Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Bukan hanya mengaku-aku ahli sunah


__ADS_3

“Kyai… ada yang mau menangkapku lagi kyai..” kata Aisyah di satu kesempatan dan saat Sengkuni makin getol-getolnya untuk me- nyerangku, biasanya di waktu-waktu akan ada dzikir di majlisku. Ku tarik saja jin yang mau menangkap Aisyah dan kumasukkan ke dalam mediator, ku mediumisasi.


“Apa maksudmu mau menangkap Aisyah, apa maksudnya Sengkuni?” tanyaku pada jin yang sudah ku masukkan ke tubuh mediator.


“Ya agar dia tak membantumu…” jawab jin dalam tubuh mediator.


“Aneh, aku tak dibantu dia juga tak apa-apa..”


“Tapi dia yang selalu membantumu, mengobati penyakit,”


“La apa urusannya dengan Sengkuni?”


“Dia benci, kamu mengobati orang.”


“Benci bagaimana? Aku kan menolong orang yang meminta tolong.”


“Apa urusanmu menolong orang?”


“Ya saling tolong menolong dalam kebaikan itu kan sifat orang muslim saling tolong menolong kan diajarkan Rasulullah, mati saja tak akan berangkat ke kuburan menggali kuburan sendiri, tapi harus digalikan orang lain, juga orang mati tak bisa berangkat ke kuburan sendiri, tapi harus dibawa dengan keranda… coba kalau gak ada yang membawa keranda, gak ada yang mau mengubur, kan membusuk dimakan belatung, dan baunya kemana-mana.”


“Aku tak perduli, pokoknya kamu dilarang menolong orang, dan aku diperintah menghalang-halangi.”


“Ooo rupanya begitu, makanya kamu mau menangkap Aisyah dengan jaring yang kamu bawa dengan teman-temanmu itu?”


“Iya..”


“Ya kalau begitu memang kamu harus mati saja.”


“He he he.. apa kamu bisa membunuhku?”

__ADS_1


“Kenapa tak bisa?”


“Alah ilmumu cuma sekukuku..”


“Ya dengan ilmuku yang cuma sekuku, aku apa bisa atau tidak membunuhmu dilihat saja nanti, bagaimana kalo kita buktikan saja?.”


Segera ku keluarkan pedang gaib yang ku ambil dari neraka jahanam, pedang yang dipakai anak buah malaikat Malik untuk menyiksa di dalam neraka jahanam, (orang yang memakai logika sebaiknya tak usah ikut baca, sebab yang kutulis ini daya hayal), setelah pedang kupegang segera kutusukkan ke perutnya, dia menjerit, dan ku tebaskan pada lehernya dia menjerit.


“Ampuuun, ampuun, tobat, aku menyerah.”


“Menyerah beneran?”


“Ya…. aku menyerah, aku mau masuk Islam dan menjadi pengikutmu.”


Ku panggil malaikat maut… untuk mencabut nyawanya jika jin ini bohong dan tak mencabut nyawanya jika jin ini jujur dari hatinya mau masuk Islam. Tapi ternyata malaikat maut mencabut nyawanya, tapi sebelum mencabut nyawanya, ku minta malaikat maut mencabut nyawa jin sebanyak 450 ribu yang ada ditempat Sengkuni, yang dipersiapkan Sengkuni untuk


menyerangku. Jin itu tidak bisa dipercaya 100%, jadi kita jangan begitu saja melepaskan kepercayaan padanya. Sebab beberapa hari yang lalu, Aisyah tertipu mentah-mentah karena aku percaya dengan jin kirimannya Sengkuni yang ku tangkap, dia ku beri nama Abdul, karena seakan berniat baik, dan seakan mau menjadi pengikutku, malah seakan mau bersaksi atas apa yang dilakukan Sengkuni, Abdul termasuk tampan, dan dia berbentuk elang, dengan keluarga Aisyah juga sangat baik, dengan Latifah adiknya Aisyah dia juga baik dan suka membantu dan mengajari Latifah yang masih belajar terbang, karena sikapnya yang baik itu, sampai Aisyah jatuh hati pada Abdul yang seakan berbudi pekerti baik, Aisyah pun pacaran dengan Abdul, dan dia meminta ijin padaku menikah dengan Abdul, dan hari pernikahan pun sudah dirancang sedemikian rupa, diumpamakan di alam manusia itu undangan sudah disebar.


“Aisyah siapa yang melakukan ini, siapa yang menyumpal jalur air..?” tanyaku pada Aisyah, dan Aisyah menangis. “Lihat semua majlis banjir seperti ini, ini kalau pas hujan lagi ada dzikir bersama bukannya jamaah akan buyar? kamu jangan menangis, siapa yang melakukannya?”


“Huuu huuu, Abdul kyai… Abdul penghianat.” jawab Aisyah sambil menangis.


“Jadi dia yang melakukan penyumbatan saluran air, dan membuat genteng pada longsor ke bawah?”


“Iya kyai… ternyata dia hanya pura-pura baik, dan seakan baik sama Aisyah, padahal dia sebenarnya penghianat, ampun kyai, ampuni


Aisyah…”


“Jadi dia selama ini pura-pura?”

__ADS_1


“Iya kyai, dia setiap hari laporan pada Sengkuni tentang semua kejadian di sini, sehingga Sengkuni jadi tau keadaan di sini.” jelas Aisyah sambil menangis.


“Dia menyumbat saluran itu atas perintahnya Sengkuni, agar kalau pas ada pengajian, pas ada hujan nanti pengajiannya bubar, karena bocor.”


“Sekarang dia di mana?”


“Sekarang dia terbang, menjauh dari sini.”


Aku sudah marah, ku minta pada Allah kekuatan malaikat maut di tanganku, dan Abdul langsung ku tarik nyawanya… lau ku lempar ke neraka jahanam.


“Ampuni Aisyah kyai, Aisyah jadi menyusahkan kyai..”


“Sudah nduk tak papa, itu bukan salah Aisyah.” Sepeninggal Abdul, Aisyah beberapa hari dirundung murung, mungkin patah hati. Aku coba menghiburnya, dengan memenuhi permintaannya, dia ingin kambing dari surga, maka ku mintakan pada Allah kambing dari surga ada 3 (ingat ini hanya hayalan saja, jadi jangan diartikan yang sesungguhnya). Dia agak terhibur, tapi serangan dari Sengkuni ada-ada saja, kadang merantai tangan Aisyah, sehingga tangannya tak bisa untuk mengobati orang, heran juga sebenarnya apa maunya orang itu, karena sering aku tak bisa menjaga Aisyah, maka Aisyah lantas ku beri cambuknya malaikat pemecah mendung, malaikat Khamlatul Barqi, malaikat pembawa petir, lalu ku berikan pada Aisyah, ku perintahkan kalau ada jin yang akan menangkapnya supaya dipukul saja dengan cambuknya dan alhamdulillah, pengalaman demi pengalaman di dunia jin itu membuatku menemukan berbagai solusi, yang awalnya tak tau, kemudian jadi tau, Aisyah setelah punya senjata cambuk juga lebih aman, dia selalu mencambuk jin kirimannya Sengkuni yang mau mendekat, dan ingin menangkapnya.


___________________________________


Kenapa kok aku urusannya jin mulu, atau santet, kadang ada yang bertanya seperti itu, sebenarnya kalau orang pemikirannya luas, tentu tak akan bertanya, tapi tak semua orang yang memahami apa kandungan atau kenapa bisa begitu, mungkin bisa ku berikan beberapa


alternatif jawaban. Seperti orang yang sakit gigi, ada gak orang yang bercita-cita sakit gigi? Kurasa tak ada, kecuali orang bodoh, yang bercita-cita sakit, walau cuma sakit gigi seumur hidup, orang yang waras akalnya akan berharap selalu sehat, lalu bagaimana kalau sakit gigi? Tentu yang diurusi ya gigi, bahkan dibawa ke dokter untuk dicabut paksa kalau gigi rewel, sakit terus. Disantet, dikirimi jin, itu kan bukan kehendak saya, tapi kalau saya dikirimi santet ya jadi urusannya jadi ngurus santet, sebagaimana orang yang sakit gigi, tentu yang diurus sakit giginya, ya tak mungkin kalau orang sakit gigi malah yang dicabuti jari kakinya.


Jawaban kedua kenapa kok yang diurusi jin mulu, mungkin ada yang membaca bukan orang Islam, jadi biar ku jelaskan sedikit dalam kitab kami orang Islam, orang Islam itu di- perintah untuk mengikuti nabinya,menjadikan nabinya sebagai suri tauladan, contoh segala perbuatan baik. Dan dalam surat Al-Qur’an nabi memberi contoh bagaimana nabi mengislam- kan sekumpulan jin, jadi kita kalau bisa juga meniru nabi, bukan hanya mengaku-aku ahli sunah, yang paling menjalankan sunnah nabi tapi hanya ngaku-ngaku.


“Katakanlah (wahai Muhammad):


“Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan.” (QS. Al Jin: 1)


“(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami,”(QS. Al Jin: 2)


“Dan bahwasannya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.” (QS. Al Jin: 3)

__ADS_1


“Dan bahwasannya: orang yang kurang akal dari kami sebelumnya selalu mengatakan (kata) yang melampaui batas terhadap Allah.” (QS. Al Jin:4)


__ADS_2