Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Eka Damayanti


__ADS_3

Ku buka mataku yang terpejam, dan menengok ke belakang, seraut wajah gadis cantik nan


anggun dengan balutan jilbab coklat tua,


membungkuk di belakangku,


“Ya Alloh, Ian, kenapa sampai jadi gini….” kata gadis bernama Eka Damayanti, dia langsung memelukku dari belakang.


Eka Damayanti, nama gadis itu, ku kenal waktu


aku kelas 2 SMA dan masih aktif menulis di


majalah remaja, pertama perkenalanku, dia


waktu itu mencari rumahku, dan dia salah satu


dari penggemar karya tulisku, aku pulang sekolah ketika Eka berdiri di pinggir jalan menuju lorong rumahku, dia menghentikanku,


“Mas… Mas…


berhenti…” tegurnya. Aku baru turun dari


Angkot.


Aku pun berhenti, dan menunggunya datang


menghampiri, saat itu Eka masih belum memakai jilbab, rambutnya diikat dengan pita merah, dan wajahnya anggun, menyiratkan kedewasaan.


“Ada apa mbak?” tanyaku.


“Maaf ngeganggu sebentar, mau tanya nih


mas…?” katanya dengan nada datar tapi merdu dan terdengar centil di telingaku.


“Tau alamat ini gak mas?” tanyanya, sambil


menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat.


Di situ tertulis, Febrian, kulon pon pes Al-alawi


Sendang,


“Wah itu aku mbak.” kataku setelah membaca


sebaris alamat di kertas yang ditunjukkan


padaku.


“Ih yang bener?” katanya tersenyum ceria, dan


ada binar bintang di matanya.


“Ya benerlah, masak bohong, tau dari mana


tentang alamatku? Perasaan aku tak punya


kerabat kayak embak.” kataku menyelidik.


“Aku ini bukan kerabatmu, tapi penggemarmu,


kamu penulis khan? Nah aku ini salah satu


penggemar beratmu.” katanya menjelaskan


dengan mimik yang lucu, kayak guru TK


menerangkan pada muridnya.


“Wah jadi malu nih, aku cuma penulis kacangan, karyaku juga cuma ngawur aja, gak bermutu.”


kataku salah tingkah.


“Tapi aku benar-benar kagum, sungguh, kamu


calon penulis besar.” katanya memuji.


“Wah ini mau ke rumah atau ngobrol di sini aja.”


kataku, karena kami dari tadi cuma berdiri di


pinggir jalan.


“Eh iya, kayaknya aku juga belum kenal


namamu?” kataku setengah bertanya, saat kami berdua menyusuri tanggul paping blok jalan di depan rumah,


“Eka Damayanti….” katanya, sembari


menyodorkan tangan mungilnya. Aku pun


menjabat erat, penuh persahabatan.

__ADS_1


“Febrian, dah tau namaku khan?” candaku.


Dan tak terlalu lama kami pun nyampai depan


rumahku.


Itulah perkenalanku dengan Eka, dan


sejak saat itu kami menjadi akrab, karena Eka


hampir tiap minggu main ke rumahku, rumah dia di daerah Rengel, jadi masih satu kabupaten denganku.


Setahun telah berlalu, dan aku telah kelas tiga


SMA, dan Eka menjadi salah satu sahabat, yang mengagumiku, dia selalu mensuportku untuk


menghasilkan karya-karya tulisku.


Aku teramat terbuka dengan Eka, sampai soal


pacar-pacarku Eka juga tau, suatu hari aku dan


Eka jalan-jalan ke Tanjung Kodok, “Yan…” kata


Eka, ketika kami duduk di bawah tenda dan


menikmati es kelapa muda, sambil merasakan


semilir udara pantai yang membawa bau air laut yang khas,


“Ada apa?” tanyaku sembari mengeluarkan rokok Djarum merah.


“Umpama kita jadian gimana?” katanya dengan tatapan kepadaku, serius.


“Maksudmu mahluk jadi-jadian?” kataku


mencandainya, memang aku paling suka kalau dia mbesengut.


“Ah kamu, aku ini serius.!!” benar juga dia


mbesengut, dan dari situ terlihat jelas


kecantikannya yang khas.


“Iya… iya, aku ngerti kamu serius.” kataku buru-


buru mencegah kemarahannya.


“Kamu tau sendiri lah Ka…, aku kan ceweknya


banyak, aku tak tega kalau kamu jadi kemakan


hati.”


“Kenapa semua cewekmu tak kamu putusin aja.!?”


“Wah, aku juga tak setega itu untuk memutusin mereka.” memang waktu itu cewekku ada 18 an, ah bisa dibilang raja pelet,


“Wah kamu ini tak tega atau kemaruk, tamak,


aku heran juga kenapa mereka, cewek-cewek itu mau-maunya kamu renteng-renteng kayak


tasbih.”


“Itu kan urusan mereka Ka,”


“Aku jadi heran Yan…”


“Heran kenapa?”


“Ya, apa mereka semua akan kamu jadikan istri semua…,?”


“Wah la ya enggak lah, mana mampu aku melayani


mereka semua, bisa habis darah dihisap dan aku tinggal tulang.”


“Emangnya cewek lintah? Ngaco kamu.”


“Ya mending ngomong ngaco, daripada diam


kayak batu, bisa-bisa dianggap arca, trus


digotong orang ditaruh di Klenteng, ckakakak…”


“Ah jangan ngomong ngaco ah, trus kalau semua tak kamu jadikan istri kan pasti yang tak jadi istrimu akan sakit hati?”


“Kan aku terbuka, mereka mau jadi cewekku, kan udah aku ceritain semua tentang aku, lagian aku udah ngenalin antara satu dengan yang lain.”


“Bener-bener tak habis pikir aku Yan.., wah


jangan-jangan kamu pakai ilmu pelet? Wah

__ADS_1


jangan-jangan juga aku kamu pelet?”


“Pelet semar ngakak? Ya kamu ngerasa dipelet enggak?”


“Bener aku ingat kamu terus.” katanya serius.


“Kalau malam ingat sampai kebawa mimpi?”


tanyaku.


“He-eh.” jawabnya manggut.


“Wah kamu dah kena penyakit cinta, ckakakak…”


Kataku dan Eka pun mencubit lenganku.


Itulah aku dengan Eka selalu terbuka lepas, tapi betapapun Eka sayang padaku, tapi kami tak


pernah menjalin asmara, karena aku tak pernah mau memutuskan sepihak pada pacarku, dan


hubungan kami sebatas sahabat,


Sahabat yang


saling mengerti, sampai aku bertaubat, dan meninggalkan masa lalu kelam, bayangan Eka pun ikut hilang menjadi masa lalu, masa lalu yang ingin ku hapus dari ingatanku, masa lalu yang hanya ku ingat ketika aku menangis pada satu kekasih yaitu Alloh.


Menghaturkan hina dan dosaku yang minta diampuni,


“Yan…! Kenapa kamu menjadi begini…” suara Eka memelukku dari belakang, tak perduli pakaianku yang kotor, tak perduli pandangan aneh semua orang yang ada di setasiun.


Aku ingin menjelaskan pada Eka, aku bukanlah Ian yang dikenalnya dulu, tapi aku ragu apa ia akan mengerti.


“Ka… Kamu tak malu dilihat semua orang?”


“Aku tak rela kamu begini Yan…” katanya,


tangannya mencengkeram pergelangan tanganku,


Dan mengajakku berdiri, air matanya meleleh


membasahi jilbab coklat mudanya. Dulu Eka


bukan gadis yang suka memakai jilbab.


Sampai pada pertemuan yang terakhir kami, aku mengantarnya mendaftar di perguruan tinggi.


Waktu itu kami dalam satu bus menuju Surabaya.


“Yan…! Andai kau menghayal punya istri, kamu


mengharap punya istri yang bagaimana?”


tanyanya dengan tatapan serius ke wajahku.


“Aku?” aku menerawang, “Aku membayangkan


punya istri yang sholikhah…, ya setidaknya yang memakai jilbab,” kataku pasti.


“Berarti aku bukan termasuk kategori yang kau


harapkan ya?” tanyanya seperti pertanyaan


adikku minta permen.


“Ah sudahlah Ka, jodoh kan di tangan yang


kuasa, andai kamu jodohku, aku juga tak kan


menolak.” kataku tandas.


Tapi sampai di Surabaya, Eka mengajakku ke


Butik busana muslim dan dia memborong jilbab.


“Wah untuk apa Ka, jilbab sebanyak ini?”


tanyaku heran.


“Untuk persediaan aja Yan, siapa tau, aku jadi


jodohmu, hehe…” katanya sambil tersenyum


manis, karena salah satu jilbab langsung dia


kenakan.


“Hm… Kamu makin cantik aja Ka, kalau makai


jilbab.” pujiku tulus.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2