Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Ngidam Dilukis


__ADS_3

“Apa ilmu tenaga dalamku masih ada ya kang?”


tanya Yatno.


“Ya aku tak tau, la aku sendiri tak pernah


belajar ilmu begituan, tenaga dalam juga tak


pernah.” kataku sambil memencet-mencet


keyboard laptop.


“Kalau kita coba bagaimana kang?” tanya Yatno.


“Maksudnya nyoba bagaimana?” tanyaku tak


mengerti.


“Ya kita adu jurus.”


“Wah aku sendiri tak mengerti jurus, gini saja


kamu yang menyerangku, dengan segala jurusmu bagaimana?” tanyaku.


“Ya boleh kang, sampean ndak berdiri saja


kang?” tanya Yatno, karena melihatku duduk di


karpet sambil mainkan laptop.


“Udah serang saja diriku.” kataku.


Yatno mulai memainkan jurusnya, mengitariku, lalu menyerangku tubuhnya melompat


menghantamkan pukulan tangan kosong, tapi


sampai di jarak satu meter dari tubuhku,


tubuhnya seperti menghantam benteng baja, aku masih mainkan laptop, menjawab pesen yang ada di facebook. Yatno membuat ancang-ancang lagi menyerang


dari belakangku, dan sama saja tubuhnya yang melenting menendang kepalaku, lagi-lagi seperti menabrak benteng baja, dan dia bergulingan, berguling-guling menabrak-nabrak tembok kamar.


“Ampuun kanng…, tolong kang aku tak kuaaat..!”


kata Yatno merintih-rintih.


Aku bangkit dan mendekatinya, lalu ku usap


dadanya.


“Bagaimana sudah enakan?” tanyaku.


“Wah khodammu besar sekali kang..,


pelindungmu tak bisa ku tembus, aku sampai


sakit semua.” kata Yatno.


“Ah.. aku tak punya kelebihan apa-apa..” kataku.


“Untung sampean tak membalas pukulanku, kalau membalas aku bisa rontok dadaku.” kata Yatno.


“Ah ada-ada saja.., ini aku mau mulai berangkat kerja, kamu di kamarmu aja ya…!” kataku.


“Iya kang, makasih atas bantuannya.” jawab


Yatno.


Masih banyak waktu, aku jalan kaki menuju


tempat time card, memasukkan kartu absen dan memasukkan pin dan cap jari, memang pabrik dibuat ketat dalam soal absensi sebab dulu cuma dibuat memasukkan absen kartu, jadi banyak orang yang titip temannya untuk team card kan, jadi team card ditambahi cap jari, jadi jari orang tak bisa dipalsu orang lain, orangnya harus tetap datang untuk melakukan cap jari.


Habis team card aku biasa duduk-duduk di


depan kantin untuk sekedar ngobrol dan


merokok bersama teman-teman. Suasananya


sangat ramai, karena semua orang harus team


card kecuali yang sudah kepala bagian atau


insinyur atau manager.


Yono menyapaku dengan senyum ramahnya, Yono kerja di Saudi sudah tujuh tahun, dia aslinya orang Tangerang.


“Mas…, sebenarnya aku pengen main ke kamar mas.., tapi takutnya orangnya sibuk.” katanya.


“Ah gak sibuk, banyak kok yang main, datang aja ke kamar.” kataku


“Iya ada perlu sedikit dengan istri dan anakku.”


katanya.


“Main aja, ntar malem aja ku tunggu.” kataku.


“Hei maas…” kata Umam orang dari Tulungagung.


“Hai juga mas…” balas sapaku.

__ADS_1


Begitulah pagi, kami saling sapa, karena


pekerjaan masing-masing, jarang kami bisa


ketemu, saat pagi itu saat kesempatan kami bisa saling sapa.


Masuk ke ruang kerjaku, tak ada yang


dikerjakan, paling duduk dan mengeluarkan


rokok, menyalakannya, lalu menyalakan internet dan menyapa sahabat internetku.


Seorang berwarga negara Mesir masuk ke


ruanganku,


“Mas ini yang ahli lukis?” tanya lelaki Mesir itu


dengan logat Arab yang cepat.


“Iya…” jawabku singkat. “Ada apa?” aku balik


tanya.


“Mau tidak nanti ke rumahku, mau ku pinta


melukis di rumahku.” katanya.


“Hm… bagaimana ya, aku tak biasa melukis di


rumah seseorang selama di Arab ini, manager


saja yang memintaku melukis di rumahnya ku


tolak.” jelasku.


Orang Mesir itu malah mendekat denganku.


“Maaf mas…, ini permintaan dari istriku yang


mengandung tua, jadi dia minta mas untuk


melukis di rumahku, jadi bukan kemauanku


sendiri.” kata orang Mesir itu.


“Dari mana istrimu kenal dan tau diriku?”


tanyaku heran.


“Dia tau dari mimpinya mas, pokoknya mas ini


rumah, nanti habis kerja biar ku jemput.” kata


orang Mesir itu.


“Ya tak papa kalau begitu.”


skip....


Jam 4 sore pulang kerja orang Mesir bernama


Musadad itu telah menjemputku, setelah mandi aku berangkat ke rumahnya, naik mobilnya, ku


bawa perlengkapan cat dan kuas, sampai di


rumahnya aku diajak makan dulu, sambil


membicarakan mana yang harus ku lukis, aku


hanya melukis pintu, setelah makan ku lukis


dengan cepat pintunya. Sebentar baru melukis


Musadad mengeluarkan minuman,


“Wah sebentar sudah jadi bagus.” katanya di


sela aku melukis. “Oh ya mas ini di Indonesia


seorang ustadz ya?”


“Kata siapa?” tanyaku.


“Banyak kok yang membicarakan, bahkan di sini juga banyak yang telah minta dido’akan.” kata Musadad.


“Ah tidak juga, aku hanya seorang murid


toreqoh, cuma mungkin guruku orang yang


banyak kelebihannya.” jelasku.


“Kekasih Alloh ya gurunya, waliyulloh gitu?”


tanya Musadad.


“Tak tau juga, sebab guruku tak pernah


sekalipun mengaku sebagai wali, jadi aku juga

__ADS_1


tak tau, apalagi la ya’riful wali ilal wali, tak akan


tau wali kecuali wali.” jelasku.


“Mari mas diminum jus nya.” kata Musadad


mempersilahkanku minum.


“Aku banyak membaca di banyak kitab, para guru toreqoh itu orang-orang yang selalu diijabah do’anya.” kata Musadad. “Misal seperti Syaikh Abdul Qodir Aljailani, Syaikh Junaid Albagdadi, Ibrohim Alkhowas, Syaikh Abu Khasan Assadzili, semua ulama’ besar adalah orang-orang toreqoh.”


“Ya…” jawabku singkat. “Mungkin dalam umum


orang meminta hujan dengan sholat istisqo’, tapi orang toreqoh tidak, jika meminta hujan, ya meminta saja, sebab jiwa, raga, ruh dan hatinya adalah do’a.” kataku.


Tiba-tiba hujan deras sekali turun.


“Wah mas bicara hujan, langsung hujan turun


deras, boleh saya dijadikan murid.” kata


Musadad.


“Menjadi murid toreqoh itu berat, dan harus


tunduk pada guru, bukan soal gurunya itu siapa, tapi karena ilmu yang dari Nabi yang dititipkan


kepada guru, jadi ketundukan pada guru itu


seringkali bertentangan dengan ego diri.”


“Saya siap guru, saya siap tunduk pada guru,


guru memerintahkan apapun saya siap, sebab


guru adalah pembimbing saya…” kata Musadad serius.


“Sudah-sudah saya selesaikan lukisan, nanti jam enam sebelum magrib saya harus segera kembali ke kamar, soalnya ada janji sama orang Indonesia.” kataku.


“Siap guru…” kata Musadad.


Setelah jam enam, aku diantar pulang ke barrak,


“Jika guru mau kemana saja, saya siap


mengantar, jadi guru telpon saja saya.” kata


Musadad yang seorang insinyur komputer.


“Ya nanti kalau mau ke kota aku akan telpon.”


kataku sambil keluar dari mobilnya Musadad.


Sampai di kamar pas magrib. Yatno sudah


menunggu di depan kamar.


“Ada apa lagi?” tanyaku sambil membuka pintu kamar,


“Badan saya panas lagi kang.” kata Yatno.


“Mari sholat magrib dulu, nanti habis sholat ku


buatkan air isian, untuk pagar badanmu.” kataku, yang langsung mengambil air wudhu. Dan kami sholat berjama’ah, selesai sholat ku


buatkan air isian untuk pagar Yatno.


“Ini di pakai mandi, jangan dihanduki, biarkan


kering, air itu pakai di guyuran terakhir, ingat


biarkan kering sendiri.” kataku.


Dan Yatno pun mandi, aku nyalakan laptop,


enaknya kalau internetan tak bayar, mau


internetan sepuasnya juga tak masalah, dan


Alhamdulillah kisah ini semuanya ku


tulis dengan internet gratis.


Anehnya setelah aku meninggalkan Saudi


internet tak gratis lagi.


skip...


Yatno telah selesai mandi.


“Bagaimana No… sudah enakan?” tanyaku.


“Iya Alhamdulillah sudah enakan kang, badan tak panas lagi.”


“Ya moga-moga tak panas lagi.” kataku lalu terdengar


Pintu kamar diketuk,


“Masuk tidak dikunci.” kataku.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2