Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Nafisah


__ADS_3

Aku segera duduk menghadap kiblat, berdoa


pada Alloh supaya warungnya Macan ramai


pengunjung dan mulai melakukan wirid, baru saja aku melakukan wirid setengah jam, hpnya macan berdering, dan terdengar olehku Macan berbicara, aku tetap konsentrasi dengan


wiridku..


“Sudah ramai Ian, warungnya, katanya sampai


antri, dan terpaksa digelarkan tikar, karena


tempat sudah tak muat.”


“Syukur Alhamdulillah… semoga bermanfaat, dan bisa menjadikan keimanan mereka menjadi kuat.”


Kataku setelah mengakhiri wirid.


Malam itu aku tidur di sofa, karena memang


rumah Macan sempit, dan cuma ada satu kamar dan ruang tamu, jadi aku tidur di sofa ruang tamu.


Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh, saat aku ingin berpamitan pada Macan , ternyata Macan telah menungguku.


“Aku balik ke pesantren dulu ya Can…”


Kataku sambil meletakkan tasku di dekat pintu.


“Nanti dulu Ian… duduk dulu sini, aku ada


masalah serius nih.., nanti aja pulangnya setelah sarapan…” kata Macan, dengan mimik muka serius.


“Ada masalah apa lagi Can..?”


“Saudara perempuanku ada yang kena musibah…”


“Musibah apa Can? Apa kecelakaan…”


“Bukan kecelakaan, tapi sakit usus buntu, dan mau dioperasi, wah bagaimana nih ibuku minta kiriman untuk biaya operasi, tapi aku tak punya uang… Apa kamu punya uang Ian..?”


“Wah aku juga tak punya, ini ada juga paling tiga ratus, dari kyai dua ratus, dan uangku sendiri seratus, nih pakailah…” kataku mengeluarkan dompet budukku, lalu mengambil uang tiga ratusan ribu. Dan menyerahkannya pada Macan.


Kami terdiam sebentar, aku menyeruput kopi


yang disediakan Ida istri Macan, lalu kunyalakan


rokok djisamsoe filter, tiba-tiba ada ide kuat terlintas di benakku.


“Ah kenapa kita tak coba obati sendiri Can? Bagaimana kalo Kita mintakan kesembuhan pada Allah,,?”


Kataku seketika mendapatkan ide, karena aku


pernah mendengar kyai mengatakan padaku, jika ilmu yang ku miliki dan ilmunya Macan digabung, kekuatannya akan teramat dahsyat, karena ,,Macan diberi ilmu yang bersifat dingin, sebab Macan yang sifatnya gampang emosi, sementara aku diberi ilmu yang bersifat panas,,


Karena sifatku yang lembek, Macan aja sering


mengolokku, kalau aku ini ditipu orang, maka


yang nipu itu akan kesenengan sampai mati


karena terlampau seneng.


“Ah kalau mengobati dari dekat biasa, tapi dari


jauh itu apa bisa? Masak obat ditransfer?”


katanya ragu.


“Ee kamu lupa, selama ini kan kita mengobati, hanya dengan doa, doa kepada Alloh, dan Alloh itu kuasanya tak ada batas, kalau dia bisa


menyembuhkan orang yang di dekat kita, tentu


tak sulit bagi Alloh menyembuhkan orang yang jauh dari kita?? sebab, Alloh tak dibatasi jauh


dan dekat kuasanya,”

__ADS_1


“Tapi caranya gimana Ian, aku tak ngerti?”


“Wah kalau itu aku juga tak mengerti, selama ini, kita kan memang tak diajar apa-apa sama kyai, tapi jangan takut aku ini kan tukang ngayal, moga-moga Alloh melimpahkan rahmatnya, dan memberikan kesembuhan yang mutlak.”


“Lalu bagaimana Ian?”


“Begini, kamu telfon ortumu, saudarimu yang


sakit siapa namanya?”


“Nafisah..”


“Si Nafisah suruh duduk menghadap kiblat, dan di sini aku menghadap kiblat kau mengahadapku, bayangkan saja Nafisah di antara kita, kau arahkan tanganmu ke perutnya dan aku ke punggungnya, salurkan tenagamu, selanjutnya serahkan padaku, bagaimana?”


Macan mengangguk, lalu tanpa banyak cakap lagi ia pun menelpon ibunya, dan menyarankan seperti yang ku katakan.


Sementara itu Nafisah yang dirawat di rumah


sakit Aisiyah Bojonegoro, diminta duduk oleh


ibunya menghadap kiblat, aku dan Macan juga


duduk berhadap-hadapan, kami berdua


berkonsentrasi membangkitkan kekuatan sirri


yang ada di tubuh kami.


Aku rasakan kekuatanku telah bangkit dan


mengalir ke telapak tanganku, juga kurasakan ada angin dingin, menghembus lembut dari arah Macan ke arahku, udara serasa bergumpal-


gumpal, aku membayangkan tubuh Nafisah ada di depanku.


Memang kekuatan anugrah Alloh yang tak


terlihat ini begitu dahsyad, dulu aku pernah mencoba


pada temanku Tarsan, saat itu pemuda yang jago manjat kelapa itu di depanku, kami sedang membicarakan tenaga yang ada di pusar,,


Aku memejamkan mata dan membayangkan


tanganku mengambil penyakit usus buntu yang ada di perut Nafisah, sementara gadis itu yang


tengah duduk, merasakan hawa dingin merasuk dari depan dan hawa panas merasuk dari


belakang, lalu dia merasakan seperti ada ribuan


semut memasuki tubuhnya, dan seperti


mengambil sesuatu dari dalam tubuhnya.


Nafisah merasakan seluruh tubuhnya seperti


kesemutan. Aku dan Macan masih duduk,


menyalurkan tenaga.


“Turunkan pelan-pelan Can, tenaganya jangan


disentak…” kataku memberi aba-aba.


Dan selesailah proses pengobatan kami. Aku


mengusap peluh di kening dan jidatku, begitu


juga dengan Macan.


Ku sruput kopi yang tinggal penghabisan dan menyalakan rokok kembali.


“Selanjutnya bagaimana Ian?” tanya Macan.


“Ya nanti telpon lagi, minta dironsen ulang,


moga-moga aja pengobatan kita berhasil,

__ADS_1


sekarang aku tak pamit dulu…” kataku.


Macan mengantarku dengan motornya, sampai ke terminal Kampung Rambutan.


Aku berangkat, memilih bus yang langsung


menuju Labuhan. Aku mendapatkan tempat


duduk, dan tidur setelah bus berangkat.


Kondektur membangunkanku, meminta uang


tiket. Ah aku kaget, pias, setelah ingat uangku


yang tiga ratus sudah ku berikan Macan semua.


Ah sial aku, sementara kondektur itu


menungguku, aku bingung, dah merogoh-rogoh saku, dan serr..!


Di sakuku ada uang tiga ratus ribu, ah pastilah


Macan yang memasukkan tanpa ku ketahui.


Ah sudahlah yang penting aku punya uang tuk


membayar bus, ku berikan uang seratus ribu


kepada kondektur, dan setelah diberikan


kembalian, aku tidur lagi sampai bus nyampai di pertigaan Pandeglang, aku turun, ojek datang mengerubutiku, aku melihat mang Sofyan, yang rumahnya, di kampung dekat dgn pesantren,


“Ojek mang..?” Kataku ke arah mang Sofyan.


“Ke rumah kyai ya jang..?” tanyanya.


“Iya mang., berapa?” tanyaku.


“Lima belas ribu jang…”


“Byuuh gak salah mang? Ini kan ojek bukan


taksi…”


“Sekarang ini BBM dah naik jang, penumpang


jarang.., jadi ya kenaikan berlipat, mau gak


jang…”


Terpaksa aku menyetujui. Daripada ribet


urusannya, padahal jarak antara pertigaan tugu dengan lereng gunung putri ini tak terlalu jauh,


paling juga tiga kiloan, sebenarnya kalau jalan


kaki lewat jalan kampung malah lebih cepat, tapi sudahlah.


Motor ojek mang Sofyan segera mengantarku,


motor itu menggerung-nggerung, karena jalan


aspal yang sudah rusak di sana-sini itu, lubang-lubangnya penuh dengan air bekas hujan semalam.


Jalan yang ku lewati ini sebenarnya telah


diperbaiki berkali-kali, tapi uang untuk


perbaikan jalan kebanyakan disunat sini, maka


imbasnya jalanan hanya diperbaiki seadanya, jadi ya begini, baru beberapa hari kelihatan halus, jalanpun akan rusak lagi.


Akhirnya nyampai juga, baru saja ojek ku bayar, dan mang Sofyan berlalu, hpku bunyi, segera saja ku angkat, terdengar suara Macan dengan nada bahagia..


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2