
“Ya kalau begitu, terimakasih atas kehadiran kalian semua…. maaf telah mengganggu istirahat para kakek…” kataku serba salah. Aku melupakan saja mimpi itu, ah rasanya ndak begitu penting, selama ini aku ndak tau siapa kakekku juga tak masalah. Tapi makin aku berusaha tak ingin tau, makin saja menggelitik rasa ingin tauku. Apa bener kalau Sunan Ampel atau Sunan Giri itu adalah kakek buyutku?Mimpi lagi…. Sunan Ampel dan Sunan Giri duduk di depanku… mereka menyebutku khatib,
“Maaf saya bukan khatib kanjeng Sunan…”
“Heheeh, kamu khatib ngger, kami semua memanggilmu khatib, itu julukanmu di alam ruh…”
“Maaf kenapa kanjeng Sunan berdua selalu mengunjungiku? Apa mungkin ada darah kanjeng Sunan berdua yang mengalir di darahku?.”
“Benar sekali…” jawab Sunan Ampel.
“Ya benar sekali ngger, darahku mengalir di darahmu…, coba kamu tulis silsilah sampai kepadamu.” kata kanjeng Sunan Ampel.
Setengah jam menulis silsilah yang panjang, dari beliau berdua. Dari Sunan Ampel lebih pendek silsilahnya menyambung ke beliau, tapi dari Sunan Giri lebih panjang dan berkelok kelok. Tapi aneh nama kakekku aku tak pernah mendengar itu.
“Apa ini benar kanjeng Sunan?” tanyaku, “Kenapa nama kakekku di kanjeng Sunan Ampel sama di kanjeng Sunan Giri berbeda?”
“Itu nama julukan ngger, bukan nama asli.”
“Terimakasih kanjeng Sunan.” kataku masih diliputi kebingungan, karena di silsilah yang ku ketahui, aku pernah dengar kalau aku ini keturunan dari Jaka Tingkir, dan kalau di daerahku aku ini keturunan dari silsilah Syaikh Abdul Jabar, tapi kenapa kok sampai kepada Sunan Giri? Ah makin membuatku bingung saja. Aku diam saja dalam kebingunganku, dan mendengar pesan mereka.
“Sebelum kami pergi, ingat ngger yang kuat menanggung amanah ini dirimu, jadi yang sabar ya ngger cobaanmu sangatlah berat.”
“Doakan saya kek, saya hanya orang biasa, cucumu ini orang lemah tak ada daya.” Aku tertegun sampai mereka berdua mengucap salam dan pergi. Masih dikungkung kebingungan. Aku coba tanyakan khodam malaikat, dan dia juga menjawab bahwa silsilah itu benar adanya. Malah makin bingung. Di mimpi berikutnya, aku didatangi Syaikh Abdul Jabar, beliau tersenyum…
“Siapa ini?” tanyaku.
“Aku Abdul Jabar, kakekmu…”
“Syaikh Abdul Jabar Nglirip?” tanyaku.
“Benar….”
“Apa benar menurut para ayah dan kakekku, aku ini ada keturunan dari kakek Jabar?”
“Benar sekali ngger… itu sama sekali tak salah.”
“Tapi kemarin Sunan Giri dan Sunan Ampel mendatangiku, kalau aku ini keturunan mereka.”
“Itu juga benar, darah mereka memang mengalir di darahmu ngger…” Aku mengambil silsilah yang ditulis Sunan Giri dan Sunan Ampel. Dan ku tunjukkan pada Syaikh Abdul Jabar.
“Apa silsilah ini benar, tapi kenapa nama kakek- kakekku kok bisa tak sama begitu?”
__ADS_1
“Begini ngger, orang dahulu itu selalu memakai nama-nama julukan, jadi yang Sunan Giri dan Sunan Ampel tulis itu nama julukan, bukan nama asli.”
“Ooo rupanya begitu ya kek…, apa kakek itu juga saudara sama kakek Sangmbu yang di Lasem itu ya kek?” tanyaku menyelidik.
“Iya ngger… silsilahmu itu sampai kepada Jaka Tarub.” jelas Syaikh Jabar.
“Kok sampai sana juga?”
“Kamu ini bagaimana to ngger…, ngger…, memangnya ada orang yang bisa punya kelebihan sepertimu ini, kalau tidak bercampurnya silsilah yang berpadu, dari Rosululloh SAW, berpadu dengan silsilah dari alam kahyangan, kan di darahmu mengalir darahnya istri Jaka Tarub, Dewi Nawang Wulan, makanya kenapa kamu bisa menaklukkan dan menjadi raja diraja jin, aku saja ndak bisa kok, heheheh….”
“Saya jadi merasa kecil kek, aku ini ndak punya apa-apa kok… malah dapat amanat kepercayaan sebesar ini…?”
“Sudah, dijalankan saja taqdirnya gusti Allah ngger…”
“Doakan saya kek…”
“Oh ya macan putih yang menunggu makam kakek sudah kamu Islamkan ya..”
“Iya kek, macan, dan semua penunggu hutan Nglirip juga jin yang mengaku putri Nglirip semua sudah ku Islamkan kek..”
“Weh… weh… cucuku, aku bangga mempunyai cucu sepertimu ngger, sudah menjadi raja segala jin penjuru bumi, masih juga mengurusi jin-jin yang bersifat kecil…. kakek saja ndak bisa mengislamkan mereka, karena kakek ndak punya ilmunya, ingat cucu… jangan banyak jin di sini, nanti kepenuhan gak baik, kalau sudah Islam ya suruh kembali ke tempat tinggalnya masing-masing, aku lihat di sini sudah terlalu penuh jin, ndak baik mengurusi banyak jin, lebih baik memperbanyak mengajak manusia.”
“InsaAllah kek… kalau boleh cucu minta ilmunya…”
“Aku malah gak bisa apa-apa kek, sungguh cucu masih tak tau sama sekali ilmu, cucu sebenarnya sangat minim ilmu agama…”
“Sudah jangan merendah begitu…, ikuti saja apa kata gurumu, kyai ***** itu….”
“InsaAllah kek, doakan selalu cucumu yang daif ini..”
Begitulah dialog dengan Syaikh Abdul Jabar. Mimpi masih berlanjut, makin aneh saja alurnya…. dan melebar kemana-mana. Seorang perempuan yang cantik sekali mendatangiku. Tak bisa aku melukiskan kecantikannya, cantik sekali, kayaknya bintang film juga tak ada yang secantik perempuan ini, rasanya aku akan cepat lupa akan kecantikan wanita seperti ini, karena aku tak menemukan perbandingan akan kecantikan yang dimiliki. Tapi matanya terpejam, tak mau melihatku, tapi hidungnya mengendus-endus, seperti membaui sandal jepit yang kebakar. Setelah mengucap salam,
“Siapa ini?” tanyaku agak dag dig dug.
“Aku…” jawabnya sambil terus mengendus- endus, dan matanya terpejam.
“Aku siapa, kalau boleh saya tau..”
“Aku… aku… aku mencium darah keturunanku…”
“Di mana?” tanyaku.
__ADS_1
“Kamu ngger, kamu darah keturunanku, aku mencium darah keturunanku memancar kuat dari tubuhmu.”
“Kalau boleh saya tau, siapa bunda ini?”
“Aku Dewi Nawang Wulan, istri Jaka Tarub.”
“Haa…, jadi cerita Jaka Tarub itu benar?”
“Benar sekali ngger… aku Nawang Wulan.. nenekmu.” Aku masih bengong, kayaknya mimpiku ini makin ke arah cerita dongeng.
Sudahlah biarkan saja, mimpi ini… kemana juga terserah, kenapa aku repot, mimpi kecemplung jurang saja gak sakit kok, apalagi mimpi ketemu bidadari.
“Berarti nenek Nawang Wulan itu benar ada, dan nenek ini adalah nenekku?” tanyaku.
“Benar sekali, wah aku kehilangan mahkota, aku kehilangan mahkota waktu turun ke bumi, dan tak ku temukan.”
“Mahkota apa itu nek?”
“Mahkota yang dipakai oleh para bidadari di kayangan.” Lalu tanganku reflek mengambil sebuah mahkota, namanya juga mimpi, jadi ‘klap’ gitu saja di tangan langsung ada mahkota.
“Apa ini nek?”
“Tidak, tidak seperti itu ngger, mahkotanya seperti ikat kepala dari emas, dan di depannya ada ukiran hiasannya…”
Lalu tanganku mengambil mahkota lagi.
“Apa ini nek?”
“Ya benar, benar sekali cucuku… wah ilmumu sakti sekali…, hanya melambaikan tangan kamu sudah menemukan mahkota nenekmu, padahal nenek sudah lama mencarinya.”
“Nek, kenapa nenek tidak membuka mata, apa tak ingin melihat cucumu?”
“Aku tak boleh melihat bumi ngger….”
“Kenapa?”
“Kamu sendiri tau ceritanya… nenekmu membuat kesalahan karena menikah dengan kakekmu Jaka Tarub, jadi nenek tak bisa membuka mata, tapi nenek melihatmu kok cucuku, walau mata nenek terpejam, hm, nenek bangga padamu…”
“Apa kayangan itu ada to nek?”
“Ada… “
__ADS_1
“Apa nenek ini dari bangsa jin atau malaikat?”