Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Kecelakaan Bus


__ADS_3

“Ya kalau sudah sampai kontraknya habis di


dunia, ya pasti mati.” kataku bercanda.


“Ini yang mati, orang yang suka menyantetku


kok..” kata Sohib.


“La emang kalau suka menyantetmu gak boleh mati? Ya kalau sudah pada waktunya ya tetep akan mati.” jawabku.


“Ya yang aneh kok yang mati yang pada menyantetku, apa tak aneh?”


“Ya tak aneh, la ndak nyantet kamu, rombongan seBus bisa mati kok kalau kecelakaan nyemplung jurang, itu tandanya kadang orang mati juga bisa rombongan, heheheh…” aku berteori ngawur sambil ngetawai Sohib.


“Eh pengen ketemu Kyai gak?” tanya Sohib.


“Aku ndak tau sekarang Kyai di mana, ya jelas pengen ketemu, aku kan juga muridnya, emang kamu saja, mentang-mentang kamu sudah punya majlis, dan sudah punya banyak murid dan jama’ah banyak, dan aku belum punya.”


“Ayo kalau pengen ketemu, nanti bareng ke Jakarta.” kata Sohib.


“Emang Kyai di Jakarta?”


“Iya.”


“Di mana?” “Di bengkel Macan.” jawab Sohib.


“Ya aku entar malam berangkat.” kataku.


Aku segera menyiapkan tas, rasa rinduku pada


Kyai tak tertahan, aku ijin pada istri malam itu


berangkat.


Ini di tahun 2010 dan cerita masih berlanjut 2012 masih panjang.


Jam sembilan malam aku berangkat ke Ponolawen, perempatan biasa kalau mau ke Jakarta, tapi bus yang berkarcis sudah pada berangkat. Ah terpaksa harus menyetop bus dari arah Semarang, biasanya kadang apes dapat bus yang sudah sesak penumpang, atau dapat bus yang jelek, suka mogok di jalan dan tak layak jalan, ya Indonesia seperti itu memang kenyataannya.


Jakarta-Pekalongan harga tiket biasanya 45 ribu, ada bus berhenti, dan menawarkan arah Jakarta, sebenarnya enakan kalau aku turun terminal Kampung Rambutan, tapi karena adanya terminal Kalideres juga tak apa-apa, memang kalau ke tempat Macan di Bambu Apus enakan ke terminal Kampung Rambutan, tapi tak apa-apalah daridapa nanti makin malam malah tak mendapat bus.


Aku dapat tempat duduk di tengah, semua kursi banyak yang kosong, dan bus lumayan jelek banget, tak ber AC, suaranya berisik, karena kacanya sudah banyak yang lepas, jadi membayangkan kalau seandainya orang Indonesia itu punya jiwa bisnis seperti di luar negeri, pelayanan konsumen itu diutamakan, untuk mendapatkan pelanggan, tapi jiwa orang yang santun telak membalik, seperti nasi kuning yang dibalik dari tumplek di tanah, semuanya kembali ke HATI, orang komunis saja bisa baik hati, kalau hatinya baik, dan orang Islam sekalipun akan jahat kalau hatinya nifak atau munafik.


Sebenarnya untuk berbudi pekerti yang baik itu manusia tak perduli Islam atau bukan Islam, asal dia mengukur dengan dirinya sendiri, maka pasti berahlak baik, suatu perbuatan tingkah laku, jika akan sakit dirinya dibegitukan orang lain, maka pasti orang lain juga sama akan sakit jika dibegitukan, maka tak mau melakukan itu pada orang lain, maka pasti orang akan menjadi baik budi pekertinya. Karena semua manusia itu sama porsinya, dalam rasa sakit dan kecewanya.

__ADS_1


Jika kita itu digigit orang lain, merasa sakit, maka orang lain juga akan sakit jika kita gigit, maka jangan dilakukan pada orang lain, kalau kita ditipu orang lain, tak mau, maka jangan menipu orang lain.


Kalau menggigit mau, digigit tak mau, ya tak beda kita dengan anjing.


Kalau memakan mau dan dimakan tak mau, sama dengan Harimau.


Manusia itu juga mudah ditebak, selalu suka menutupi kekurangannya, dengan menunjukkan apa yang dia tiada dalam kekurangan itu, orang yang keringetnya bau, akan suka memakai pewangi berlebih, orang yang pendek akan suka memakai sepatu berhak tinggi, orang yang minim bahasa arabnya akan suka bicara memakai istilah banyak bahasa arab, orang yang ilmunya cetek, setiap bicara akan mengait-ngaitkan dengan ilmu sare’at, orang yang kepahamannya dangkal akan suka manggut-manggut dan suka tertawa bilateman bicaranya tertawa.


Orang miskin akan bergaya sok kaya. Sebab orang yang tinggi itu tak akan menunjukkan ketinggian tubuhnya, orang yang paham bahasa Arab itu tak perlu menunjukkan kepahamannya, orang yang pinter agama, tak usah bicara juga orang akan tau dari perbuatan wira’inya menjaga dari melanggar hukum agama.


Jadi gampang sebenarnya mengetahui karakter kekurangan seseorang itu di bidang apa.


skip...


Kondektur menghampiriku, ku berikan uang 45 ribu.


“Kurang mas…” kata kondektur itu.


“La berapa?” tanyaku.


“75 ribu.” jawabnya.


“Lho apa sesuai dengan nilai kerusakannya?”


“Ah tak apa-apa.” kataku lalu memberikan uang 30 ribu. Kondektur berlalu, dan aku mengukur, jika terjadi tabrakan aku juga bertempat di tengah, tak apa-apa, pikirku.


Lalu menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, dan memilih tidur. Sampai di tol Cikampek, aku terbangun seperti ada yang membangunkan, lalu aku duduk agak merendahkan kepala, dan


“DAAARRR..!, DuuuAARRR..!” terdengar begitu keras suara tabrakan bus, dengan truk di depan,


Jadi bus menabrak belakang truk, benturan keras sampai 5 kali, kaca depan semua habis, berhamburan, ku dengar kaca beterbangan di atas kepalaku. Kurasa uang 30 ribuku tak akan cukup menutupi kerusakan bus, dan kondektur yang menarik uang padaku terlihat terjepit, tak tau bagaimana kakinya.


Aku sih tak apa-apa jika ditipu atau didzolimi,


Alloh itu maha melihat, maha cepat azabnya.


Sekian waktu menjalani proses perjalanan kok


masih belum bisa membuatku legowo jika dipukul orang, maka aku harus kembali jadi orang gila yang harus mengelilingi tanah Jawa.


Jadi ingat, aku di rumah jualan bensin eceran,


ada orang beli bensin, aku menuang, dan ada

__ADS_1


setetes dua tetes yang jatuh, pembeli bilang,


“Ya aku rugi mas kalau bensinnya diteteskan


gitu.” katanya.


“Ya ndak papa aku ganti.” jawabku, lalu


mengambil bensin seliter dan ku tuang, sebagai ganti setetes dua tetes yang dia keluhkan.


Anehnya tiga hari orang itu sudah tak bawa


mobil, katanya mobilnya hilang ketika diparkir.


Ya kalau dia tau mobilnya akan ditukar dengan


seliter bensin, pasti dia akan menolak mati-


matian waktu ku beri seliter bensin.


skip...


Semua penumpang turun, dan sopir sama


kondektur yang terjepit menjerit-jerit, aku tak


bisa berbuat apa-apa, apalagi aku kalau melihat darah suka mau pingsan.


Mobil derek jalan tol datang, dan bagian depan


bus ditarik baru kondektur bisa dikeluarkan, dan keluar dari bus dalam keadaan dipapah, kaki satunya tak tau patah apa tidak, aku hanya melihat dari jauh saja.


Lalu penumpang disuruh naik bus lagi, dan bus tadi jalan dengan diderek mobil derek. Kami diturunkan di pintu tol, enaknya pas ada bus jurusan Kampung Rambutan, aku segera naik.


Sampai di Kampung Rambutan langsung naik


angkot ke arah Ciracas, dan sampai di Ciracas


dijemput santri ke Bambu Apus, kata murid- murid internetku yang tinggal di dekat situ mau datang menemuiku, ada Budi, Joe, Asenk, dan


entah siapa lagi, aku lupa namanya.


Sampai di Bengkel, Kyai memanggilku ke kamar pribadinya, dan aku diajak makan, diberi nasehat dan diajak makan, juga ditalkin, sejak sepuluh tahun, aku sudah dibai’at lama, tapi sesudah sepuluh tahun baru ditalkin.

__ADS_1


Aku itu murid mau diapakan atau digimanakan Kyaiku, maka aku tak pernah sekalipun mempermasalahkannya, dan tak pernah memikirkan, tak mengejar apa-apa, dan menjalani saja apa yang ada, tak pernah meminta ilmu ini atau itu, dan tak pernah meminta amalan ini atau itu, apapun yang diberikan Kyaiku, akan aku jalankan berulang kali, tak pernah bosan, bukan orang yang suka meminta amalan baru dan amalan lama dilupakan.


__ADS_2