Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Siloka


__ADS_3

Aku itu murid mau diapakan atau digimanakan Kyaiku, maka aku tak pernah sekalipun mempermasalahkannya, dan tak pernah memikirkan, tak mengejar apa-apa, dan menjalani saja apa yang ada, tak pernah meminta ilmu ini atau itu, dan tak pernah meminta amalan ini atau itu, apapun yang diberikan Kyaiku, akan aku jalankan berulang kali, tak pernah bosan, bukan orang yang suka meminta amalan baru dan amalan lama dilupakan.


Sebab menurutku ilmu itu bernilai kalau kita


benar-benar menguasai, mengistiqomahkan.


skip...


“Mas Ian buka toreqoh ya..!” kata Kyai.


“Siap kyai, saya siapkan majlisnya dulu.” kataku.


Kyai banyak memberikan petuah yang bersifat isyarat, dan aku selalu tak mau menerjemahkan apa yang kyai katakan padaku dengan seketika, ku biarkan saja mengendap di pikiran dan hatiku, ku simpan dan biar jika saatnya aku akan mengerti sendiri, bukan menerjemahkan dengan akal dan akal-akalan.


Iman dipandang dari sudut ma’rifat itu bisa diperoleh dari dua jalan, yaitu jalan pikiran dan jalan hati. Jalan pikiran kita, dipakai menerjemahkan apa yang terbaca indera, seperti orang melihat gumpalan kecil lalu pikiran membacanya dan mengatakan penerjemahan apa yang tertangkap oleh indera mata, dan mengatakan itu garam, lalu tangan meraba, dan lidah menjilat sebagai penguat apa yang diterjemahkan akal, ternyata asin.


Tapi siapa yang tau warna asin, tak ada yang bisa menjelaskan, asin warnanya bagaimana, dan ekpresi orang berbeda-beda jika merasakan warna asin. Ada Orang berekpresi merem ketika merasakan rasa asin, tak bisa orang lain mengatakan ekpresi itu salah, sebab itu hak setiap manusia.

__ADS_1


Yang jelas yang dibutuhkan oleh manusia itu bentuk putihnya garam, atau rasa asin untuk membuat asin makanan, yang dibutuhkan adalah rasa asin, bukan bentuk butiran garam, buktinya bukan bentuk garam yang dimakan manusia, tapi rasa asin yang sudah tak ada bentuknya garam, karena sudah menyatu dengan makanan.


Tapi keringat juga kan asin, apa ada mau orang makanannya kurang asin, lalu ditetesi keringat biar asin?


Pasti tak akan ada yang mau. Berarti sekalipun asin, maka yang dibutuhkan manusia itu bukan asal asin saja, tapi penerjemahan indra diyakini kalau yang dicampur makanan itu benar-benar asli garam, bentuk sare’atnya garam, yang dikeringkan dari air laut, dan mengkristal, berbentuk garam.


Tak ada hakikatnya semua alam ini, sebab hakikatnya alam ciptaan ini adalah menunjukkan hakikatnya Alloh. Seperti pabrik mobil menunjukkan hakikatnya perusahaan mobil.


Garam itu asin, tapi asin belum tentu garam, jadi sifat asin bukan hakikatnya garam. Tapi menjadi sifat, seperti batu itu keras, ager-ager itu lembek.


Jadi akal itu bisa menguraikan apa yang ditangkap indra, dan penerjemahan akal orang yang berilmu itu akan menguraikan dan menterjemahkan apa yang asalnya cuma sifat menjadi zat, atau di setiap ada zat atau jisim, badan kasar ada badan halus, atau inti, dan di balik inti ada intisari, dan di balik intisari ada saripati.


Jadi dipilih yang berkulit kuning, semut menyangka bahwa orang tersebut mau memanfaatkan kulit jeruk, buktinya kulit jeruk sangat menentukan jatuhnya pilihan orang tersebut. Lalu jeruk dikupas, si semut heran karena kulit yang susah-susah dipilih warnanya itu ternyata hanya dibuang ke tempat sampah, dan isinya diambil, semut mengira, kalau ternyata yang mau dimanfaatkan itu daging buahnya.


Tapi lagi-lagi semut heran, dengan sebab daging buah itu ternyata diperas airnya, ampasnya dibuang. Dan airnya ditaruh di gelas, baru si semut paham kalau yang diambil manfaat ternyata airnya, tapi semut lagi-lagi heran, sebab air jeruk itu diminum orang itu, dan semut mengikuti ke dalam tubuh, di mana vitamin C diambil dari air jeruk itu dan dimanfaatkan tubuh, sementara yang tak berguna dibuang bersama keringat dan kotoran.


Jadi proses panjang, dari intisari yang terdapat pada sebuah jeruk, hanya diambil tubuh bagian terkecilnya, dan mampunya akal itu hanya menguraikan yang terlihat, dan bisa diakal oleh ketajaman akal. Sehingga kejadian itu diketahui telah dirancang sedemikian rupa. Dalam setiap kejadian dan posisi suatu benda itu tak lepas dari kehendak yang mengatur, dan ketentuan yang tertanam.

__ADS_1


Atau sering disebut qudroh irodah. Dan qudroh irodah atau qodo’ qodar itu harus kita imani keberadaannya, seperti kita imani adanya Alloh dan malaikat. Tapi itu semua tak terlihat, siapa orang yang tau taqdirnya? Maka tak ada yang tau, sebab tak terlihat atau disebut gaib.


Untuk mengimani hal yang gaib manusia perlu membuka mata hatinya, yang kasar itu bisa dilihat dengan mata dan yang gaib itu bisa dilihat dengan mata hati. Daging jeruk itu bukan gaib, karena jika dikelupas kulitnya maka itu bisa dilihat dengan mata telanjang.


Yang gaib itu, apa yang tak bisa diuraikan dengan jisim atau dalam bentuk zat padat, kecuali dengan pentakbiran, atau pemisalan, karena tak bisanya akal menerjemahkan kecuali membuat perumpamaan. Seperti ketika Nabi ditunjukkan tentang bumi dalam keutuhan sifat, maka bumi itu seperti nenek tua yang jompo, sakit-sakitan dan memakai bedak yang tebal, juga perhiasan yang berlebihan.


Penggambaran itu akan mewakili suatu keadaan, karena tidak ada bentuk untuk menjelaskannya, kecuali membuat permisalan untuk menjelaskannya. Jika gaib itu bisa diceritakan dengan menunjukkan zatnya, maka tidak gaib namanya.


Makanya penceritaannya itu memakai perumpamaan, atau kata-kata penyerupaan, Dan akal harus dibendung ditutup dari menerjemahkan dengan logika akal, jika dilogikakan akal, akal pikiran akan terjebak dengan keraguan dan kemandekan pada batas logikanya akal, maka yang gaib itu hanya bisa diuraikan oleh yang gaib, yaitu ruh, alam hati dan mata hati.


Sebagaimana mata dzahir kita yang tak bisa melihat, karena kemasukan benda, maka mata hati juga akan tak bisa melihat jika dimasuki berbagai kepentingan, dan keinginan, seperti semut yang melihat keinginan orang memilih jeruk dia berprasangka keinginan seseorang itu memilih warna jeruk itulah yang menjadi tujuan utama dari proses pencarian, karena keterperangkapannya akal, menilai mendahulukan logika.


Dan logika itu selalu mencari yang dekat dalam penilaian dan yang termudah dilakukan. Itu sifat akal, selalu mencari solusi termudah untuk menyelesaikan masalah. Sedang yang gaib itu perlu kejernihan hati untuk membaca. Sehingga yang benar tak asal dibaca dengan akal-akalan, tapi dengan pemahaman.


Seperti seorang perempuan yang memoleskan lipstik di bibir, kenapa tidak di telinga, juga kenapa warnanya merah, tidak coklat atau hijau, tujuan perempuan itu tak akan terlihat disaat memoleskan lipstik di bibir, padahal tujuan atau kehendak itu terjadi sebelum kejadian.


Murid yang lain selalu menerjemahkan dengan pikiran masing-masing, apa yang disampaikan Kyaiku, atau anak-anak sering menyebutnya siloka, aku sendiri tak berani menerjemahkan..

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2