
“Tuan, aku ini adalah jin penghuni Telogo Wungu,
daerah Pati, aku sampai di tubuh Mursid karena
aku dikirim orang.”
“Dikirim lewat pos? atau paket kilat?”
“Ya enggak lah, masak jin dikirim lewat pos
hu..hu..hu..” lalu jin itu menceritakan tentang
siapa yang mengirimkan dan karena masalah apa.
Aku pun melepaskan rantai yang membelit tubuh jin tersebut, dengan menjulurkan tanganku, dan bilang
“lepas!”,
maka rantai yang membelenggu jin itu
pun hilang, entah kemana.
Setelah belenggunya tak ada, tiba-tiba jin itu
menggelosor bersimpuh di depanku, aku kaget
tapi ingin ketawa juga, karena melihat ukuran jin itu duduk aku masih sepinggangnya kalau berdiri,
Yang membuat aku pengen ketawa karena
wajahnya yang tak menyeramkan dan lucu. Mata jin itu bulat besar, mengerjap-erjap, kepalanya gundul, tapi bekas cukurannya kurang bersih,
hidungnya mbengol, dan bibirnya tebal sekali,
seperti bibir keledai.
“Hei kenapa kau belum pergi?” tanyaku heran.
“Apakah tuan tak ingin menjadikanku pelayan?”
“Ah pelayan apa? Aku tak biasa dilayani, aku
biasa nyuci baju sendiri,”
“Bukan itu maksudku tuan, tapi kalau tuan mau
aku bisa mengambilkan nasi gandul dari Pati,
enak lo tuan.”
“Ah apa enaknya nasi gandul tak usah promosi,
lagian aku tak punya kerjaan tetap, tak kan
sanggup membayarmu, udah sana pergi!”
“Baiklah tuan, kalau begitu aku mohon diri.”
“Eh tunggu dulu, betulkan dulu ternitku yang kau jebolkan.”
“Baik tuan.” lalu jin itu menjentikkan tangan dan ternitku kembali seperti semula.
Begitulah, setelah kejadian aku menyembuhkan paman Mursid, aku makin dikenal dan tiap hari
ada saja yang datang dari anak yang rewel, orang sakit gigi, sakit kepala, penyakit dalam, penyakit luar, semua datang minta diobati, juga aku sering diajak lek Muhsin untuk menolong orang yang kerasukan jin.
Namun aku sudah janji kepada Kyai bahwa aku hanya di rumah dua bulan,aku sudah kangen pada Kyai dan kedamaian pondok lereng gunung Putri.
Apalagi setelah mengalami suatu kejadian yang membuatku amat merasa betapa masih
dangkalnya ilmu yang kumiliki.
“Yan…!” suara lek Muhsin memanggilku, ketika ku sedang mengutak atik internet,untuk melihat pesan di emailku.
“Ada apa lek?”ujarku
“Nanti sore temani aku ke Kalitidu Bojonegoro
ya?”
__ADS_1
“Mau apa lek ? Mau nyambangi saudara apa?”
“Ah, biasa ada orang minta tolong, keluarganya ada yang kesurupan.”
aku hanya menngangguk aja.
lalu selepas Ashar, aku bersama lek Muhsin pun pergi ke Bojonegoro.
Perjalanan ke Kalitidu dari rumahku hanya
memakan waktu dua jam setengah, yaitu dari
rumahku, naik angkot, kemudian ganti bus
jurusan ke Bojonegoro, trus naik mobil ke
Kalitidu, ini kalau lewat utara, sebenarnya
melewati selatan lebih dekat, yaitu dari rumahku ke Cepu, Bato’an lalu nyebrang, sampai deh, cuma akan makan waktu lebih lama, karena dari rumahku ke Cepu jarang ada kendaraan, mungkin seharian menunggu belum tentu ada kendaraan.
Jadi untuk lebih gampangnya harus lewat
Bojonegoro, walau jalannya muter, tapi
kendaraan selalu ada..
Sampai di rumah yang kami tuju, hari sudah sore tapi matahari masih enggan ke peraduan, suasana amat sepi, kami serentak mengucap salam, berulang kali, baru muncul seorang lelaki setengah tua.
Peci kain bundar bermotif kotak-kotak kain sarung ada bertengger di kepalanya,Wajah lelaki itu sedikit murung, Namun ketika berhadapan dengan lek Muhsin dia langsung tersenyum.
“Oh lek Muhsin, mari-mari, silahkan dienak-
enakkan dulu.” setelah menerima kami berdua
dengan ramah maka lelaki itu pergi ke dalam,
menyuruh istrinya mengambilkan minuman dan makanan ala kadarnya.
Setelah semua hidangan tersedia, kedua suami istri itu pun mengobrol dengan kami, saat berkenalan denganku lelaki itu bernama pak Soleh.
Dan istrinya bernama Hamidah, karena istrinya adalah orang sedesa denganku maka mengenal lek Muhsin, karena tau lek
kerasukan jin, jadi kemudian lek Muhsin dipanggil.
“Awal-awalnya gimana to di, kok si Marjuki itu
bisa berpenyakit seperti itu?” kata lek muksin.
sambil menerawang ingatan beberapa hari yang lalu Pak Soleh pun segera bercerita:
“Benar Ki kamu mau mesantren?” tanya pak
Soleh suatu malam kepada Marjuki yang sedang makan.
“Bener pak’e, aku sudah jenuh di rumah terus,
tak ada perkembangan.” jawab Marjuki sambil
mengunyah nasi di mulutnya.
“Mondok itu berat lho, kalau kamu mbangkong di rumah bapakmu ini tak ngapa-ngapain kamu, tapi kalau kamu mbangkong tak mau subuhan, bisa dipecuti sama Kyainya, kalau kamu melanggar peraturan pondok kamu akan diberi hukuman, apa kamu siap? Tirakat di pondok?”
“Pokoknya aku siap pak’e.”
“Lalu kamu mau mesantren di mana?”
“Bagaimana kalau di Tegalrejo, Magelang, pak’e?”
“Di mana saja tak masalah kalau memang kamu siap.”
Marjuki adalah anak tunggalnya pak Soleh,
sifatnya ceria dan rajin bekerja, kadang
membantu orang tuanya di sawah, kadang juga
bekerja di tempat orang lain, pekerjaan apa
saja, Marjuki siap melakukan asalkan halal, umur Marjuki telah menginjak sembilan belas tahun.
__ADS_1
Akhir-akhir ini Marjuki merasa kesepian, sebab
teman-temannya yang selama ini menemaninya nyangkruk(nongkrong) telah pergi semua, mencari pengalaman hidup, ada yang mesantren ada juga yang pergi merantau ke Jakarta, ada yang ke Malaysia, bahkan ada yang ke Saudi Arabia,Marjuki bingung mau kemana.
Tapi setelah berpikir, maka Marjuki memutuskan mesantren saja, maka dia pun bercerita pada ibunya supaya keinginannya disampaikan pada ayahnya.
Dan terjadilah dialog malam itu, sekarang dia telah pergi ke Magelang.
Setahun di pesantren, Marjuki pulang
keadaannya telah berubah, dulu dia periang dan
giat bekerja, kini sering kelihatan diam dan amat malas, bahkan dia suka pergi menyepi di
kuburan-kuburan, dan melakukan puasa yang
aneh-aneh, bahkan kamarnya dicat warna hitam.
Pak soleh melihat hal yang seperti itu, mau menegur, tapi takut Marjuki marah, tak jarang
karena kesalahan sedikit saja, Marjuki marah
membanting piring.
Ternyata Marjuki telah terseret mempelajari
ilmu sesat, yang berhubungan dengan Nyai Roro Kidul.
Telah beberapa hari, Marjuki tak keluar kamar,
tidak makan, tidak melakukan aktifitas apa-apa,
dari dalam kamarnya bau menyan jawa.
Tiap malam menyengat hidung, ibunya sangat kawatir, maka setelah ada lima harian di kamar ibunya mengetuk pintu, memintanya untuk makan karena takut terjadi apa-apa yang menimpa anak semata wayangnya.
Setelah lama mengetuk pintu kamar, terdengarlah lenguhan dari kamar, dan pintu
terbuka.
Terkejutlah perempuan itu, melihat Marjuki yang tak seperti anaknya.
Mata Marjuki semerah darah, di lingkar matanya warna hitam angker,
hidungnya mendengus-ndengus, dari mulutnya keluar air liur yang membanjir.
“Hmmm, siapa kau perempuan tua? Mengganggu saja.” suara Marjuki, berat mendirikan bulu roma. Sangar!
“Nak ayo makan, nanti kamu sakit…” suara ibu
Marjuki, di antara rasa takut melihat keadaan
anaknya.
“Jebleng, jebleng… apa sudah kau sediakan
darah ayam dan darah kambing?”
“Udah ibu masakkan sambal terong kesukaanmu.”
“Sialan, memang aku apa? Di masakkan suambel terong mati saja kau…”
tiba-tiba tangan Marjuki bergerak cepat menyambar leher ibunya dan langsung mencekiknya.
Untung ibunya masih sempat
teriak, sehingga teriakan itu didengar pak Soleh yang sedang membersihkan rumput di depan
rumah, yang segera berhambur ke dalam rumah,
melihat istrinya dicekik anaknya, sampai
kelihatan matanya mau keluar, maka pak Soleh segera memukul tangan anaknya itu sehingga
cekikan lepas.
Melihat ada yang memukul tangannya Marjuki pun mengalihkan serangan ke leher pak Soleh, dengan mudahnya dia menangkap leher pak Soleh dan mencekiknya,,
Bersambung...
__ADS_1