkan baju.


Setelah memilih bus akupun akhirnya


mendapatkan bus yang jurusan terminal Kampung Rambutan.


Setelah sekian lama mobil melaju, Jam tiga siang memasuki terminal Bus Kampung


Rambutan. Aku segera mencari ojek di belakang terminal dan setelah tawar menawar harga, aku pun diantar ke daerah Ciracas, tempat tinggal Macan.


Sebenarnya ada tiga orang murid kyai yang


benar-benar seangkatanku yaitu aku sendiri,


Macan, dan Haqi.


Haqi sendiri telah menjadi guru toriqoh di Jawa Timur, selain membuka pengisian badan,


Ojek menurunkanku di depan rumahnya Macan, rumah yang sederhana, seorang perempuan


cantik istrinya Macan sedang mengasuh anaknya di depan rumah..


Perempuan itu yang memang sangat mengenaliku langsung menyambut dengan sapaan, karena dulu dia salah satu kekasihku, ah masa lalu.


Dia bernama Idaraya.


“Ee Iyan… sendirian?”sapanya.


“Iya nih Da… Macan ada?”


“Ada, tapi masih tidur.., ayo masuk dulu…”


Aku segera masuk lalu duduk di sofa. Sementara Ida masuk ke dalam. Aku jadi ingat, saat itu di pesantren, aku dan Macan adalah teman yang teramat akrab, kami ini seperti tumbu dan tutup, kemana ada aku, pasti ada Macan, mandi, masak, dan tidur pun selalu bareng.


Kalau soal tidur Macan ini tak bisa pisah dariku, kami selalu tidur satu bantal, bukan apa-apa, Macan sekalipun seorang jagoan tapi dia teramat penakut, takut pada hantu.


Karena dulu para santri belum punya kobong


sendiri, jadi masih tidur di tempat pembuangan jin, yang luasnya dua puluh meter persegi, walau tempat itu luas dan bangunan rapi tapi karena sudah diputuskan untuk tempat membuang jin yang ditangkap, jadi terkesan angker banget.


Yah ruangan pembuangan jin ini didiami oleh


beribu-ribu jin, bahkan mungkin berjuta, kalo aku sudah terbiasa, bahkan kalau lagi tubuh pegel, tak jarang aku minta dipijiti, karena dihuni oleh banyak sekali jin,,

__ADS_1


Maka siang dan malam di dalam ruangan luas ini teramat dingin, seperti dalam kulkas saja, kalau siang pun walau di luar terasa panas, tapi udara di dalam teramat dingin, bahkan kalau tidur tak pakai selimut, maka tubuh terasa tak


kuat, karena hawa dinginnya.


Malam itu Macan ndesel dengan selimut


sarungnya dan masih memakai celana levis,


karena memang teramat dinginnya, dia tidur


denganku satu bantal, kalau kutinggal dia pasti akan ikut bangun, apalagi kemaren malam ada


tamu yang pingsan karena melihat pocong,


kuntilanak dan tengkorak, itu semakin membuat


Macan jerih sekali.


“Ian… Dah tidur belum…?”


suara Macan terdengar dari balik sarungnya, karena wajahnya ditutupi sarung, takut kalau melihat hal-hal yang menyeramkan.


Padahal Macan ini orangnya tinggi besar, wajahnya seram, pipi berlubang-lubang


bekas jerawat batu, alisnya tebal, hidung mbengol, bibir tebal, mata mencorong merah, dan tubuh dempal berotot, kalau ngomong suaranya berat.


“Ada apa?” tanyaku yang memang belum tidur,


aku terbiasa memutar tasbih sambil tiduran,


melanjutkan wirid-wiridku.


“Aku ini sebenarnya mau menikah…” memang


saat itu Ida belum menjadi istri Macan. Tapi


sudah bekas pacarku.


“Kamu, mau nikah? Apa aku tak salah dengar


Can…?”


“Bener, aku tak bohong…”


“Wah kamu jelek gitu, kok laku ya…”


“Ini perjodohan orang tua, sama orang tua, jadi


aku sendiri belum melihat ceweknya…”


“Wah kalau belum ngelihat ceweknya, jangan


mau Can..!”


“Ya kalau melihat ceweknya di foto sih udah Iah, tapi kalo menatap langsung yang belum…”


“Oo gitu, kamu bawa photonya Can? Kalau bawa,

__ADS_1


coba aku lihat cakep enggak orangnya.”


Bersambung...........


__ADS_2