Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Laya


__ADS_3

Tapi ya udahlah, tapi aku benar-benar berdoa,


moga-moga, dia bukan jodohku. Kami mengucap salam, dan pak Ibrohim keluar, menyambut, orangnya perawakannya tinggi besar dan gagah, umurnya mungkin 50 tahun, tak kelihatan tua, juga ibu Aminah, istri Pak Ibrohim keluar menyambut, orangnya cantik, berkerudung lapis dua, aku jadi berpikir, ah kalau ibunya aja secantik itu apalagi anaknya.


Lalu Kami dipersilahkan duduk.


“Wah ada angin apa ini, kok kang Fadhol dolan


kemari, padahal sudah lama kami sekeluarga


ingin ketemu.” kata pak Ibrohim dengan suara


berat.


“Pertama, ya biasa pengen silaturrahmi, dan


kedua… Ini, ngajak putranya pak Mustofa main


ke mari.” kata pak Fadhol tanpa banyak basa


basi.


“Anaknya pak Mustofa Tuban maksudmu kang?”


“La iya, pak Mus yang mana lagi?”


“Ini…” tangan pak Ibrohim menunjukku.


“Iya pak…” kataku agak grogi.


“Weh sudah sebesar ini..?” kata pak Ibrohim,


entah untuk basa basi atau apa, aku tak tau.


Aku pun ditanya sama pak Ibrohim, seperti Polisi mengintrograsi penjahat, tak satupun


pertanyaan terlewat, seakan aku ini benar akan


jadi menantunya, sampai ibu Aminah keluar


dengan seorang pembantu membawakan makanan dan minuman,


“Ini lo bu, anaknya pak Mus…” kata pak Ibrohim


ditujukan pada istrinya.


“Weh kok bisa kebetulan… Apa sudah dikasih


tau?” kata bu Aminah.


“Ya sudah to bu…” kata pak Ibrahim.


“La kalau sudah, tunggu apa lagi? Mbok yang tua pada ke dalam biar yang muda berkenalan.”


Tambah bu Aminah, membuatku makin kikuk aja.


“Laya…!, Kesini…” bu Aminah memanggil.


Dari dalam terdengar sahutan, dan keluarlah gadis jangkung, berjilbab hitam dengan motif bunga, pakaiannya berwarna ping juga dengan motif bunga, di pergelangan tangannya berhias hitam putih renda.


“Ayo-ayo yang tua ke dalam, mari pak Fadhol,


nak Iyan, di sini aja ya, Laya sana nak Iyan ditemani ngobrol.” kata bu Aminah.


Laya panggilannya dari nama lengkap Ulfa Nurul Layali.


Gadis itu duduk di kursi depanku, harum minyak wangi lembut segera menerobos hidungku, ku pandang sekilas wajahnya rupanya dia juga melirikku, mata yang bening seperti embun, alis mata yang tebal, pipi kemerahan, hidung yang mancung kecil, bibir nan merah dengan lipstik tipis, dagu yang lancip.


Dia duduk menunduk, kulihat tangannya putih, terkulai di pangkuan, jari jemari lentik saling bertautan, ah denganku teramat jauh, tentu saat itu aku betapa hitam, karena berhari-hari berjalan di terik matahari,,


Sempat mandi juga waktu di rumah pak Fadhol, tentu wajahku berminyak, sepeti wajan dan


penggorengan. Ah sudahlah dia tak mau


denganku juga Alkhamdulillah apa yang musti


dikawatirkan.


Aku juga tak ingin kelihatan gagah


di muka dia. Perduli amat, batinku, memompa


rasa percaya diri. Lama juga kami terdiam,

__ADS_1


seperti radio yang menunggu dinyalakan.


“Kok diam aja?” kataku membuka pembicaraan, kalau saling menunggu, lama-lama bibir bisa


kesemutan,


“Kamu juga diam.” katanya membalas. Wah kayak saling lempar kesalahan.


“Kamu tau, kenapa oleh ayah ibumu kita


dipertemukan kayak gini?” tanyaku lagi.


“Ya tau, kan udah dikasih tau ama ayah ibu.”


jawabnya.


“Berarti kamu setuju, dengan perjodohan ini?”


wah kenapa aku yang jadi Polisinya.


“Aku ngikut ayah ibu aja,”


“Wah apakah itu tak membabi buta? Kamu kan


baru kenal aku, lagian pasti kamu ndak cinta


padaku, apa nanti tak nyesal seumur-umur.”


“Pokoknya ayah ibu menilai baik, maka aku akan menilai baik, aku hanya mencoba taat, kan surga ada di telapak kaki ibu, kalau Nabi sudah bilang begitu, kenapa harus ragu?”


“Wah kamu ilmunya lebih mendalam, kalau aku bodoh banget, kamu sekolahnya lebih tinggi…


dan…”


“Kamu sebenarnya mau denganku apa enggak?”


tiba-tiba ku rasakan dia menyerang balik aku.


“Ndak tau.” jawabku dengan tatapan kosong ke wajahnya yang berkerut alisnya.


“Ndak tau gimana? Aku kurang cantik


menurutmu? Kamu ndak cinta, kan cinta bisa


Ini semua nanti akan jadi milikku, aku cuma anak tunggal.” katanya seakan mengharuskanku untuk mau.


“Kamu cantik, malah terlalu cantik bagiku, hingga membuatku takut, tanganku yang kasar akan melukaimu kalau menyentuhmu, kamu pinter, malah terlalu pinter bagiku, sehingga kalau aku di dekatmu kayak gini perasaan kayak ngikuti perlombaan cerdas cermat.


Kaya? Wah itu tak disangsikan, kalau aku menikahimu, kayak memetik buah apel mateng di pohon.”


“Nah tunggu apa lagi…, soal cinta nanti kan bisa dibangun bersama… please bantu aku taat pada ayah ibuku.” bujuknya.


“Biarkan aku berfikir dulu Ul…” kataku,


“Apa? Kau panggil apa aku?” tanyanya.


“Iya kupanggil Ul, namamu Ulfa kan?”


“Ih masak dipanggil Ul, gak ada mesranya sama sekali, kayak dengkul kepentok kursi aja


suaranya,” dia manyunkan bibirnya meruncing,


kayak pensil habis diraut.


“Ya aku musti panggil apa?” aku jadi keki karena tak biasa bermanis manja ama perempuan.


“Ya panggil Laya kek.”


“Wah kok kesannya kamu sudah tua, kalau pake kek segala.”


“Iiih maksudku Laya aja.” katanya gemes, dan


pipinya memerah.


“Wah kalau Laya, kok kayak anak kecil


meneriakin layangan putus.”


“Udah deh kamu panggil apa aja terserah kamu aja… Kamu suka ya kalau aku ngambek.” katanya mbesengut.


“Tapi makin cantik kok.” kataku menggoda,


maksudku agar dia makin benci padaku, tapi

__ADS_1


seketika ku lihat raut wajahnya sumringah.


“Berarti kamu udah mau?” tanyanya.


“Mau apa?” kataku bego.


“Ah masah gak ngerti, kan yang tadi kita


omongin.”


“Yang mana? Tentang aku memanggilmu kakek?”


“Iiih, ya udah…!” Dia uring-uringan lalu beranjak


dari kursi dan berlari ke dalam.


Hatiku bersorak, kena kau ku kerjai. Dalam hati aku berbisik dalam doa, ya Alloh maafkan aku,


Engkau tau bukan maksudku begitu.


Tak lama pak Fadhol keluar diiringi pak Ibrohim dan istrinya.


“Sudah bicara, dan perkenalannya?” tanya pak


Fadhol.


“Jangan diambil hati nak Ian, kalau Laya rewel,


maklum anak tunggal, jadi manja.” kata istri pak Ibrohim.


Sebentar kemudian kami pamit pulang. Di jalan sambil membonceng, pak Fadhol bertanya,


“Gimana ngger, cantik kan orangnya?”


“Iya pak, cantik.” kataku.


“Berarti sudah cocok dong?”


“Ndak tau pak.”


“Ndak tau bagaimana?”


“Cocok enggaknya kan tak bisa dinilai sekilas aja pak.”


“Iya bapak ngerti.”


Setelah sholat isyak dan wirid, aku segera tidur, tak mau masalah Ulfa jadi beban pikiranku,


bahkan tak mau dia masuk dalam mimpiku,


sampai pagi datang, suara adzan membangunkanku, aku segera ambil wudhu dan bergegas berangkat ke masjid dengan pak Fadhol.


Setelah sholat subuh aku wirid agak lama, hingga pak Fadhol meninggalkanku. Saat matahari akan muncul, aku baru pulang ke tempat pak Fadhol.


Sampai di depan rumah pak Fadhol ku lihat


motor Mio di depan rumah. Ah pasti ada tamu.


Aku pun melangkah ke pintu dan betapa terkejut aku, si Ulfa lagi duduk di kursi ditemani istri pak Fadhol.


“Ini pagi-pagi udah main kesini nak Ian, pasti


semalam Laya tak bisa tidur.” kata istri pak


Fadhol,


“Sana ditemani, ibu tak ke dalam dulu.”


“Kok pagi-pagi udah maen?” tanyaku sambil


duduk di kursi kayu, sehingga terdengar kriet


karena tergenjet beban tubuhku.


“He-eh, mau ngajak kamu maen.” katanya.


“Main kemana?” tanyaku.


“Ya kemana aja, supaya kita masing-masing


saling kenal.”


“Tadi sudah ijin sama ayah ibumu?”

__ADS_1


“Sudah.”


__ADS_2