Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Kisah pilu Nyai Kun


__ADS_3

Keadaan masih sunyi, aku tak melihat bayangan putih tadi, kulihat gerobak tukang bakso yang memang biasa mangkal, orang-orang memanggilnya Wakman, kulihat dia masih duduk di plester regol, sambil menghisap rokoknya,,


Tiba-tiba ia membuang puntung rokok yg hampir habis telah disedotnya lalu dengan segera


menginjak dengan sendalnya, dengan segera beranjak ke gerobak baksonya.


“Iiih mrinding… ada apa ini..?” keluhnya.


Dan Wakman mendorong gerobak baksonya


berjalan, saat itulah aku melihat perempuan baju putih bertengger di atas gerobak bakso,


“Hei siapa kau…!?” bentakku.


Perempuan itu kaget dan melayang pergi.


Dengan suara ketawa yang menggidikkan bulu roma. Aku pun segera mengejar, ah pasti ini kuntilanak…


Dia melesat ke arah rumah salah seorang


pengasuh pesantren. Karena melayangnya pelan, akupun dengan mudah menyusul, dan


menghadangnya.


“Huu….huuu… jangan tangkap aku… huu..” dia


menangis.


“Aku tak bermaksud menangkapmu, tapi aku


hanya ingin tau kau ini siapa?” tanyaku dengan lembut.


Dia menghentikan tangisnya, memandangku, aku dipandangnya begidik juga, perempuan ini


sungguh menyeramkan sekali, jika aku bukan


sukma mungkin aku telah lari pontang-panting sekencang-kencangnya.


Rambut perempuan ini awut-awutan, dan di sana-sini nggimbal lengket oleh tanah, sementara,wajahnya putih, tanpa darah, di sekitar matanya menghitam, dan matanya melotot keluar tanpa cahaya, pipi kanan kirinya berlubang, sehingga giginya terlihat, dan ada ulat-ulat yang keluar dari pipi…putih, kecil-kecil menggeliat..


“Kau ini siapa nyai?” tanyaku lagi.


“Aku ini istri kamituwo G****.” katanya tanpa


menggerakkan giginya, sehingga suaranya


seperti suara yang teramat jauh, tapi jelas di


telingaku.


Aku mengingat-ingat nama kamituwo G*****,


ingatanku pun tertuju pada sumur Gerot, yaitu


sumur yang dibangun sesepuh desa dulu, ada


enam sumur penjuru desa, yang dibuat oleh


pendiri desaku.


Enam sumur juga disebut sumur


gede. Karena memang sumbernya teramat besar, dan menjadi tumpuan mengambil air bagi semua penduduk yang kekeringan.


Dulu sumur-sumur itu selalu diadakan ngunduh sajen, yaitu acara nanggap wayang untuk


mengucap terimakasih pada danyang penunggu desa, tapi setelah disadarkan oleh kyai Fatah dan kyai Sidik maka acara-acara itu pun dihilangkan.


Kamituwo G*****, aku berpikir.


Dan ada kamituwo ya adanya di kampung Degan,


“Sampean dari mana nyi? Dari kampung apa?…”


“Aku dari kampung Degan…” suaranya masih

__ADS_1


tetap terdengar dalam.


“Kok sampean klambrangan gak karu-karuan


begini nyi? Boleh aku tau sebabnya?”


Perempuan ini menjerit melengking kemudian dia menangis hahahuhu…


Aah perempuan.. jadi hantu masih juga cengeng.


Aneh begitu saja kisah perempuan di depanku


ini, terpampang runtut seperti melihat filem


layar lebar, namanya juga alam gaib, jadi serba


gaib, nyleneh dan tak masuk akal.


Perempuan ini bernama Sunti. Seorang ledek


dari daerah Tambak Boyo, untuk mendapatkan


penglaris maka dia mencari orang yang mumpuni dalam memasang susuk pengasihan, ada orang yang menyarankannya ke tempat kamituwo G*****, maka pergilah Sunti ke tempat kamituwo, yang umurnya lebih pantas jadi ayahnya, Sunti umur delapan belas tahun dan kamituwo umur empat puluh lima tahun.


Saat itu kamituwo adalah duda, yang istrinya


minta cerai, karena tak tahan dengan


kesenangan suaminya yang suka main perempuan.


Memang ilmu kejawen kamituwo terkenal ampuh, dari ilmu kekebalan, aji kesantikan, sirep, gendam, pasang susuk pengasihan sampai aji pelet, sehingga jangankan perempuan yang masih perawan, yang sudah punya suamipun bisa dibuat meninggalkan suaminya.


Melihat Sunti yang cantik, menik menik, tentu


saja ki g***** langsung jatuh hati, maka ketika


tau gadis itu meminta susuk pengasihan, maka ki g***** pun memberikan susuk yang terbaik, tapi juga memelet Sunti dengan ilmu pelet yang paling hebat.


(maaf, sebenarnya ini tak pantas diceritakan,


tapi semoga menjadi pelajaran untuk tidak


Pelet yang dipakai ki g**** adalah kulit k******** wanita perawan yang meninggal di rebu wage, Jika ada perempuan meninggal di saat itu maka ki gerot malamnya akan membongkar makamnya dan menguliti ke******* mayat, setelah itu, ke******* tadi dikeringkan, dan bila dibutuhkan akan dicuil sedikit dan dicampurkan dalam


minuman, dengan mantra-mantra.


Malang nasib Sunti, dia meminum teh yang telah dicampur ramuan pelet yang ganas itu, seketika gadis itu mabuk kepayang pada ki g****, dia seperti telah minum bergalon arak cinta.


Maka ketika ki g****** menuntunnya ke kamar dan mengajaknya berzina, Sunti tak kuasa


menolaknya.


Begitu juga ketika Sunti telah pulang ke


rumahnya dan ki g***** melamarnya, maka Sunti pun ho-oh aja.


Setelah menjadi istri ki g****, Sunti masih


menjadi penari ledek, karena didukung oleh


susuk ki g***** yang ampuh, Sunti pun menjadi


ledek yang laris dengan bayaran tinggi, dan


uangnya semua masuk ke kantong ki g******,


membuatnya jadi orang terkaya di kampung


Degan.


Tapi sesuatu yang dilakukan di luar sunatulloh


atau aturan hidup yang diatur oleh Sang


Pencipta, maka adalah kerusakan.

__ADS_1


Alloh Taala melarang sesuatu, bukan untuk


kepentingannya, tapi untuk kehidupan tentram


manusia, sebab sesuatu dilarang itu karena


bahayanya lebih besar dari manfaatnya.


Seperti memasang susuk, karena Alloh


melarangnya, maka itu adalah perbuatan yang


membahayakan diri, dunia dan akhirat.


Disamping tidak bersyukur atas anugrah Alloh,


juga terlalu tak menerima kodrat yang telah


Alloh berikan.


Satu ketika, seperti biasa, Sunti ditambah lagi


susuk intan di dagunya oleh ki g*****.


Awalnya tak apa-apa, tapi selang tiga hari dagu Sunti membiru, dan Sunti kejang-kejang.


Ki g***** pontang-panting, membawa Sunti ke


rumah sakit, tapi pihak rumah sakit tak tau


penyakitnya..


Sementara Sunti sudah berulang kali tak sadar, dan akhirnya Sunti meninggal dengan wajah


lebam membiru.


Hari itu juga Sunti dikuburkan, dengan


sederhana. Namun esoknya semua orang kampung Degan geger karena melihat makam Sunti kosong.


Dan mayatnya hilang tak tau kenapa.


Awalnya yang tau adalah penggembala kambing yang biasa menggembala di area


pemakaman. Ketika dia tau bahwa kubur Sunti


dibongkar orang.


Sebenarnya apakah yang terjadi? Malam itu


setelah siang tadi Sunti dikuburkan, kira-kira


jam satu dinihari, nampak pekuburan Sunti


bergerak-gerak, asap tipis bau daging terbakar


menyeruak, tiba-tiba, “bleg..!”


Terdengar ledakan seperti petasan dalam tanah, dan terlempar tubuh Sunti, seperti gedebok pisang tapi langsung melayang pergi.


Sementara itu ketika jam menunjukkan jam tiga seperempat, seorang perempuan tua tergopoh-


gopoh, berjalan melintasi jalan raya dekat


pemakaman, orang biasa memanggilnya Nyiyam, seorang dukun beranak yang mendapat panggilan di desa Karanglor, dia harus melewati pekuburan Degan, ada rasa merinding di tengkuk Nyiyam.


Perempuan umur enam puluh tahunan itu


menguatkan hati, memang dia rasa malam ini


terasa sunyi, suara jengkrik aja tak ada, atau


suara katak setidaknya untuk menghiburnya.


Hanya suaru burung hantu, kadang dari jauh

__ADS_1


terdengar satu, malam yang teramat mencekam, bulan di atas pun yang tinggal seujung kuku seperti diselimuti warna hitam, walau tak ada mendung, kabut tebal mulai turun, walau tak menahan jarak pandang, tapi bagi perempuan tua setangguh Nyiyam, itu bukan apa-apa, walau sebagai manusia, rasa takut seperti menggelitik perasaannya.


Bersambung...


__ADS_2