
“Ampuuuun…! Jangan dilafadzkan asma a’dzom itu aku tak kuat, ampuuun..!” kata kyai Cempli menjerit-jerit.
“Kau menyerah tidak?” tanyaku.
“Iya aku menyerah, kalah, takluk.” jawabnya
sambil bersujud.
“Biasanya bangsamu suka menipu, suka
mengambil kesempatan, di saat aku lena maka kau akan memanfaatkan kesempatan.”
“Ampuuun…! saya tak berani tuan..”
“Apa janjimu?” kataku mencari kepastian, sebab yang ku tau bangsa jin sejak jaman Nabi Sulaiman tak bisa dipercaya, selalu mengambil kesempatan bila manusia lena.
“Tuan minta apa, akan ku berikan, aku punya Jala sutra, wesi aji, batu bertuah, harta benda, emas perak, Tuan minta apa?” tanya Jin penguasa Desa itu mencoba mencari kelemahan hatiku.
“Kau kira aku tertarik dengan aneka benda
macam itu?”
“Lalu tuan minta apa?”
“Aku tak minta apa-apa, aku hanya minta kau
beserta bangsamu takluk padaku.”
“Iya saya siap… jika tuan membutuhkan bantuan, maka saya akan siap diperintah.”
“Aku juga ingin kau tak mengganggu manusia.” kataku.
“Ya saya siap tuan.”
“Sekarang apa di daerah sini ada tidak yang
angker?” tanyaku.
“Ada tuan…”
“Di mana itu?”
“Di daerah bernama Secino,”
“Di mana itu?”
“Di daerah sebelah timur desa.”
“Kenapa kok bisa angker?” tanyaku.
“Karena di sana ada isi keris pusaka yang lepas,”
“Apa bentuknya?”
“Bentuknya macan loreng tuan.”
“Kenapa kau biarkan, tidak kau perintahkan agar tak mengganggu manusia?” tanyaku.
“Kekuasaanku tak meliputi sampai ke situ.”
“Dimana tempatnya, tunjukkan padaku.” kataku memerintah.
“Silahkan tuan mengikutiku.” katanya sambil
berjalan mendahuluiku disertai anak
perempuannya.
“Apa yang dilakukan oleh macan itu?”
“Dia sering meminta korban manusia, dan sering kadang manusia disesatkan, kadang manusia dimasukkan ke tengah gerumbul bambu, sehingga akan sulit keluar.” jelas Kyai Cempli.
“Lalu sekarang kerisnya di mana?” tanyaku
sambil jalan di belakang Kyai Cempli.
“Ada di rumah seseorang.” jawab kyai Cempli.
Di dekat barisan gerumbul bambu nampak
seekor macan sebesar anak kerbau tengah
berdiri menatapku, kubuat lingkaran tangan di
udara, lalu ku tepukkan tangan dengan tenaga
menyedot, jin yang berbentuk macan itu seperti gambar yang tersedot mesin penyedot debu,
mengecil dan masuk dalam genggamanku.
“Di mana keris tempat jin macan ini?” tanyaku
__ADS_1
pada Kyai Cempli.
Kyai cempli melangkah mendahuluiku, menuju
satu rumah, dan masuk ke dalam kamar, lalu
membuka lemari kuno, di mana tergeletak keris tua.
Ku masukkan jin berbentuk macan itu ke
keris, dan ku ikat dengan kekuatan gaib.
Terus terang hal seperti itu sama sekali aku
awam dan tak tau, segalanya seperti ada yang
menuntun, apa yang ku lakukan aku sendiri sama sekali tak mengerti, hal yang ku lakukan
berurutan itu seperti sudah ada yang
merancang, dan aku cuma menjadi wayang,
sedang tanganku terikat oleh yang menggerakkan, hatiku mendapat petunjuk apa
yang harus aku lakukan.
Tugasku ku rasa selesai, “Ku rasa aku sudah
cukup di sini, sekarang aku akan kembali ke
tempatku, lalu bagaimana jika aku ingin
memerintah membantu keperluanku, aku
memanggilmu apa?” kataku.
“Hamba kyai Cempli, siap diperintah, jika
dibutuhkan.” jawab pak tua itu sambil
membungkuk.
Aku segera kembali ke ragaku dan bangun,
dimana Husna istriku bercerita kalau dalam
tidur telah terjadi badanku menekuk-nekuk, dan menggereng-gereng, dikembalikan susah, kok
Aku masih berusaha mengitari daerah
Pekalongan dengan Raga Sukma.
Dalam kehidupan sehari-hari, aku bukan
termasuk orang yang suka kumpul sama
tetangga, bahkan aku kumpul sama orang hanya saat mengisi pengajian, mengimami masjid, dan kalau tetangga ada hajadan, selain itu aku sama sekali tak kumpul dengan orang, karena waktuku habis untuk menjalankan lelaku.
Biji itu kalau ingin menjadi besar, maka tanamlah dengan dipendam yang dalam di dalam tanah, jika dia tumbuh, maka akarnya akan jauh tertanam di dalam tanah, sehingga kuat mencengkeram, jika telah menjadi pohon yang rindang, dan dapat ditempati berteduh, jika diterjang angin, pohon tak tergoyahkan, karena kuatnya akar tertanam di dalam tanah.
Begitu juga manusia, jika manusia tidak
menyembunyikan dulu, untuk menguatkan akar diri, maka untuk menjadi dipakai orang berteduh tak akan kuat bila diterpa angin cobaan, orang-orang yang besar itu tak akan sibuk nongkrong di gang-gang, dan ngomong ngalor ngidul membicarakan sesuatu yang tak ada manfaatnya.
Sebagaimana Nabi kita sebelum diangkat
menjadi Nabi dan Rosul, beliau menyepi di gua Hiro’ selama lima tahun.
Karena menyembunyikan diri, dan tak jarang
kumpul dengan masyarakat, maka bertahun-
tahun secara pribadi tak ada yang mengenal
diriku.
Pada suatu hari aku mengantar istri ke dukun
pijat di Desa yang pernah ku datangi lewat
ngeraga sukma untuk mengurutkan perutnya,
biasa orang desa kalau mengandung selalu ditata perutnya agar pas.
Dukun itu dukun perempuan tua yang sudah amat terkenal sehingga pasiennya dari mana-mana, sampai ada memakai nomer antrian, untuk mendapatkan pelayanan, waktu aku datang dengan Husna, nampak dari luar rumah Dukun urut itu ramai sekali orang sudah mengantri,
Padahal aku berusaha datang pas selesai sholat magrib.
Tapi tiba-tiba mbah Dukun keluar rumah
menyibak antrian.
__ADS_1
“Hari ini pijat ditutup, tidak melayani tamu..”
kata mbah Dukun bernama Nyai Sari.
Orang-orang yang asalnya antri pun bubaran,
termasuk aku mau balik pulang.
“Wah mungkin lagi tak untungnya kita mas, baru datang malah mbah Sari tak melayani tamu.”
kata Husna.
“Ya ndak papa, besok-besok kan bisa.” kataku
menghibur, dan ku putar motor untuk kembali.
Tapi mbah Sari malah menghampiriku lalu
menggandeng tanganku, dan berbisik di
telingaku.
“Ngger mari masuk…” kata mbah Sari,
menggandeng tanganku.
“Lhoh bukannya pijitnya diliburkan to mbah?”
tanya Husna.
“Oo itu untuk orang lain nduk, bukan untuk
suamimu.” jelas Mbah Sari.
Aku dan Husna pun mengikuti masuk ke rumah Mbah sari.
Nyi Sari umurnya 60 tahun, orangnya setengah
pendek, dan gerak geriknya cekatan, sudah
terkenal di mana-mana soal kandungan, bahkan mungkin sudah sangat terbiasa soal kandungan,
Dia sering pas jika seseorang itu kapan pasnya melahirkan, jika sudah menginjak kandungan tua.
Masuk rumah mbah Sari, rumahnya sederhana, terbuat dari bangunan kayu yang lama, tanpa cat berwarna, hanya dilapis kapur, jika masuk orang akan mendapat kesan yang punya rumah amat sederhana, walau Mbah Sari ini sudah berangkat haji ke tanah suci, tapi secara penampilan hanya biasa-biasa.
“Mari-mari ngger bagus.. mari duduk.” kata
Mbah Sari sambil membersihkan tempat yang
akan ku duduki. Aku amat rikuh dihormati
seperti itu.
“Sudahlah nyai… tak usah repot-repot.” kataku.
“Ndak kok… ndak repot, ini sudah selayaknya,
malah saya minta maaf, kalau pelayanan saya
tidak berkenan di hati panjenengan.” katanya
yang membuatku makin bingung.
“Mbah.. sebenarnya ada apa to mbah, kok
panjenengan jadi bingung gitu, aku ini orang
biasa.” jelasku, soalnya aku orangnya tak suka
dihormati.
“Orang biasa? Panjenengan itu kok pinter
menyembunyikan diri.”
“Menyembunyikan apa to mbah, la ndak ada yang aku sembunyikan kok.”
“Aku ini tau ngger, semua penguasa desa ini
mengiringmu dari belakang, sekarang semua
berbaris ta’dzim di belakang rumahku, bahkan
Kyai Cempli yang penguasa desa juga ada, jadi saya itu tak bisa dibohongi.”
“Ooo soal itu to mbah??”
“Iya.. juga karena panjenengan desa ini yang
sebelumnya angker, sekarang adem ayem, saya sangat berterima kasih, walau panjenengan....
__ADS_1
Bersambung....