Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Wama min dzabattin fil ardhi illa ‘alallohi rizqoha


__ADS_3

“Wah kok ada yang kayak gitu ya?”


“Ya kalau ndak percaya, sekarang saja di-tes, kamu berdo’a minta hujan, apa hujan akan turun, gampang kan untuk tau..?”


“Ya saya do’anya jelas ndak diterima mas.”


“La memangnya Alloh terhalang menerima do’a, tidak kan?” Alloh s.w.t saja yang mencipta, meletakkan hukum dan peraturan, membagikan rizki dan lain-lain. Dia menentukan urusan dengan bijaksana dan adil, termasuk urusan mengenai diri kita serta apa yang terjadi pada kita.


Kita memandang diri kita dan kejadian yang menimpa kita dalam sekop yang kecil. Alloh melihat kepada seluruh alam dan semua kejadian, tanpa keliru pandangan-Nya kepada diri kita dan kejadian yang menimpa kita, juga tidak beralih pandangan-Nya dari makhluk-


Nya yang lain. Maha sempurna Alloh suci dari cela.


Bahkan Alloh amat memperhitungkan sedetail sampai urusan paling kecil, sampai urusan pigmen di kulit, sehingga orang tak berpenyakit belang karena pigmen kulitnya tercukupi, juga kelengkapan molekul zat dalam darah, kekurangan dari salah satu zat saja orang akan sakit, juga kelebihan satu saja zat dalam darah


orang juga sakit, jadi ukurannya harus konsisten dan saling melengkapi dengan zat lain.


Misal gula darah seseorang dalam darah lebih maka seseorang akan sakit juga jika zat asam, berarti semua telah diatur Alloh sedemikian rupa, agar manusia itu bisa bergerak dengan gerakan yang saling mendukung apa yang di dalam tubuh, dalam pengaturan Alloh itu ada pengaturan secala fisikal, serta ada pengaturan secara ruh, dan hati, sama dalam pengaturan dalam ruh, yang sama sekali tak pernah terlihat itu, tak beda pengaturannya dengan pengaturan lahiriyah.


Cuma dalam pengaturan lahir, badan lahir ini


butuh makanan lahir, jika kita makan maka kecukupan kebutuhan badan atas zat yang


dibutuhkan sangat mempengaruhi lahiriah

__ADS_1


seseorang, maka manusia itu bisa dilihat jika


kurang salah satu zat yang dibutuhkan tubuhnya, dengan sendirinya akan terlihat lemes, sakit, malas.


Tak beda dengan pengaturan lahiriah, yang membutuhkan asupan makanan lahir, maka asupan batiniyah, ruh juga membutuhkan makanan yang sifatnya tidak membuat ruh, dan hati, juga pikiran, menjadi sakit, walillahi asma’ul khusna fad’uhu biha, yang menjadikan ruh itu Alloh, yang menjadikan hati itu Alloh, yang menjadikan kejernihan pikiran kesehatan hati dan sekaligus yang menempatkan ilham serta aneka macam pengetahuan itu adalah Alloh, la ilma lana illa maa ‘alamtana, tidak ada yang memberi pengetahuan kecuali Alloh yang


memberi pengetahuan,


Pengetahuan itu cahaya, cahaya dengan Alloh itu tak bisa dipisahkan, karena Alloh itu cahaya itu sendiri, kebijakan, ilmu, dan apa yang memancar dari Alloh itu yang menjadi kebutuhan ruh, makanya dalam diri Alloh itu terdapat asma’ul husna, kadang hati itu butuh ketenangan, kesabaran, maka ada nama Alloh Assobir, yang dibutuhkan oleh kebutuhan hati dan ruh atas sabar, lalu sering-sering asma sabar itu kita sebut-sebut, sehingga seperti cahaya yang membekas pada sesuatu yang


disinari, jika diupayakan untuk disinari dan selalu diupayakan, maka hati akan membekas rasa sabar, karena bekas rasa sabar dari cahaya sabar yang dimilki Alloh, juga jika hati membutuhkan rizqi, maka ada Alfatah, yang


membuka, ada Al wahab, yang banyak memberi, dan ada Arrozaq, yang memberi rizqi,


Sebab hati gelap dari kepahaman untuk apa kegunaannya rizqi, kemudian semua hidup hanya sia-sia, sebab tanpa adanya sinkron antara jiwa dengan badan, tanpa adanya singkron antara mesin motor dengan bodi, juga sama jika mesin motor itu bagus, sementara bannya lepas, maka motor juga tak akan bisa jalan, seperti manusia juga, jika yang dalam dan luar tidak saling mendukung dan saling melengkapi, maka bisa dipastikan manusia itu akan berjalan dalam rel yang tak ada keseimbangan, bisa jadi lelah lahirnya, atau lelah batinnya.


Jika kemudian mesin motor, diberi mesin dokar,


tentu ndak nyambung, juga roda bis meledak lalu diganti roda sepeda mini, tentu juga tak akan nyambung, segala sesuatu harus sesuai porsinya, orang dewasa saja disuruh makan makanan bayi tiap hari yang dari pisang dihancurkan dicampur nasi, atau bubur, maka manusia dewasa akan lemas, karena tak cukup dengan asupan gizinya, begitu juga, motor dinaiki sejak lama, mesinnya tak pernah diservis, oli tak pernah diganti, bensin tak pernah diisi, bisa pasti mesinnya akan ngadat.


Manusia juga begitu jika hatinya tidak pernah diberi makan dengan dzikir, apa yang dibutuhkan hati sama sekali tak pernah diteliti,


lalu asupan gizinya, makanannya yaitu dzikir tak pernah dilakukan, maka bisa pasti hati itu akan ngadat, rusak, suka sekali sombong, suka sekali tamak, rakus, tak syukur, mengeluh, pengumpat, tak sabar, pendengki, kasar, lacut, buruk sangka, suka meremehkan orang, tak terima dengan keadaan, dan berbagai macam sifat buruk tumplek bleg, apalagi seperti misal motor yang sudah tau mesinnya rusak, kok malah dipaksakan jalan, maka akan makin rusaknya parah.

__ADS_1


Hati juga gitu, jika sudah tau suka mengumpat, suka mengeluh, suka menghina orang, tapi kok ndak mau menyadari itu adalah penyakit yang


merusakkan hati, kok terus dilanjutkan, maka


akan makin mencari kata-kata paling kotor untuk diumpatkan, itu bukan menunjukkan hebat tapi seperti motor yang suaranya makin keras dan makin memekakkan telinga, itu bukan motor yang benar, tapi yang rusak, sama kok makin hati itu suka mengumpat dengan lisan dan menemukan umpatan yang paling jelek, itu bukan menunjukkan diri makin berilmu, tapi makin rusak.


Orang yang tidak berbekas pada hatinya akan


kesempurnaan Allah s.w.t itu adalah orang dungu. Dia masih juga merungut tentang perjalanan hukum takdir Ilahi, seolah-olah Tuhan harus tunduk kepada hukum makhluk-Nya.


Bagi yang cenderung mengikuti latihan kerohanian perlulah berusaha untuk melenyapkan kehendak diri sendiri dan hidup dalam aturan Allah menjalankan hidup lahir sesuai dengan jalan Alloh, dan menjalankan kehidupan batin dengan memberi asupan -asupan makanan bathin yaitu disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan batin agar hati tersinari nur ilahiyah.


Rasa syukur menjadi udara, kesabaran jadi air, dan ketenangan jadi bumi pijakannya, kepada siapa saja hati lapang, jauh dari iri, sebab syukur dengan apa yang dimiliki, dan jauh dari mengumpat karena sabar dengan keadaan yang dihadapi, manusia siapapun pasti yang dicari kebahagiaan dunia juga kebahagiaan akherat.


Kebaikan dunia juga kebaikan akherat, dan


keduanya perlu ilmunya, dan keduanya perlu


pekerjaannya masing-masing, jika salah mengambil langkah, maka sekalipun sesal dengan menangis darah itu tak akan membuat waktu yang telah lalu kembali, apalagi jika diri sudah mati.


Jangan sekali-kali mengeluhkan takdir karena


Penentu Takdir tidak pernah berbincang dengan sesiapa pun dalam menentukan arus ketentuan- Nya. Takdir itu tiada siapapun dapat mengubah, kecuali Alloh yang sanggup mengubah, jika Alloh tak sanggup mengubah maka namanya bukan ‘ala kulli syai’ing qodiir, artinya melakukan apapun itu kuasa, jadi Alloh itu kuasa melakukan apapun, termasuk merubah taqdir seseorang yang buruk ingin dirubah menjadi baik, kita yang manusia, jika khawatir taqdir buruk ternyata telah....

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2