Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Ibu Dewi


__ADS_3

Aku masih melakukan adu kekuatan, dan saling serang dengan petir, sampai aku akhirnya terdesak keluar pagar.


Ah percuma juga ku lawan, tak ada manfaatnya, lebih baik aku pergi.


Aku pun segera pergi, melesat ke udara, dan melayang-layang pelan meninggalkan tempat itu, sambil melihat kota dari atas.


Sampailah aku di persawahan, di mana banyak pohon pisang, dan kembang krokot, aku berhenti sebab mendengar ada yang mengucap salam.


“Assalamu alaikum..” ku dengar suaranya serak seperti suara perempuan tua.


“Wa alaikum salam…, siapa ya..?” tanyaku sambil berhenti berdiri di atas daun pisang.


“Aku Ibu Dewi… aku minta kalau tuan mengirim fatekhah,mbok ya aku dikirimi juga.” katanya…


Aku tak sempat menanyakan lebih lanjut, karena adzan subuh sudah berkumandang, dan aku harus segera pulang untuk mengimami sholat subuh di masjid.


Siangnya aku berpikir, siapa gerangan


perempuan itu yang memintaku mengirimi


fatekhah? Aku hanya melihat sebuah rumah,


berundak-undak, dindingnya dari kayu, tanpa cat. Rumah siapa? Kok dia tau keberadaan


sukmaku, bahkan dari dalam rumah, tentu dia


jika seorang manusia, maka pasti manusia yang mempunyai ilmu tinggi,


Sebab jarang-jarang aku menemukan seseorang yang bisa melihatku ketika meraga sukma, jika dia bisa melihat sungguh berarti bukan orang sembarangan.


Baiknya nanti malam aku datangi dia, mungkin


bisa ku perjelas siapa sesungguhnya dia.


Maka malamnya lagi aku meraga sukma lagi, dan langsung menuju rumah itu. Rumah yang di depannya ada bunga kerokot.


Aku langsung turun di pekarangan rumah yang diratakan dengan kerikil, dan ditumbuhi rumput di sela-sela kerikil.


“Assalamualaikum…” ucapku dari luar rumah.


“Waalaikum salam,” terdengar jawaban dari


dalam tapi kenapa suaranya seperti suara


seorang perempuan muda, padahal kemaren


seperti suara perempuan tua yang serak.


“Maaf, kemaren ada yang ingin dikirimi


fatekhah, tapi aku kurang jelas siapa namanya?


Maaf jika saya ingin memperjelas biar tak salah alamat.” kataku dengan sopan.


Lalu dari dalam rumah, keluar seorang


perempuan, memakai cadar penutup wajah,


tubuhnya tinggi langsing, dan semua pakaiannya memakai warna biru.


“Iya saya yang minta dikirimi fatekhah, namaku Dewi, dan orang sering menyebutku Dewi


Lanjar.” jelasnya.


“Dewi Lanjar?” aku heran, aku sendiri tak tau


siapa itu Dewi Lanjar.


“Maaf Nyai saya bukan orang asli Pekalongan,


jadi saya tak tau Dewi Lanjar.” kataku jujur.


“Aku penguasa Laut Utara.” jelasnya.


“Ooo…”


“Mari ku ajak ke tempat kekuasaanku.” katanya, sambil menggandeng tanganku. Dan kami


membumbung cepat ke arah utara, ke arah tengah laut,


Aku lihat aku melayang di tengah laut,


sampai pada suatu pulau kecil, lalu melintasi

__ADS_1


jembatan, aku heran karena jembatan itu dari


manusia yang dijejer seperti ikan asin, dan ku


lihat banyak orang ramai bekerja, yang


membuatku heran, ada orang yang berkepala


ikan dan bertubuh manusia, juga ada manusia


yang berkepala manusia tapi bertubuh ikan, ada juga orang yang memukul-mukul mereka dengan cambuk.


“Maaf Nyai, yang berkepala ikan, bertubuh


nabusia, juga sebaliknya itu bangsa jin atau


bangsa manusia?” tanyaku.


“Itu bangsa manusia.”


“Lhoh kok aneh, apa ada bangsa manusia seperti itu?”


“Lalu yang melintang di jembatan itu apa juga


manusia? Juga yang bekerja sambil dicambuki itu?” tanyaku.


“Iya itu juga bangsa manusia.” jawab Dewi


Lanjar.


“Wah kok aneh sekali Nyai…, bagaimana bisa


terjadi seperti itu?” tanyaku tak mengerti,


“Mereka itu orang-orang yang menjadi wadal


atau tumbal, juga orang-orang yang melakukan perjanjian meminta kekayaan pada bangsa jin.”


Jelas Dewi Lanjar.


“Berarti panjenengan menerima perjanjian


dengan mereka begitu Nyi..?”


mengaku-aku diriku, aku sendiri seorang


mukminah, hal seperti itu sirik, haram,” jelas


Dewi Lanjar.


“Tapi nyatanya ada yang menjadi tumbal


begitu?”


“Itu hanya perbuatan jin-jin yang mengaku-aku


diriku.”


“Maaf Nyai… sebaiknya aku memanggil apa


padamu?”


“Panggil saja Ibu, ibu Dewi..” katanya sambil


menatapku dengan pandangan sayu.


“Mari ngger.. mari masuk ke kerajaanku..” kata


Dewi Lanjar.


Dan akupun mengikuti di sampingnya, di setiap jalan banyak sekali taman-taman dan perempuan-perempuan yang menjadi dayang, semua menunduk ketika kami berdua lewat.


“Itu perempuan dari bangsa jin apa dari bangsa manusia bu…?” tanyaku, sambil berjalan di


sampingnya.


“Itu dari bangsa jin.


“Oh ya kalau orang yang melakukan pesugihan


itu, jika bukan perbuatan ibu, dan itu perbuatan para jin, kenapa ibu tak melarangnya?”


“Aku ini siapa to ngger, itu kan kemauan manusia itu sendiri, yang mau diperbudak syaitan, yang tamak, dan rakus terhadap harta.” jelas Dewi Lanjar.

__ADS_1


“Lalu ibu ini sebenarnya bangsa manusia atau jin?” tanyaku.


“Aku ini manusia anakku..” jawabnya yang


mengejutkanku.


“Lhoh kok bisa ibu sebagai manusia lalu menjadi orang yang menguasai laut dan membawahi para jin?” tanyaku heran.


Dan kami berdua duduk di sebuah meja dari kayu unik, yang mengkilap, di dalam ruangan yang indah dan megah, ramai dengan berbagai ornamen dan lukisan, dengan pencahayaan yang serasi,


Beberapa pelayan menatakan makanan.


“Rumah tempat ananda ketemu denganku itulah rumah asliku…” jelas Dewi Lanjar.


“Ooo, lalu kok sampai ibu menjadi penguasa laut utara, bolehkah anak tau ceritanya.?” kataku berhati-hati bicara.


Dewi lanjar menerawang, seperti mengingat


kenangan lama.


“Dulu aku ini seorang yang bersuami, tetapi aku tak mau dikumpuli suamiku, maka setiap malam dari magrib sampai malam aku tak mau tidur dalam rumah, jadi selalu di luar rumah.


Pada suatu malam aku didatangi perempuan,


wewe gombel aku menyebutnya, dia mengajakku, sampai di Alas Roban, waktu itu zaman peralihan kekuasaan dari Pajang ke Mataram, sampai di tengah hutan, aku disuruh duduk bertapa di sebuah batu, akupun menuruti, duduk bertapa di atas batu,


Sampai aku sendiri sudah tak tau sudah berapa lama aku duduk di atas batu itu,


dan Ibu Nyai Roro Kidul penguasa laut selatan


mendatangiku, lalu mengangkatku sebagai anak angkatnya, dan menyerahiku kekuasaan laut utara.” jelasnya.


“Beginilah nasibku…”


“Lalu apa ini tidak menyalahi kodrat manusia?”


tanyaku.


“Walau seperti ini juga adalah sudah tertulis di


taqdir yang Alloh Yang Maha Kuasa ngger…,


jangan menanyakan kodrat manusia, ada hal-hal yang di luar jangkauan akal, hal itu terjadi, dan tidak menunggu akal agar percaya, baru hal itu terjadi, sekalipun akal tak percaya maka itu tetap terjadi.”


“Memang ibu, saya di sini, di kerajaan ibu ini,


saya juga tak percaya jika telah berada di sini,


walau saya jelas-jelas berada di sini, tapi akal


saya tetap menolak, karena keterbatasan akal


saya.” kataku yang memang tak percaya dengan apa yang aku alami.


“Ngger, kalau angger mau, biar ku bantu


berjuang, memperjuangkan agama, dan biar aku dukung dengan segenap bala tentaraku, dan segenap harta bendaku.” kata ibu Dewi.


Aku terdiam, terlintas di pikiranku, ingat ketika


Nabi Muhammad ditawari Alloh, gunung Uhud


dan pasir tanah Mekkah dijadikan emas, untuk


memperjuangkan agama, tapi Nabi menolak, dan bagiku Nabi adalah sebaik-baiknya tauladan, tak ada tauladan yang melebihi Nabi.


“Maaf bu…, aku amat berterima kasih, atas


perhatian ibu, tapi sesuai ajaran Nabiku, dalam


perjuangan itu ada sulitnya menjalankan proses perjuangan, dan ada berbagai pengorbanan, dan di dalamnya tersimpan kesabaran penempaan diri, sehingga diri kukuh kuat, tak tergoyahkan, dan semuanya ada pahalanya, jadi atas tawaran ibu, terpaksa dengan berat hati saya menolaknya…, sekali lagi maafkan saya bu..”


kataku ku ucapkan dengan hati-hati agar tidak


menyinggung.


“Ya tak apa-apa, kebersihan hati manusia itu


tercermin pada sikapnya, tapi jika nanda ingin


aku membantu, entah tentara atau harta benda, maka aku siap selalu membantu, kirim saja


fatekhah padaku satu kali tahan nafas, dan.....

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2