
“Mari mas makan dulu,” katanya ramah.
“Wah saya sudah menunggu dari tadi, takutnya mengganggu wirid.”
Aku mengulurkan tangan, mengajak kenalan,
“Febrian.” kataku menjabat tangannya.
“Mashur.” ucapnya memperkenalkan diri,
“Sudah ayo makan dulu, ngobrolnya dilanjutkan nanti, sambil makan.” katanya sambil
mengangsurkan piring ke hadapanku, kulihat
sayur terong, ikan bandeng, sambal trasi sebagai lauk, terlihat nenggugah selera dan terasa nikmat dilidah.
“Mas Ian ini musafir ya?” tanyanya.
“Iya.” jawabku sambil menikmati makan yang
nikmat.
“Kok tau aku musafir?” tanyaku.
“Ada seorang pemuda yang dari kemarin telah
menunggu mas di rumahku,” katanya.
“Seorang pemuda?”
“Iya mas, katanya dia mendapat bisikan dari gaib disuruh menunggu mas, pokoknya orang yang ciri-cirinya seperti mas ini, yang akan singgah di mushola ini, itu orangnya masih di rumahku,”
kata Mashur menjelaskan.
“Wah ada apa ya?” tanyaku heran.
“Nanti aja tanya sendiri mas ke orangnya, wah
ayo mas, nasinya nambah lagi.”
Kami makan dengan lahap, hampir satu bakul
kami habiskan berdua, seakan kami ini kenalan lama, di sela-sela makan kami bercanda.
Mashur orangnya supel dan ramah, dia hidup
dengan istri dan dua anaknya, punya pesantren kecil di belakang rumah, yang isinya santri-
santri yang ada sambil sekolah, juga ada yang
sambil kerja. Muridnya cuma 10 orang.
Setelah makan aku diajak menemui seorang
pemuda yang katanya telah menunggu
kedatanganku sejak kemarin di rumah Mashur.
Pemuda itu bernama Ilham, ketika masuk ke
rumah Mashur pandang mataku segera
__ADS_1
menangkap sosok pemuda kurus, ceking, matanya menjorok ke dalam, pertanda telah mengalami berbagai keprihatinan, tapi setelah sebentar mengamati, aku seperti pernah melihat pemuda ini, tapi aku mengingat-ingat sebentar…..
yah pemuda ini pernah ada dalam satu mimpiku, entah 3 bulan atau berapa bulan yang lalu, aku telah melihat masa lalunya tanpa aku tau bagaimana caranya, kami bersalaman, dia
mencium tanganku, ku biarkan saja.
“Ilham.” katanya menyebutkan nama. Aku juga
memperkenalkan namaku.
Aku manggut-manggut kulihat aura hitam menggumpal-gumpal melingkupi tubuhnya, dan aku saat ini benar-benar ingat pada semua mimpiku.
Dalam mimpi itu aku melihat pemuda ini
mempelajari ilmu tanpa guru, jadi dari membaca-baca buku, tanpa pembimbing, dia mengikuti petunjuk buku itu, dia menyepi di salah satu makam yang dikeramatkan, berhari-hari dia menyepi, berpuasa dan menekuni amalan dari buku tersebut,
Entah di hari yang ke berapa, di suatu malam di makam itu, sendiri dia membaca wirid dari buku, dan datanglah orang tua berjenggot panjang,
“Ngger, aku akan memberikan ilmu padamu, tapi kau harus menghentikan salat 5 waktu,
bersediakah kau ngger?” tanya orang tua itu.
Ilham pun manggut. Maka orang tua berjenggot itu memasukkan cahaya dari tapak tangannya ke kepala Ilham.
Persis setelah kejadian itu Ilham tak pernah
sholat, tapi aneh dia bisa mengobati berbagai
penyakit. Waktu terus berlalu Ilham masih aktif duduk di makam keramat itu, sambil membaca amalan dari buku.
Entah yang ke berapa malam, dia didatangi sosok yang menyerupai bung Karno, presiden RI yang pertama, “Ngger Ilham, aku akan memberi ilmu padamu, tapi kau harus mau membakar warung tempat menjual minuman keras di ujung desa.” pesan bung Karno Kw.
betapa tidak, bagaimana harus membakar
sebuah warung minuman? Bagaimana kalau nanti seluruh desa terbakar? Tapi ini perintah
presiden RI, yang akan memberikan ilmu
padanya, tiap malam Ilham merenung, tiap hari dia bengong karena suara bisikan yang
berkecamuk tumpang tindih dalam hatinya.
Malam itu jam 2 dini hari, Ilham telah bertekat,
berangkat dengan motornya dan berbekal bensin 5 liter, dia mendatangi warung bensin di ujung desa, motor dia setandarkan, dia menghampiri warung dan menyiram pinggir dinding warung dengan bensin, korek api dinyalakan dan wus, warung pun terbakar,
Ilham kabur dan mengawasi dari jauh hasil karyanya, dengan seringai puas, sementara api menjilat habis warung dan segala isinya, rumah di sebelah warung pun mulai terjilat api, untung yang punya rumah segera terbangun dan berteriak kebakaran, jadi satu keluarga masih bisa menyelamatkan diri, orang desa mendengar teriakan kebakaran segera berdatangan bahu membahu memadamkan api, walau tak urung rumah di sebelah warung ludes terbakar, tapi api telah dapat dipadamkan.
Pemilik warung, suami istri dan anaknya yang
masih bayi hangus terbakar, tak bisa tertolong
lagi. Orang-orang bertanya-tanya apa
sebenarnya penyebab kebakaran, tapi tak ada
yang tau, Sementara Ilham besok malamnya
menunggu di pemakaman keramat, dan bung
Karno pun datang menyerahkan sebuah keris.
__ADS_1
Setelah mendapat keris itu, Ilham makin sakti,
kebal senjata, dan dia makin serius di
pemakaman keramat, hari-hari berlalu.
Malam itu, Ilham masih tekun membaca amalan, hio telah beberapa kali padam dan dia nyalakan hio yang baru, tiba-tiba tercium bau wewangian teramat harum menyeruak memenuhi seantero pemakaman keramat,
Baunya amat harum, sehingga membangkitkan birahi, dan perlahan tapi pasti, nampak bentuk perempuan cantik di depan Ilham, cantik tiada terkira, tak pernah Ilham melihat wanita cantik sesempurna perempuan muda yang ada di depannya, biar kata semua artis Indonesia disatukan lalu dikareti, masih tak mampu menandingi perempuan ini,
Cantiknya sulit digambarkan, sampai biasanya
Ilham yang tak begitu doyan cewek, kali ini
jakunnya naik turun kayak gergaji, seperti
kehausan yang teramat sangat di
tenggorokannya, kayak jakun itu kurang oli.
“Apakah kau tak ingin jadi suamiku? Dan tak
ingin kaya?” tanya perempuan itu, suaranya
merdu, seperti alat musik petik yang dipetik
dengan hati-hati takut putus senarnya, atau
suling yang ditiup dengan nafas yang telah
berlatih menemukan nada terhalus dari suara,
“Ho-oh mau… mau.. mau..” kata Ilham air liurnya sampai membanjir tak karuan, apalagi melihat
baju biru tipis yang membungkus tubuh si perempuan, sehingga memperlihatkan samar
pemandangan yang membangkitkan birahi.
“Tapi kau harus memenuhi syaratku.” kata
perempuan itu, sambil melenggak lenggok di
depan Ilham, yang membuat pemuda itu makin empot-empotan.
“Apa…. apa syaratnya..?” tanya Ilham dadanya
sesek, ampek nahan nafsu yang membuncah.
“Syaratnya kau harus membakar pasar
kecamatan.” kata perempuan itu dan Ilham
terlongong-longong sampai perempuan itu sirna dari hadapannya.
Setelah pulang dari makam keramat, Ilham pun linglung, membakar pasar kecamatan Bangilan? Bagaimana mungkin? Tempat orang-orang menggantungkan nafkah keluarga, bahkan ibunya
lIlham berjualan pakaian di pasar itu.
Tapi ketika terdengar bisikan merdu merayu, dan tercium harum memabukkan, tanpa sadar Ilham pun memacu motornya ke pasar yang berjarak dua kiloan dari rumahnya dengan membawa jurigen bensin, tapi begitu sampai di pasar, kesadaran dan nuraninya menolak, maka dia pun linglung,,
Bersambung....
__ADS_1