Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Kumar Takur


__ADS_3

Berbuat baik tak usah takut tak akan terbalas,


hanya keikhlasan kita yang menentukan kita ini menjalankan segala gerak tanpa beban, tenang


dengan segala tindakan, karena tak punya


maksud tersembunyi.


Semua berlaku dengan kewajaran, dan


keikhlasan itu harus teruji dan diuji. Agar


diketahui suatu perbuatan itu ada nilai dan


tidaknya jelas terlihat.


“Ada apa to mas…? Mau share masalah apa?”


tanyaku,


“Ini masalah istriku di rumah mas…” kata mas


Sarno.


“Memangnya istrinya kenapa mas?” tanyaku.


“Ndak tau mas, aku ini kan sudah lama to di


Saudi, tiap setahun juga pulang, la orang lelaki


pulang kan tentunya yang paling utama kan


urusan kasur sama istri.” jelas mas Sarno.


“Apa istrinya di rumah jualan kasur mas?”


tanyaku setengah melucu.


“Halah masak ndak tau..”


“Iya… iya tau.”


“Terus masalahnya apa mas?” tanyaku.


“Ini masalahnya istriku ndak bisa ku kumpuli.”


kata Sarno.


“Wah kayak istri dari bangsa lelembut aja ndak


bisa dikumpuli, apa istrinya lari kalau mau diajak kumpul?” gurauku.


“Bukan, tapi…..( Sarno membisikiku: pakai


password )”


“Ooo itu…, ” kataku paham.


“Apa itu dibikin orang? Soalnya sebelum nikah


sama diriku, dia juga sudah punya pacar, juga


aku sendiri juga sudah pernah punya istri.” jelas Sarno.


“Bisa jadi, dikerjai orang, tapi bisa jadi mungkin punya penyakit tertentu, baiknya kita


mengedepankan berbaik sangka.”


“Trus bagaimana? Bisa dibantu tidak?” tanya


Sarno menatapku dengan tatapan harap.


“insaAlloh bisa, dengan ijin Alloh tak ada yang


tak bisa.” kataku meyakinkannya.


“Terus apa yang aku lanjutkan mas?” tanya


Sarno. “Bisa tidak istrinya diminta menyediakan air?

__ADS_1


Nanti malam atau kapan bisa sedia airnya, nanti ku transfer obatnya.”


“Oo kalau gitu biar ku hubungi dulu.” kata Sarno.


Sarno berbicara dengan istrinya, aku santai


memakan cemilan kripik kentang yang ada di atas meja, sampai Sarno selesai bicara dengan istrinya.


“Bagaimana mas?” tanyaku kepada Sarno yang sudah selesai bicara dengan istrinya.


“Wah di sana sedang diobati orang.” jelas Sarno.


“Oo ya kalau begitu biar diobati sama orang itu


dulu.”


——————————————-


Pulang dari kamar Sarno aku mampir ke kamar-


kamar orang-orang yang sudah lebih dulu tinggal di Saudi, rupanya kebanyakan adalah orang tetangga desaku, sehingga kami lebih mudah akrab, karena sama-sama merasa senasib di negeri orang.


“O, mas ini yang katanya adiknya pak Abdullah?”


tanya orang yang bernama Muhsin. Dia kerja di Saudi sudah hampir 16 tahun.


“Iya mas…” jawabku. Di dalam kamar banyak


pekerja lain yang berangkatnya lebih dahulu


dariku sedang berkumpul.


“Kata temen-temen mas ini banyak punya


kelebihan.” kata Muhsin lagi.


“Kelebihan? Kelebihan hutang kali, la telingaku


juga dua, tangan dua, punya kelebihan apa?”


kataku heran.


“Aku di D 1-1,” jawabku, “Kalau ndak salah.”


“Nanti saya main ke sana boleh ya mas…” kata


Muhsin.


“Boleh, silahkan saja.”


——————————————-


Muhsin main ke kamarku.


“Anu mas kalau boleh mau nanya.” kata Muhsin.


“Nanya apa mas?” tanyaku balik.


“Nanya soal istri saya di Indo.”


“Wah mending jangan, saya gak enak


mencampuri urusan rumah tangga orang lain.”


“Tolong dilihatin istri saya bisa kan mas?”


“La sekarang nelpon pakai 3G kan bisa video


call??”


“Ya maksudku biar tau keadaannya di rumah


gitu.” kata Muhsin.


“Kadang tak tau keadaan istri itu lebih baik, dan menyerahkan segala urusan kepada Alloh,


meminta Alloh menjaga istri, itu lebih baik, dan Alloh itu sebaik-baiknya penjaga.”


“Soalnya saya pernah mendengar kabar kurang enak soal istri.”

__ADS_1


“Itu ndak usah diperduli, ada orang pengen


mengganggu rumah tangga orang di kala si lelaki tak di rumah itu wajar, la yang suaminya ada di rumah saja kadang istrinya digoda, apalagi suami tak ada di rumah, hal seperti itu biasa, menunjukkan setan berupa manusia itu ada di mana-mana.”


“Iya… iya mas, penjagaan Alloh memang melebihi penjagaan siapa saja.” jawab Muhsin.


“Nah begitu baru benar.”


“Iya mas, terima kasih atas sarannya, kalau saya sering main ke sini, boleh kan mas?”


“Boleh silahkan saja.”


Lalu Muhsin minta diri.


Hari-hari pertama di Saudi, sibuk mengurus


surat-surat, wira-wiri ke accounting, mengurus


ATM dan KTP atau aqomah, tanda diri mukim,


dan urusannya yang membuat sibuk itu bukan


masalah sulitnya tapi masalah orang Saudi yang malas, misal ngurus kartu ATM ke bank, sudah nyerahin data, besoknya disuruh kembali lagi, kadang kesiangan sedikit maka ditolak, padahal jaraknya kan jauh, naik taksi, taksinya juga tak ada, nunggu taksinya di bawah panas terik, ya belum apa-apa memang kerja sudah kesiksa.


Di Saudi itu kerja mungkin 10 kali lipat beratnya kerja di Indonesia, walau dalam bentuk


pekerjaan yang sama bentuknya, la belum kerja sudah keringetan, apalagi kalau sudah kerja,


baju bisa basah kayak dicelup ke air lalu


diangkat dan dipakai, keringet mengucur seperti pancuran, dan tentu saja kalau tidak banyak-banyak minum, maka dijamin dehidrasi.


Badan lemes, karena kehabisan cairan. Nyatanya banyak orang tetep mau jadi TKI, sebenarnya bukan masalah kerja di Saudi enak, tapi nilai rupiah itu besaran nilai real mata uang Saudi, jadi walau digaji rendah, tapi kalau ditukar dengan mata uang Indonesia masih banyak bentuk uangnya jika dipakai di Indonesia.


Jika berurusan dengan orang Saudi, apalagi soal pengurusan surat, ku jamin akan gondok, suntuk, apalagi sifat orang Saudi yang kebanyakan suka meremehkan orang lain, padahal kalau menurutku orang yang meremehkan orang lain akan nantinya


diremehkan.


Kali saja aku ini yang lagi apes, tiap ketemu


orang Saudi kebanyakan kok ya ketemu yang


jarang jarang mandi, jarang sikat gigi, sampai


giginya menghitam, kalau tersenyum seperti


orang yang kebanyakan makan tembakau.


Badan penat habis ngurus Kartu ATM, tes


kesehatan, tes darah, memberi data di klinik dan rumah sakit, foto untuk KTP.


Masuk ruang kerja, ee ada yang marah-marah,


orang Pakistan bernama Kumar datang ke


tempat kerjaku, aku sih gak ngerti bahasanya,


kalau pernah nonton film India, ya seperti itu


bicaranya, tangannya ke sana-sini, lehernya


geleng-geleng tak mau berhenti, Kumar bicara


kalau melihat wajahnya dan sinar matanya juga bicaranya yang pakai gebrak meja, aku yakin dia lagi marah, tapi aku heran juga, kenapa dia bisa marah denganku, sayang aku tak tau dengan bahasanya, apa dia salah orang ya? Atau mungkin aku dikira orang yang punya hutang sama dia?


Mungkin lebih baik kalau bicara dengan bahasa India dia diterjemahkan dengan gambar, misal


kalau aku nyuri kucingnya, digambar orang


membawa kabur kucing, bukankah lebih mudah dipahami.


Untung Sarno masuk ke ruanganku, karena


mendengar ribut-ribut.


“Ada apa mas?” tanya Sarno yang masuk disertai orang India yang bekerja dengannya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2