
Keadaan masih sunyi, aku tak melihat bayangan putih tadi, kulihat gerobak tukang bakso yang memang biasa mangkal, orang-orang memanggilnya Wakman, kulihat dia masih duduk di plester regol, sambil menghisap rokoknya,,
Tiba-tiba ia membuang puntung rokok yg hampir habis telah disedotnya lalu dengan segera
menginjak dengan sendalnya, dengan segera beranjak ke gerobak baksonya.
“Iiih mrinding… ada apa ini..?” keluhnya.
Dan Wakman mendorong gerobak baksonya
berjalan, saat itulah aku melihat perempuan baju putih bertengger di atas gerobak bakso,
“Hei siapa kau…!?” bentakku.
Perempuan itu kaget dan melayang pergi.
Dengan suara ketawa yang menggidikkan bulu roma. Aku pun segera mengejar, ah pasti ini kuntilanak…
Dia melesat ke arah rumah salah seorang
pengasuh pesantren. Karena melayangnya pelan, akupun dengan mudah menyusul, dan
menghadangnya.
“Huu….huuu… jangan tangkap aku… huu..” dia
menangis.
“Aku tak bermaksud menangkapmu, tapi aku
hanya ingin tau kau ini siapa?” tanyaku dengan lembut.
Dia menghentikan tangisnya, memandangku, aku dipandangnya begidik juga, perempuan ini
sungguh menyeramkan sekali, jika aku bukan
sukma mungkin aku telah lari pontang-panting sekencang-kencangnya.
Rambut perempuan ini awut-awutan, dan di sana-sini nggimbal lengket oleh tanah, sementara,wajahnya putih, tanpa darah, di sekitar matanya menghitam, dan matanya melotot keluar tanpa cahaya, pipi kanan kirinya berlubang, sehingga giginya terlihat, dan ada ulat-ulat yang keluar dari pipi…putih, kecil-kecil menggeliat..
“Kau ini siapa nyai?” tanyaku lagi.
“Aku ini istri kamituwo G****.” katanya tanpa
menggerakkan giginya, sehingga suaranya
seperti suara yang teramat jauh, tapi jelas di
telingaku.
Aku mengingat-ingat nama kamituwo G*****,
ingatanku pun tertuju pada sumur Gerot, yaitu
sumur yang dibangun sesepuh desa dulu, ada
enam sumur penjuru desa, yang dibuat oleh
pendiri desaku.
Enam sumur juga disebut sumur
gede. Karena memang sumbernya teramat besar, dan menjadi tumpuan mengambil air bagi semua penduduk yang kekeringan.
Dulu sumur-sumur itu selalu diadakan ngunduh sajen, yaitu acara nanggap wayang untuk
mengucap terimakasih pada danyang penunggu desa, tapi setelah disadarkan oleh kyai Fatah dan kyai Sidik maka acara-acara itu pun dihilangkan.
Kamituwo G*****, aku berpikir.
Dan ada kamituwo ya adanya di kampung Degan,
“Sampean dari mana nyi? Dari kampung apa?…”
“Aku dari kampung Degan…” suaranya masih
__ADS_1
tetap terdengar dalam.
“Kok sampean klambrangan gak karu-karuan
begini nyi? Boleh aku tau sebabnya?”
Perempuan ini menjerit melengking kemudian dia menangis hahahuhu…
Aah perempuan.. jadi hantu masih juga cengeng.
Aneh begitu saja kisah perempuan di depanku
ini, terpampang runtut seperti melihat filem
layar lebar, namanya juga alam gaib, jadi serba
gaib, nyleneh dan tak masuk akal.
Perempuan ini bernama Sunti. Seorang ledek
dari daerah Tambak Boyo, untuk mendapatkan
penglaris maka dia mencari orang yang mumpuni dalam memasang susuk pengasihan, ada orang yang menyarankannya ke tempat kamituwo G*****, maka pergilah Sunti ke tempat kamituwo, yang umurnya lebih pantas jadi ayahnya, Sunti umur delapan belas tahun dan kamituwo umur empat puluh lima tahun.
Saat itu kamituwo adalah duda, yang istrinya
minta cerai, karena tak tahan dengan
kesenangan suaminya yang suka main perempuan.
Memang ilmu kejawen kamituwo terkenal ampuh, dari ilmu kekebalan, aji kesantikan, sirep, gendam, pasang susuk pengasihan sampai aji pelet, sehingga jangankan perempuan yang masih perawan, yang sudah punya suamipun bisa dibuat meninggalkan suaminya.
Melihat Sunti yang cantik, menik menik, tentu
saja ki g***** langsung jatuh hati, maka ketika
tau gadis itu meminta susuk pengasihan, maka ki g***** pun memberikan susuk yang terbaik, tapi juga memelet Sunti dengan ilmu pelet yang paling hebat.
(maaf, sebenarnya ini tak pantas diceritakan,
tapi semoga menjadi pelajaran untuk tidak
Pelet yang dipakai ki g**** adalah kulit k******** wanita perawan yang meninggal di rebu wage, Jika ada perempuan meninggal di saat itu maka ki gerot malamnya akan membongkar makamnya dan menguliti ke******* mayat, setelah itu, ke******* tadi dikeringkan, dan bila dibutuhkan akan dicuil sedikit dan dicampurkan dalam
minuman, dengan mantra-mantra.
Malang nasib Sunti, dia meminum teh yang telah dicampur ramuan pelet yang ganas itu, seketika gadis itu mabuk kepayang pada ki g****, dia seperti telah minum bergalon arak cinta.
Maka ketika ki g****** menuntunnya ke kamar dan mengajaknya berzina, Sunti tak kuasa
menolaknya.
Begitu juga ketika Sunti telah pulang ke
rumahnya dan ki g***** melamarnya, maka Sunti pun ho-oh aja.
Setelah menjadi istri ki g****, Sunti masih
menjadi penari ledek, karena didukung oleh
susuk ki g***** yang ampuh, Sunti pun menjadi
ledek yang laris dengan bayaran tinggi, dan
uangnya semua masuk ke kantong ki g******,
membuatnya jadi orang terkaya di kampung
Degan.
Tapi sesuatu yang dilakukan di luar sunatulloh
atau aturan hidup yang diatur oleh Sang
Pencipta, maka adalah kerusakan.
__ADS_1
Alloh Taala melarang sesuatu, bukan untuk
kepentingannya, tapi untuk kehidupan tentram
manusia, sebab sesuatu dilarang itu karena
bahayanya lebih besar dari manfaatnya.
Seperti memasang susuk, karena Alloh
melarangnya, maka itu adalah perbuatan yang
membahayakan diri, dunia dan akhirat.
Disamping tidak bersyukur atas anugrah Alloh,
juga terlalu tak menerima kodrat yang telah
Alloh berikan.
Satu ketika, seperti biasa, Sunti ditambah lagi
susuk intan di dagunya oleh ki g*****.
Awalnya tak apa-apa, tapi selang tiga hari dagu Sunti membiru, dan Sunti kejang-kejang.
Ki g***** pontang-panting, membawa Sunti ke
rumah sakit, tapi pihak rumah sakit tak tau
penyakitnya..
Sementara Sunti sudah berulang kali tak sadar, dan akhirnya Sunti meninggal dengan wajah
lebam membiru.
Hari itu juga Sunti dikuburkan, dengan
sederhana. Namun esoknya semua orang kampung Degan geger karena melihat makam Sunti kosong.
Dan mayatnya hilang tak tau kenapa.
Awalnya yang tau adalah penggembala kambing yang biasa menggembala di area
pemakaman. Ketika dia tau bahwa kubur Sunti
dibongkar orang.
Sebenarnya apakah yang terjadi? Malam itu
setelah siang tadi Sunti dikuburkan, kira-kira
jam satu dinihari, nampak pekuburan Sunti
bergerak-gerak, asap tipis bau daging terbakar
menyeruak, tiba-tiba, “bleg..!”
Terdengar ledakan seperti petasan dalam tanah, dan terlempar tubuh Sunti, seperti gedebok pisang tapi langsung melayang pergi.
Sementara itu ketika jam menunjukkan jam tiga seperempat, seorang perempuan tua tergopoh-
gopoh, berjalan melintasi jalan raya dekat
pemakaman, orang biasa memanggilnya Nyiyam, seorang dukun beranak yang mendapat panggilan di desa Karanglor, dia harus melewati pekuburan Degan, ada rasa merinding di tengkuk Nyiyam.
Perempuan umur enam puluh tahunan itu
menguatkan hati, memang dia rasa malam ini
terasa sunyi, suara jengkrik aja tak ada, atau
suara katak setidaknya untuk menghiburnya.
Hanya suaru burung hantu, kadang dari jauh
__ADS_1
terdengar satu, malam yang teramat mencekam, bulan di atas pun yang tinggal seujung kuku seperti diselimuti warna hitam, walau tak ada mendung, kabut tebal mulai turun, walau tak menahan jarak pandang, tapi bagi perempuan tua setangguh Nyiyam, itu bukan apa-apa, walau sebagai manusia, rasa takut seperti menggelitik perasaannya.
Bersambung...