Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Rujuk


__ADS_3

Walau secara bentuk tempat keluar sama dalam artian seperti dua paralon, satu mengeluarkan limbah, dan satu mengeluarkan air bersih.”


“Jadi orang yang menyukai saya itu tak benar


kyai?” kata Dewi.


“Ya, dan lebih baik dihindari.”


“Lalu bagaimana solusi anak saya dengan suaminya kyai?” tanya ibunya Dewi.


“Itu suaminya berapa kali sebulan pulang ke rumah?” tanyaku.


“Biasanya sebulan datang sekali, itu juga tak


menyentuh saya sama sekali, hanya sama anak-anak.” jawab Dewi.


“Apa mungkin dia punya penyakit?” tanyaku lagi.


“Iya itu yang selalu dijadikan alasan kenapa dia tak mau menyentuh saya.” jelas Dewi.


“Lalu penyakitnya apa?”


“Dia punya penyakit di rusuknya, kalau kambuh ya katanya nyeri sekali, sudah diobatkan


kemana-mana kyai, tapi sampai sekarang malah makin parah saja.”


“Begini saja nanti kalau suaminya pulang, dibawa kesini saja, biar aku bicara sama dia.” “Dia seorang insinyur kyai, sepertinya akan


susah bicara dengannya, dia selalu mengutamakan logika.” jelas Dewi.


“Iya tak apa-apa, bawa saja dia kemari.”


“Baik kyai kalau begitu nanti akan saya bawa ke sini, kami minta diri saja.” kata Dewi.


———————–


Seminggu kemudian Dewi datang lagi membawa suaminya, seorang pemuda yang berkulit kuning, tinggi sedang, di wajahnya ada sedikit keangkuhan, aku juga tak heran jika seseorang bekerja sebagai seorang manager sebuah perusahaan besar, itu biarlah menjadi


pembawaannya, dia mengenalkan diri bernama Suryo Wisanggeni, nama yang aneh menurut


penilaianku, mengingat nama adalah do’a setiap kita memanggil orang yang mempunyai nama indah, maka akan seperti mendo’akan orang yang kita panggil.


Aku sebelumnya telah memberitahu Dewi agar suaminya dibawa ke rumahku dengan alasan mau diobatkan penyakit di rusuknya yang nyeri, yang menurut Dewi bahwa penyakit itu telah dibawa berobat ke dokter atau ke shinse, atau paranormal terkenal, tapi tak juga sembuh.


Ketika Suryo menatapku, aku melihat pancaran keraguan di wajahnya, sebab aku memang selalu terlihat kecil tak berdaya.

__ADS_1


“Sakitnya apa mas?” tanyaku ku tujukan pada


Suryo.


“Aku sakit di rusuk sebelah kiri.” kata Suryo.


“Lalu sudah diobatkan di mana saja?” tanyaku.


“Ah sudah pegel aku nyari obatnya mas.”


“Apa sama sekali tak ada perubahan?” tanyaku.


“Sama sekali tak ada mas, tapi ada satu yang


menjadikanku agak enak, yaitu minum darah ular kobra, maka beberapa hari sakitku seperti hilang, tapi seminggu kemudian aku sakit lagi, lalu aku konsumsi darah ular kobra lagi, maka sakitku pun mendingan lagi, dan seminggu kemudian sakit lagi, dan mulai ku hentikan, ketika di tubuhku banyak timbul benjolan- benjolan,” kata Suryo sambil menunjukkan benjolan di lengan, pundak, punggung, dan di bagian tubuh yang lain.


“Apapun walau pengobatan sekalipun kok itu dari hal yang diharamkan Alloh, maka pasti ada akibat buruknya, dan juga ada akibat baiknya, tapi akibat buruknya lebih mendominasi.”


“Lalu penyakitku ini bisa diobati tidak?”


“Ya semua penyakit bisa diobati. Cuma kadang


suatu penyakit itu harus didiagnosa dulu, agar


obat bisa ditepatkan dalam mengobati, jadi tak


asal, kalau asal saja mengobati ya tak akan


sembuh, karena penyebab penyakit tak dipotong akarnya.”


“Memangnya bisa didiagnosa.” tanya Suryo ragu.


“Mendiagnosa penyakit sebenarnya gampang- gampang susah, begini saja, kalau menurutku segala penyakit itu pemberian Alloh, kadang dengan maksud menegur, seperti kenapa sampean penyakitnya di rusuk, kenapa tidak di mata, atau di jempol, atau di tempat lain?Kenapa di rusuk? Sampean mestinya orang cerdas, wong sekolahnya tinggi, la saya malah ndak pernah sekolah.”


“Maaf, apa bisa penjelasannya tidak muter- muter?” kata Suryo.


“Begini, manusia itu kan diciptakan Alloh, itu mau diakui atau tidak diakui, manusia itu tetap penciptanya adalah Alloh, juga segala pengaturan hidupnya itu di bawah cengkeraman Alloh, bahkan orang yang Alloh kehendaki mati, ya pasti mati, sekalipun dia lari bersembunyi di lubang semut sekalipun, maka akan tetap nyawanya bisa dicabut oleh malaikat maut,


Allohlah yang Juga memberikan penyakit di tempat-tempat tertentu, agar kita sadar isyarat yang Alloh berikan lewat penyakit itu, namanya membaca khalil akhwal, membaca kehendak Alloh mencangkup segala kejadian itu ada maksudnya,


Seperti penyakit sampean yang kenapa diletakkan di rusuk, kenapa rusuk yang sakit kenapa tidak di tempat lain?


Padahal bisa saja sakit di tempat lain,, karena wanita itu diciptakan dari rusuk lelaki, dan jika seorang suami itu mendzolimi istrinya, maka akan diletakkan penyakit di rusuk lelaki itu agar suami menyadari kekeliruannya, iya bisa saja jika diobatkan penyakit itu akan sembuh, tapi jika suami tak mau menyadari kekeliruannya, dan meminta maaf pada istrinya, maka dijamin penyakit itu akan datang-datang lagi,


Sebab akar permasalahannya penyakit tidak berusaha diselesaikan, obat ampuh seharga jutaan bahkan trilyunan apa bisa mengalahkan kehendak Alloh?”

__ADS_1


“Iya memang kalau dipikir-pikir memang masuk


akal.” jawab Suryo.


“Ya sekarang dihubungkan pada kenyataannya,


apa yang ku katakan itu benar apa tidak?” tanyaku.


“Iya memang benar mas.”


“Nah sekarang mas Suryo ini pengen sembuh atau tak pengen sembuh?” tanyaku.


“Iya saya pengen sembuh.” jawabnya.


“Kan mudah, tinggal minta maaf sama istri, lalu nanti soal kesembuhan biar ku do’akan, bagaimana? Nanti dilihat sembuh apa tidak Kan bisa dibuktikan. Bagaimana?


Ingat meminta maafnya yang tulus, dari lubuk hati terdalam, dan jika kembali mendzolimi istri, ya saya sendiri tak bisa menjamin jika penyakitnya tak kembali lagi, nah sekarang ku tinggal sama istri, silahkan saling mema’afkan.” kataku lalu berdiri dari kursi dan membiarkan dua orang itu mencurahkan hatinya.


Seperempat jam kembali aku ke ruang tamu, dan kedua orang itu saling berpelukan dan saling mengakui kesalahan.


“Ehmm..!, bagaimana mas Suryo? Sudah minta


ma’afnya?”


“Sudah mas..” kata Suryo dengan air mata masih berlinang.


“Sudah yang lalu jangan diungkit-ungkit, sekarang mulai membuka lembaran baru, saling terbuka sesama suami istri, bagaimana rasa sakit di rusuknya mas?” tanyaku.


“Alhamdulillah sudah enakan mas…,”


“Ingat jangan lagi mendzolimi istri, jadilah pasangan yang saling melengkapi, saling terbuka dan saling mengerti, dunia kalian berdua, adalah dunia kalian berdua, buatlah dunia kalian berdua senyaman dan sebahagia sesuai yang kalian harapkan,”


“Kami sangat berterima kasih mas, dan kami tak bisa membalas dengan apapun yang lebih berharga dari apa yang mas lakukan pada kami berdua,” kata Suryo.


“Bagiku kalian saling rukun dan saling sabar menghadapi cobaan hidup, itu lebih dari cukup, sehingga tak bertambah lagi anak yang menjadi tersia-sia, kurang perawatan dan perhatian, karena orang tuanya berpisah, lalu anak tak mendapat kasih sayang, lalu tentu saja akan mempengaruhi kejiwaannya, yang pada akhirnya akan menyusahkan orang lain.” jelasku.


——————————————-


Beberapa hari kemudian Dewi dan Suryo datang kerumah dengan kedua anaknya, ku lihat mereka sudah rukun.


“Kedatangan kami ke sini, yang pertama mau


mengucapkan terima kasih, dan yang kedua ingin menanyakan, waktu air dari kyai itu kami pel kan seluruh rumah, kok kedua anak kami sakit panas sehari, itu kenapa ya kyai?”


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2