
Sebaiknya sebelum pulang umroh dulu ke Makkah, dan sedikit tenangkan hati, ingat hanya orang yang hatinya tenang yang akan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi.” jelasku panjang lebar.
“Iya mas, rencana juga mau umroh dulu…” jawab Lukman.
Aku sudah tidak dipekerjakan menjadi tukang
sapu, aku disuruh menunggu material yang ku
butuhkan datang, dan aku ditempatkan di
belakang Banggala, Banggala kalau di Indonesia ya mini market, menjual berbagai kebutuhan,
Dan walau cuma menunggu untung tak jenuh
karena ada internet, di Saudi hanya dua sim
card, yaitu Al-jawal dan mobile, aku selalu
memakai Al-jawal, karena internetnya dapat ku
tembus, bisa internetan gratis, sehingga mau
apa saja, asal internetan pasti gratis, semua
konten porno di Saudi itu tak bisa dibuka, entah pakai hape atau komputer, asal ada unsur porno, xxx, warna biru, dan ada tulisan porno, ***, adult pasti jika dibuka langsung diblok, tapi kalau pakai gratisan malah tidak, karena tidak
terbaca operator kita membuka apa.
Dan tentu saja aku bebas membuka, tanpa ada blok, karena bisa membuka sehingga orang -orang kebanyakan ingin ku ajari, setidaknya dapat mengurangi kesenangan mereka telpon-telponan dengan TKW, yang kebanyakan menghabiskan gaji sebulan, ya tak apalah mereka ku ajari membobol internet, ku setingkan, asal tidak menghabiskan uang, dipakai nelpon.
Karena banyakan nganggur sehingga tiap hari
paling ngobrol sama teman-teman di Indonesia, lewat ebbudy, atau lewat forumku di jowo.jw.lt,
dan makwa.mw.lt, atau iseng-iseng menulis
CERBER cerita berantai yang digagas oleh
temanku Asim, atau menulis cerita-cerita
pendek, setidaknya waktu tak membosankan, dan yang pasti internet gratis.
Apalagi setelah membeli laptop aku memakai
antena wireless adapter, dan memakai pemancar wajan bolik, menyadap modem orang Arab yang dibiarkan bocor tanpa password, internetan makin seru, setiap hari habis pulang kerja langsung saja membuka internet, kalau kamis jum’at libur, habis kerja seharian sampai malam jam empat pagi baru tidur, karena membuka internet, semua orang Indonesia kemudian juga membeli laptop, dan berinternetan gratis.
Tak ada lagi telpon-telponan dengan TKW, di
kamarku tiap hari ada saja yang minta diajari
memakai laptop, bahkan orang Pakistan dan
Yaman juga ada yang datang minta diajari.
——————————————-
“Mas…! nenekku meninggal…” kata Iwan suatu
pagi bicara padaku dengan wajah murung.
“Innalillahi wainna ilaihi roji’uun, kapan wan?”
tanyaku.
“Semalam, karena mungkin ingin mengambil air, atau mau ke kamar mandi, jadi jalan sendiri, menurut tembok, dan menabrak tivi, dan
__ADS_1
tertimpa, dan ditemukan sudah meninggal.”
cerita Iwan.
“Sabar Wan…, setiap orang juga akan mati,
segala sesuatu pasti ada sebabnya, semua
kejadian tak lepas dari taqdir yang telah
digariskan.” hiburku.
“Iya mas…, cuma kenapa aku jadi lupa tak
meminta mas juga mendo’akan agar sakit mata nenekku sembuh, soalnya matanya sudah susah melihat mas, makanya dia berjalan merambati tembok, sehingga nabrak tivi."
“Nah itu juga tak lepas dari ketentuan dan
rancangan Alloh.” jelasku. “Mungkin saja
kematiannya lebih baik, daripada menanggung
derita selama ini.”
Seperti biasa, aku cuma duduk-duduk di ruang
kerjaku, karena tidak ada pekerjaan, Sodikun
masuk ke ruang kerjaku, wajahnya kelihatan
panik.
“Mas… aku mau minta tolong lagi…” katanya
panik.
kambuh?” tanyaku.
“Tumornya sudah sembuh mas…, tapi sekarang anak perempuanku dibawa kabur lelaki…” kata
Sodikun agak malu.
“Wah kalau itu aku ndak bisa nolong, ya
dilaporkan polisi saja, la aku sendiri walau di
Indonesia juga belum tentu bisa nolong.”
“Apa ndak bisa dido’akan biar pulang mas.”
“Do’a itu senjatanya orang Islam, addu’au syaiful muslimin, karena do’a itu penggantungan diri pada Sang Pencipta, sehingga jika seseorang ditaqdirkan buruk, dan tak bisa siapapun merubah menjadi baik, maka berdo’a saja minta pada Alloh agar taqdir dirubah oleh Alloh menjadi baik, karena hanya Alloh yang bisa merubah taqdir, jadi secara tak langsung dengan do’a taqdir itu bisa dirubah, karena penyandaran permintaan pada Alloh, tapi juga dalam hal tertentu kita tidak bisa menggantungkan do’a, karena Alloh telah menetapkan syarat, sebab, contoh jika masak kurang asin, jangan dido’ai agar masakan jadi asin, ya dido’ai sehari semalam juga tak akan asin, sebab sudah ada sarat, kalau pengen asin ya ditambah garam, maka makanan yang kurang asin, kasih saja garam, pasti asin, ya kayak anakmu yang dibawa kabur pacarnya itu laporkan saja ke polisi, biar dicari.”
“Oh iya mas makasih.” kata Sodikun.
Aku jadi berfikir mungkin Alloh memberikan
penyakit tumor kandungan pada anak gadisnya Sodikun, dengan maksud agar tak menjalankan perbuatan maksiat yaitu zina, tapi aku telah
memintakan kesembuhan, sehingga akhirnya
malah pacaran kemudian hamil, ah entahlah, aku memang lemah, semoga Alloh mengampuni kesalahanku.
Ternyata banyak sekali maksud yang terkandung dalam segala kejadian, yang kadang tak aku mengerti sebelum semuanya terjadi.
Memang akhirnya anak Sodikun akhirnya
__ADS_1
mengandung di luar nikah.
————————————————-
Akhirnya aku mulai kerja, walau semuanya serba manual, yang ku kerjakan membuat nama dan nomer semua villa yang diaplikasikan di viber, kalau di pabrik lama, pekerjaan bisa dilakukan dengan cepat, karena sudah ada mesin pemotong, tapi kalau di sini, harus memotong satu demi satu memakai gergaji besi, jadi pekerjaan memakan waktu lama,
Apalagi tulisan yang harus ku bikin sampai ada seratus lebih.
Kalau nulisnya sih paling beberapa menit juga
jadi, tapi yang lama itu gergajinya. Setelah sebulan lamanya, kelar juga pekerjaanku, dan aku ditarik lagi ke pabrik lama.
Kamar lamaku amat kotor, setiap kamar
sebenarnya sudah tertutup dan tak ada angin
yang masuk, jadi udara hanya masuk lewat AC, dan pembuangan lewat blower, tapi
bagaimanapun debu tetap menerobos masuk, apalagi di Jizan itu kalau badai debu jarak pandang hanya dua meter, di tanah debu bisa setebal semata kaki, udara pekat oleh debu, dan jika sudah musimnya, bisa dipastikan, setiap hari siang sampai malam, udara dipenuhi debu, jika keluar kamar harus memakai masker, atau tutup kepala,
jika tidak rambut akan lengket, dan hidung akan penuh debu.
Untung di Saudi itu rumah semua di-cor, atap
juga cor-coran, jadi sekalipun angin besar, tapi
rumah tak goyah sama sekali, aku membayangkan kalau di Indonesia yang atap rumah terbuat dari genteng, pasti akan diterbangkan angin, kalau di Saudi lagi musim debu, kayu, sepeda pun bisa terseret angin, dan banyak pohon bertumbangan.
Sekalipun rumah tertimba juga tak masalah,
karena rumah di-cor semen semua.
Skip....
Yatno masuk kamarku, wajahnya takut.
“Ada apa?” tanyaku sambil mengangkat masakan dari kompor listrik.
“Aku muntah darah kang…” kata Yatno panik.
“Memangnya kenapa?”
“Dadaku sakit sekali kang, tolong aku kang…!”
kata Yatno sambil duduk lemas memegangi
dadanya.
“Coba sini ku lihat,” kataku mendekat, lalu
menempelkan tangan ke dadanya. “Coba tarik
nafas.” kataku, dan Yatno tarik nafas.
“Gimana masih nyeri?”
“Alhamdulillah sudah enakan kang.”
“Syukur kalau begitu, awalnya bagaimana kok
muntah darah?” tanyaku.
“Gak tau kang, dadaku kayak dipalu rasanya, dan tiba-tiba aku muntah, dan ku lihat kok darah.” cerita Yatno.
“Mungkin kamu kebanyakan ngerokok, mbok ya dikurangi ngerokoknya.”
__ADS_1
Bersambung....