
“Kaukah itu Evo?” suara perempuan yang ada di dalam tubuh Jauhari bertanya..
“Evo Yulianti Dousand.”
Evo beringsut mundur, wajah Jauhari yang hitam, jadi makin jelek saja, mungkin itu yang membuat Evo mundur, aku jadi berpikir kenapa tadi yang jadi medium bukan aku saja, setidaknya lebih cakep daripada Jauhari.
“Tak mungkin, mama sudah meninggal…, tak mungkin.” Evo beringsut mundur.
“Anak durhaka, setelah ibumu meninggal, kau tidak mengakui ibumu, aduuh..” tubuh Jauhari terjengkang lagi, seperti ada yang menyambuk punggungnya.
Kyai terlihat mengangkat tangan, gestur tubuhnya seperti menahan seseorang yang tak terlihat supaya tidak memukul lagi, dan seketika Jauhari pun tak mengaduh lagi.
“Apa buktinya kau mamaku?.” tanya Evo masih
ragu.
Lalu suara perempuan itu nerocos (berbicara panjang lebar) menceritakan Evo dari kecil sampai saat mamanya meninggal, tentang Evo yang suka bubur kacang hijau, tak pernah mau minum susu, sejak kecil rambutnya suka dikepang. Belum sampai ceritanya habis, Evo menjerit mau menubruk Jauhari tapi segera
ditahan oleh ibu angkatnya.
“Oh mama…” tangis Evo menyayat,
“Bagaimana keadaan mama di sana?"
"huhuu… huuu,, huu,,Oh aku disiksa terus… dicambuk teru-menerus, menyesalpun percuma, kenapa kau tak pernah mendoakan ibumu ini.”
“Aku selalu mendoakan ibu…”
“Tapi doamu tak sampai, kenapa kau tak masuk
__ADS_1
agama Muhammad, aku tak kuat lagi disiksa…”
“Mama…huhu..” Evo masih menangis.
“Aku pergi anakku, waktu ku tak banyak …masuklah agamanya Muhammad..”
Tiba-tiba tubuh Jauhari melemah, dan ambruk.
“Mama… mama jangan tinggal Evo ma…Mama.”
Evo menjerit lalu tubuhnya gelosor pingsan, lama Evo pingsan, sementara Jauhari telah lama sadar, tapi masih kelihatan bingung, kayak orang habis dinyalain petasan tepat di depan hidungnya.
Sementara setelah Kyai menyalurkan tenaga prana dari jauh, Evo mulai bergerak-gerak sadar, karena peristiwa itu Evo kemudian masuk Islam, mempelajari doa anak kepada orang tuanya. Setelah sholat ashar, keluarga Evo meninggalkan pesantren, wajah Evo sudah tak
sedih lagi, nampak jelas ada gurat-gurat harapan yang kuat di dasar hatinya, sehingga wajah cantiknya berpendaran.
“Feb, dipanggil Kyai..” suara Majid yang wajahnya melongok dari balik gedek yang sebatas dada, pemisah dapur dengan dunia luar, yang memanggil Feb cuma Majid, dia adalah teman sekolahku di SMA. Karena tau aku di pesantren lalu dia menyusul, Majid sama denganku dari Tuban cuma beda kecamatan, dia dari Bangilan, perawakannya biasa malah agak pendek, tingginya setelingaku, wajahnya
paspasan, ganteng kagak, jelek ia, karena wajahnya berlubang-lubang bekas jerawat batu, tapi memang hobynya mencet jerawat, kalau sudah mencet jerawat, maka ia akan berusaha sekuat mungkin supaya jerawat itu kena, kalau sudah kena, senangnya seperti mendapatkan harta karun terpendam.
“Gantiin di dapur ya?”
“Udah sono, biar aku yang ngurusin”
Akupun segera melangkah meninggalkan dapur menuju tempat Kyai menerima tamu. Nampak di situ juga ada Mujaidi, rupanya dipanggil juga, Mujaidi adalah santri dari Bekasi. Sebenarnya awalnya bukan santri, tapi berobat karena kecanduan narkoba, setelah sembuh, kemudian memutuskan menjadi
santri. Mujaidi perawakannya tinggi kurus, aku aja sepundaknya, umurnya masih delapan belasan, bibirnya tebel hitam, sering sariawan, lalu dikelotoki kulitnya, wajahnya agak lonjong, sama dengan Majid, wajah Mujaidi juga berlubang-lubang karena bekas jerawat batu, hobinya sama dengan Majid, memenceti jerawat, kalau Mujahidi sudah memenceti jerawat maka ia akan lupa waktu, lupa makan, bedanya dengan Majid kalau Majid mencet jerawatnya kalau sudah meletus, bekas letusannya diusap-usapin ke tembok, tapi kalau Mujahidi lebih profesional mencetnya aja dia pake kain, sehingga kalau jerawatnya meletus, letusannya tak kemana-mana, kainnya juga dibasahi cairan antiseptic. Peralatan pencet memencet jerawat milik Mujahidi juga lumayan lengkap. Yang aku pernah lihat, ada batu kali, manfaatnya adalah kalau batu dijemur di matahari, dan setelah panas maka ditempelkan, ke jerawat yang belum matang, maka akan segera matang, ada lagi amplas nomer 2000, gunanya untuk mengamplas tempat jerawat yang terlalu dalam. Ada juga jarum jahit, untuk ngorek-ngorek jerawat yang sudah terlalu berakar.
Aku segera duduk di sebelah Mujahidi, yang melemparkan senyumnya kena mataku.
__ADS_1
“Mas Ian.” kata Kyai.
“Iya Kyai.”
“Entar malem, bareng Mujahidi ikut ronda sama orang Pasir Seketi. Mereka membutuhkan bantuan kita, untuk menangkap pencuri yang meresahkan warga.”
Akupun mengiyakan, sambil melirik Pak Lurah dan rombongannya. Maka setelah sholat maghrib, dan menjalankan wirid wajib, aku dan Mujahidi pun berangkat setelah berpamitan kepada Kyai. Gelap mulai merayap, kampung Pasir Seketi dari pesantren jaraknya kira-kira empat kiloan, cuma harus melewati hutan kopi yang panjang serta grumbul-grumbul yang gelap mengerikan, tapi kami menganggapnya biasa, karena memang kami biasa hidup di alam bebas. Jam delapan lebih kami tiba di desa Pasir Seketi. Di hadang pemuda-pemuda desa yang membawa golok, parang.
“Siapa?” tanya pemuda gempal memakai topi
coklat. Di belakangnya berdiri pemuda yang lain siaga.
“Aku Ian.” jawabku keras untuk menghilangkan
kecurigaan. Dan rupanya pemuda itu mengenaliku.
“Oo mas Ian, ayo mas ke rumah Pak Lurah, Pak Lurah sudah menunggu, tadi berpesan kalau mas Ian datang supaya langsung dibawa ke rumah.”
kata pemuda itu seraya menggandengku. Diikuti oleh anggukan hormat dari sepuluh pemuda, di mata mereka memancarkan kekaguman ketika memandangku dan Mujahidi.
Memang kisah pesantren kanuragan Pa****, lereng gunung Putri, sudah menjadi buah bibir, tentang Kyai dan santrinya yang sakti-sakti, itu membuatku bangga sekaligus takut, takut satu saat cerita mereka terbukti, dan kami tak sakti, lemah, tentu akan kecewa mereka dan nama pesantren Pacung hanya isapan jempol belaka. Kami bertiga sampai di rumah Pak Lurah, dan memang di serambi depan Pak Lurah telah menunggu kedatanganku. Melihatku dan Mujahidi datang, Pak Lurah segera menyongsong kedatanganku.
“Ah saya sudah berharap-harap cemas, jangan-
jangan nak mas Ian gak datang, mari-mari.″ kami diajak masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi. Sementara di meja terhidang beraneka macam buah, gorengan, dan entah makanan apa lagi, aku yang tiap hari makan singkong rebus, tentu ingin mencicipi buah semangka yang telah dipotong-potong warnanya ada yang kuning dan merah. Aku melirik Mujahidi, tentu dia juga merasakan apa yang kurasakan, oh benar sekali, kulihat jakunnya naik turun amat cepat. Karena ludah yang ditelannya, dan tanpa sadar dia mengulurkan semangka kuning, aku menyodok kakinya dengan kakiku. Kebetulan Pak Lurah ke dalam sebentar, memanggil istrinya, dan anaknya diminta menyediakan minuman, semangka kuning....
Bersambung...
Jangan lupa like,vote,n koment nya ya sahabat2 yang Budiman.. semuga sahabat2 sehat selalu murah rezeki sekeluarga, Aamiin..
__ADS_1