
“Mari kerumah mas.” kata pak Dadang yang
membuatku heran.
“Tapi saya ikut bus malem pak, apa rumah bapak
ini dekat sini?” tanyaku, takut ditinggal bus..
“Itu rumah bapak di belakang, kelihatan dari
sini, mas Ian singgah aja dulu di sini, barang tiga empat hari, lagian kyai juga tiga hari lagi mau ke
sini, jadi nanti ke Pondoknya bisa bareng.”
“O, kyai mau ke sini?” pak Dadang manggut.
“Ya kalau begitu saya ngambil tas saya yang
masih di bus, sekalian bilang kalau saya tak ikut melanjutkan perjalanan.”
“Ya sebaiknya begitu.” maka aku pun menuju bus yang diparkir mengambil tas dan bicara pada supir kalau turun di sini saja.
Setelah itu aku segera menemui pak Dadang yang masih
berdiri di depan Mushola. Dan dia mengajakku kerumahnya, rumah besar mewah yang didominasi
marmer dan kayu jati dipadukan sedemikian artistik serta berkelas.
“Mas Ian tidur di kamar ini aja.” suara pak
Dadang mengagetkanku.
Karena aku sibuk menikmati arsitektur rumah yang dibuat demikian sederhana namun elegan, dengan lemari bifet tinggi menyentuh plafon. Dan lantai dari marmer yang mengkilap bagaikan kaca..
Aku segera masuk kamar didahului pak Dadang.
Setelah menyuruhku mandi terlebih dulu, pak Dadang pun tak lama pergi. Aku segera saja mencopot pakaian yang ku kenakan, untuk mandi,,
Kamar ini luas, kurang lebih empat meter persegi, dua ranjang besar dalam kamar, dengan selimut yang tebal, salah satu dinding kamar tertutup lemari bifet yang besar, ada tivi dua puluh sembilan inc. Juga Dvd player Aiwa, AC yang selalu menyala, sehingga udara terasa dingin,,
Aku segera memasuki kamar mandi yang
ada dalam kamar, bak mandi untuk berendam
telah penuh, dan di sampingnya terdapat
minuman segar entah apa namanya, aku terlalu ndeso untuk menjelaskan semuanya.
Tubuhku pun ku rendam air yang terasa hangat. Dan mencicipi minuman, kujilat-jilat dulu sebelumnya, takutnya memabukkan..
__ADS_1
Setelah mandi dan tubuh terasa segar, aku
segera ganti pakaian, pintu kamar diketuk,
setelah lengkap memakai pakaian,lalu ku buka pintu kamar, terlihat seorang pemuda berpakaian seragam biru muda dengan
krah baju warna kuning.
“Ini mas silahkan makan, sudah disiapkan..”
katanya sambil membungkuk, aku hanya menganggukkan kepala dan keluar kamar, wah di depan kamarku di depan tivi di atas tikar yang terbentang, beraneka masakan telah terjajar rapi.
“Silahkan mas dinikmati, saya tinggal dulu…”
katanya sambil segera berlalu.
Aku yang ditinggal tingak-tinguk, melihat
makanan sebanyak ini, bingung mau pilih yang mana.
Nasi hangat di bakul, sebelahnya ada sotong goreng tepung, pepes ikan laut, pepes jamur, sambel tomat, lodeh ikan pari, soto sapi, ayam goreng kering, sotong masak hitam, pecel lele, burung dara goreng renyah, hati sapi goreng kering..
Ah masih banyak lagi, aku tak tau namanya, ada juga jengkol goreng, lalapan petai, terong ungu dan segala macam daun lalapan yang aku tak tau namanya.
Aku pun mulai makan, ku cicipi satu-persatu, toel sana,toel sini,comot sana comot sini sampai piringku penuh, ketika aku sedang menikmati makan, pak Dadang muncul,
sungkan-sungkan, anggap rumah sendiri saja…”
cuma berkata itu dia pun berlalu.
Seumur-umur baru kali ini aku makan sampai
seramai ini, dengan berbagai macam masakan dan aneka warna lauk, pertama aku begitu
bersemangat, karena kecendrungan nafsu,
semua pengen aku embat, tapi setelah kupikir-
pikir, ah rasanya tetap itu-itu saja, kenikmatan
semu, sebatas tenggorokan, renyah, gurih, asin, pahit, manis, kecut, kenyal, alot, pedas…
Ah membosankan, ku ambil teh poci dan menuang ke
cangkir kecil, menyruputnya pelan-pelan. Kuambil hati sapi goreng dan melangkah keluar, ku ambil rokok Djisamsoe filter lalu kunyalakan,,
Aku duduk di undakan emperan depan rumah pak Dadang, malam makin larut, tapi mobil yang mengunjungi rumah makan ini makin rame saja.
Khususnya bus malem dari Jakarta ke arah
__ADS_1
daerah, juga dari daerah ke arah Jakarta. lalu
tak sedikit mobil-mobil pribadi berdatangan.
Akhirnya ku tau rumah makan ini adalah miliknya pak Dadang, nama Nikki adalah nama pendiri pertama rumah makan di daerah Subang, sekarang setelah H. Nikki meninggal, maka rumah makan diteruskan oleh anak dan saudara-saudaranya termasuk pak Dadang.
Ku dengar itu beberapa penjelasan dari pelayan yang melayaniku. Setelah habis ku hisab dua batang rokok, aku pun kembali ke kamar dan segera berangkat tidur.
Menunggu kyai selama tiga hari di rumah pak Dadang, terasa membosankan juga ternyata,, ketika Kyai datang tiga hari kemudian, aku teramat sangat bahagia, akupun dengan segera mencium tangannya,
Rasa Takzimku sebagai murid, seperti biasa, Kyai tidur di pangkuanku, dan minta kupijit kepalanya, oh rasa cinta karena Alloh sungguh nikmatnya.
Aku sangat tahu Kyai sangat mencintaiku sebagaimana aku mencintainya karena Alloh. Bila kyai tiduran di pangkuanku maka sudah pasti, ia akan menanyakan tentang keadaan keluargaku, dan memperingatkan akan ada orang yang iri dengan keluargaku, akan terjadi begini begitu, dan tak lupa kyai menurunkan ilmu kepadaku.
Aku kadang terharu akan cinta kyai kepadaku
yang teramat besar, sampai kyai hafal betul
orang-orang yang ada di ruang lingkup kehidupanku, walau aku tak pernah sekalipun menyebutkan nama-namanya satu persatu, tapi kyai hapal satu-persatu.
Sebegitu sayangnya kyai padaku, di manapun aku bekerja, kyai pasti menjengukku, bahkan kadang sampai menungguiku berhari-hari, karena tak ingin aku didholimi oleh orang-orang yang memakai jasaku.
Pernah kyai mengatakan padaku, " jika ada orang yang memusuhimu, maka akulah yang akan menjadi tameng hidupmu, maka jangan pernah takut berdiri di atas kebenaran."
“Mas Ian…!” kata kyai yang tiduran di
pangkuanku, sementara beberapa tamu lelaki
perempuan, mengitari kami, ada sekitar sembilan orang.
“Iya kyai…”
“Nanti mas Iyan kembali ke pondok dulu ya..!
Sekalian mampir ke rumah Macan…” kata kyai
sambil memegang tanganku mengarahkan supaya memijit arah di atas kedua mata beliau.
Macan adalah panggilan santri, yang
seangkatan denganku, asalnya orang rusak, suka mabuk, teler, main perempuan, berantem, jadi raja gank, tapi kemudian ditobatkan, dan menjadi murid kyai, yang ditugaskan untuk menyadarkan para pemabuk dan preman.
Pengikutnya kebanyakan dari para orang-orang yang rusak di daerahnya sudah banyak, walau dalam keadaan tersembunyi.
“Ada apa kyai, kok saya harus ke tempat
Macan?”
Bersambung.....
__ADS_1