
Tujuan yang satu kemudian menjadi fokus, kecintaan pada dzikir karena kecintaan pada yang didzikirkan, sedetik tak menyebut Alloh rasa hati seperti kosong berlubang, dan sepi lebih sepi dari kuburan yang tak pernah diziarahi.
Sampai aku menemukan guru, Kyaiku yang sekarang, perjalanan panjang itu seperti menemukan jawab, apa yang ku perjuangkan dalam proses yang panjang, ternyata telah dirangkum dalam paket-paket tertentu, dan dzikirnya telah tertulis dengan rapi, tak perlu susah melewati proses panjang sepertiku,
Makanya siapa yang mengamalkan amalan yang ku beri, dan sesuai petunjuk yang telah diijazahkan Kyai ku padaku, akan mendapat anugerah Alloh seperti yang dianugerahkan padaku.
Memang menjadi suatu amalan yang simpel dan tak neko-neko, tapi tetap hidayah itu di tangan Alloh, walau kelihatan sederhana di mataku, juga belum tentu mudah di mata orang lain, sebab ada unsur hidayah di dalamnya.
Aku yang menjalankan pencarian panjang, dan menemukan hasil dari proses simpel yang diberikan guruku, tak perlu lagi susah melatih bertahun-tahun, malah sepertinya kadang membuat orang tak percaya, jika akan menjalankannya, karena sebuah proses begitu mudahnya, itu juga yang kadang menjadi kendala seseorang tak yakin dengan hasil yang akan diperoleh.
Sebab masak semudah itu untuk menjadi orang utama, jadinya timbul keraguan karena masih mengukur dengan kemungkinan dan itung -itungan matematika.
Kadang aku dengan sengaja membuat pembuktian-pembuktian pada teman-teman, akan betapa do’a diijabah itu bukan rekayasa, bukan isapan jempol saja, jika ada yang sakit ayo aku obati, gratis dengan do’a, dan itu bukan untuk dianggap sakti, sebab aku sendiri hanya berdo’a, Allohlah yang waidza marid’tu fahua yasmin, yang menyembuhkan segala penyakit jika kita sakit, Allohlah khoirorroziqin, Allohlah yang paling baik pemberi rizqi, itu kita buktikan, kita praktekkan kenyataannya bersama, agar iman kita menjadi iman yang haqul yaqin, kayakinan yang tak tergoyahkan.
Skip...
Tiba-tiba aku amat kangen dengan Kyai, aku lalu menanyakan ke santri yang aku tau nomer hp nya, di mana keberadaan Kyai, dan setelah menunggu agak lama, karena bertemu Kyai sedang dibatasi, Kyai sedang dalam ujlah dan tak menemui siapa saja.
Aku diijinkan bertemu tapi harus menunggu dua hari di Ci*******, dan diperintah tidur dulu di kuburan Ci******, yang sangat angker, orang kampung saja biasanya siang hari tak berani ke kuburan angker itu sendirian, dan kuburannya juga terletak di hutan, tidur di kuburan di tengah hutan, ya biasa saja, karena ketakutan itu hanya milik orang yang tak ada iman kecuali senyala ujung lidi yang terbakar.
Aku pun berangkat ke Pandeglang, dan bermalam di makam. Tapi baru semalaman kami nginep di kuburan, Kyai sudah menyuruh orang menjemput kami, untuk bertemu.
Dan kami meluncur ke tempat Kyai tinggal, ternyata di rumah orang China yang masuk Islam, Ethnis Tionghoa mualaf, dan aku beserta teman-teman pun tinggal di rumah itu, yang ku rasakan betapa walau mereka orang China aku merasakan sinar keikhlasan di hati mereka memancar ke setiap gerak gerik mereka mengurus kami para santri Kyai, mereka begitu bersemangat menyediakan saur dan buka kami, dan memberi kejutan-kejutan bingkisan yang membuat hatiku merasa amat jauh dari keikhlasan mereka.
Pantesan Kyai yang bisa membaca hati orang lain mengambil keputusan untuk tinggal di rumah orang itu. Dan kami dianggap seperti saudara sendiri, tentu saja Kyai tinggal di situ, berkah Kyai ku juga seperti matahari yang menyinari daun, manusia juga hewan tanpa membeda- bedakan.
__ADS_1
Namun sayang, saat ini Kyai sedang sakit, dan sakitnya kali ini bukan asal sakit biasa, tapi sakit karena disantet, keberadaan Kyai sangat dirahasiakan, sehingga tak bisa setiap orang bisa dengan seenaknya menemui beliau. Kyai memanggilku ke dalam ruangan pribadi yang disediakan untuknya, aku duduk takdzim mendengar uraiannya.
“Kyai sedang sakit Ian…, karena dikeroyok oleh
banyak tukang santet seantero Indonesia, yang ada sembilan ratusan tukang santet lebih, jika
seandainya Kyai tolak, maka sungguh Kyai tak
enak sama Alloh, baru diberi cobaan seperti ini, masak Kyai tak mau, jadi semua santet Kyai
terima, Kyai biarkan masuk ke tubuh, agar bisa
menjadikan Kyai makin dekat dengan Alloh,
sekarang tugasmu, juga tugas santri yang lain,
“Iya Kyai… saya siap.” jawabku, “Dengan segenap kemampuanku.”
“Ian.., sekarang kamu obati Kyai, dengan segala daya yang kamu miliki, jika Kyai menyembuhkan diri sendiri amatlah mudah, tapi ini saatnya murid menunjukkan ketaatan dan keperdulian pada seorang guru, sekarang saatmu membuktikan darma baktimu.”
“Murid siap Kyai.., mohon Kyai selalu membimbing murid, agar murid bisa memberikan yang terbaik.” kataku.
“Kau tariklah panas di tubuhku, tubuhku rasanya seperti direbus dan dibakar dengan api.” kata Kyai.
Aku pun mulai mengusahakan kesembuhan Kyai dengan caraku, yang diajarkan Kyai, setiap kali tanganku kubuat menarik kekuatan jahat yang mengeram di badan Kyai, maka tanganku sampai sebatas pergelangan terasa panas kayak orang kena cabe. Juga lenganku agak memerah, karena panasnya.
__ADS_1
Sementara dari pori-pori Kyai merembes keluar keringat yang bercampur darah, sehingga jika diusap dengan tisu maka di tisu akan ada bekas darah bening, karena keringat yang bercampur darah, aku tak kuasa membayangkan, rasanya disantet dikroyok
ratusan orang, aku sampai meneteskan air mata, jika membayangkan hal seperti itu.
“Ya Alloh… abdi minta diberi kekuatan untuk
sabar ya Alloh…” suara Kyai menahan sakit yang dideritanya. Terdengar berulang-ulang.
Sekali waktu pakaian dan sarung yang Kyai pakai harus ganti karena sudah basah oleh keringat, keringat itu berbau kelabang juga kalajengking, dan kasur juga bawahnya diberi
koran sebentar-sebentar diganti, karena telah
basah oleh keringat, sementara aku yang bagian menarik panas di tubuh Kyai, sebentar- sebentar tanganku yang memerah kepanasan ku tempel ke lantai untuk menetralisir panas dengan kekuatan inti bumi, jika aku lena sedikit, dan tertidur dalam dzikir, maka aku terjengkang, terhantam kekuatan yang tak terlihat.
“Kyai…, biar saya memagar rumah ya…” kataku.
“Ya apapun yang kau anggap perlu dan bisa, ini sudah menjadi tanggung jawab santri… aduuh… ya Alloh beri hamba kuat menjalani…” jawab
Kyai.
Aku pun beranjak, keluar dari kamar dan
menyiapkan pagaran. Setelah selesai, maka pagar kerikil ku tanam di setiap sudut rumah. Setelah ku tanam, suasana agak mereda, tapi hanya untuk sehari dua hari, begitu banyaknya yang menyantet, pageranku jebol, bahkan tembok luar rumah, terhantam ambrol, sudah tiga tembok yang ambrol, mau dikatakan tak masuk akal, kenyataannya terjadi.
Kadang rumah kayak digoncang gempa, dan aku terjengkang terhantam kekuatan yang tak
__ADS_1
terlihat.
Bersambung...