
Aku segera duduk menghadap kiblat, berdoa
pada Alloh supaya warungnya Macan ramai
pengunjung dan mulai melakukan wirid, baru saja aku melakukan wirid setengah jam, hpnya macan berdering, dan terdengar olehku Macan berbicara, aku tetap konsentrasi dengan
wiridku..
“Sudah ramai Ian, warungnya, katanya sampai
antri, dan terpaksa digelarkan tikar, karena
tempat sudah tak muat.”
“Syukur Alhamdulillah… semoga bermanfaat, dan bisa menjadikan keimanan mereka menjadi kuat.”
Kataku setelah mengakhiri wirid.
Malam itu aku tidur di sofa, karena memang
rumah Macan sempit, dan cuma ada satu kamar dan ruang tamu, jadi aku tidur di sofa ruang tamu.
Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh, saat aku ingin berpamitan pada Macan , ternyata Macan telah menungguku.
“Aku balik ke pesantren dulu ya Can…”
Kataku sambil meletakkan tasku di dekat pintu.
“Nanti dulu Ian… duduk dulu sini, aku ada
masalah serius nih.., nanti aja pulangnya setelah sarapan…” kata Macan, dengan mimik muka serius.
“Ada masalah apa lagi Can..?”
“Saudara perempuanku ada yang kena musibah…”
“Musibah apa Can? Apa kecelakaan…”
“Bukan kecelakaan, tapi sakit usus buntu, dan mau dioperasi, wah bagaimana nih ibuku minta kiriman untuk biaya operasi, tapi aku tak punya uang… Apa kamu punya uang Ian..?”
“Wah aku juga tak punya, ini ada juga paling tiga ratus, dari kyai dua ratus, dan uangku sendiri seratus, nih pakailah…” kataku mengeluarkan dompet budukku, lalu mengambil uang tiga ratusan ribu. Dan menyerahkannya pada Macan.
Kami terdiam sebentar, aku menyeruput kopi
yang disediakan Ida istri Macan, lalu kunyalakan
rokok djisamsoe filter, tiba-tiba ada ide kuat terlintas di benakku.
“Ah kenapa kita tak coba obati sendiri Can? Bagaimana kalo Kita mintakan kesembuhan pada Allah,,?”
Kataku seketika mendapatkan ide, karena aku
pernah mendengar kyai mengatakan padaku, jika ilmu yang ku miliki dan ilmunya Macan digabung, kekuatannya akan teramat dahsyat, karena ,,Macan diberi ilmu yang bersifat dingin, sebab Macan yang sifatnya gampang emosi, sementara aku diberi ilmu yang bersifat panas,,
Karena sifatku yang lembek, Macan aja sering
mengolokku, kalau aku ini ditipu orang, maka
yang nipu itu akan kesenengan sampai mati
karena terlampau seneng.
“Ah kalau mengobati dari dekat biasa, tapi dari
jauh itu apa bisa? Masak obat ditransfer?”
katanya ragu.
“Ee kamu lupa, selama ini kan kita mengobati, hanya dengan doa, doa kepada Alloh, dan Alloh itu kuasanya tak ada batas, kalau dia bisa
menyembuhkan orang yang di dekat kita, tentu
tak sulit bagi Alloh menyembuhkan orang yang jauh dari kita?? sebab, Alloh tak dibatasi jauh
dan dekat kuasanya,”
__ADS_1
“Tapi caranya gimana Ian, aku tak ngerti?”
“Wah kalau itu aku juga tak mengerti, selama ini, kita kan memang tak diajar apa-apa sama kyai, tapi jangan takut aku ini kan tukang ngayal, moga-moga Alloh melimpahkan rahmatnya, dan memberikan kesembuhan yang mutlak.”
“Lalu bagaimana Ian?”
“Begini, kamu telfon ortumu, saudarimu yang
sakit siapa namanya?”
“Nafisah..”
“Si Nafisah suruh duduk menghadap kiblat, dan di sini aku menghadap kiblat kau mengahadapku, bayangkan saja Nafisah di antara kita, kau arahkan tanganmu ke perutnya dan aku ke punggungnya, salurkan tenagamu, selanjutnya serahkan padaku, bagaimana?”
Macan mengangguk, lalu tanpa banyak cakap lagi ia pun menelpon ibunya, dan menyarankan seperti yang ku katakan.
Sementara itu Nafisah yang dirawat di rumah
sakit Aisiyah Bojonegoro, diminta duduk oleh
ibunya menghadap kiblat, aku dan Macan juga
duduk berhadap-hadapan, kami berdua
berkonsentrasi membangkitkan kekuatan sirri
yang ada di tubuh kami.
Aku rasakan kekuatanku telah bangkit dan
mengalir ke telapak tanganku, juga kurasakan ada angin dingin, menghembus lembut dari arah Macan ke arahku, udara serasa bergumpal-
gumpal, aku membayangkan tubuh Nafisah ada di depanku.
Memang kekuatan anugrah Alloh yang tak
terlihat ini begitu dahsyad, dulu aku pernah mencoba
pada temanku Tarsan, saat itu pemuda yang jago manjat kelapa itu di depanku, kami sedang membicarakan tenaga yang ada di pusar,,
Aku memejamkan mata dan membayangkan
tanganku mengambil penyakit usus buntu yang ada di perut Nafisah, sementara gadis itu yang
tengah duduk, merasakan hawa dingin merasuk dari depan dan hawa panas merasuk dari
belakang, lalu dia merasakan seperti ada ribuan
semut memasuki tubuhnya, dan seperti
mengambil sesuatu dari dalam tubuhnya.
Nafisah merasakan seluruh tubuhnya seperti
kesemutan. Aku dan Macan masih duduk,
menyalurkan tenaga.
“Turunkan pelan-pelan Can, tenaganya jangan
disentak…” kataku memberi aba-aba.
Dan selesailah proses pengobatan kami. Aku
mengusap peluh di kening dan jidatku, begitu
juga dengan Macan.
Ku sruput kopi yang tinggal penghabisan dan menyalakan rokok kembali.
“Selanjutnya bagaimana Ian?” tanya Macan.
“Ya nanti telpon lagi, minta dironsen ulang,
moga-moga aja pengobatan kita berhasil,
__ADS_1
sekarang aku tak pamit dulu…” kataku.
Macan mengantarku dengan motornya, sampai ke terminal Kampung Rambutan.
Aku berangkat, memilih bus yang langsung
menuju Labuhan. Aku mendapatkan tempat
duduk, dan tidur setelah bus berangkat.
Kondektur membangunkanku, meminta uang
tiket. Ah aku kaget, pias, setelah ingat uangku
yang tiga ratus sudah ku berikan Macan semua.
Ah sial aku, sementara kondektur itu
menungguku, aku bingung, dah merogoh-rogoh saku, dan serr..!
Di sakuku ada uang tiga ratus ribu, ah pastilah
Macan yang memasukkan tanpa ku ketahui.
Ah sudahlah yang penting aku punya uang tuk
membayar bus, ku berikan uang seratus ribu
kepada kondektur, dan setelah diberikan
kembalian, aku tidur lagi sampai bus nyampai di pertigaan Pandeglang, aku turun, ojek datang mengerubutiku, aku melihat mang Sofyan, yang rumahnya, di kampung dekat dgn pesantren,
“Ojek mang..?” Kataku ke arah mang Sofyan.
“Ke rumah kyai ya jang..?” tanyanya.
“Iya mang., berapa?” tanyaku.
“Lima belas ribu jang…”
“Byuuh gak salah mang? Ini kan ojek bukan
taksi…”
“Sekarang ini BBM dah naik jang, penumpang
jarang.., jadi ya kenaikan berlipat, mau gak
jang…”
Terpaksa aku menyetujui. Daripada ribet
urusannya, padahal jarak antara pertigaan tugu dengan lereng gunung putri ini tak terlalu jauh,
paling juga tiga kiloan, sebenarnya kalau jalan
kaki lewat jalan kampung malah lebih cepat, tapi sudahlah.
Motor ojek mang Sofyan segera mengantarku,
motor itu menggerung-nggerung, karena jalan
aspal yang sudah rusak di sana-sini itu, lubang-lubangnya penuh dengan air bekas hujan semalam.
Jalan yang ku lewati ini sebenarnya telah
diperbaiki berkali-kali, tapi uang untuk
perbaikan jalan kebanyakan disunat sini, maka
imbasnya jalanan hanya diperbaiki seadanya, jadi ya begini, baru beberapa hari kelihatan halus, jalanpun akan rusak lagi.
Akhirnya nyampai juga, baru saja ojek ku bayar, dan mang Sofyan berlalu, hpku bunyi, segera saja ku angkat, terdengar suara Macan dengan nada bahagia..
Bersambung.....
__ADS_1