
“Apa ilmu tenaga dalamku masih ada ya kang?”
tanya Yatno.
“Ya aku tak tau, la aku sendiri tak pernah
belajar ilmu begituan, tenaga dalam juga tak
pernah.” kataku sambil memencet-mencet
keyboard laptop.
“Kalau kita coba bagaimana kang?” tanya Yatno.
“Maksudnya nyoba bagaimana?” tanyaku tak
mengerti.
“Ya kita adu jurus.”
“Wah aku sendiri tak mengerti jurus, gini saja
kamu yang menyerangku, dengan segala jurusmu bagaimana?” tanyaku.
“Ya boleh kang, sampean ndak berdiri saja
kang?” tanya Yatno, karena melihatku duduk di
karpet sambil mainkan laptop.
“Udah serang saja diriku.” kataku.
Yatno mulai memainkan jurusnya, mengitariku, lalu menyerangku tubuhnya melompat
menghantamkan pukulan tangan kosong, tapi
sampai di jarak satu meter dari tubuhku,
tubuhnya seperti menghantam benteng baja, aku masih mainkan laptop, menjawab pesen yang ada di facebook. Yatno membuat ancang-ancang lagi menyerang
dari belakangku, dan sama saja tubuhnya yang melenting menendang kepalaku, lagi-lagi seperti menabrak benteng baja, dan dia bergulingan, berguling-guling menabrak-nabrak tembok kamar.
“Ampuun kanng…, tolong kang aku tak kuaaat..!”
kata Yatno merintih-rintih.
Aku bangkit dan mendekatinya, lalu ku usap
dadanya.
“Bagaimana sudah enakan?” tanyaku.
“Wah khodammu besar sekali kang..,
pelindungmu tak bisa ku tembus, aku sampai
sakit semua.” kata Yatno.
“Ah.. aku tak punya kelebihan apa-apa..” kataku.
“Untung sampean tak membalas pukulanku, kalau membalas aku bisa rontok dadaku.” kata Yatno.
“Ah ada-ada saja.., ini aku mau mulai berangkat kerja, kamu di kamarmu aja ya…!” kataku.
“Iya kang, makasih atas bantuannya.” jawab
Yatno.
Masih banyak waktu, aku jalan kaki menuju
tempat time card, memasukkan kartu absen dan memasukkan pin dan cap jari, memang pabrik dibuat ketat dalam soal absensi sebab dulu cuma dibuat memasukkan absen kartu, jadi banyak orang yang titip temannya untuk team card kan, jadi team card ditambahi cap jari, jadi jari orang tak bisa dipalsu orang lain, orangnya harus tetap datang untuk melakukan cap jari.
Habis team card aku biasa duduk-duduk di
depan kantin untuk sekedar ngobrol dan
merokok bersama teman-teman. Suasananya
sangat ramai, karena semua orang harus team
card kecuali yang sudah kepala bagian atau
insinyur atau manager.
Yono menyapaku dengan senyum ramahnya, Yono kerja di Saudi sudah tujuh tahun, dia aslinya orang Tangerang.
“Mas…, sebenarnya aku pengen main ke kamar mas.., tapi takutnya orangnya sibuk.” katanya.
“Ah gak sibuk, banyak kok yang main, datang aja ke kamar.” kataku
“Iya ada perlu sedikit dengan istri dan anakku.”
katanya.
“Main aja, ntar malem aja ku tunggu.” kataku.
“Hei maas…” kata Umam orang dari Tulungagung.
“Hai juga mas…” balas sapaku.
__ADS_1
Begitulah pagi, kami saling sapa, karena
pekerjaan masing-masing, jarang kami bisa
ketemu, saat pagi itu saat kesempatan kami bisa saling sapa.
Masuk ke ruang kerjaku, tak ada yang
dikerjakan, paling duduk dan mengeluarkan
rokok, menyalakannya, lalu menyalakan internet dan menyapa sahabat internetku.
Seorang berwarga negara Mesir masuk ke
ruanganku,
“Mas ini yang ahli lukis?” tanya lelaki Mesir itu
dengan logat Arab yang cepat.
“Iya…” jawabku singkat. “Ada apa?” aku balik
tanya.
“Mau tidak nanti ke rumahku, mau ku pinta
melukis di rumahku.” katanya.
“Hm… bagaimana ya, aku tak biasa melukis di
rumah seseorang selama di Arab ini, manager
saja yang memintaku melukis di rumahnya ku
tolak.” jelasku.
Orang Mesir itu malah mendekat denganku.
“Maaf mas…, ini permintaan dari istriku yang
mengandung tua, jadi dia minta mas untuk
melukis di rumahku, jadi bukan kemauanku
sendiri.” kata orang Mesir itu.
“Dari mana istrimu kenal dan tau diriku?”
tanyaku heran.
“Dia tau dari mimpinya mas, pokoknya mas ini
rumah, nanti habis kerja biar ku jemput.” kata
orang Mesir itu.
“Ya tak papa kalau begitu.”
skip....
Jam 4 sore pulang kerja orang Mesir bernama
Musadad itu telah menjemputku, setelah mandi aku berangkat ke rumahnya, naik mobilnya, ku
bawa perlengkapan cat dan kuas, sampai di
rumahnya aku diajak makan dulu, sambil
membicarakan mana yang harus ku lukis, aku
hanya melukis pintu, setelah makan ku lukis
dengan cepat pintunya. Sebentar baru melukis
Musadad mengeluarkan minuman,
“Wah sebentar sudah jadi bagus.” katanya di
sela aku melukis. “Oh ya mas ini di Indonesia
seorang ustadz ya?”
“Kata siapa?” tanyaku.
“Banyak kok yang membicarakan, bahkan di sini juga banyak yang telah minta dido’akan.” kata Musadad.
“Ah tidak juga, aku hanya seorang murid
toreqoh, cuma mungkin guruku orang yang
banyak kelebihannya.” jelasku.
“Kekasih Alloh ya gurunya, waliyulloh gitu?”
tanya Musadad.
“Tak tau juga, sebab guruku tak pernah
sekalipun mengaku sebagai wali, jadi aku juga
__ADS_1
tak tau, apalagi la ya’riful wali ilal wali, tak akan
tau wali kecuali wali.” jelasku.
“Mari mas diminum jus nya.” kata Musadad
mempersilahkanku minum.
“Aku banyak membaca di banyak kitab, para guru toreqoh itu orang-orang yang selalu diijabah do’anya.” kata Musadad. “Misal seperti Syaikh Abdul Qodir Aljailani, Syaikh Junaid Albagdadi, Ibrohim Alkhowas, Syaikh Abu Khasan Assadzili, semua ulama’ besar adalah orang-orang toreqoh.”
“Ya…” jawabku singkat. “Mungkin dalam umum
orang meminta hujan dengan sholat istisqo’, tapi orang toreqoh tidak, jika meminta hujan, ya meminta saja, sebab jiwa, raga, ruh dan hatinya adalah do’a.” kataku.
Tiba-tiba hujan deras sekali turun.
“Wah mas bicara hujan, langsung hujan turun
deras, boleh saya dijadikan murid.” kata
Musadad.
“Menjadi murid toreqoh itu berat, dan harus
tunduk pada guru, bukan soal gurunya itu siapa, tapi karena ilmu yang dari Nabi yang dititipkan
kepada guru, jadi ketundukan pada guru itu
seringkali bertentangan dengan ego diri.”
“Saya siap guru, saya siap tunduk pada guru,
guru memerintahkan apapun saya siap, sebab
guru adalah pembimbing saya…” kata Musadad serius.
“Sudah-sudah saya selesaikan lukisan, nanti jam enam sebelum magrib saya harus segera kembali ke kamar, soalnya ada janji sama orang Indonesia.” kataku.
“Siap guru…” kata Musadad.
Setelah jam enam, aku diantar pulang ke barrak,
“Jika guru mau kemana saja, saya siap
mengantar, jadi guru telpon saja saya.” kata
Musadad yang seorang insinyur komputer.
“Ya nanti kalau mau ke kota aku akan telpon.”
kataku sambil keluar dari mobilnya Musadad.
Sampai di kamar pas magrib. Yatno sudah
menunggu di depan kamar.
“Ada apa lagi?” tanyaku sambil membuka pintu kamar,
“Badan saya panas lagi kang.” kata Yatno.
“Mari sholat magrib dulu, nanti habis sholat ku
buatkan air isian, untuk pagar badanmu.” kataku, yang langsung mengambil air wudhu. Dan kami sholat berjama’ah, selesai sholat ku
buatkan air isian untuk pagar Yatno.
“Ini di pakai mandi, jangan dihanduki, biarkan
kering, air itu pakai di guyuran terakhir, ingat
biarkan kering sendiri.” kataku.
Dan Yatno pun mandi, aku nyalakan laptop,
enaknya kalau internetan tak bayar, mau
internetan sepuasnya juga tak masalah, dan
Alhamdulillah kisah ini semuanya ku
tulis dengan internet gratis.
Anehnya setelah aku meninggalkan Saudi
internet tak gratis lagi.
skip...
Yatno telah selesai mandi.
“Bagaimana No… sudah enakan?” tanyaku.
“Iya Alhamdulillah sudah enakan kang, badan tak panas lagi.”
“Ya moga-moga tak panas lagi.” kataku lalu terdengar
Pintu kamar diketuk,
“Masuk tidak dikunci.” kataku.
__ADS_1
Bersambung....