
Murid yang lain selalu menerjemahkan dengan pikiran masing-masing, apa yang disampaikan Kyaiku, atau anak-anak sering menyebutnya siloka, aku sendiri tak berani menerjemahkan apa yang disampaikan Kyai, dan menunggu Alloh memberi ilham kepahaman padaku, dan aku akan menerima kepahaman itu dengan kejernihan mata batin, sejernih aku mampu menjernihkan,
Karena aku sendiri yang masih bergelimang dosa dan keinginan.
Sepulang dari Jakarta, aku merancang pembangunan majlis dari dana yang ada, ku jualkan tiga sapi dan uang tabungan, maka terbangunlah majlis sederhana, sampai saat ini yang ditempati dzikir.
——————————————-
Setelah hari raya idhul fitri, seperti orang lain, aku juga mudik, tapi menunggu tamuku di Pekalongan sepi, Setelah sepi baru aku, istri dan anakku berangkat ke Jawa Timur.
Kalau di Jawa Timur, langsung biasanya akan banyak orang yang datang ke rumahku ada yang minta amalan, atau minta diobati penyakitnya.
Di Tuban sendiri, karena pernah ada kebakaran, sebelum kebakaran terjadi masa sebulan sebelumnya aku memperingatkan yang punya rumah, agar hati-hati akan terjadi kebakaran sebulan lagi, hati-hati dengan api. Walaupun sudah diperingatkan takdir Alloh tetap terjadi juga, dan terjadilah kebakaran, walau hanya dua rumah yang terbakar dan api bisa dipadamkan,
Setelah kejadian itu setiap aku ke Jawa Timur, akan banyak orang datang minta amalan atau diobati penyakitnya. hari itu juga, aku belum sampai rumah, orang- orang sudah menunggu, sehingga aku tak sempat istirahat.
Ada beberapa orang yang datang, satu persatu ku layani setelah sholat magrib, kursi penuh dan yang lain duduk di lantai, yang menghadapku pertama orang yang dari luar kecamatan, biar segera bisa pulang.
Yang menarik perhatianku ada seorang lelaki bernama Muhadi,
“Apa pak keluhannya?” tanyaku pada Muhadi
lelaki jangkung kurus berumur 50 tahunan.
“Ini Ian aku sakit di kaki,” katanya menunjukkan
kakinya yang dari pergelangan sampai lutut
membusuk.
“Wah kok sampai begitu pak, apa ndak dibawa ke dokter?” tanyaku.
“Ya sudah ku bawa ke dokter Ian, ini sama lukanya dengan luka yang dialami istriku.” katanya.
“La istrinya di mana, kok tak dibawa kesini
sekalian?” tanyaku.
“Istriku sudah meninggal.” katanya sedih.
“Oo maaf.”
“Ini wong lukanya tak wajar kok Ian..” jelas
Muhadi.
“Iya saya juga lihat tak wajar,” kataku.
“Awalnya bagaimana itu pak?”
“Ini sebenarnya awalnya adalah hal yang sepele, saya dan istri itu jual beli beras, nah ada salah seorang yang selalu ngutang beras kami, ya kami kasih, sampai banyak kami tagih hutangnya, kan wajar to nagih hutang, ee dia marah, dan mengatakan jangan dikira kami tak mampu bayar hutang, hutang akan kami bayar, tapi setahun kemudian tak dibayar, ya kami tagih lagi hutangnya, ee malah mereka marah-marah, dan mengatakan mau nyantet, dan kok malemnya rumah kami kayak ditaburi pasir, lalu ada ledakan, dan besoknya istriku kakinya gatal sekali, lalu terjadi pembusukan, terusbmembusuk, pernah kami obatkan ke dokter juga percuma tak sembuh, juga ku obatkan ke dukun, malah dukun yang lumayan bisa datang ke rumah, dan di dalam tanah rumahku disuruh gali, ternyata di dalam tanah ada kayak bungkusan pocong kecil sepanjang 35 cm, tapi la kok aneh.”
“Anehnya bagaimana pak?”
“Anehnya bungkusan itu hidup, jadi lari masuk di dalam tanah, bentuknya kayak pocong- pocongan gitu, maka aku disuruh menggali tanah lain, untuk menghadang arah larinya.”
“Tapi, setiap ku hadang, maka pocong- pocongan itu membelok ke arah lain, dan itu tidak lewatblubang larinya, tapi masuk dalam tanah gitu, setelah seharian berusaha, pocong- pocongan dapat di tangkap semuanya ada tujuh.”
__ADS_1
“Wah di dalamnya apa ada tikusnya? Kok bisa
lari dalam tanah?” tanyaku yang terus terang
merasa heran.
“Ya aku sendiri tak tau Ian, la setiap ada yang
tertangkap maka langsung dimasukkan kendil
tanah liat, tapi menurut penjelasan dukun, dia
cuma bisa mengeluarkan yang di tanah,
sementara yang di udara masih ada,”
“Ada juga yang di udara? ” tanyaku.
“Iya ada.”
“Lah lalu bagaimana bisa? Kalau aku tak tau ilmu seperti itu, ilmu kok ya aneh-aneh.” kataku
geleng-geleng kepala.
“Tapi dukun itu menyarankanku meminta dukun
yang lain, yang bisa mengeluarkan yang di udara, aku diberi alamatnya, maka akupun segera mencari dukun itu, dan ku mintai tolong, dan dukun itu juga mau, lalu ke rumahku, dia
bersemadi di tengah rumahku, sambil bakar
rupa, dan kelapa hijau, serta kopi pahit.
Lalu dukun itu selama satu jam bersemedi, kemudian berdiri dan menarik sesuatu dari tengah udara, dan yang ditarik itu kain mori orang mati, sampai pengerjaan selesai.
Tapi Ian, istriku ya tetap tak sembuh, dan akhirnya meninggal dunia, sekarang aku yang terkena penyakit yang pernah dialami istriku, tiap malam di rumahku selalu ada ledakan dan kayak ada pasir atau tanah kering ditaburkan, suaranya seperti gerimis sebentar gitu, nah bagaimana Ian, aku minta kau do’akan, supaya penyakit yang ku derita ini sembuh dan aku tak kambuh lagi.”
“Ini sekarang ku kasih air saja dulu ya pak,
besok ke sini sorean gitu, biar aku bikinkan
pagar rumah, dari kerikil yang ditanam di pojok
rumah, biar tidak kena santet lagi, kalau
sekarang sudah malam.”
“Iya insaAlloh aku besok akan datang lagi.”
Lalu ku berikan air untuk penyembuh dengan
media do’a dan pagar badannya.
skip...
Ganti seorang lain menemuiku lagi seorang tua, berjalan tertatih- tatih, dengan tongkat, yang ku tau bernama mbah Mulyono. “Ada apa mbah…?” kataku pada kakek berusia 70 tahunan itu.
“Ini Ian, kakiku sakit sekali, tak bisa dipakai
__ADS_1
sholat jama’ah di masjid, tolong kau obati.” kata
mbah Mulyono sambil membuka sarungnya.
“Coba tak pegangnya ya mbah…! Coba ditekuk mbah, diluruskan, ditekuk.” kataku berulang- ulang sambil ku salurkan tenaga prana ke sela lutut mbah Mulyono. Terdengar suara kletuk.
“Wadow enteng sekali.” kata Mbah Mul.
Lalu ku lakukan pada kaki satunya, sampai
terdengar suara kluthuk, pertanda pergeseran
tulang telah kembali ke semula.
“Bagaimana, enakan mbah?”
“Iya enak.”
“Coba dipakai berdiri mbah.”
Mbah Mulyono pun berdiri, awalnya takut-takut, tapi setelah merasa tidak sakit dia mulai berjalan wira wiri.
“Aku pulang dulu ya Ian, terimakasih.”
“Iya mbah silahkan, la ini tongkatnya tak dibawa
mbah?”
“Udah tak usah, untukmu saja.” kata Mbah
Mulyono.
“Hehehe… makasih mbah, jangan lupa rajin
jama’ahnya.” kataku mengantar kepergian mbah
Mulyono.
Seorang lagi masuk, dia ku tau bernama kang Darwis. Dia orang terkaya di kampungnya yang aku tahu, dulu waktu aku kecil sering dibelikan layangan sama dia.
“Ada apa pak Darwis?” tanyaku.
“Ya seperti yang lain Ian, mau minta tolong
padamu.”
“Apa masalahnya pak?”
“Nanti dulu Ian…”
“Kenapa pak?”
“Aku hanya ingin menatapmu lama-lama.”
“Memangnya kenapa pak?”
Bersambung.....
__ADS_1