Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Gundah gulana


__ADS_3

“Iya mas, sekarang saya akan mengikuti apa saja yang mas sarankan, dan tak akan berani berani lagi membantah,” jawab pak De Sebulan yang silam.


Waktu kliwonan ada seorang jama’ah baru, ketika yang lain telah pulang, seorang ini, tak juga beranjak, ku lihat wajahnya menyiratkan rasa gundah yang amat sangat.


“Ada masalah apa?” tanyaku, yang sudah tau karena melihat dari wajahnya yang menyimpan rasa gundah gulana.


“Maaf mas kyai, saya akan bercerita, kalau diperkenankan.” kata lelaki itu.


“Cerita saja, kalau memang mau diceritakan, jika saya bisa membantu, insaAlloh akan saya bantu, jika punya masalah..”


“Saya ini sebenarnya ditimpa masalah yang sangat berat.”


“Masalah apa itu?”


“Saya ini sebelumnya seorang pengusaha, tapi sekarang saya bangkrut total, dan hutang saya menumpuk di mana-mana, saya jadi bingung, saya harus bagaimana, sementara saya sudah tak punya sumber penghasilan untuk membayar hutang saya.”


“Hutangnya sampai berapa?” gayaku seakan mau melunasi hutangnya, hehehe..


“Hampir semilyar mas…”


“Oo masih kecil..”


“Kecil mas…?’


“Ya kecil menurut Alloh… hehehe, menurutku, hutang seribu perak, sama semilyar itu sama saja, karena aku sendiri belum pernah punya hutang segitu, ya moga saja tidak pernah, yang penting hutang itu jangan menjadi beban di


dalam hati, dan ada niat untuk berusaha mengembalikan, daripada seribu perak juga tak ada niat mengembalikan, maka akan dimintai


pertanggung jawaban di akherat,”


“Lalu solusinya bagaimana mas kyai?”


“Masuk dan amalkan saja thoreqohku.”

__ADS_1


“Lhoh saya ini sudah orang thoreqoh kok mas…”


“Oo sudah orang thoreqoh juga to?”


“Iya, saya sudah mengamalkan thoreqoh sudah sepuluh tahun lebih, malah sebelum saya


menikah.”


“Oo lama juga ya?”


“Iya mas…”


“Bagaimana kalau menjalankan thoreqoh dariku?”


“Wah, ndak tau mas… lalu bagaimana dengan


thoreqohku sebelumnya?”


“Begini saja, ini ku kasih amalan thoreqoh dariku, sambil dipikirkan bagaimana selanjutnya, mau diamalkan atau tidak ya silahkan, terserah sampean.”


“Bagaimana?” tanyaku langsung ke poin masalah.


“Iya saya sudah menjalankan amalan dari mas, setelah beberapa hari ini saya uji…” jawab


Hamzah.


“Kok diuji?”


“Begini ceritanya mas… pertama saya besok malamnya menjalankan amalan pondasi, saya jalankan di tanah lapang, karena pekerjaan saya menjadi pembantu mantri Alas/kepolisian hutan, maka saya sering ikut menjadi penjaga hutan, nah waktu saya menjalankan amalan pondasi itu, seperti ada angin dan ada berbagai mahluk mengitari saya, saya tak tau apa itu, lalu saya besoknya diperintah atasan untuk melakukan tugas ke kampung.”


“Tugas apa itu?” tanyaku.


“Itu tugas meneliti, dan memata-matai, jika saja ada kayu yang dicuri di desa-desa pedalaman.”

__ADS_1


“Ooo… mata-mata gitu?”


“Iya mas kyai…, nah saat tugas itu, saya harus melewati jalan yang tanjakkannya sangat curam, saya pernah melewati jalan itu, dan motor saya terbalik, sehingga saya trauma tak pernah berani melewati jalan itu, padahal jalan itu jalan terdekat, kalau lewat jalan lain harus memutar, apalagi waktu habis hujan, tapi saat itu saya nekat, saya pejamkan mata, dan berdo’a, ya Alloh jika ilmu baru yang saya terima dari guruku itu benar, saya ingin ditolong diselamatkan melewati tanjakan ini, lalu saya


mulai menjalankan motor, dan subhanalloh, motor seperti tak menginjak tanah, tanjakan yang jauhnya ratusan meter, dan penuh batu licin, dan lumpur, tak butuh waktu lama untuk sampai di atas, saya sampai heran,”


“Wah kok ada pengalaman seperti itu ya…?”


“Setelah itu saya makin mantap, dan biasanya saya itu kalau melakukan expedisi kekampung- kampung, pasti tanggapan orang kampung tak enak, karena saya seperti musuh bagi mereka yang mencuri kayu, saat itu ketika saya berangkat, saya tidak punya uang bensin,dan saya ngutang orang 20 ribu, untuk beli bensin, di kampung yang akan saya datangi, saya sudah membayangkan akan disambut dengan buruk, tapi sebelum masuk kampung, saya berdo’a, ya Alloh berilah bukti padaku, jika ilmu yang ku terima dari guruku ini lebih baik, maka tolonglah diriku, maka saya masuk kampung, dan subhanalloh, semua orang kampung berjejer di tepi jalan menyambutku, seperti kedatangan pejabat penting, aku mengira mereka menyambut orang lain, ternyata mereka menyambutku, dan aku dijamu dengan mewah juga bensin motorku diisi dengan penuh, lalu pulangnya aku diberi amplop tebal, wah malah


seperti seorang da’i saja.


Makanya aku makin yakin dengan ilmu dari mas Kyai dan sekarang saya kesini ingin minta solusi bagaimana soal hutang saya itu mas, bagaimana solusinya, dan sekalian saya mau minta ijin menjalankan amalan puasa,”


“Syukur kalau sudah mantep, solusinya untuk hutang itu, amalkan saja dzikir rizqi, nanti ku beri bukunya, dan untuk puasa silahkan saja diamalkan, aku ijinkan, yang semangat.”


Minggu legi kemaren si Hamzah juga ikut dzikir jama’ah, dia pulang setelah menunggu yang lain pulang, baru mengutarakan maksudnya padaku.


“Terimakasih mas… puasa dan dzikir rizqi sudah saya amalkan, dan hasilnya subhanalloh, saya yang tak punya pemasukan yang bisa untuk membayar hutang, Alhamdulillah istri mendapat pekerjaan baru, menawarkan tanah dan rumah, untuk dibeli orang, di awal dzikir rizqi, istri mendapat 5 penawaran, yang jika dihitung jika mendapat komisi 1 juta, berarti sudah jelas dapat 5 juta, dan setelah seminggu menjalankan, istri sudah mendapat sebanyak 12 penawaran, yang sudah bisa dipastikan, artinya, sebulan ini saya sudah bisa menutup tagihan di bulan ini untuk hutang saya, malah masih lebih.


Saya sangat berterima kasih sekali, karena sudah diberi jalan keluar dari masalah saya, yang terus terang bagi saya masih tak masuk akal, tapi benar-benar saya alami.”


“Nah sekarang, yang harus di-tes ke istiqomahan diri, jalankan dengan istiqomah, sebab banyak orang yang kemudian, ketika susah mau menjalankan amaliyah, ketika berhasil amaliyah ditinggalkan, nanti kalau nol lagi, minta lagi amaliyah, jangan seperti itu, itu namanya kayak kerja di pabrik, dapat gaji, sudah tak mau kerja lagi, ya mana mau pabriknya menggaji mu di bulan depan.”


“Do’akan saya bisa istiqomah mas…”


“Ya jangan minta do’a saja, supaya istiqomah itu diri sendiri harus ijtihad, bersunguh -sungguh, menjalankan,” jelasku.


Dalam dunia ini semua sudah digariskan, dan


jodoh pertemuan itu kadangkala seseorang sudah lama bersama runtang runtung, tapi kadang antara yang satu tidak bisa mengambil


manfaat dari yang lain, karena secara tertulis di lauhil mahfudz keduanya tidak dijodohnya untuk saling mengambil manfaat dari yang lain, tapi kadang juga yang baru sekali bertemu, kemudian Alloh menghendaki kepada keduanya untuk saling bisa memberi manfaat, walau tak banyak pembicaraan terucap dalam pertemuan, dan tak banyak pekerjaan dijalankan bersama, itu mungkin bisa saja terjadi pada siapa saja, dan di manapun juga, tanpa harus diawali perencanaan, atau disertai suatu kisah terlebih dahulu, yang jelas segala kejadian yang telah terjadi, kejadian itu bernilai atau tidak, itu tergantung kita mampu tidak mengambil pelajaran di dalamnya, dan kejadian itu akan mendewasakan kita dalam berfikir, dan lebih bijak mengambil keputusan.

__ADS_1


Kisah ini baru minggu kliwon kemaren, sebelum bulan puasa romadhon, sebenarnya kisah ini berawal dari seorang lelaki yang mengikuti pengajian di majlis dzikirku, sebagaimana biasa tiap yang mengikuti majlis dzikirku, kebanyakan tiap selesai dzikir, maka pada meminta amalan, dan begitu juga lelaki itu yang bernama Arifuddin, dia meminta amalan dariku lalu ku.....


Kirimkan Kritik,saran Like Hadiah untuk author...🤣 sebagai wujud apresiasi..


__ADS_2